
Dua bulan kemudian ....
Gelapnya langit malam telah berganti dengan warna biru, sinar kuning terpancar dari sudut timur. Matahari pun masih malu untuk menampakkan sinarnya. Penunjuk waktu masih berada di angka enam pagi, hawa dingin masih terasa disana.
Emran baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya yang basah terlihat disana. Senyum manis terbit dari bibirnya tatkala melihat tubuh istrinya yang masih bergelung di dalam selimut berwarna putih.
"Bay ... bangun Bay !!" Ucap Emran sembari membelai rambut istrinya yang berantakan.
Dina pun membuka kelopak matanya, Ia menatap Emran yang masih duduk di sampingnya.
"Aku males bangun Baby. Males masak juga." Ucap Dina dengan suara manja nya.
"Ya sudah kalau begitu kita sarapan di luar saja. Sekarang kamu mandi dulu ya biar kelihatan segar." Ucap Emran seraya berdiri dari ranjangnya. Ia pun berjalan menuju almari besar yang ada di sudut kamarnya.
Akhir-akhir ini Dina malas untuk melakukan aktivitas apapun. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di atas ranjang. Emran tidak pernah mempermasalahkan hal itu, ia malah memperkerjakan dua orang wanita yang berumur sekitar empat puluh tahun sebagai asisten rumah tangga yang bertugas untuk membersihkan rumah ini, karena untuk urusan masak, Dina tidak ingin siapapun yang melakukannya.
Beberapa menit kemudian, Dina sudah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi. Ia pun memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Emran di atas ranjang.
"Baby, Kenapa harus pakai baju ini sih?" Protes Dina ketika melihat dirinya dari pantulan cermin di hadapannya. Ia sedikit kesal karena Emran memilihkan sebuah dress sifon selutut dengan motif bunga-bunga.
"Ibu hamil tidak baik Bay jika memakai celana yang ketat. Dress itu sudah cocok dengan kamu." Ucap Emran seraya berjalan menghampiri Dina yang masih berdiri di hadapan cermin besarnya.
Ya, saat ini Dina sedang hamil dua bulan. Tentu saja hal itu membuat Emran sangat bahagia. Ia menjadi semangat bekerja karena ia akan menjadi Ayah tujuh bulan lagi. Rasa cintanya kepada Dina semakin bertambah karena benih cintanya mulai tumbuh di dalam perut Dina.
"Katakan padaku Bay, makanan apa yang dia inginkan saat ini?" Tanya Emran yang sedang berjongkok di depan perut rata Dina. Ia pun tak henti mengelus perut Dina.
"Hmmm ... Sepertinya dia ingin makan nasi pecel yang ada di depan kampus xxxx." Ucap Dina dengan kening yang mengkerut.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan kesana sekarang. Aku tidak mau anak ku ileran seperti yang di katakan Bu Tati tempo hari." Ucap Emran seraya berdiri. Bu Tati adalah asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Emran.
Keduanya pun akhirnya berangkat menuju tempat yang diinginkan oleh Dina. Semua yang diinginkan oleh Dina selalu di penuhi oleh Emran, tak sedikitpun ia kekurangan, apalagi untuk curahan cinta dan sayang, sudah pasti Dina lah pemiliknya.
Rumah tangga Emran dan Mega tetap berjalan seperti biasanya, tak pernah sekali pun Emran menyentuh istri keduanya itu. Ia hanya memberi nafkah lahir dengan nilai fantastis setiap bulannya. Tapi semua itu tak bisa membuat Mega bahagia. Ia berjuang mati-matian untuk mendapat cinta dari Emran, namun hasilnya tetap nihil. Hari-hari sepi telah dilalui Mega di dalam rumah megah Bu Kana. Meski Emran berada di Mojokerto, tak pernah sekali pun Emran bersikap hangat dengan Mega.
