
Suasana hati yang tegang tengah menyelimuti kedua remaja labil yang sedang meluapkan rasa yang di pendamnya selama ini. Hati Ivan hancur sudah bagai tersambar petir di siang bolong ketika mendengar semua ucapan Elsa dalam tangisnya. Ia tidak tahu jika Elsa menyimpan kesedihan yang begitu dalam karena sikap nya satu bulan ini.
Derasnya air mata Elsa membuat Ivan semakin terpukul karena ia tak kuasa melihat orang yang di cintai nya sedih dan menangis. Ivan meraih tangan kanan Elsa, lalu di genggamnya dengan erat.
"Elsa, jangan menangis seperti ini. Aku tahu aku salah El, tolong berhentilah menangis Elsa!!" Ucap Ivan dengan nada paniknya. Ivan mengusap lembut punggung tangan milik Elsa yang ada dalam genggaman nya saat ini.
"Aku mohon Elsa!! Jangan menangis seperti ini!! aku tahu aku salah El, sudah ya jangan menangis lagi. Setelah ini kamu bisa menghukum ku." Ucap Ivan untuk menenangkan Elsa yang perlahan menghentikan tangisannya.
Elsa menegakkan kepala nya sembari menatap lurus ke depan. Ia mengusap air mata yang ada di pipi dan matanya. Setelah di rasa tenang, Elsa menatap Ivan dengan mata merahnya.
"Apa kamu Rela Van aku bersama anak bahasa itu?" tanya Elsa tiba-tiba.
"Tidak!!" Jawab Ivan tanpa berfikir panjang.
"Aku tidak Rela jika kamu bersama siapapun selain aku El..." Ucap Ivan dengan tegasnya.
"Lalu kenapa kamu melakukan ini semua Van? bukankah kamu tahu aku tidak pernah mempermasalahkan tentang harta atau pun tahta??" Ucap Elsa tanpa mengalihkan pandangannya dari manik hitam Ivan.
"Kalau kamu benar-benar tidak ingin kita menjalin hubungan lebih dari teman, tolong jangan beri aku harapan. Jangan peduli dengan apapun yang terjadi dalam hidupku." Lanjut Elsa yang berhasil membuat Ivan terdiam dalam pikirannya.
Dan sekali lagi ucapan Elsa berhasil membuat hati Ivan runtuh bagai di hantam bongkahan batu besar. Ia merasa menjadi laki-laki pengecut yang hanya bisa membuat seorang gadis menangis.
"Elsa, aku minta maaf untuk semua kesalahanku padamu, aku minta maaf sudah membuat kamu sedih dan menangis seperti ini. Bisakah kamu memaafkan semua kesalahanku El?" ucap Ivan dengan kedua tangan yang memegang tangan Elsa.
Elsa hanya diam sambil menatap wajah Ivan yang serius saat ini, Ia menatap manik hitam milik Ivan yang memancarkan sebuah penyesalan dan kejujuran.
"Kali ini aku maafkan Van, tapi setelah ini jangan kamu ulangi lagi. Aku tidak mau lagi kita membahas masalah harta atau pun status sosial kita." jawab Elsa sambil memandang wajah Ivan. Hembusan angin semilir membuat rambut panjang Elsa manari-nari dengan indahnya.
"Aku akan memperbaiki semua kesalahanku, aku janji setelah ini aku tidak akan membahas masalah yang tidak kamu sukai." Ucap Ivan dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya. Ia membenarkan poni Elsa yang berantakan untuk di selipkan di belakang telinganya.
"Elsa... Aku sudah kalah dalam pertahanan ini. Aku sudah tidak bisa lagi membendung semua rasa yang aku punya. Saat ini Aku hanya ingin kamu tahu bahwa Aku sangat mencintaimu, Aku sayang sama kamu El." Akhirnya Ivan mengucapkan kalimat panjang yang di tunggu Elsa selama ini.
__ADS_1
Elsa terdiam sambil memandang wajah Ivan, Ia mencerna kalimat panjang yang baru saja di ucapkan oleh Ivan, sebuah kalimat yang selama ini di tunggunya. Hal ini membuat Elsa menjadi dag dig dug tak karuan.
"Ucapkan sekali lagi Van!!" Ucap Elsa untuk meyakinkan dirinya.
"Aku mencintaimu Elsa... I love you Elsa...." Ucap Ivan dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya karena melihat wajah syok Elsa.
