
"Sayang ... Sayang, bangunlah!" Ivan menepuk pundak Elsa beberapa kali. Ia menatap Jam dinding yang masih berada di angka satu dini hari.
Perlahan Elsa mengerjapkan matanya karena Ivan terus menganggu waktu tidurnya. Ia merasakan geli di sekitar lehernya yang terkena hembusan nafas Ivan.
"Ada apa Mas?" Elsa memicingkan matanya ke arah jam yang menempel di dinding kamar.
"Astaga!! ini masih dinihari Mas!" Elsa mendengus kesal.
Ivan duduk di samping Elsa, ia tersenyum manis tanda sebuah rayuan akan terucap dari bibirnya.
"Aku dari tadi gak bisa tidur karena perutku lapar, Sayang. Ke dapur yuk!! bikin mie instan." Ucap Ivan dengan wajah yang di buat semanis mungkin.
"Mau ya ... ya ... ya Sayang." Ucap Ivan yang sedang menaik turunkan alisnya agar Elsa mau memenuhi apa yang ia inginkan.
Elsa memutar bola matanya ke sembarang arah, ia sedikit kesal dengan permintaan Ivan karena baru saja ia menikmati indahnya alam mimpi yang membuatnya terlena.
"Ya sudah ayo ke dapur Mas!" Ucap Elsa seraya beranjak dari tempat tidur.
Sebelum masuk ke dapur, Elsa terlebih dahulu masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Sementara itu Ivan menyiapkan panci yang sudah di isi dengan air untuk merebus mie instannya.
"Biar aku saja yang membuat mie nya Mas. Kamu duduk aja." Ucap Elsa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Ivan mengikuti perintah Elsa, kini ia duduk di kursi yang ada di belakang Elsa. Ia terus memandang tubuh Elsa yang terbalut daster tanpa lengan berwarna merah. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepala Ivan, membuatnya tersenyum simpul seraya berdiri dari tempatnya.
"Mas!!" Seru Elsa ketika ia merasakan kedua tangan Ivan melingkar di perutnya.
"Jangan menggangguku, Mas!" Elsa menatap wajah Ivan yang kini berada di ceruk lehernya.
"Kenapa pagi ini kamu begitu menggoda hmmm? sengaja mau menggodaku dengan menggoyangkan pinggul ini?" Lirih Ivan dengan satu tangan yang sudah meremas bongkahan daging padat di bagian belakang tubuh Elsa.
"Mas, ini di dapur! jangan seperti ini!" Ucap Elsa sambil memasukkan mie instan ke dalam panci. Ia sedikit risih dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Kenapa? Bunda dan Ayah pasti sudah tidur." Ucap Ivan dengan tangan kanan yang sudah menjalar ke daerah rawan banjir.
__ADS_1
"Uhhh ..." Elsa melenguh ketika jari jemari Ivan menelusup ke dalam segitiga berenda miliknya.
Elsa mematikan kompor di hadapannya, kini ia mulai menikmati permainan Ivan yang tak tahu tempat ini. Elsa memejamkan matanya ketika jari Ivan menemukan kacang almond miliknya.
Sebuah lenguhan manja kini terdengar di indera pendengaran Ivan. Ia sangat menyukai suara itu, suara yang membuatnya semakin ingin berbuat lebih. Jari-jari Ivan kini meninggalkan daerah rawan banjir itu, ia mengarahkan jarinya untuk mendaki bukit kembar agar sampai pada puncaknya.
"Uhhh ... emmmh" Elsa menggelinjang ketika Ivan menyusuri leher mulusnya dengan sapuan lidahnya. Apalagi ketika dua jari Ivan berhasil menemukan puncak bukitnya untuk di mainkan dengan begitu luwesnya.
Sementara itu didalam kamarnya, Bu Nurul terbangun dari tidur pulasnya karena alarm yang tidak bisa ditunda lagi. Buru-buru Bu Nurul beranjak dari ranjangnya karena tak dapat lagi menahan rasa ingin buang air kecilnya.
"Astagfirullohhaladzim!" Lirih Bu Nurul yang terkejut ketika sampai di pintu dapur. Beliau memutar tubuhnya ketika melihat Ivan dengan ganasnya menc*mbu sang istri.
Bu Nurul mondar mandir di dalam kamarnya, hal itu membuat Pak Hamid terbangun karena langkah Bu Bu Nurul.
"Bund, ada apa?" Pak Hamid menatap heran istrinya yang terlihat gelisah.
"Bunda kebelet pipis Yah!" Ucap Bu Nurul yang masih mondar mandir didalam kamar.
"Itu yah ... anu ... di dapur ada Ivan sama Elsa lagi mesum!" Ucap Bu Nurul.
Sejenak Pak Hamid tertegun setelah mendengar ucapan istrinya. Beliaupun akhirnya tergelak karena membayangkan apa yang dilakukan Ivan di dapur bersama Elsa.
"Bunda harus mencari cara agar mereka berhenti. Bunda sudah tidak kuat lagi menahan pipis yang sudah di pucuknya." Ucap Bu Nurul seraya membuka pintu kamarnya.
"Ayah ... Mau minum teh hangat atau jahe hangat!!"
Elsa bergegas menurunkan tubuhnya dari meja berlapis keramik yang ada di dapur. Ia membenarkan dasternya ketika mendengar suara Bu Nurul yang baru keluar dari kamar. Elsa mendorong tubuh Ivan agar segera menjauh darinya.
"Ada Bunda Mas!! aduh gimana ini!!" Elsa terlihat panik dan salah tingkah.
"Santai saja, jangan gugup." Ucap Ivan seraya kembali duduk di kursi.
Elsa kembali menyalakan kompor di hadapannya. Air yang sudah mendidih kini terasa dingin lagi, mie instanpun menjadi saksi dari kegiatan panas yang harus tertunda.
__ADS_1
"Loh, kalian ngapain di dapur? masih terlalu pagi loh ini." Ucap Bu Nurul yang menahan senyumnya ketika melihat wajah putranya yang memerah karena menahan gejolak yang belum terselesaikan.
"Ivan lapar Bund, lagi di bikinin Elsa mie instan." Ucap Ivan tanpa menatap sang Bunda.
Bu Nurul segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hasrat ingin pipisnya yang sejak tadi harus tertunda.
"Bunda mau dibikinin jahe hangat?" Teriak Elsa.
"Tidak Nak, ayah tidak jadi minta wedang jahe!" Jawab Bu Nurul sebelum tergelak karena kejadian yang baru saja di hentikannya.
Elsa sudah menyelesaikan tugasnya, mie instan yang telah mengembang tersaji di atas piring berwarna putih. Ivan menahan senyumya ketika melihat hasil mie instan yang sempat berendam lama di dalam panci.
"Mie instannya kelamaan berendam ya, Sayang." Kelakar Ivan setelah menikmati satu sendok mie goreng pedas itu.
Elsa hanya tersenyum kecut, ia tidak menanggapi ucapan Ivan karena Bu Nurul baru saja keluar dari kamar mandi.
"Enak ya Van makan mie instan di pagi buta seperti ini, apalagi kalau di tambah mayonaise pasti gurih tuh!" Seloroh Bu Nurul sebelum berlalu dari dapur.
Elsa membekap mulutnya, ia tahu apa maksud dari ucapan mertuanya itu. Sungguh, rasanya ia tidak punya muka lagi di hadapan Bu Nurul.
"Tuh kan Mas!! Bunda tadi pasti tau apa yang tadi kita lakukan!" Elsa mengerucutkan bibirnya di hadapan Ivan.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1