PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Ingin melihat patung Gajah.


__ADS_3

Tiga bulan sudah Ivan mengarungi bahtera rumah tangga bersama Elsa dan tiga bulan juga ia tinggal di istana milik Bu Kana dan Pak Roni. Sering kali Ivan harus menguatkan hatinya ketika Bu Kana menunjukkan keangkuhan dan kekuasaan di istananya.


Hampir setiap hari Bu Kana memberi Elsa uang jajan di hadapan Ivan. Beliau tidak sungkan melakukan hal itu di hadapan menantunya itu.


"Elsa, ini uang jajan untuk kamu. Meski kamu sudah menjadi kewajiban Ivan, tapi mama tetap memberimu jatah uang jajan seperti dulu. Beli lah apapun yang kamu inginkan, jangan berpikir panjang. Kamu bisa meminta langsung ke Mama."


Ya, itulah yang pernah terucap dari bibir Bu Kana, sebuah kalimat panjang yang berhasil mengusik hati dan pikiran Ivan. Harga dirinya sebagai seorang suami hancur sudah setelah mendengar semua itu.


"Jangan di masukkan hati ya, Mas. Aku akan menjadi istri yang baik untukmu. Aku tidak akan memakai uang yang di berikan oleh Mama tanpa izin darimu. Demi cinta kita, tolong kuatkan hatimu Mas untuk menghadapi Mamaku."


Sebuah kalimat penyejuk hati untuk Ivan dari istrinya. Terkadang Ivan ingin membawa Elsa keluar dari rumah ini, namun ia tidak bisa mengungkapkan semua itu di hadapan Elsa. Ia tidak ingin Elsa berada di antara dua pilihan yang sulit, sebuah pilihan di antara orangtua dan suami.


Bunyi alarm terdengar dari ponsel Ivan yang ada di atas nakas. Ia membuka kelopak matanya untuk melihat penunjuk waktu yang ada di ponselnya.


"Sayang, bangunlah!" Ucap Ivan sembari menepuk punggung tangan Elsa yang ada di perutnya.


"Mandilah dulu Mas, aku masih ngantuk." Ucap Elsa dengan mata yang masih tertutup rapat.


Ivan memindahkan tangan Elsa dari atas tubuhnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian, Ivan telah menyelesaikan kegiatan di dalam kamar mandi. Ia keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Ivan menatap istrinya yang masih bergelung di dalam selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.


"Elsa, sudah waktunya sholat subuh. Bangun yuk!" Ucap Ivan yang duduk di pinggiran ranjang.


"Nanti saja Mas, aku masih malas bangun." Ucap Elsa dengan mata yang enggan untuk terbuka.


"Ayolah Sayang... Nanti kamu bisa tidur lagi. Lagian hari ini aku kan masuk pagi, jadi siapa dong nyiapin sarapanku nanti." Ucap Ivan dengan tangan yang mengusap rambut istrinya.


Elsa membuka kelopak matanya, ia menatap Ivan dengan tatapan tajamnya. Rasa kesal tengah menyelimuti dirinya karena waktu tidur yang terganggu.


"Aku gak mau bangun! Aku masih pengen tidur! Kalau mau kerja, ya kerja aja Mas! Seragamnya sudah aku siapkan di atas sofa tuh!" Sungut Elsa sembari menunjuk sofa yang ada di sudut ruangannya. Elsa berdecak kesal menatap Ivan yang ada di sampingnya.


Ivan mengerutkan keningnya melihat sikap Elsa yang tidak biasa itu. Ia menatap heran sang istri yang tengah menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Hey... kamu ini kenapa? kenapa marah-marah seperti itu?" Tanya Ivan dengan wajah herannya.


"Jangan ganggu aku! aku pengen tidur lagi! kalau mau sarapan Mas minta Mak Tina saja!" Lanjut Elsa sebelum kembali merebahkan tubuh polosnya di atas ranjang, ia membelakangi Ivan kali ini.


"Elsa kesambet apa coba? Kenapa tiba-tiba bersikap seperti itu?" Gumam Ivan dalam hatinya.


Ivan mengusap wajahnya kasar, ia menatap punggung putih yang ada di hadapannya itu, suara dengkuran halus terdengar disana. Ivan segera beranjak dari ranjang, ia berjalan menuju sofa untuk mengambil seragam kerjanya dan bersiap menunaikan kewajiban dua rakaatnya.