"Apa aku harus menjawab kalimat yang baru saja kamu ucapkan Van?" Tanya Elsa yang masih saja memandang wajah Ivan.
"Jawablah, aku ingin tahu apa yang kamu rasakan saat ini." Ucap Ivan yang tak henti menyunggingkan senyum nya.
"Aku mencintaimu sejak dulu Van. Sejak pertama kali kita bertemu di gerbang sekolah. Kamu telah mencuri semua rasa yang aku punya Van, semua rasa ini hanya untuk kamu Van." Jawab Elsa dengan mata yang kembali berembun.
Ekspresi Ivan berubah tak kala melihat setetes air mata Elsa kembali turun ke pipi mulusnya. Ivan menghapus air mata yang membuat basah pipi gadis cantik yang ada di hadapannya saat ini.
"Kenapa menangis?? Apa aku membuat kesalahan lagi El??" Tanya Ivan.
"Ini air mata kebahagiaan Van, aku belum percaya bahwa semua ini nyata." ucap Elsa yang memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri untuk menghentikan air mata yang keluar tanpa di komando.
Sepasang suami istri pemilik kedai tempat Ivan membeli makannya tadi sedang duduk bersantai di depan kedai miliknya. Mereka berdua tersenyum melihat dari kejauhan dua remaja yang sedang jatuh cinta itu.
"Lihat buk dua remaja itu, lucu-lucu ya!! jadi ingat masa muda kita dulu ya buk!!" Ucap bapak pemilik kedai makanan kepada istrinya.
"Iya ya pak, tapi sayangnya bapak dulu ndak pernah ngajak ibu ke taman seperti ini. Bapak juga gak pernah tuh romantis kayak mereka berdua." Ucap Ibu pemilik kedai makanan itu. Mendengar ucapan Istrinya membuat bapak pemilik kedai ini tersenyum kecut mengingat bagaimana masa muda nya dulu.
Kembali kepada Ivan dan Elsa yang saat ini masih sama-sama terdiam menikmati hembusan angin semilir yang saat ini membuat daun-daun milik pohon rindang di sekililingnya menari-nari dengan indahnya.
"Kenapa Kamu mengatakan nya sekarang Van? kenapa tidak dari dulu saja?" Akhirnya Elsa mengeluarkan suara nya setelah beberapa menit terdiam.
"Karena perbedaan sosial kita El, aku takut kamu akan menolakku karena aku hanya laki-laki biasa anak dari karyawan pabrik dan seorang Guru TK." Jawab Ivan.
"Dasar pengecut!!" Sarkas Elsa dengan menaikkan satu sudut bibirnya.
__ADS_1
"Iya memang aku dulu seorang pengecut yang memendam perasaanku seorang diri. Tapi saat ini apa aku masih seorang pengecut El?" Tanya Ivan.
"Tidak, kamu saat ini adalah Ivan Ardiansyah yang hanya boleh di miliki oleh Elsara Anjani." Jawab Elsa dengan senyum yang mengembang setelahnya.
Ivan tersenyum setelah mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Elsa. Perasaan nya menjadi lega setelah mengucapkan apa yang selama ini di pendamnya. Ia beralih memandang sungai yang tengah mengalir deras di hadapan nya saat ini. Ia tidak menyangka hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupnya.
"Van, aku mau tanya satu hal!!" Ucap Elsa yang berhasil membuat Ivan mengalihkan pandangan nya ke arah Elsa.
"Katakan El." Jawab Ivan.
"Apa saat ini status kita berpacaran Van?" pertanyaan konyol lolos dari indera pengucap Elsa yang membuat Ivan terkekeh.
"Bagaimana kamu bertanya seperti itu El setelah aku mengucapkan semua kalimat panjang yang kamu dengar tadi?!" Ucap Ivan yang menahan tawanya karena kelucuan Elsa.
"Aku hanya memastikan Van!! jadi kamu wajib menjawab nya!!" Ucap Elsa dengan nada penekanan.
"Iya El, saat ini status kita berpacaran." Ucap Ivan yang berhasil membuat pipi Elsa menjadi merona. Kedua nya sama-sama diam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati rindang nya taman yang mereka tempati saat ini.
_
_
_
Jadi ingat masa muda nih😂😂 Happy Reading ya kak, semoga suka😍
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1