
Suasana tegang terasa di kediaman Pak Roni. Dimas masih saja mengelak dengan semua tuduhan polisi. Namun pada akhirnya ia menyerah dan pasrah kepada enam intel yang menangkapnya.
Bu Heni dan suaminya mengikuti Dimas yang sedang di gelandang seorang polisi menuju mobil dinas polisi. Wajahnya terlihat sangat frustasi dengan terbongkarnya bisnis yang selama ini ia tekuni. Semahir apapun ia bermain dalam dunia yang gelap itu, akhirnya terjatuh juga.
"Om, Tante. Tolong jangan batalkan pernikahan ini. Saya akan menikahi Elsa setelah semua urusan ini selesai." Teriak Dimas yang sedang berdiri di samping mobil Polisi.
"Saya tidak akan menikahkan putri saya dengan kamu. Jadi tolong lupakan semua mimpi kamu itu." Ucap Pak Roni dengan wajah yang memerah karena menahan emosi yang sejak tadi bergejolak dalam dirinya.
Pak Roni pergi ke dalam rumahnya tanpa menghiraukan suara Dimas yang sedang memohon. Kobaran api kemaran terlihat jelas dari sorot mata Pak Roni, hal itu membuat Bu Kana meremas tangan Bu Mala yang ada di sampingnya.
"Ada apa Dik?" Tanya Bu Mala.
"Aku takut Mbak dengan Papanya Emran." Ucap Bu Kana dengan suara bergetar.
Semua orang yang ada di halaman rumah membalikkan badannya tatkala mendengar suara benda berjatuhan di dalam rumah. Mereka semua segera masuk ke dalam ruang tamu yang sudah berantakan itu.
Praaang... praaanngg... praannng....
Pak Roni menjatuhkan semua dekorasi yang ada di ruang tamunya. Semua di hancurkan Pak Roni untuk melampiaskan kemarahannya. Wajah Bu Kana semakin pucat tatakala melihat mata merah Pak Roni.
"Papa... sudah Pa!" Emran menarik Pak Roni kedalam ruang keluarga yang masih di penuhi dengan meja prasmanan yang berjajar rapi.
"Siapa yang bertanganggung jawab atas semua ini?" Teriak Pak Roni yang sedang berkacak pinggang.
Tak ada satupun keluarga yang mengeluarkan suaranya. Bahkan Bu Mala sendiri begitu ketakutan melihat adik iparnya seperti itu.
"Ini kah yang kalian sebut sebuah kebahagiaan untuk Elsa?" Ujar Pak Roni sembari menunjuk wajah dua bersaudara di hadapannya.
"Pa, mama minta maaf. Mama juga tidak tau kalau akhirnya seperti ini." Ucap Bu Kana dengan suara yang bergetar.
"Maka dari itu nurut sama suami! Gak usah nurut ke orang lain walaupun itu kakakmu sendiri!" Ucap Pak Roni dengan suara yang meninggi hingga membuat semua orang yang mendengarkan bergidik ngeri.
__ADS_1
Pak Roni mengusap wajahnya dengan kasar. Beliau sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi, apalagi melihat dua wanita kakak beradik di hadapannya.
"Emra,panggil Elsa di kamarnya!" Ucap Pak Roni.
Tanpa menjawab, Emran berjalanan menaiki anak tangga satu persatu untuk munuju kamar Elsa yang ada di lantai dua.
"Elsa tidak ada di kamarnya Pa." Ucap Emran ketika kembali lagi ke hadapan Pak Roni.
"Maaf Pa, Emran harus menyembunyikan Elsa kali ini." Ucap Emran dalam hatinya.
Emosi Pak Roni semakin tersulut ketika mendengar Elsa tidak ada di kamarnya. Pikirannya benar-benar kacau hari ini. Beliau memijat keningnya karena begitu pusing memikirkan semua ini.
"Lihatlah!! Elsa kabur dari rumah!" Ujar Pak Roni dengan mata yang kembali memerah karena Emosinya yang memuncak.