Tepat pukul setengah enam pagi, Ivan sudah siap untuk berangkat kerja. Ia tidak ingin membangunkan Elsa yang sedang terlelap di balik selimut tebalnya. Tanpa sarapan terlebih dahulu, Ivan segera berjalan keluar dari rumah mertuanya.


"Kemana Elsa? tumben gak ngantar kamu ke depan?" Tanya Bu Kana yang sedang duduk bersantai di taman yang ada di halaman rumahnya.


"Elsa masih tidur Ma." Jawab Ivan.


"Kamu sudah sarapan Van?" Sahut Pak Roni yang ada di samping Bu Kana.


"Nanti saja Pa. Ivan bisa sarapan di pabrik." Ucap Ivan. Sebelum berangkat tak lupa ia berpamitan dan mengecup punggung tangan kedua mertuanya.


"Elsa itu bagaimana, suami berangkat kerja pagi kok gak di siapin sarapannya." Gerutu Pak Roni.


"Mama ini kenapa sih? Mama masih tidak suka dengan Ivan? Ingat Ma, anak kita itu mencintai Ivan jadi Mama harus bisa menerima dia di rumah ini." Ujar Pak Roni.


Bu Kana memutar bola matanya jengah, Beliau malas untuk berdebat dengan suaminya hanya karena menantunya itu. Beliau kembali membuka majalah yang sejak tadi di bacanya.


...💠💠💠💠...


Telapak tangan Elsa terasa dingin ketika baru saja turun dari bed pasien dokter kandungan. Ia dan Ivan duduk di kursi yang ada di hadapan Dokter wanita bernama Yulia.


"Selamat ya Ibu Elsa... Anda positif hamil." Ucap Dokter Yulia dengan senyum tipis yang terlukis di wajahnya.


"Ini serius kan Dok?" Tanya Elsa dengan antusiasnya.


"Iya, usia kandungan Ibu sudah berjalan enam minggu." Ucap Dokter Yulia.


Sepasang suami istri itu saling menatap dan tersenyum bahagia karena berita yang membahagiakan ini.

__ADS_1


"Apa saja yang akan di alami istri saya Dok ketika hamil muda seperti saat ini?" Tanya Ivan sembari menatap Dokter Yulia.


Dokter Yulia mulai menjelaskan apa saja yang akan di rasakan oleh Elsa di trimester pertama ini. Beliau juga menjelaskan apa saja yang tidak boleh di lakukan oleh Elsa.


"Tolong dijaga baik-baik ya Bu kandungannya. Saya akan meresepkan Vitamin untuk Bu Elsa." Ucap Dokter Yulia di ujung pemeriksaannya.


Ivan dan Elsa keluar dari ruangan Dokter Yulia dengan senyum yang mengembang di wajah masing-masing. Malam ini mereka berdua begitu bahagia karena usahanya setiap malam telah membuahkan hasil.


"Pantas saja akhir-akhir ini sikap Elsa menjadi aneh. Dia sering marah, kalau pagi kepalanya pusing, kalau malam manja banget, ternyata semua itu pengaruh dari hormon kehamilannya." Gumam Ivan dalam hatinya sembari duduk berdua dengan Elsa di ruang tunggu apotik.


Ya, memang itulah perubahan sikap Elsa selama satu minggu ini. Ia menjadi aneh seperti yang di katakan oleh Ivan. Kemarin malam Elsa mengeluh sering merasa kram di perut bawahnya, dan ia mengatakan jika ia telat datang bulan. Ivan yang mendengar semua itu langsung membawa Elsa ke Dokter setelah pulang dari pabrik tempatnya bekerja untuk memastikan kesehatan Elsa.


"Mas, setelah pulang dari sini aku pengen gitu mampir ke alun-alun kota. Aku mau lihat patung gajah yang disana." Ucap Elsa dengan menatap Ivan penuh harap.


"Apakah melihat patung gajah termasuk ngidam nya ibu hamil?" Tanya Ivan.


"Anggap saja seperti itu. Dan katanya kalau tidak kesampaian, anaknya kalau lahir nanti bisa ileran." Ucap Elsa yang tak mengalihkan pandangannya dari wajah Ivan.


"Anakku mau jadi apa ya nanti, kok pengen lihat patung gajah?" Kelakar Ivan sembari mengusap perut rata Elsa.


"Tidak lama lagi aku akan menjadi seorang Ayah." Gumam Ivan dalam hatinya yang di penuhi banyak bunga bunga kebahagiaan.


_


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka😍♥️


Kalau penasaran dengan patung gajah, kalian bisa cari di internet ya 'Patung gajah alun-alun kota Mojokerto' 😂😂😂😂


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2