PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Di rumah sakit....


__ADS_3

"Papa mau kemana?!" Teriak Bu Kana ketika melihat Pak Roni berjalan menuju pintu kamarnya.


Sang pemilik nama tak menghiraukan pertanyaan yang keluar dari wanita yang menjadi istrinya selama ini. Pak Roni berlalu begitu saja tanpa menatap Bu Kana yang duduk di sofa


kamarnya.


Brak... suara pintu kamar yang sengaja di tutup dengan keras oleh Pak Roni.


Mata nyalang yang tadinya tak gentar ketika di hadapan Sang Suami, kini hancur sudah pertahanan itu. Bu Kana menitikan air matanya, tak kala mengingat kemarahan sang suami yang beberapa menit yang lalu terlihat sangat menakutkan.


"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Bu Kana sembari memijat keningnya.


Bu Kana berdiri dari tempatnya, beliau berjalan menuju jendela kamarnya untuk melihat suasana yang ada halaman rumahnya. Terlihat Elsa sedang masuk ke dalam mobil Emran.


"Pasti Elsa mau bertemu dengan pria itu!" Seru Bu Kana.


Semua yang ada di dalam rumahnya sudah lepas dari kendalinya. Baik suami dan putri nya sama-sama sudah tidak menghiraukannya lagi. Jujur saja hal itu membuat hati Bu Kana menjadi sedih.


"Aku harus ke Surabaya. Aku tidak bisa begini terus! aku tidak tahan melihat anak dan suamiku bersikap dingin padaku." Kalah, ya akhirnya Bu Kana dalam pertahanan egonya.


Bu Kana segera meraih tas dan kunci mobilnya. dengan langkah cepat, Bu kana melangkahkan kakinya menuju mobil putih kesayangannya.


"Saya akan pergi sendiri. Bapak boleh libur hari ini." Ucap Bu Kana ketika melihat Supir pribadinya keluar dari pos penjagaan rumahnya.


"Baik Bu, terima kasih." Ucap Pak Supir itu.


Bu Kana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya melayang jauh entah kemana. Sedih, itu lah yang di rasakannya saat ini.


"Gara-gara pria itu Elsa menjadi berani membangkak Aku!" Seru Bu Kana sembari meremas setir mobilnya.


Bulir air mata menetes deras dari pelupuk matanya ketika mengingat ucapan Pak Roni sebelum meninggalkan kamarnya.


"Terserah Mama kalau ingin melanjutkan perjodohan konyol yang di sarankan Mbak Mala! Tapi ingat ya Ma! tepat di hari Elsa menikah dengan pria pilihan Mama, saya akan pergi, saya tidak akan menjadi wali nikah untuk Elsa!"


Bu Kana tersedu di dalam mobilnya, Beliau semakin menambah kecepatan mobilnya yang melaju di jalanan yang masih sepi itu. Selama dua puluh tujuh tahun menikah dengan Pak Roni, baru kali ini beliau melihat kemarahan Pak Roni yang menakutkan.


"Ya Allah!!!" Teriak Bu Kana ketika menyadari laju kendaraannya yang mulai tak terkendali, dan...

__ADS_1


Ciit!!! Bruaaak..... Suara hantaman mobil Bu Kana terdengar nyaring, membuat semua orang yang ada di situ berlarian menuju mobil putih yang sudah berhenti di tengah jalan setelah menabrak pembatas jalan.


...💠💠💠💠...


Setetes air mata perlahan menetes di pipi mulus Elsa, menemaninya berjalan di tempat parkir Rumah sakit Umum yang ada di Kota Mojokerto. Ivan terus menggenggam tangan kanan Elsa, ia juga terlihat panik dengan kondisi orangtua Elsa.


Elsa menemui Papa dan kakaknya yang sedang duduk di depan IGD. Raut kecemasan tergambar jelas di wajah masing-masing.


"Bagaimana keadaan Mama?" Tanya Elsa ketika duduk di samping Emran.


"Masih ditangani Dokter El." Ucap Emran dengan kedua tangan yang menyangga dagunya.


Elsa menghela nafasnya, pikiran buruk terus memenuhi pikirannya. Ia tak hentinya meneteskan bulir bening dari pelupuk matanya.


