PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Rafael Putra Ardiansyah


__ADS_3

Rona jingga terlukis di langit barat untuk menemani sang surya yang sebentar lagi akan pulang ke peraduannya. Jalanan di Kota Surabaya di padati para pengendara bermotor agar segera sampai di rumah masing-masing setelah sehari penuh mengais rezeki.


Deretan mobil roda empat tengah berjajar rapi menunggu lampu lalu lintas yang masih berwarna merah. Begitu pun dengan Bu Kana, dengan wajah gusarnya beliau harus menunggu lampu hijau yang kurang beberapa detik lagi.


Setelah menyelesaikan tugasnya di rumah sakit sebagai dokter gigi sekaligus direktur disana, Bu Kana pergi ke rumah kakak sulungnya yang tak lain adalah Bu Mala. Beliau melanjutkan rencana yang kemarin di bahas di rumahnya.


"Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku mengikuti saran Mbak Mala?"


"Tidak, aku tidak boleh melakukan langkah itu sebelum bicara dengan Papa."


"Tapi bagaimana jika Papa tidak setuju?"


"Aku juga tidak mau menyakiti Elsa dan Ivan dengan rencana ini, aku ingin melihat anakku bahagia."


"Tapi aku juga tidak bisa membiarkan cucuku hidup bersama dengan seorang tukang judi seperti Pak Hamid."


"Ya tuhan... kenapa harus ada yang seperti ini disaat aku mulai mencoba untuk menerima Ivan dan keluarganya?"


"Aku harus memikirkan semua ini matang-matang, aku tidak boleh gegabah."


"Semoga Elsa dan semuanya setuju dengan rencanaku dan Mbak Mala."


Ya, itulah yang ada dalam hati dan pikiran Bu Kana, meski tatapannya fokus pada jalanan di hadapannya, namun hati dan pikirannya tengah berperang untuk mencari sebuah keputusan yang terbaik untuk cucunya yang belum lahir.


Selama ini Bu Kana tidak pernah tau bagaimana kondisi keluarga Ivan, beliau enggan untuk mencari tahu hal yang tidak di sukainya. Namun, semua yang di dengarnya kemarin malam berhasil memporak porandakan pikirannya.


Sementara itu, Elsa tengah duduk di ruang tamu untuk menunggu suaminya yang sebentar lagi pulang dari pabrik tempatnya bekerja. Dengan wajah tanpa make up dan rambut hitam yang tergerai di bahu ia tersenyum manis tatkala melihat sosok yang di rindukannya sejak tadi pagi berdiri di depan pintu.


"Mas bawa apa itu?" Tanya Elsa dengan wajah berbinarnya tatkala melihat kantong berwarna putih yang ada di tangan Ivan.

__ADS_1


Ivan meregangkan tangannya, memberikan Elsa sebuah tempat untuk masuk dalam dekapan hangatnya. Tak lupa ia mengecup kening Elsa dengan kasih dan sayangnya. Ya, inilah yang dilakukan Ivan setiap hari sepulang dari kerja.


"Tadi aku lihat ada penjual rujak buah di depan terminal, aku beli saja siapa tahu kamu mau." Ucap Ivan sembari melepas tangannya dari pinggul Elsa.


"Kalau begitu Mas Ivan mandi dulu ya, aku mau ke dapur dulu untuk menyiapkan ini." Ucap Elsa dengan wajah polosnya.


Keduanya berjalan masuk menuju tempat tujuan masing-masing. Elsa berjalan ke dapur untuk memindahkan rujak buah yang menggiurkan itu di atas piring berwarna putih. Tak lupa ia mencicipi buah mangga yang teriris tipis itu.


"Hmmm enak... sayangnya asem banget mangganya!" Ucap Elsa dengan mata yang tertutup karena menahan rasa asam di lidahnya.


...💠💠💠💠...


Dua bulan kemudian....


Matahari malu-malu untuk menyapa semua makhluk yang ada di Bumi, semilir angin di pagi hari menambah sejuknya suasana di Kota Mojokerto. Namun semua itu tidak bisa menyejukkan semua orang yang ada di kediaman Pak Roni.


