
Kebahagiaan tengah di rasakan semua orang yang ada di rumah Pak Roni. Berita tentang kehamilan Elsa membuat Bu Kana tak henti memeluk putri kesayangannya itu. Beliau juga menjadi ramah dengan Ivan, tidak seperti biasanya yang menatap dengan sorot mata kebencian.
"Mama mau lihat hasil USG tadi El." Ucap Bu Kana.
Elsa segera membuka tas slempangnya dan memberikan selembar kertas berwarna hitam kepada Bu Kana.
"Jadi cucu Mama masih sekecil ini?" Tanya Bu Kana dengan mata yang berbinar.
Sebuah senyum tipis terbit dari bibir Pak Roni tatkala melihat istrinya bahagia karena kehamilan Elsa. Beliau tidak menyangka jika Bu Kana akan sebahagia ini.
"Besok Mama akan menyewa fotografer. Kalian berdua harus mengabadikan momen ini." Ucap Bu Kana tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang sejak tadi ada di tangannya.
"Tidak usah lah Ma, kita kan punya kamera sendiri. Biar kan Emran yang memotret Elsa nanti. Kalau foto maternity nunggu perut Elsa besar dulu aja Ma." Ujar Elsa.
"Ya ya ya... terserah kalian saja lah." Ucap Bu Kana pasrah.
Hampir satu jam Elsa dan Ivan berbincang dengan kedua orangtuanya. Mereka berdua pamit untuk beristirahat ke kamarnya.
Ivan duduk duduk di pinggiran ranjang sembari menatap Elsa yang sedang mengganti pakaiannya. Meski sudah tiga bulan melihat kulit mulus Elsa, tetap saja ia merasa kagum ketika pemandangan itu ada di hadapannya.
Elsa berjalan menuju tempat Ivan berada saat ini. Ia duduk di atas kaki Ivan yang menjuntai ke lantai. Elsa melingkarkan kedua tangannya di leher Ivan.
"Apa kamu bahagia saat ini?" Tanya Elsa sembari tangannya bermain di rahang kokoh milik Ivan.
"Tentu saja, aku sangat bahagia." Jawab Ivan yang tak mengalihkan pandangannya dari manik hitam yang tengah menatapnya itu.
Keduanya sama-sama terdiam, saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang mengisyaratkan sebuah cinta dan kebahagiaan disana.
"Gajahnya kan tadi ada di Alun-alun kota Mas, tapi kenapa belalainya ada disini ya?" Tanya Elsa dengan tatapan penuh arti.
"Biarkan saja, belalainya pasti akan tidur dengan sendirinya. Sekarang turunlah dari pangkuanku, kamu harus istirahat." Ucap Ivan.
"Tapi aku ingin merasakan belalai gajahnya, Mas..." Lirih Elsa di telinga Ivan. Hembusan nafas Elsa berhasil mengusik pertahanan Ivan.
"Apa ikan piranha mu sangat lapar saat ini?" Tanya Ivan dengan tangan yang menjelajah di leher putih yang ada di hadapannya.
"Emm... Sangat ... si piranha sedang ingin menerkam belalai gajah, Mas." Desis Elsa tatkala sebuah getaran terasa dalam tubuhnya.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, tangan Ivan mulai mendaki bukit yang sudah terlepas dari penutupnya. Tangan itu mencari sebuah puncak berwarna coklat untuk di putar-putar seperti stik PlayStation.
Elsa memejamkan matanya karena menahan sebuah rasa nikmat yang ia rasakan saat ini. Ia melenguh ketika lidah Ivan ikut menari di atas puncak bukitnya.
"Lakukan sekarang, Mas!" Elsa menatap Ivan dengan mata sayu nya.
"Yakin mau sekarang? tidak ingin bermain-main dulu dengan belalai gajah ini? atau mau di mainkan dulu kacang almond nya?" Tanya Ivan.
"Ihhh!! Jangan banyak bertanya deh! Ayo sekarang Mas!!" Seru Elsa yang tak bisa lagi menahan hasrat dalam dirinya.
