
Percikan api kemarahan kini tersulut dalam diri Bu Kana. Entah mengapa setelah melihat penampilan Elsa tadi membuat Bu Kana merasa kesal dengan putrinya itu. Di dalam kamarnya saat ini beliau mencoba mengingat wajah Ivan yang pernah di temuinya tapi entah dimana.
"Dimana aku pernah melihat laki-laki itu??" tanya Bu Kana pada dirinya sendiri sembari berdiri di balkon kamarnya.
Bu Kana terus mencoba mengingat sosok Ivan yang tidak asing baginya. Sambil menikmati suasana sore di komplek perumahan tempat tinggalnya dari balkon kamar.
"Ah aku ingat!! Bukan kah laki-laki itu pernah ke rumah ini?? dia pernah belajar bersama Elsa di rumah ini..." Gumam Bu Kana sambil memijat pangkal hidung nya.
Sejenak Bu Kana terdiam ketika sudah mengingat siapa laki-laki yang terlihat sangat di sukai oleh putrinya itu. Beliau terdiam sembari berselancar dalam fikirannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Bu Kana masuk ke dalam kamarnya. Beliau bersiap masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena matahari sebentar lagi akan pulang ke peraduannya.
...💠💠💠💠...
Suasana di dalam ruang makan terasa menegangkan untuk Elsa karena sejak tadi Bu Kana menampilkan wajah datar nya saja, tidak ada kehangatan yang biasa terasa dalam keluarga ini.
Pak Roni dan Emran hanya diam dan saling menatap, mereka berdua seakan berkomunikasi lewat bahasa mata. Sesekali Pak Roni melirik Elsa yang sedang menikmati makan malam nya dengan wajah yang tertunduk. Emran menaikkan kedua bahunya ketika Pak Roni menatap dirinya dengan sejuta rasa penasaran yang ada dalam diri masing-masing.
"Elsa, Mama tunggu kamu di ruang keluarga setelah ini." Ucap Bu Kana setelah menyelesaikan makan malam nya.
Tanpa menunggu Pak Roni yang masih menikmati potongan buah melon, Bu Kana berlalu pergi begitu saja. Hal ini membuat Pak Roni semakin penasaran dengan apa yang terjadi di antara istri dan putrinya.
"Apa yang terjadi El? kenapa Mama kelihatan nya marah?" Tanya Pak Roni sembari menatap Elsa yang sedang menatap ke arah lain.
"Elsa tidak tahu Pa... Elsa juga takut melihat Mama sepeti tadi." Ucap Elsa dengan mata yang berembun.
"Ya sudah sekarang kamu temui Mama dulu El, biar tahu apa yang membuat Mama bersikap dingin seperti itu." Ucap Emran sembari mengusap sudut bibirnya dengan tissu.
"Apa Mama tahu kalau Elsa berpacaran dengan teman duet nya tadi??" Tanya Emran dalam hatinya sembari menatap Elsa yang berjalan menuju ruang keluarga.
Karena rasa penasaran yang begitu besar, akhirnya Pak Roni dan Emran ikut berjalan menuju ruang keluarga. Terlihat disana Bu Kana duduk di sofa sambil menatap layar televisi yang menampilkan video penampilan Elsa tadi pagi.
Elsa duduk di sofa tunggal yang ada di sisi kanan Bu Kana. Ia hanya diam di tempatnya, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Pak Roni dan Emran juga sudah duduk di tempat masing-masing untuk mendengar apa yang akan di ucapkan oleh Bu Kana.
__ADS_1
"Elsa... kali ini Mama ingin bertanya dengan serius. Mama harap kamu menjawab dengan jujur." Akhirnya Bu Kana mengeluarkan suara nya.
"Iya Ma." Jawab Elsa sembari menatap Bu Kana.
"Apa kamu berpacaran dengan laki-laki yang ada di sampingmu itu?" Tanya Bu Kana dengan jari telunjuk yang menunjuk wajah Ivan yang ada di layar televisi di hadapannya.
Elsa terkejut mendengar pertanyaan Bu Kana yang langsung pada intinya. Ia masih terdiam sembari memikirkan jawaban yang tepat untuk Mama nya. Begitu juga Pak Roni dan Emran, mereka berdua terkejut dengan pertanyaan Bu Kana. Pak Roni mengalihkan pandangan ke layar televisi untuk mengamati wajah laki-laki yang di maksud Bu Kana.
"Jawab El, kenapa hanya diam??" Bu Kana kembali mengeluarkan suaranya. kali ini dengan Nada yang sedikit naik.
"Elsa tidak berpacaran dengan dia Ma." Ucap Elsa dengan wajah yang tertunduk, ia begitu takut untuk menatap wajah Bu Kana yang terlihat marah padanya.
