PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Sakit...


__ADS_3

Gemericik air hujan terdengar dari luar rumah Ivan. Hujan lebat turun lagi tepat setelah adzan magrib berkumandang. Hawa dingin telah melanda semua insan yang ada di desa Ivan karena hujan yang tak kunjung reda sampai jam menunjukkan pukul sembilan malam.


Ivan duduk di ruang tamu sambil memangku gitar milik teman nya yang di pinjam tadi sore setelah ia pulang dari sekolah. Ivan menghafal kunci chord yang tertulis di kertas yang tadi di cetak Elsa waktu di ruang musik yang ada di sekolah nya.


"Ivan!!!" teriak Bu Nurul.


Ivan menghentikan kegiatan nya, ia menatap Bu Nurul yang sedang bersandar di dinding ruang tamu nya. Ivan meletakkan gitar yang ada di pangkuan nya di atas meja.


"Ada apa Bund?" Tanya Ivan.


"Kamu ini mau ngapain?? dari tadi kok jrang... jreng... terus? gak belajar hmmm??" Bu Nurul memberondong Ivan dengan beberapa pertanyaan.


"Oh... Ivan bulan depan mau tampil di acara wisuda nya anak kelas dua belas Bund." Ucap Ivan sambil menyandarkan tubuhnya di sofa yang di tempati nya .


"Jadi dari tadi Ivan itu latihan Bund, agar bulan depan bisa tampil dengan sempurna." Lanjut Ivan.


Bu Nurul berjalan menghampiri Ivan, beliau duduk di samping Ivan sambil menatap putra semata wayang nya dengan seksama.


"Memang kamu bisa Van main gitar ini?" Bu Nurul meragukan kemampuan yang di miliki putra nya.


"Bisa lah Bund!! Ivan dari SMP udah bisa main gitar Bund." ucap Ivan sembari menatap sang Bunda.


"Kamu belajar dari mana Van?? apa jangan-jangan kamu dulu pernah ikut ngamen di pinggir jalan Van???" Ucap Bu Nurul dengan kelopak mata yang melebar.


"Enggak lah Bund!!! Ivan tidak pernah melakukan itu." Sergah Ivan sambil menggelengkan kepalanya dengan spontan karena terkejut mendengar ucapan sang Bunda.


"Ivan dulu belajar di rumahnya Toni bund." lanjut Ivan .


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Bu Nurul sembari mengusap dadanya karena lega mendengar penjelasan Ivan.


"Kalau begitu buktikan kalau kamu memang bisa bermain gitar Van." Pinta Bu Nurul sambil menatap Ivan.


Tanpa menjawab, langsung saja Ivan meraih gitar yang ada di atas meja. Ia mulai memetik senar gitar untuk menghasilkan nada-nada yang ingin di main kan nya, Ivan juga menyanyikan satu buah lagu untuk menunjukkan kemampuan nya di depan sang Bunda.


Bu Nurul menatap Ivan dengan mata yang berbinar karena bangga melihat kemampuan Ivan di bidang musik. Beliau tidak menyangka Ivan bisa memainkan senar gitar dengan begitu lihai nya.

__ADS_1


"Bunda tidak menyangka kalau kamu bisa bermain musik Van, maafkan Ayah dan Bunda yang tidak bisa memberikan kamu fasilitas seperti teman-teman mu Van." Gumam Bu Nurul dalam hatinya ketika mengingat betapa patuhnya Ivan kepada beliau. Bu Nurul sangat bersyukur mempunyai putra seperti Ivan yang tidak pernah menuntut apa yang dia inginkan.


"Wahhhhh!!! Anak Bunda ternyata hebat juga ya..." Ucap Bu Nurul ketika Ivan selesai menyanyikan sebuah lagu dari Wali band.


"Pantas ya Van Elsa jadi mepet terus sama kamu!!" Kelakar Bu Nurul.


"Apa sih Bund!!" jawab Ivan yang mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


...💠💠💠💠...


Matahari perlahan naik ke permukaan untuk menyinari bumi beserta isinya. Rona jingga terlukis indah di langit timur Kota Mojokerto.


Tepat pukul enam pagi Ivan sudah rapi dengan seragam sekolah nya. Ia membereskan buku yang tadi pagi baru di pelajari nya, tak lupa ia memakai sepatu berwarna hitam untuk menyempurnakan penampilan nya sebagai seorang pelajar SMA.


