
"Sayang, ini bukan rumah sakit Mama kan?" Tanya Ivan setelah memasuki kamar inap di rumah sakit dr. Soetomo Surabaya.
"Tidak Mas, ini bukan tempat Mama praktek kok, jauh dari keluarga besar yang ada di Surabaya." Ucap Elsa yang sedang merapikan beberapa barang yang ia bawa dari Mojokerto.
Gelisah, itulah yang dirasakan Elsa saat ini. Ia harus berjauhan dari putranya untuk beberapa hari kedepan selama Ivan di rawat disini. Dadanya terasa sesak karena situasi yang terjadi saat ini.
"Apa yang kamu rasakan sekarang, Mas?" Tanya Elsa yang kini duduk di kursi yang ada di samping Ivan.
"Ya seperti kemarin rasanya." Jawab Ivan sembari menatap Elsa. Jujur saja ia sedih karena melihat wajah lelah Elsa.
"Istirahatlah, jangan terlalu lelah." Ucap Ivan dengan tangan yang terulur di rambut hitam milik Elsa.
Ivan memejamkan matanya ketika rasa sakit itu menyerang lagi. Ia berpura-pura tidur agar Elsa mau untuk beristirahat. Rasa sakit terus menyerang tulang punggungnya, dan kini bagian dadanya pun ikut terasa sakit. Sabar, itu lah yang harus di lakukan Ivan saat ini.
***
Sudah tiga hari Ivan terbaring di rumah sakit ini, serangkaian pemeriksaan pun telah dilakukan sejak hari pertama ia di rawat. Hari ini adalah hari yang membuat jantung Elsa berdebar kencang, karena hasil pemeriksaan Ivan akan keluar.
Seorang dokter dan dua orang perawat terlihat berjalan menuju ruang inap Ivan. Mereka datang untuk melakukan kunjungan rutin setiap hari dan menyampaikan hasil pemeriksaan Ivan.
Setelah lima belas menit di dalam kamar inap Ivan, Mereka semua keluar dari ruangan, menyisakan sebuah kesedihan yang mendalam untuk sepasang suami istri ini.
Elsa terisak di kursi penunggu pasien setelah mengetahui penyakit yang di derita suaminya. Tubuhnya lemas seketika setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Dokter yang baru saja berlalu pergi.
"Sayang, kemarilah!" Ucap Ivan yang berusaha untuk duduk di atas bed nya. Ia pun menitikkan air matanya melihat tangis Elsa.
Ivan segera meraih tubuh Elsa kedalam dekapannya, ia mengusap punggung istrinya dengan segenap perasaan yang membuncah di dalam dirinya.
"Sayang, jangan menangis seperti ini. Tenangkan dirimu, aku pasti bisa sembuh." Sebuah kalimat penyemangat yang di ucapkan Ivan untuk menguatkan istrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang Mas setelah mengetahui semua ini." Tangis Elsa pun pecah dalam pelukan Ivan. Rasanya ia tidak sanggup lagi menopang tubuhnya.
"Ya Allah ..." Rintih Elsa di sela sela tangisnya.
__ADS_1
Keduanya pun terlarut dalam suasana menyesakkan saat ini, tidak ada satu kata yang sanggup terucap dari bibir masing-masing. Sebuah harapan yang besar kini terkikis sudah setelah mengetahui semua ini.
"Sayang, bisakah kamu merahasiakan semua ini dari semua orang, termasuk Ayah dan Bunda. Cukup kita berdua saja yang mengetahui semua ini." Ucap Ivan setelah beberapa menit termenung.
Elsa merenggangkan tubuhnya dari pelukan Ivan. Ia menatap wajah pucat yang ada di hadapannya untuk mencari tahu apa maksud dari ucapan sang suami.
"Kenapa harus begitu, Mas?" Tanya Elsa.
"Aku tidak mau mereka terlarut dalam kesedihan, Sayang. Aku mohon lakukan apa yang aku inginkan." Ucap Ivan dengan sorot mata memohonnya.
Sejenak Elsa terdiam, ia memikirkan permintaan berat dari sang suami. Kuatkah ia menyimpan semua ini sendiri tanpa ada tahu, termasuk kedua mertuanya. Ya, itulah tanda tanya besar yang ada dalam benak hati Elsa.
"Baiklah Mas, aku akan merahasiakan semua ini. Tapi berjanjilah padaku, untuk tidak putus asa dengan keadaan yang ada. Kamu harus semangat Mas, kamu harus sembuh demi aku, Rafa dan semua orang yang menyayangimu." Ucap Elsa dengan tangan yang mengusap wajah Ivan dengan perasaan yang tak karuan.
"Iya Sayang. Aku pasti sembuh. Aku pasti bisa melewati semua ini." Senyum manis terbit dari bibir kering Ivan.
Kesedihan yang dalam harus bisa di sembunyikan dengan senyuman. Sebuah senyuman yang menipu semua orang, demi permintaan Ivan yang berat itu. Elsa terus berada di samping Ivan, rasa kantuk pun tak dapat dirasakannya walau malam semakin larut.