"Apa yang kamu ucapkan sebuah kejujuran El?" Bu Kana menatap Elsa dengan tatapan intimidasinya.
"Iya Ma... Elsa tidak berpacaran dengan dia." Elsa berbohong untuk menyelamatkan hubungan nya dengan Ivan.
"Tapi kamu suka sama dia kan El?" Sarkas Bu Kana.
"Elsa, jawab pertanyaan Mama!!" Bu Kana terlihat tidak sabar untuk mendengar jawaban Elsa.
"I-iya Ma... Elsa... Elsa menyukai dia Ma..." Jawab Elsa dengan suara yang terbata karena begitu takut dengan Bu Kana.
Mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Elsa membuat Bu Kana menghela nafasnya yang berat. Beliau terlihat menahan amarah yang sudah ada di ujung kepalanya.
"Bukankah itu laki-laki yang pernah belajar bersama kamu di rumah ini El?" Tanya Bu Kana setelah beberapa menit terdiam.
"Iya Ma..." Jawab Elsa tanpa menatap Bu Kana. Ia menundukkan kepalanya sambil menahan air mata yang akan turun dari kelopak matanya.
"Elsa, Mama harap kali ini kamu benar-benar berkata jujur kepada Mama dan Mama juga berharap kamu bisa melupakan perasaan kamu terhadap laki-laki itu El!!" Ucap Bu Kana dengan tegasnya.
"Mama tidak suka kamu jika suatu saat kamu menjalin hubungan dengan laki-laki itu!! Jadi kamu harus fokus belajar di sekolah untuk dapat nilai yang bagus El!!" Lanjut Bu Kana sambil menatap Elsa yang semakin menundukkan kepalanya.
"Maafin Elsa Ma, kali ini Elsa tidak bisa melakukan apa yang mama inginkan. Elsa tidak bisa untuk menjauh dari Ivan Ma." Gumam Elsa dalam hatinya. setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Elsa, sekarang masuklah ke kamar!!" Perintah Pak Roni untuk menyelamatkan Elsa dari Bu Kana yang akan mengeluarkan ucapannya lagi. Pak Roni kasihan melihat Elsa yang terlihat begitu ketakutan di hadapan Bu Kana.
"Baik Pa." Ucap Elsa sebelum beranjak dari tempat duduknya saat ini.
Dengan langkah cepat Elsa berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua, sesekali ia mengusap air mata yang keluar dari kelopak matanya. Sungguh kali ini Bu Kana terlihat menakutkan di hadapannya.
Sementara di ruang keluarga suasana terasa masih menegangkan karena Bu Kana masih terlihat di penuhi oleh amarahnya. Emran pamit pergi ke kamarnya karena ia ingin memberikan ruang berbicara untuk kedua orangtuanya.
"Ma, kenapa Mama marah seperti itu kepada Elsa? Apa mama tidak melihat kalau tadi Elsa begitu ketakutan??" Akhirnya Pak Roni mengeluarkan suaranya ketika dirasa suasana sedikit mencair.
"Mama tidak suka Pa kalau Elsa berpacaran di usianya saat ini, Mama ingin dia itu fokus belajar dan belajar." Ucap Bu Kana sambil menatap Pak Roni.
"Iya Ma, Papa tahu dan Papa juga setuju kalau belum saat nya Elsa berpacaran saat ini, tapi bukan seperti itu caranya Ma..." Ucap Pak Roni untuk menenangkan istrinya.
"Mama tidak terima Pa kalau Elsa suka dengan laki-laki itu. Mama tahu kalau laki-laki itu hanya pria biasa Pa, dia pernah kesini naik motor Pa." Amarah Bu Kana kembali tersulut.
"Mama tidak mau suatu saat hubungan Elsa dan laki-laki itu terus berlanjut, apalagi sampai mereka berdua menikah suatu saat nanti. Mama gak rela Pa kalau Elsa harus hidup susah." Lanjut Bu Kana dengan amarah yang berapi-api setelah membayangkan masa depan Elsa.
"Mama terlalu jauh jika memikirkan hal itu Ma, anak kita masih SMA ma, kenapa Mama membayangkan hal yang belum tentu terjadi. Tenangkan pikiran Mama!!" Ucap Roni sambil menepuk pundak Bu Kana.
Lagi dan lagi Bu Kana hanya menghela nafasnya karena menyadari jika beliau terlalu terbawa emosi hanya dengan membayangkan masa depan Elsa nantinya. Bu Kana mengusap wajahnya dengan kasar karena menyesal beberapa saat yang lalu sudah membentak putri kesayangannya.
_
_
Happy Reading kak, semoga suka♥️😍
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1