PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Bertemu dengan Bu Mala.


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu begitu saja, hari yang membahagiakan telah di rasakan oleh sepasang suami istri yang tengah menikmati kesuksesan yang di raih dalam waktu setahun ini. Ivan sukses menjadi 'Juragan Sepatu kulit' di kotanya. Usaha yang di bangun dari nol kini telah berbuah manis.


Usia Rafa sudah genap satu tahun setelah kemarin lusa ia merayakan ulang tahun pertamanya. Bayi yang dulu sempat akan dipisahkan dari orangtuanya kini sudah mulai berjalan, ia tumbuh dengan baik karena di kelilingi orang-orang yang dipenuhi banyak cinta.


Seperti saat ini, Ivan tengah mengajak Rafa bermain di arena Timezone yang ada di salah satu mall yang ada di Surabaya. Hari ini ia mengajak Elsa dan Rafa untuk ikut bersamanya mengirim beberapa pesanan sepatu ke toko yang ada di pasar turi.


"Sayang, habis ini mau kemana lagi?" Tanya Ivan yang sedang asyik bermain dengan Rafa. Meski belum mengerti, Rafa terlihat senang ketika melihat mobil berwarna warni yang ada di layar permainan.


"Kita cari makan yuk, Mas!" Ucap Elsa yang berdiri di samping Ivan.


"Baiklah." Ivan kembali fokus bermain dengan Rafa.


Beberapa menit kemudian, mereka bertiga berjalan keluar dari arena timezone , menuju lantai paling atas untuk mencari makanan yang mereka inginkan.


"Kita kesana aja Mas!" Elsa menunjuk kedai bertuliskan C*C.


"Aku mau cari tempat yang nyaman untuk Rafa. Kamu saja ya Mas yang pesan. Pesankan aku seperti bisanya." Ucap Elsa sebelum berlalu dari hadapan Ivan untuk mencari tempat duduk yang nyaman.


Elsa memilih deretan kursi empuk yang ada didekat kaca besar yang terarah langsung ke halaman luas bangunan besar yang ia tempati saat ini. Ia menidurkan Rafa yang baru saja terlelap. Tak lama setelah itu pun, Ivan datang dengan membawa nampan yang berisi beberapa makanan favorit Elsa.


Tiga puluh kemudian, Elsa dan Ivan telah menyelesaikan makam siangnya. Mereka berjalan keluar untuk mencari barang yang di inginkan Elsa. Mereka masuk ke salah satu counter kosmetik.


Elsa memilih sederet warna lipstik yang akan di belinya. Ia sedang fokus dengan beberapa warna yang ada di hadapannya. Elsa segera mengalihkan pandangannya ketika pundaknya di tepuk oleh seseorang.


"Elsa ... " Terdengar suara lembut yang sangat di kenali oleh Elsa.


"Kak Hesta!!" Seru Elsa ketika melihat siapa yang berdiri di belakangnya. Ia segera memeluk tubuh sepupunya itu.


"Apa kabar?" Tanya Hesta setelah mengurai tubuh Elsa.


"Baik kak, seperti yang kakak lihat." Ucap Elsa dengan senyum manisnya.


Hesta beralih menatap seorang pria yang sedang menggendong anak kecil di samping Elsa. Ia tersenyum kepada pria itu.


"Van, apa kabar?" Sapa Hesta.


"Baik Kak, kakak sendiri bagaimana?" Tanya Ivan.

__ADS_1


"Kakak juga baik-baik saja, ini anak kalian?" Tanya Hesta yang kini sedang mengelus pipi Rafa yang berisi.


"Iya kak, namanya Rafa." Ucap Elsa.


"Hesta, ayo pulang!"


Mereka bertiga mengalihkan pandangan ke sumber suara yang ada di belakang Hesta. Terlihat ada wanita paruh baya yang sedang melihat produk kecantikan lain.


Elsa menajamkan pandangannya ketika beradu pandang dengan wanita paruh baya yang kini sudah berada di samping Hesta, atau lebih tepatnya ada di hadapannya.


"Kenapa harus bertemu singa betina ini sih!" Sungut Elsa dalam hatinya. Ia sedang kesal saat ini. Wajah Bu Mala mengingatkan ia dengan kejadian setahun yang lalu, saat ia harus bertengkar dengan Bu Kana karena sebuah rencana konyol Bu Mala.


"Apa kabar Bude?" Tanya Ivan untuk memecah suasana yang menyesakkan ini. Ia tahu Elsa saat ini sedang terbakar peltikan api kemarahan.


