PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Bahagia yang sederhana...


__ADS_3

Gemerlap lampu warna-warni menghiasi Alun-alun Kota Mojokerto, sebuah taman wisata untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Seperti yang dilakukan Ivan dan Elsa saat ini. Setelah pulang dari periksa ke Dokter praktek yang tak jauh dari Alun-alun, Ivan mengajak Elsa dan Rafa untuk menikmati pemandangan kota yang indah di Malam hari.


Rafa di biarkan berjalan sendiri, balita satu ini sangat antusias melihat keramaian yang ada di hadapannya, gemerlap lampu yang berwarna warni membuatnya berlarian kesana kemari dengan tawa yang terus terdengar dari bibir mungilnnya.


"Yah .. Yah .. Yu na .. na .." Ucap Rafa dengan tangan yang menunjuk patung gajah yang ada di sudut selatan alun-alun.


Ivan pun menggandeng Rafa berjalan ke tempat yang di inginkan oleh putranya, meninggalkan Elsa yang masih antri membeli sebuah makanan ringan khas alun-alun 'Krupuk solet'. Elsa tersenyum simpul melihat putranya yang setiap hari semakin aktif saja.


Sesampainya di tempat yang diinginkan oleh Rafa, Ivan menggendong putranya untuk di dekatkan dengan belalai gajah yang panjang itu, gelak tawa Rafa terdengar disana.


"Rafa berani? pegang belalainya, Nak." Ucap Ivan sambil mendekatkan tangan Rafa ke belalai di depannya. Lagi dan lagi gelak tawa Rafa terdengar nyaring di indera pendengaran Ivan ketika ia berhasil menggapai belalai hitam itu.


"Wah Rafa ternyata berani ya pegang belalai gajahnya! " Seru Elsa yang baru sampai di tempat anak dan suaminya berada, ia datang dengan kedua tangan yang membawa kantong makanan.


"Iya lah. Dulu waktu hamil Rafa, kamu kan ngidam pengen liat gajah ini." Ucap Ivan tanpa mengalihkan pandangannya dari Rafa.


Elsa tergelak mendengar ucapan Ivan, ia masih mengingat kenangan saat itu, Ia merengek ingin pergi ke Alun-alun hanya ingin melihat patung gajah legendaris ini.


"Tapi kalau aku lebih suka lihat belalai kamu Mas daripada belalai gajah ini." Kelakar Elsa yang membuat Ivan tertawa renyah.


"Kita duduk disana saja yuk Mas!" Elsa menunjuk sebuah taman bermain di bawah sinar lampu berwarna-warni.


Tanpa menjawab Istrinya, Ivan segera beranjak dari tempatnya. Ia berjalan ke tempat yang diinginkan oleh Elsa dengan tangan kanan yang menggandeng tangan Elsa, sedang tangan kirinya menggendong tubuh kecil Rafa.

__ADS_1


Sebuah senyum kebahagiaan terpancar jelas dari wajah orangtua muda ini. Sebuah pemandangan indah yang membuat siapapun iri jika melihat keromantisan keluarga kecil ini, keluarga sederhana yang di penuhi banyak cinta dan kasih sayang.


Selama hidup bersama Ivan, tak pernah sedikitpun Elsa mengeluh meski di awal ia harus bersusah payah menyesuaikan keadaan yang ada di rumah Ivan. Bohong jika ia tidak merindukan sosok wanita yang telah melahirkannya, Jauh di lubuk hati yang paling dalam, sebuah rasa rindu terukir disana. Rasa rindu dengan sebuah tempat dimana ia dibesarkan, rindu dengan semua orang yang ada di dalamnya. Namun, rasa kecewa yang besar telah memupus semua rasa rindu itu.


Sungguh, yang sebenarnya Elsa pun tak pernah menginginkan situasi ini. Terpisah dengan orangtuanya karena sebuah hal konyol yang tidak akan pernah diinginkan oleh siapapun.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Suasana tegang terasa dalam ruang VIP Cafe RnR yang tak jauh dari pusat kota. Dua orang duduk berhadapan dengan tatapan yang saling mengunci.


"Batalkan keinginanmu untuk menikah denganku!" Ucap Emran dengan tegasnya.


Mega menyunggingkan sudut bibirnya, Ia menatap manik hitam yang tengah mengisyaratkan sebuah kemarahan disana.


"Tidak mungkin, Emran! Mama mu sendiri yang memintaku untuk menjadi menantunya." Ucap Mega yang kini mengubah posisinya menjadi bersandar di sofa yang ia tempati saat ini.


"Kamu tidak akan pernah bahagia jika menikah denganku karena aku sudah menikah siri dengan kekasihku." Emran jujur kepada Mega agar ia mau membatalkan perjodohan ini.


"Kamu pikir aku percaya, Emran?" Mega kembali menegakkan tubuhnya.


"Aku tidak bodoh Emran! Mana mungkin kamu sudah menikah tanpa sepengetahuan orangtuamu! Carilah alasan yang jelas untuk menolak perjodohan ini." Ucap Mega tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku tidak beralasan, Mega! Aku sangat mencintai istriku! Kalau kamu memang mau meneruskan pernikahan ini, silahkan saja!" Emran kini menatap manik hitam Mega dengan mata nyalangnya.

__ADS_1


"Bersiaplah untuk menerima konsekuensinya. Jangan mengharapkan cinta dariku! Dan untuk status, yang jelas kamu akan menjadi istri kedua ku." Ucap Emran sebelum berdiri dari tempatnya.


Bibir Mega seakan terkunci begitu saja, ia tidak menyangka akan mendengar semua itu dari Emran. Rasa sakit tiba-tiba terasa dalam hatinya karena mendapat penolakan langsung dari pria yang diinginkannya selama ini.


Mega tak bisa menghentikan langkah Emran yang berlalu begitu saja dari ruang VIP ini. Tanpa pamit dan senyuman, Emran meninggalkan Mega sendirian di ruangan yang terasa sunyi.


Bulir air mata tiba-tiba mengalir dari pelupuk mata seorang Dokter kecantikan ini. Ia menundukkan kepalanya untuk mengeluarkan semua rasa yang menyesakkan hatinya.


"Tidak! aku tidak bisa menghentikan pernikahan ini! Emran pasti bohong! tidak mungkin dia punya istri." Mega bermonolog dalam tangisnya.


"Aku harus kuat agar bisa menaklukkan hati Emran! Aku harus memenangkan cinta Emran yang sudah lama aku inginkan!" Ucap Mega sembari mengusap sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.


Sebuah ambisi yang besar kini menyelimuti diri Mega, entah cinta atau hanya sebuah obsesi yang kini bersarang dalam hatinya, yang pasti ia akan berjalan di atas duri setelah ini.


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka β™₯️😍


Nih udah aku up dua bab hari iniπŸ˜€πŸ˜€ Insyaallah akan up satu bab lagi sebagai hadiah di tahun baru islam ini untuk kalian😍😍😍😘😘 tapi gak janji yaaπŸ˜† Semoga saja bisa crazy up hari iniπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


_

__ADS_1


_


❀️❀️❀️❀️❀️


__ADS_2