
Hawa sejuk pegunungan mulai merasuk ke dalam jiwa yang di penuhi oleh bunga-bunga cinta. Kabut tebal masih setia menyelimuti pohon-pohon di sepanjang jalan menuju Kota Batu Malang, walau matahari mulai menampakkan wajah malu-malu nya di ujung timur.
Tepat pukul delapan pagi, Ivan sudah sampai di Alun-Alun Kota Batu. Ia menunggu Elsa disana, sesuai dengan kesepakatan tadi malam saat Ivan berbicara dengan Elsa melalui sambungan telfonnya.
Pagi yang Indah dengan suasana kota yang masih sepi tanpa adanya deru kendaraan yang yang berlalu lalang. Ivan menatap lurus ke depan sembari menikmati kopi susu yang di pesannya di sebuah kedai yang ada di sampingnya.
Ivan terkejut ketika sepasang tangan lembut menutup kedua bola matanya. Ia mencoba melepas tangan itu untuk mengetahui siapa gerangan pemiliknya, namun semua itu ia urungkan tak kala ia tahu siapa pemilik telapak tangan itu.
"Elsa, kalau kamu menutup mataku seperti ini, bagaimana aku bisa melihat wajah cantikmu yang sudah lama aku rindukan!" Sebuah kalimat yang membuat Elsa melepaskan kedua telapak tangannya dari wajah Ivan.
Elsa memutar posisi nya untuk bisa berdiri di hadapan Ivan. Ia mengamati kekasihnya yang kini terlihat lebih tampan dengan kaos abu-abunya.
"Kenapa melihatku seperti itu? ada yang salah?" Tanya Ivan ketika melihat Elsa tak berkedip.
"Kenapa kamu semakin keren sih Van!" Seru Elsa dengan ekspresi wajah tak sukanya.
Ivan hanya tersenyum untuk menanggapi Elsa yang sudah mengerucutkan bibirnya. Ia tahu Elsa tidak suka dengan perubahannya saat ini yang terlihat lebih dewasa.
"Jangan khawatir, aku begini karena aku tidak mau jika kamu melihat yang lebih keren dari aku di Surabaya." jawab Ivan sembari menggenggam kedua tangan Elsa.
Keduanya tersenyum, pandangan mereka bersirobok. Saling menyelami manik hitam masing-masing yang mengisyaratkan cinta dan kasih yang begitu besar.
Tiiin.... tin.... tiiinnnn.... Suara klakson mobil hitam yang ada di belakang Ivan membuyarkan suasana hening yang berhasil mereka ciptakan.
"Siapa El? kamu kenal dengan pemilik mobil itu?" Tanya Ivan setelah sesaat menatap mobil hitam yang ada di belakangnya.
"Itu Kak Emran." Jawab Elsa dengan diiringi senyum penuh arti.
Sejenak Ivan terdiam, ia menaikkan satu alisnya untuk mencari arti dari seringai Elsa.
"Kita akan double date? " Tanya Ivan.
"Iya, nanti motor kamu di titipin di tempat kos temannya kak Emran." Jawab Elsa dengan Entengnya.
Perdebatan kecil terjadi diantara keduanya, hingga membuat Emran dan Dina turun dari mobil untuk menjemput dua ABG labil ini. Ivan merasa canggung jika harus satu mobil dengan Emran dan kekasihnya.
"Kalian berdua kenapa gak masuk mobil? nanti keburu siang!" Ucap Emran ketika sampai di tempat Elsa dan Ivan.
"Dia gak mau kak!" Ucap Elsa dengan wajah yang tertekuk.
__ADS_1
Dina yang melihat itu hanya menahan tawanya, melihat adik kekasihnya yang begitu manja.
"Yasudah gini aja, Baby anterin pacarnya Elsa ke tempat Abi buat nitipin motornya. Biar Elsa yang bawa mobilnya nyusul kalian kesana." Ucap Dina dengan suara lembutnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Emran meraih kunci motor yang ada di tangan Ivan. Ia segera naik ke atas motor Ivan, dan mau tidak mau Ivan mengikuti calon kakak iparnya itu.
***
Drama ABG labil telah usai, kini mereka berempat telah sampai di tempat wisata yang ada di Malang bagian barat. Mereka mengunjungi Waduk Selorejo dengan pemandangan yang bisa memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.