Semua orang menjadi heboh tatkala Elsa kesakitan. Usia kandungannya sudah sembilan bulan lebih tujuh hari, sejak subuh ia merasakan sakit di perut bawahnya. Cairan bening juga keluar dari jalan lahirnya, Ivan sangat panik tatkala melihat wajah kesakitan istrinya.


"Tahan ya Sayang, sebentar lagi kita sampai." ucap Ivan yang sejak tadi mengusap perut buncit Elsa, ia tak henti mengucapkan kata cinta dan semangat untuk istrinya yang sebentar lagi akan berjuang melahirkan anaknya.


Beberapa menit kemudian, mobil Pak Roni berhenti di depan IGD rumah sakit swasta yang ada di Kota Mojokerto. Elsa segera di bawa Ivan untuk masuk ke dalam IGD dengan menggunakan kursi roda.


Entah karena apa, yang jelas proses melahirkan Elsa begitu cepat. Tidak sampai lima jam ia sudah berada di pembukaan sempurna untuk berjuang melahirkan anak pertamanya.


Pak Roni dan Bu Kana terlihat cemas di depan ruang bersalin yang tertutup rapat, dimana putri mereka sedang berjuang untuk sang buah hati. Beberapa menit kemudian tepat ketika Bu Nurul dan Pak Hamid sampai di depan ruang bersalin, terdengar suara tangisan bayi dari dalam sana. Semua tersenyum bahagia dengan mata yang berembun.


Ivan meneteskan bulir beningnya setelah melihat perjuangan Elsa. Ia tak henti mengecup kening Elsa setelah mendengar suara tangisan buah hatinya yang menggema di dalam ruangan.


"Sayang, terima kasih ya sudah berjuang untuk anak kita. Aku mencintaimu Sayang." Ucap Ivan sembari menatap tubuh lemah Elsa.

__ADS_1


"Selamat ya Pak, Bu... Anak ibu lahir dengan selamat dan tidak kurang dari apapun. Anak Bapak dan Ibu laki-laki nih, semoga menjadi jagoan yang membanggakan ya Bu...." Ucap Dokter Yulia yang baru saja memutus tali pusar putra Elsa.


Semua yang ada di ruang bersalin di sibukkan dengan kegiatan masing-masing. Ada yang bertugas mengurus putra Elsa, ada yang bertugas membantu Dokter Yulia menjahit mulut piranha Elsa yang robek.


Ivan meninggalkan Elsa yang masih di rawat oleh suster, ia di panggil suster yang merawat bayinya untuk segera mengadzani bayi mungil yang sudah bersih dengan bedong yang menghangatkan tubuh mungilnya.


"Semoga menjadi anak yang sholeh, Nak." Bisik Ivan setelah selesai mengumandangkan adzan di telinga putranya.


Satu jam kemudian, Elsa dan bayi nya di pindahkan ke ruang inap VVIP yang ada di lantai dua rumah sakit. Semua berkumpul di dalam ruang mewah ini untuk melihat Bayi yang mengeliat di box bayi yang ada di dekat ranjang Elsa.


"Kalian sudah menyiapkan nama untuk jagoan kalian ini?" Tanya Pak Roni yang sejak tadi menatap cucu pertamanya.


"Sudah Pa, kami akan memberi putra kami nama Rafael Putra Ardiansyah, dan kita bisa memanggil dia Rafa." Ucap Elsa sembari menatap Pak Roni.


"Nama yang bagus El." Ucap Pak Roni.


Semua tersenyum bahagia menyambut jagoan kecil yang baru saja lahir ke dunia yang penuh dengan sandiwara ini. Bu Nurul terus meneteskan air matanya karena terlalu bahagia melihat cucu pertamanya yang tampan seperti Ivan.


"Mas, Kenapa wajahnya Rafa sama seperti kamu sih! padahal aku yang hamil tapi pas lahir kenapa wajahnya mirip kamu semua Mas?" Protes Elsa ketika mengamati wajah tampan putranya yang tengah tertidur pulas.


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka♥️😍


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2