
Jarum jam berhenti di angka sebelas, Elsa menunggu Ivan yang tak kunjung datang setelah tadi pamit untuk membeli beberapa alat make up dan pakaian yang di butuhkan Elsa saat ini.
Ya, mereka berdua memutuskan untuk menyewa satu kamar hotel untuk Elsa beristirahat dan mengganti kebaya putihnya.
Elsa membolak balikkan tubuhnya di atas ranjang king size berwarna putih, ia memainkan ponsel milik Ivan yang sengaja di tinggal oleh pemiliknya.
"Ternyata galeri ponselnya Ivan isinya fotoku semua." Gumam Elsa dengan senyum yang mengembang dari pipinya.
Beberapa saat kemudian, Ivan datang dengan membawa beberapa kantong berwarna putih yang berisi perlengkapan untuk Elsa.
"Buruan ganti baju El. Aku gak suka liat kamu pakai kebaya itu." Ucap Ivan sembari meletakkan kantong berisi pakaian Elsa.
Hampir tiga puluh menit Elsa berada di kamar mandi, entah apa saja yang ia lakukan di dalam sana. Ia keluar dengan handuk yang melilit rambut panjangnya dan baju yang baru saja di beli oleh Ivan.
"Van, apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" Tanya Elsa ketika duduk di samping Ivan yang bersandar di ranjang.
"Tidak ada, kita istirahat saja disini. Nanti sore kita pulang, oke!" Ucap Ivan sembari menatap Elsa.
"Aku gak mau pulang Van!" Rengek Elsa dengan suara manjanya.
"Kemarin malam kan udah aku bilang, kita akan menikah dengan cara yang benar." Ucap Ivan dengan santainya.
Elsa merapatkan tubuhnya dengan Ivan, ia masuk dalam dekapan Ivan yang sangat nyaman itu. Senyum tipis terlukis dari wajah polosnya tatkala mengingat aksi nekatnya tadi malam.
...🌷Flashback On🌷...
Elsa mondar-mandir di kamarnya, sudah jam satu dinihari namun matanya susah untuk terpejam. Elsa keluar dari kamarnya menuju balkon yang ada di luar kamar.
Tatapannya menerawang jauh entah kemana. Ia resah karena besok adalah hari pernikahannya, dekorasi pernikahan sudah tertata rapi di ruang tamunya.
"Aku tidak bisa melanjutkan semua ini. Aku harus mencari cara agar pernikahan ini gagal!" Gumam Elsa sembari menatap pos yang ada di dekat gerbang rumahnya.
Sebuah ide muncul dari otaknya manakala melihat motor milik satpam yang berjaga. Ia memantau keadaan di halaman rumahnya dan setelah itu ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Pyaaar..... lampu di kamar mandi terjatuh setelah di pukul Elsa dengan tongkat yang tadi di ambilnya di balik almari.
Elsa bergegas keluar dari kamar mandi, tak lupa ia meraih dompetnya untuk mengambil beberapa lembar uang untuk di bawanya. Elsa mengendap-endap menuruni tangga rumahnya.
"Pak Sonip..." Ucap Elsa ketika sudah berada di teras rumahnya.
"Iya Neng...." Ucap Pak Sonip ketika sampai di hadapan Elsa.
__ADS_1
"Lampu kamar mandi saya pecah, tolong di ganti ya pak. Saya takut kalau kamar mandinya gelap." Ucap Elsa.
"Baik Neng, Bapak ambil lampu dulu di pos, kemarin Pak Roni beli banyak lampu neng." Ucap Pak Sonip.
"Em... tidak usah Pak! Dikamar saya ada lampu." Ucap Elsa.
"Baik Neng, Bapak ke kamar Non Elsa dulu ya." Ucap Pak Sonip sebelum berlalu pergi dari hadapan Elsa.
"Saya tanggu disini ya pak sambil ngecek dekorasi yang kurang benar." Elsa beralasan.
Sepeninggalan Pak Sonip, perlahan Elsa melangkahkan kakinya menuju samping pos penjagaan tempat Pak Sonip bekerja. Ia mengambil kunci motor yang ada di atas meja, kemudian Elsa mendorong motor matic milik Pak Sonip keluar dari pagar rumahnya.
Setelah di rasa agak jauh dari rumahnya, Elsa menyalakan mesin motor Pak Sonip dan melajukan dengan kecepatan tinggi menuju rumah pria yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Sementara itu, di dalam ruang tamu yang masih terang dengan cahaya lampu yang masih menyala, Ivan memainkan gitarnya. Ia tak dapat tidur sampai selarut ini karena bayangan wajah Elsa terus berkeliaran di pikirannya.
Ivan tersenyum kecut tatkala mendengar suara Elsa di luar rumahnya. "Aku mungkin sudah benar-benar gila! bahkan aku berhalusinasi mendengar suara Elsa di luar rumah." Gumamnya yang terus memetik senar gitar yang ada di pangkuannya.