Satu persatu kain yang menutupi tubuh mereka mulai terjatuh di atas lantai. Ivan memposisikan tubuh Elsa untuk terlentang di pinggiran ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
Elsa membuka kedua kakinya untuk memberi jalan si belalai gajah agar bisa masuk kedalam mulut piranha yang sudah basah dengan cairan beningnya.
Erangan manja keluar dari bibir Elsa ketika merasakan belalai gajah milik Ivan memporak porandakan bagian dalam mulut piranha nya. Ia mencengkram lengan bergelombang Ivan karena rasa itu sudah memuncak di ubun-ubun.
"Lebih cepat Mas!!" Ucap Elsa di sela-sela lenguhannya.
Ivan menambah kecepatan gerakannya ketika merasakan bagian dalam mulut piranha berdenyut kencang, belalainya terasa di cengkram oleh piranha yang lapar itu.
"Tahanlah, kita akan keluar bersama." Lirih Ivan.
"Apa perutmu sakit Sayang?" Tanya Ivan dengan posisi tubuh yang masih menyatu dengan Elsa.
"Tidak Mas, permainan kamu kali ini lembut sekali." Ucap Elsa dengan nafas yang terengah.
Ivan menghujani wajah Elsa dengan kecupan hangat bibirnya. Ia menatap wajah lemas yang masih berada di bawah kungkungannya.
"Sekarang kita tidur ya, kan piranha nya sudah selesai makan belalai." Ucap Ivan setelah melepas penyatuannya.
...💠💠💠💠...
Sinar mentari menerobos masuk ke dalam kamar sepasang suami istri yang masih bergelung di bawah selimut tebalnya. Kelopak mata Elsa terbuka lebar tatkala melihat jam yang ada di kamarnya.
"Mas... bangun!! Ini sudah siang Mas! kamu gak kerja hari ini?" Elsa menepuk pundak Ivan berkali-kali agar segera terbangun.
"Sayang, ini kan tanggal merah." Ucap Ivan setelah kelopak matanya terbuka.
__ADS_1
Elsa menatap kalender yang ada di atas nakasnya dan memang benar dengan apa yang di ucapkan oleh Ivan.
"Aku mau mandi dulu." Ucap Elsa sebelum turun dari ranjangnya. Ia berjalan menuju kamar mandi tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.
Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mandi dan bersiap, akhirnya mereka berdua keluar dari kamarnya untuk sarapan. Penunjuk waktu sudah berada di angka sembilan.
"Kakak mau kemana?" Tanya Elsa ketika melihat Emran keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi.
"Ke Malang." Jawab Emran sembari mengancingkan jaket levisnya.
"Mau ketemu Kak Dina?" Tanya Elsa lagi.
"Pasti dong! Kakak mau kencan." Ucap Emran sembari menatap Elsa.
"Jangan keras-keras Kak! nanti ketahuan Mama!" Ucap Elsa sembari menatap ke sekelilingnya untuk memastikan keberadaan Bu Kana.
Emran mengikuti jejak Elsa, ia menyembunyikan hubungannya dari Bu Kana karena ia juga takut tidak di setujui oleh Bu Kana. Ia rela harus menempuh jarak yang lumayan jauh jika ingin bertemu dengan Dina, gadis berkulit putih yang menemaninya dari awal masuk kuliah hingga saat ini.
"Kakak berangkat dulu ya El. Jangan sampai Mama tau kalau Kakak Ke Malang untuk menemui seorang gadis." Ucap Emran sembari menatap Elsa.
"Oke kak, rahasia aman!" Ucap Elsa dengan suara yang lirih.
Ivan hanya tersenyum menatap kakak beradik yang saling berbisik di hadapannya. ia tidak menyangka jika Emran juga tengah menjalin hubungan backstreet dengan kekasihnya.
"Kedua anak Mama saling jatuh cinta dengan seseorang yang sederhana. Hmmm aku jadi penasaran, apa kak Emran bisa mempertahankan kekasihnya itu." Gumam Ivan dalam hatinya.
_
_
_
Kisah Emran dan Dina mau di tulis disini apa gak nih kak??
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️