"Dik, Aku tau semua ini salahku. Aku minta maaf, Tapi aku melakukan semua ini demi kebaikan Elsa, aku juga tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini." Bu Mala memberanikan diri mengeluarkan suaranya.
"Iya memang semua ini salah Mbak Mala dan Salahmu!" Ucap Pak Roni sembari menunjuk Bu Kana.
"Mata kalian sudah di butakan dengan harta tanpa mengetahui latar belakang keluarga Dimas! Inilah yang kalian dapatkan jika menilai seseorang hanya karena Harta dan kedudukannya!" Pak Roni seperti orang kesurupan yang sudah hilang kendali.
"Sekarang Aku tanya, lebih memalukan mana menikahkan Elsa dengan pria biasa atau melihat pernikahan gagal dengan calon menantu yang tidak tepat seperti Dimas?" Tanya Pak Roni yang masih berkacak pinggang di hadapan Bu Kana.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Pak Roni. Baik Bu Kana ataupun Bu Mala, mereka berdua sama-sama terdiam dengan wajah yang tertunduk. Hanya Emran yang berani menegakkan kepalanya.
Karena tak ingin terus mengikuti emosi yang semakin menguasai dirinya. Pak Roni pergi begitu saja dari hadapan Bu Kana. Beliau melangkahkan kakinya keluar dari rumah dan tak lama setelah itu terdengar suara mobil yang keluar dari bagasi rumahnya.
Keluarga besar Pak Roni pamit untuk kembali ke rumah masing-masing, sedangkan keluarga besar Bu Kana sedang berkumpul di ruang keluarga untuk menenangkan dua bersaudara yang menangis dengan posisi saling memeluk.
"Maaf tente, tadi ada tetangga tante yang memberikan ini." Ucap Hesta dengan membawa high heels, span panjang batik dan beberapa tusuk konde yang tadi di pakai Elsa.
Bu Kana semakin menangis pilu ketika melihat semua barang yang ada di tangan Hesta. Pikiran beliau semakin kacau ketika teringat Elsa kabur dari rumah megahnya ini.
__ADS_1
"Emran, kita harus mencari Elsa kemana?" Ucap Bu Kana dengan nafas yang tersengal.
"Entahlah Ma, tenangkan diri Mama dulu. Nanti kita akan berpikir bersama untuk menemukan keberadaan Elsa." Ucap Emran dengan tenangnya.
Suasana tegang benar-benar terasa di dalam ruang keluarga Bu Kana. Semua ucapan pak Roni terngiang di indera pendengaran Bu Kana, perasaan takut menjalar dalam diri Bu Kana.
"Apa yang harus aku lakukan!" Lirih Bu Kana di sela-seka tangisnya.
"Kenapa Tante tidak mencari Elsa di rumah kekasihnya, bisa saja dia kabur kesana Tan." Ucap Hesta ketika sebuah ide cemerlang muncul dalam pikirannya.
"Aduh Kak Hesta! kenapa kamu bilang itu! Sebentar lagi pasti Mama mengajaku kesana." Gumam Emran dalam hatinya.
"Emran, ayo kita kesana sekarang! kita jemput Elsa ya." Ucap Kana dengan raut wajah yang memohon
"Kan aku bilang juga apa! belum ada semenit kan aku bilangnya." Gumam Emran dalam hatinya.
"Jangan sekarang Ma, apa Mama tidak malu ke rumah Ivan dengan kondisi seperti ini?" Ucap Emran yang sedang menatap Bu Kana dari ujung rambut sampai kakinya.
Bu Kana terdiam, beliau mencerna apa yang baru saja di katakan oleh Emran. Dan kali ini beliau mengikuti saran Emran yang sangat masuk akal, hal ini membuat beliau bergumam dalam hatinya.
"Ada benarnya juga apa yang di ucapkan Emran. Aku tidak mau terlihat jatuh di hadapan orangtua Ivan yang pernah aku maki beberapa waktu yang lalu."
_
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka😍♥️
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️