Pak Hamid dan Bu Nurul keluar dari kamarnya, tatkala mendengar suara gadis yang memanggil nama putranya.
"Ivan, siapa yang datang selarut ini?" Tanya Bu Nurul yang penasaran.
"Ivan dari tadi berhalusinasi Bund, Ivan mendengar suara Elsa terus memanggil Ivan." Ucap Ivan dengan wajah layunya.
Dengan langkah gontai, Ivan membuka pintu rumahnya dan betapa terkejutnya dia, tatkala melihat wajah cantik tanpa polesan make up di hadapannya.
"Elsa!!" Teriak Ivan.
Sang pemilik nama langsung menabrak tubuh tinggi di hadapannya. Elsa merapatkan tubuhnya dengan Ivan. Beberapa detik kemudian ia menatap wajah bingung di hadapannya.
"Bawa aku pergi! ayo kita kabur Van! Aku tidak bisa melanjutkan semua ini." Ucap Elsa dengan air mata yang berjatuhan.
Ivan hanya diam sembari terus menatap wajah yang di penuhi air mata itu. Ia mengurai tubuh Elsa dan mengusap air mata yang membasahi pipi mulusnya.
"Kamu kabur dari rumah?" Tanya Ivan ketika melihat penampilan Elsa yang memakai piyama panjang dan motor matic yang tidak di kenalinya.
Elsa menganggukkan kepalanya, kemudian ia beralih menatap dua orang yang ada di belakang Ivan. Ia berjalan masuk kedalam rumah Ivan dan memeluk tubuh wanita paruh baya yang memakai daster berwarna hijau.
"Bu, saya minta maaf atas semua kesalahan Mama saya. Tolong jangan membenci saya Bu." Ucap Elsa ketika menatap Bu Nurul yang masih terdiam di tempatnya.
"Restui hubungan kami ya Bu. Saya rela jika harus kabur malam ini juga untuk bisa menikah dengan Ivan. Saya mohon Bu." Ucap Elsa yang terus menatap manik hitam yang berembun di hadapannya.
__ADS_1
Bu Nurul menatap Ivan dan Elsa bergantian. Beliau tidak tega jika harus memisahkan mereka berdua, namun beliau juga takut putranya akan di tekan Bu Kana jika terus bersama Elsa.
"Ibu pasrahkan semuanya kepada kalian berdua. Lakukan apa yang kalian inginkan sekarang, asal jangan sampai melakukan hubungan di luar pernikahan." Ucap Bu Nurul sembari mengusap bulir air mata yang perlahan turun.
"Ayo Yah kita masuk ke kamar, biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya." Ucap Bu Nurul seraya menarik tangan Pak Hamid masuk ke dalam kamarnya.
Ivan menarik Elsa untuk keluar dari rumahnya, ia menatap wajah gadis yang sangat di cintainya itu. Ia membelai rambut panjang yang terurai di pundak Elsa.
"Sekarang pulanglah El. Kalau kita masih berjodoh, pasti besok akan ada cara untuk kamu bisa lari dari rumahmu. Aku akan datang untuk membatalkan pernikahanmu, tapi bukan dengan cara seperti ini." Ucap Ivan dengan tenangnya.
"Ayo aku antar pulang!" Ucap Ivan sebelum mengeluarkan motor hitam kesayangannya.
...🌷Flashback off🌷...
Ivan tidak melepaskan dekapannya, ia terus mengecup puncak rambut Elsa yang masih basah. Tatapannya menatap lurus ke depan, memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan setelah ini.
"Tidurlah, nanti sore aku antar kamu pulang." Ucap Ivan sembari mengurai tubuhnya Elsa.
"Aku tidak mau pulang Van! Aku tidak mau!" Ucap Elsa dengan wajah yang tertekuk.
"Aku akan mengantarmu pulang dan meminta izin untuk menikahi mu." Ucap Ivan dengan wajah yang terlihat serius.
"Ini terakhir kalinya ya Van! kalau sampai Mama menolak kamu lagi, kamu harus berjanji untuk membawa aku lari dari rumahku!" Ucap Elsa dengan tegasnya.
Ivan hanya menganggukkan kepalanya, ia tersenyum melihat gadis yang nekat kabur dari rumahnya.
"Ceritakan padaku, Siapa saja mereka yang baru datang dengan menggunakan mobil mewah tepat sebelum kamu keluar dari rumah!" Ucap Ivan yang kini sudah mengubah posisinya dengan tidur di atas pangkuan Elsa.
Elsa menghela nafasnya, kemudian ia menceritakan semua kejadian yang di alaminya tadi pagi. Termasuk cerita tentang Dimas yang ternyata bukan pria baik-baik.
"Sekarang aku percaya Van, Jodoh tidak bisa di paksakan oleh siapapun meski tinggal selangkah lagi menuju halal. Mungkin doaku di kabulkan oleh Tuhan, dengan tidak memberi aku jodoh selain kamu." Ucap Elsa dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka♥️😍
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️