Ivan meraih tangan Elsa untuk di gandengnya selama berjalan masuk ke arena wisata, sedangkan Emran berjalan dengan sang kekasih jauh di depan Elsa.
"Kalian mau ikut ke atas sana? kalian bisa foto disana karena spotnya bagus." Tanya Dina kepada kedua sejoli yang ada di belakangnya.
"Boleh kak." Jawab Elsa singkat.
Mereka terus berjalan menuju tempat yang di maksud oleh Dina. Di sepanjang perjalanan mereka bercanda dengan pasangan masing-masing. Sesekali tangan Ivan berpindah di pinggang Elsa.
"Ivan! Ada Kak Emran itu!" Ucap Elsa dengan suara lirihnya karena tiba-tiba Ivan mengecup puncak rambutnya.
"Biarin!" bisik Ivan di telinga Elsa.
"Fotoin kita dong kak!" Ucap Elsa sembari menyodorkan ponselnya kepada Emran.
"Norak!" Seloroh Emran sambil menerima ponsel Elsa. Ia mengarahkan layar ponsel itu ke arah Elsa dan Ivan yang sudah siap berpose.
Elsa tersenyum begitu melihat hasil jepretan Sang Kakak yang menurutnya terlihat keren. Ia begitu suka melihat senyum manis milik kekasihnya itu.
"Lihatlah Van, kita sama-sama keren bukan?" Ucap Elsa sembari memberikan ponselnya kepada Ivan.
"Terima kasih Kak." Ucap Elsa kepada Emran.
"Kalian bersenang-senanglah, Kita mau kesana!" Ucap Emran sembari menunjuk sebuah tempat untuk bersantai yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Emran dan Dina berjalan meninggalkan Dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu. Mereka berdua ingin menghabiskan weekend yang mereka tunggu selama satu minggu ini.
Setelah kepergian Emran, Elsa menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas gedung yang ia tempati saat ini. Ia memejamkan matanya untuk menikmati udara segar di tempat yang banyak di kelilingi pohon rindang itu.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sangat menikmati tempat ini El." Ucap Ivan setelah beberapa saat terdiam sembari menatap Elsa.
"Iya Van. Aku ingin menikmati kebebasan hari ini. Besok tidak ada lagi suasana seperti ini. Apalagi menghirup udara yang sama bersamamu." Ucap Elsa sebelum mengubah posisinya. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat pemandangan di depan nya.
"Jangan terlalu di ambil hati." Tutur Ivan dengan tangan yang tak henti memainkan beberapa helai rambut panjang Elsa.
Di tempat lain, Emran sedang duduk di bawah pohon rindang sembari menyaksikan sang Adik yang tengah bersandar di bahu kokoh Ivan sambil menikmati pemandangan di depannya.
"Rasanya aku ingin sekali menyingkirkan tangan itu dari pinggang Elsa!" Ucap Ivan ketika melihat tangan Ivan melingkar di pinggang Elsa.
Dina menyeringai, ia menahan tawanya ketika melihat seorang kakak yang sedang mengawasi adiknya yang berpacaran.
"Apa kamu juga ingin melakukan seperti mereka baby?" Tanya Dina sembari memalingkan wajah Emran untuk menghadapnya.
"Biarkan mereka seperti itu. Toh kita juga sering seperi mereka." Ucap Dina dengan tatapan teduhnya yang selalu membuat Emran terpesona.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Emran kepada Dina yang tak pernah lupa untuk terus tersenyum.
Mendengar pertanyaan dari Emran, membuat Dina tersenyum geli. Bagaimana bisa seorang Emran menanyakan hal seperti itu kepadanya.
"Biarkan mereka menikmati hari ini. Aku pun sama seperti Elsa, ingin menikmati waktu bersamamu." Ucap Dina dengan jari yang menarik kedua sudut bibir tebal milik Emran.
Cup. Satu kecupan mesra mendarat di bibir berwarna merah muda milik Dina. Hanya kecupan saja, tidak ada tarian lidah seperti yang mereka lakukan ketika di rumah kontrakan Emran yang tak jauh dari kampusnya.
_
_
_
Happy reading kak, semoga suka😍♥️
_
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1