"Kamu pasti sembuh Mas! Kita akan kembali bahagia seperti dulu." Gumam Elsa dalam hatinya ketika menatap wajah Ivan.
Hembusan angin malam menerpa seorang pria yang tengah menikmati sebatang rokok di balkon lantai dua sebuah rumah megah milik Pak Roni.
Emran mengepulkan asap rokoknya sembari menatap bintang yang bertaburan di langit gelap malam ini. Pikirannya tengah terpusat pada seorang wanita yang sedang berada jauh darinya, siapa lagi kalau bukan Dina Silvana.
Seorang wanita cantik dengan baju tidur yang sexy tengah berjalan menuju tempat Emran berada. Ia membawa nampan yang berisi dua cangkir minuman hangat dan sepiring makanan ringan sebagai pelengkapnya.
"Coklat hangat untukmu, Ran." Ucap Mega setelah meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja. Ia pun duduk di kursi yang ada di hadapan Emran.
"Terima kasih." Ucap Emran datar. Sejenak ia menatap Mega yang tak berbeda dari biasanya. Ia mengernyitkan keningnya setelah menyadari penampilan Mega malam ini.
"Pasti dia merencanakan sesuatu." Gumam Emran dalam hatinya.
Mega memasang senyum cantiknya, aroma parfum yang memabukkan tercium disana, berbaur dengan kepulan asap rokok Emran. Ia mulai mengajak Emran ngobrol dengan hal-hal yang ringan, ya meski suaminya itu terkesan acuh dengan obrolan yang berlangsung saat ini.
__ADS_1
"Ran, minum dulu coklat hangatnya." Ucap Mega setelah menyadari Emran belum menyentuh gelas di hadapannya.
"Bagaimana kalau kita bertukar minuman saja. Aku ingin coklat yang ada di gelasmu." Sebuah kalimat yang terucap dari bibir Emran yang berhasil membuat Mega terkesiap.
"Ke .. Kenapa harus bertukar? ini tidak cocok untuk diminum seorang pria." Ucap Mega dengan terbata. Jantungnya pun berdebar kencang setelah menatap sorot mata Emran yang menakutkan.
"Ayolah, kenapa harus gugup! kita hanya bertukar minuman saja kan?" Emran menyeringai, apalagi ketika melihat Mega menjadi gugup.
"Aku tidak suka coklat hangat yang ku buat untukmu, Ran. Itu terlalu manis. Kalau yang di gelasku ini tanpa gula." Sungguh dalam keadaan seperti ini membuat Mega terlihat bodoh. Apalagi setelah mengucapkan alasan yang tak masuk akal di hadapan Emran.
Emran berdecak kesal setelah mendengar penuturan Mega. Ia bisa memastikan jika minuman yang ada di gelasnya ini bukanlah coklat biasa, pasti ada sesuatu yang di campurkan Mega kedalam nya.
"Emran, kamu jangan berpikir negatif dulu! Aku tidak mungkin kan menaruh racun dalam minuman suamiku sendiri?" Mega mencoba meyakinkan Emran, namun semua itu sia-sia karena Emran semakin melebarkan matanya.
Emran berdiri dari tempat duduknya, ia meraih gelas yang ada di hadapannya. Pyaaaar ... serpihan gelas pun tercecer di lantai setelah Emran membantingnya.
"Sudah aku katakan dari awal, jangan berharap lebih pada pernikahan ini. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyentuhmu! Aku tidak akan bisa menyentuh wanita tanpa cinta." Emran menatap Mega dengan kemarahan yang besar.
"Kamu pikir aku tidak tahu hmm, apa yang ada dalam minuman yang kamu bawa tadi?!" Emran semakin geram melihat Kelakuan Mega.
"Kenapa Emran? kenapa kamu tidak mau membuka hatimu untukku? aku istrimu, aku juga berhak mendapatkan nafkah batin darimu? kamu sangat tidak adil padaku, Ran! kamu tidak takut berdosa karena melakukan semua ini padaku?" Cecar Mega yang ikut terbawa emosi.
"Jangan mengatakan dosa di hadapanku! bukankah kamu sudah tau semua ini akan terjadi padamu? kamu sendiri bukan, yang memilih untuk menikahi seorang pria beristri hanya karena sebuah obsesi bodoh!! Kamu yang datang menawarkan diri kepada Mamaku untuk menjadi menantunya, dan sekarang kamu merasa tersakiti karena aku? Cih, aku semakin membencimu!" Ucap Emran sebelum berlalu pergi dari hadapan Mega.
Sebuah kalimat panjang yang menyayat hatinya, ia menangis karena ucapan Emran yang sangat menyakitkan. Dinginnya angin malam pun menjadi saksi kepiluan hatinya. Langkah bodoh telah dilakukannya demi mendapatkan Emran seutuhnya, namun hasilnya hanya sebuah kemarahan yang menyebabkan jarak yang semakin jauh antara dirinya dan Emran.
_
_
Selamat Membaca kak, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️