Ivan meraih ponsel nya ketika mendengar sebuah pesan masuk di ponselnya, dengan segera Ia membuka pesan yang ternyata dari Elsa. Raut wajah Ivan sedikit berubah setelah membaca isi pesan dari pujaan hatinya yang tidak masuk sekolah hari ini karena sakit.


Ivan meraih tas sekolahnya dan segera berjalan keluar untuk sarapan bersama kedua orangtuanya. Dengan buru-buru Ivan menghabiskan makanan yang ada di piring nya karena pagi ini Ia harus ke rumah Elsa dulu untuk mengambil surat izin Elsa.


"Bunda, Ayah... Ivan berangkat sekolah dulu." Ucap Ivan sebelum menjabat tangan kedua orangtuanya.


"Pelan-pelan saja ya Van naik motornya, jangan ngebut!!" Ucap Bu Nurul sambil mengusap puncak kepala Ivan dengan penuh kasih sayang.


"Ashiap Bund...." Ivan mengacungkan jempolnya kepada Bu Nurul.


Setelah kepergian Ivan, Bu Nurul kembali duduk di samping Pak hamid untuk menyelesaikan sarapan nya. Pasangan suami istri ini terlihat begitu romantis walau usia pernikahan nya sudah berusia belasan tahun.


"Yah... Apa kita tidak salah langkah dengan membiarkan Ivan dan Elsa berpacaran?" Tanya Bu Nurul untuk membuka obrolan bersama Pak Hamid.


"Terus kita harus bagaimana Bund?? Bunda mau Ivan pacaran sembunyi-sembunyi tanpa pengawas. dari kita?" Pak Hamid bertanya balik kepada Bu Nurul.


Bu Nurul terdiam setelah mendengar ucapan suaminya, beliau mencerna apa yang di katakan oleh Pak Hamid yang memang ada benarnya.


"Biarkan mereka berdua di rumah ini Bund, setidaknya di rumah ini ada Bunda yang bisa mengawasi mereka. Bayangkan saja Bund kalau kita melarang Ivan untuk berpacaran, apa tidak lebih berbahaya Bund jika mereka berdua ketemuan di tempat sepi!!" Pak Hamid memberi penjelasan kepada Bu Nurul.


"Iya juga ya Yah.... Nanti bisa-bisa mereka ketemuan di jalan terus ke tempat sepi-sepi." Ucap Bu Nurul sambil menatap Pak Hamid.

__ADS_1


"Kita hanya bisa memberikan mereka berdua arahan agar tidak melewati batas wajar Bund. Kita tidak bisa mengekang Ivan, apalagi seperti nya Ivan begitu menyukai Elsa." Ucap Pak Hamid sembari menepuk pundak Bu Nurul dengan lembut.


Beberapa saat kemudian Pak Hamid pamit untuk berangkat bekerja. Seperti biasa beliau akan mengendarai motor butut nya untuk bisa sampai di pabrik tempatnya berkerja.


***


Setelah mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, akhirnya Ivan sampai di depan gerbang rumah Elsa. Ia menunggu Elsa di sana karena ia tidak bisa berlama-lama di rumah Elsa.


"Pagi Van..." Sapa Elsa ketika baru sampai di hadapan Ivan.


"Pagi El, kamu sakit apa?" Tanya Ivan sambil menatap Elsa yang terlihat sedikit pucat.


"Hanya demam biasa kok Van." jawab Elsa dengan suara seraknya. Mendengar Elsa mengucapkan kata demam membuat Ivan spontan mengulurkan tangannya ke kening Elsa.


"Cepat sembuh Ya El, jangan lupa obatnya di minum dengan teratur." Ucap Ivan sambil menatap wajah polos Elsa yang terlihat begitu cantik di matanya.


"Ck. Kamu seperti Mama ku saja!!" Elsa berdecak setelah mendengar ucapan Ivan.


"Ya sudah aku berangkat dulu El biar tidak telat." Pamit Ivan sambil menghidupkan mesin motornya.


"Makasih ya udah jauh-jauh kesini hanya untuk mengambil surat izin tidak masuk." Ucap Elsa yang di balas Ivan dengan senyuman khas miliknya.


"Hati-hati ya Van." ucap Elsa dengan malu-malu.


Ivan tersenyum melihat Elsa yang terlihat lucu karena rona merah yang ada di pipi mulusnya. Ivan segera memutar balik motonya untuk segera berangkat menuju sekolahnya.


_


_


Happy Reading kak, semoga suka♥️😍


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2