Sampai saat ini, Bu Kana belum mengetahui jika Emran memiliki dua istri. Baik Pak Roni ataupun Mega, mereka berdua sama-sama memilih bungkam dengan situasi yang terjadi saat ini.
...💠💠💠💠...
Sudah satu minggu ini, Ivan terbaring di rumah sakit Umum Kota Mojokerto. Kondisinya belum juga membaik, Dokter yang menangani pun sudah berusaha keras untuk mengetahui penyakit apa yang di derita oleh Ivan. Segala tindakan medis telah dilakukan, namun semua itu tidak bisa memberikan sebuah jawaban yang pasti akan penyakit yang di derita Ivan saat ini.
"Bagaimana Dok kondisi suami saya?" Tanya Elsa ketika Dokter Arif melakukan kunjungannya.
"Maaf Bu Elsa, kami belum bisa menyimpulkan penyakit Pak Ivan." Ucap Dokter Arif penuh sesal.
Kondisi Ivan tidak baik-baik saja, dalam satu bulan ini Ia kehilangan banyak berat badannya. Suhu tubuhnya terasa panas walau Dokter sudah memberikan beberapa macam obat.
"Saya mau bicara dulu sama keluarga saya, dok. Nanti saya akan ke ruang perawat setelah ayah saya datang kesini." Ucap Elsa dengan raut wajah sedihnya.
Dokter Arif pun berlalu dari kamar inap Ivan, meninggalkan sebuah tanda tanya besar pada diri Elsa.
"Sayang, jangan sedih. Aku baik-baik saja kok." Ucap Ivan dengan suara lemahnya. Ia meraih tangan Elsa untuk di genggamnya.
"Mas mau kan di rujuk ke Surabaya, biar kita tahu Mas Ivan sakit apa. Mau ya mas." Ucap Elsa dengan mata yang berembun.
"Iya aku mau, tolong jangan beri tahu Papa ataupun keluargamu yang lain kalau aku sedang sakit. Aku tidak mau mereka semua panik." Sebuah permintaan dari Ivan yang di setujui oleh Elsa dengan sebuah anggukan.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian Pak Hamid telah sampai di ruangan Ivan. Tatapan sedih terpancar dari sorot netranya tatkala melihat tubuh lemah anaknya.
"Bagaimana Rafa dirumah Yah? apa dia tidak rewel?" Tanya Elsa sembari menatap mertuanya itu.
'Tidak, Nak. Dia baik-baik saja, ya seperti biasa ... mainan sekeranjang berserakan di ruang tamu." Ucap Pak Hamid yang diiringi dengan senyumnya.
Kini mereka bertiga berunding tentang rencana yang tadi di sampaikan oleh dokter Arif. Pak Hamid pun menyetujui tentang keputusan pihak rumah sakit, beliau ingin putranya segera sembuh dari sakitnya.
"Van, kamu harus semangat ya Van. Kamu pasti sembuh, Nak." Ucap Pak Hamid yang sejak tadi duduk di pinggiran ranjang Ivan.
"Pasti Yah, Ivan pasti semangat." Ucap Ivan.
"Walau semua ini terasa menyakitkan di tubuh Ivan." Lanjut Ivan dalam hatinya.
Elsa berlalu pergi dari ruangan Ivan untuk menemui perawat yang berada di ruang jaga perawat. Ia ingin mengisi berkas rujukan yang akan di bawa ke Surabaya besok. Tekad nya sudah bulat, ia ingin Ivan kembali sehat dan membangun kembali kebahagiaan bersama keluarga kecilnya.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka ♥️😍
Hay hay ... Maaf ya othor sedikit membuat ujian dalam rumah tangganya mas Ipan dan mbak Elsa, gak lama kok😂 gak mungkin kan ya rumah tangga gak ada ujiannya, othor lebih milih mas Ipan sakit daripada harus ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Cukup Emran saja yah yang punya dua istri.😂😂 atau kalian ingin Mas Ipan punya istri lagi selain Mbak Elsa???
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️