"Baik. Kalian tidak mampir ke rumah Bude?" Tanya Bu Mala dengan mata yang terus menatap Elsa.


"Tidak, kami harus buru-buru pulang." Akhirnya Elsa mengeluarkan suaranya.


"Ayo Mas kita pulang." Ucap Elsa tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah berkerut di hadapannya." Kak Hesta, kami pulang dulu ya." Pamit Elsa yang kini beralih menatap Hesta, senyum manis terpancar disana.


"Hati-hati El, Van." Ucap Hesta.


"Kenapa hari ini sial banget sih!" Gerutu Elsa ketika sudah berada di dalam mobil pick up nya. Ia memangku Rafa yang baru saja masuk mobil bersama Ivan.


"Sudah lah, jangan terus-terusan menyimpan emosimu. Ingat Sayang, Rafa masih membutuhkan asi darimu. Jangan sampai dia terkena dampak dari energi api yang ada pada dirimu." Ucap Ivan yang kini mulai melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir.


...💠💠💠💠...


Tepat pukul sepuluh pagi, Emran menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Dina. Ia bergegas keluar dari mobilnya untuk membantu Pak Rusdi keluar dari mobilnya. Beliau baru saja pulang dari rumah sakit setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif di ruang ICU.


"Hati-hati Pak." Ucap Emran yang kini membantu Pak Rusdi berjalan masuk kedalam rumahnya.


Dengan membawa beberapa kantong berisi barang-barang Pak Rusdi, Dina membuka kunci pintu rumahnya. Ia segera masuk untuk menyiapkan kamar Pak Rusdi.


"Bapak Istirahat di kamar saja ya ..." Ucap Emran yang kini mengarahkan Pak Rusdi untuk masuk ke dalam kamarnya.


Sudah tiga bulan Pak Rusdi mengalami gangguan pada jantungnya, beliau harus bolak balik masuk rumah sakit karena serangan jantung. Hal itu membuat Dina mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia harus merawat Pak Rusdi yang sakit-sakitan.

__ADS_1


Setelah Pak Rusdi terbaring di atas ranjangnya, Dina mengajak Emran untuk bersantai di ruang tamu. Mereka tengah membahas hal mengenai percetakan milik Pak Roni.


"Dina ... Emran ..." Terdengar suara Pak Rusdi yang membuat mereka menghentikan obrolan. Mereka segera masuk ke dalam kamar Pak Rusdi.


"Ada apa Pak?" Tanya Dina yang kini duduk di pinggiran ranjang Pak Rusdi.


Emran mengambil kursi plastik yang ada di dekat jendela, ia pun duduk di samping Pak Rusdi.


"Bapak mau bicara dengan kamu, Nak Emran." Ucap Pak Rusdi dengan pandangan lurus kedepan, lalu beliau beralih menatap Emran.


"Apa kamu benar-benar mencintai Dina, Nak?" Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Dina melebarkan matanya.


"Tentu saja Pak, kami saling mencintai." Jawab Emran dengan wajah seriusnya.


"Bapak ini kan sudah tua Nak, Bapak juga sering sakit-sakitan begini. Apa kamu mau Nak mewujudkan keiinginan Bapak?" Tanya Pak Rusdi dengan suara lirihnya.


"Tentu Pak, apa yang bapak inginkan?" Tanya Emran.


"Menikahlah dengan Dina nak mumpung Bapak masih hidup. Bapak ingin menyaksikan pernikahan putri bapak satu satunya ini." Ucap Pak Rusdi yang kini beralih menatap Dina yang sudah berlinang air mata.


"Dina tidak memiliki siapapun disini. Kalau sewaktu waktu bapak meninggal, Dina akan sendirian. Bapak tidak tega jika tidak ada yang menjaga Dina disini." Lanjut Pak Rusdi dengan mata yang mulai berembun.


"Bapak jangan bilang seperti itu. Bapak pasti sembuh dan bisa menjaga Dina lagi." Ucap Dina yang kini meraih telapak tangan Pak Rusdi. Berulang kali ia mengecup punggung tangan yang masih terbalut perban itu.


Sejenak Emran terdiam. Ia tengah berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang. Tentu saja semua ucapan Pak Rusdi telah mengganggu pikirannya saat ini. Ia sangat mencintai Dina, tapi bagaimana ia bisa menikahi Dina dalam waktu yang singkat sedang orangtuanya saja belum pernah tau siapa kekasihnya selama ini.


"Saya siap menikahi Dina kapanpun Pak." Ucap Emran yang penuh dengan keyakinan.


_


_


_


Selamat membaca Kak, semoga suka 😍♥️


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2