"Tenangkan dirimu El. Jangan menangis terus, kita berdoa saja ya, semoga Mamamu baik-baik saja." Emran merengkuh Elsa dalam dekapannya.


Pak Roni hanya diam, beliau melihat lewat ekor matanya bagaimana kedekatan putrinya dengan pria yang ada disampingnya.


"Bagaimana aku bisa memisahkan Elsa dengan Ivan yang sangat terikat itu. Aku tidak tega jika Elsa berpisah dengan Ivan." Gumam Pak Roni dalam hatinya.


Beberapa menit kemudian, seorang perawat membuka pintu IGD. Beliau mencari keluarga Bu Kana untuk mengurus administrasi terlebih dahulu.


"Boleh kami masuk Bu?" Tanya Pak Roni.


"Boleh Pak, dua orang saja ya." jawab perawat yang membukakan pintu IGD.


Ivan menganggukkan kepalanya ketika Elsa memberi isyarat jika ia ingin masuk bersama Papanya. Ivan menunggu duduk kembali di kursi panjang yang ada di depan IGD.


Elsa duduk di kursi yang ada di samping brankar rumah sakit, dimana tubuh Bu Kana terbaring disana. Elsa meraih telapak tangan Bu Kana, diciumnya telapak tangan yang selama ini menyentuhnya dengan penuh kasih sayang.


"Ma... bangun Ma." Lirih Elsa


"Mama..."Ucap Elsa lagi.


Beberapa menit kemudian, Perlahan kelopak mata Bu Kana terbuka, beliau tersenyum ketika melihat wajah dua orang yang sejak tadi pagi memenuhi pikirannya.


"Elsa... Papa..." Lirih Bu Kana dengan senyum tipis yang terbit dari bibirnya setelah itu.

__ADS_1


Satu menit setelah menatap Elsa dan Pak Roni, Bu Kana menutup matanya kembali. Hal itu membuat Elsa dan Pak Roni panik. Dokter segera datang ketika mendengar suara Pak Roni yang memanggilnya.


"Sebaiknya Bapak dan Nona tunggu di luar saja. Kami akan memeriksa ulang keadaan pasien." Ucap Dokter yang menangani Bu Kana.


Perasaan khawatir kembali menyelimuti hati Elsa. Ia takut terjadi sesuatu kepada Sang Mama yang terbaring lemah di dalam sana.


Menunggu, Ya mereka berempat duduk kembali di depan IGD. Mereka semua sibuk dalam pikirannya masing-masing. Ivan pun termenung di samping Elsa dan terlihat dua orang Polisi sedang berjalan menuju ke tempatnya.


"Apa benar Bapak keluarga dari Ibu Kana Darwanti?" Tanya salah satu Polisi yang berdiri di hadapan Pak Roni.


"Iya pak, saya Suaminya." Jawab Pak Roni.


"Kami sudah memeriksa TKP dan beberapa saksi yang ada di tempat kejadian. Istri anda murni mengalami kecelakaan tunggal yang di duga karena hilangnya konsentrasi menyetir atau mengantuk. Kami juga sudah melihat rekaman CCTV yang ada di salah satu ruko yang ada disana. Mobil istri anda melaju dari arah barat menuju arah timur dengan kecepatan tinggi." Polisi bernama Yadi itu menjelaskan secara detail tentang kecelakaan yang menimpa Bu Kana.


"Terima kasih Pak, Saya minta maaf atas kelalaian istri saya." Ucap Pak Roni dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan.


"Mobil istri anda sudah kami bawa ke kantor polisi. Silahkan Bapak ambil di kantor yang ada di jalan bayangkara." Ucap Pak Yadi.


"Biar anak saya yang mengurus semuanya Pak." jawab Pak Roni sembari menatap Emran.


Setelah kepergian dua polisi itu, Emran pun beranjak dari tempat duduknya. Ia mengikuti langkah dua Polisi yang ada di depannya.


"El, bolehkah aku pamit pulang dulu?" Tanya Ivan sembari menatap Elsa.


"Iya Van, pulanglah! aku akan disini bersama Papa." Jawab Elsa tanpa tersenyum sedikitpun.


Ivan pun berdiri dari tempat duduknya, ia mencium punggung tangan Pak Roni sebelum berlalu dari depan IGD.


_


_


Happy Reading kak, semoga suka♥️😍


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2