
Satu bulan kemudian setelah kepulangan dinas. Aku masih di kantor berkutat dengan angka-angka yang menjadi rutinitas kerjaku sehari-hari. Tampak Lisa sibuk dengan wajah serius menatap laptop di depannya.
Panas siang hari ini membuat orang tidak ingin keluar rumah. Terik sekali sinar matahari seakan ingin membakar apapun yang terkena. Aku sampai menolak ajakan kak Santi untuk makan diluar menghadiri undangan dari klien.
Lisa menekan remote AC mengganti dengan yang paling dingin suhunya taoi tetap saja di rasa panas dan gerah. Dari tadi kulihat dia gelisah, mungkin karena suasana sekarang terasa kurang nyaman.
"Pakai yang paling dingin," suruhku pada Lisa.
"Tapi kalau di paksa ke maksimal akan rentan rusak Kak."
"Besok panggil service AC, kenapa kurang dingin sekarang," suruh ku sambil menyandarkan kepala di sofa.
"Jadi gak pengen ke luar deh," keluhku sambil membuka blazer yang ku pakai menghilangkan rasa gerah.
*********
Handphone berdering saat aku baru mau keluar ruangan dan ingin pulang dari kantor.
"Kapan pulang? Tante sama Om Dedy datang. Kita mau bicarakan tentang pernikahan kamu."
Mama memberitahuku bahwa Om dan Tanteku datang dari Balikpapan. Mereka akan mengadakan pertemuan keluarga membahas pernikahan aku dengan Miko.
Miko sudah bicara dengan Orang tuaku saat kami kembali dari Jakarta. Aku juga di beritahu lewat telepon, karena Miko sendiri pulang ke kotaku sedang aku tinggal harus masuk kantor dan menyiapkan laporan kunjungan dinas.
"Ayo pulang... Tante tunggu Kia."
Suara tanteku nyaring memekak telinga, rupanya dia di sebelah Mama yang sedang menelponku.
"Lihat... Tantemu tidak sabar lagi."
Aku jadi sangat terharu, semua orang di keluarga kami sangat antusias dengan rencana pernikahanku dengan Miko. Jelas saja karena hal itu yang sangat ditunggu dari dulu.
"Besok Kia pulang Ma, mau selesaikan semua pekerjaan dulu. Tidak enak di kantor, Kia sudah minta cuti bulan kemarin," jelasku pada Mama.
"Mama tunggu, tapi hati-hati di jalan."
Itulah Mama selalu khawatir kalau aku menyetir sendiri. Maunya ada yang menemaniku kemana pun. Cukuplah selama ini apa-apa semua ku kerjakan sendiri. Dengan adanya keinginan serius Miko menikah denganku membuat harapan keluarga kami yang hilang jadi muncul kembali.
Terutama Mamaku, beliau sangat bahagia sampai beberapa kali menelepon Mama Miko dan berulang kali juga meminta maaf karena kesalahan yang pernah dilakukan Papa.
"Iya... Kia mengerti Ma, sekaligus weekend depan saat acaranya Tari. Jadi Kia harus pulang mendampingi Miko."
Tari akan menikah dengan Luthfi, empat hari ke depan. Aku berniat pulang untuk menghadiri dan sudah memberitahu Miko tentang rencana kepulanganku.
*******
Rumah Tari sudah mulai ramai dengan kedatangan keluarga dekat. Semua keluarga inti sedang berkumpul. Mama Tari terlihat sangat sibuk berdiskusi dengan tante Hera. Walapun acaranya kecil tapi mereka ingin semua berjalan dengan lancar.
Terlihat kak Lina baru saja datang bersama anak dan suaminya. Begitu juga dengan mas Tito, kali ini dia juga datang bersama anak dan istrinya. Samua tampak antusias dengan acara pernikahan Tari.
Miko tidak lama juga datang. Dia langsung menghampiri Mamanya yang sedang duduk di ruang tamu bersama tante Hera. Mamanya tersenyum ketika melihat Miko datang. Saat Miko mendekat, dia langsung memeluk Mama yang sedang duduk di kursi roda.
"Tadi mama Kia telepon menanyakan bagaimana kelanjutan rencanamu?" tanya Mama.
"Sudah serius Ma, tidak ada yang perlu diragukan lagi," jawab Miko.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita datang ke rumah Kia sebelum acara Tari," usul tante Hera.
"Benar... ini kan masih 4 hari lagi," tegas Mama.
"Bagaimana kalau suruh Kia cepat pulang, baru kita ke sana menemui orang tua dan keluarga pihak Kia."
"Apa harus terburu-buru Ma?" tanya Miko.
"Lebih cepat lebih baik," kata tante Hera.
"Iya... apalagi sekarang kita semua berkumpul, Kakakmu juga datang. Jadi lebih baik kalau kita ke sana bersama."
"Benar Mik," sela kak Lina yang baru keluar dari kamar kemudian duduk di samping tante Hera.
"Kalau itu maunya Mama, Miko ikut saja. Apalagi semua sudah mendukung."
"Rumah ini benar-benar diselimuti kebahagiaan sekarang," kata mas Tito yang baru masuk ke dalam rumah.
"Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menikahkan Miko selanjutnya," ujar mas Tito sambil tersenyum.
"Kamu bahagia sekarang kan Kak? Anak-anakmu keduanya akan menikah."
__ADS_1
Tante hera tertawa sambil memandang Mama yang dari tadi tersenyum pada Miko.
"Aku akan berterima kasih pada Tuhan, atas semua berkahNya," kata Mama bahagia.
Rasa bahagia menyelimuti mereka semua. Terlihat dari wajah mereka yang selalu tersenyum menantikan saat-saat pernikahan Tari dan saat acara lamaran Miko.
*********
"Apa harus secepat itu? Cuma dua hari lagi? Bagaimana harus mengaturnya?" tanyaku kaget ketika Miko menelpon dan memberitahu rencana keluarganya.
"Mamaku yang mau, kamu pasti tahu, mana berani aku membantah Mama," jawab Miko singkat.
"Semua kan harus direncanakan dengan matang. Bagaimana nanti kalau acaranya tidak berjalan lancar karena terburu-buru."
"Cuma acara lamaran resmi saja, yang datang juga keluarga dekat. Semua harus dilakukan sekarang karena keluargaku sudah kumpul. Jadi mereka ingin sekali mendampingi aku nanti melamarmu," jelas Miko.
"Nanti aku beritahukan dulu pada Mama dan Papa. Kebetulan keluarga aku juga datang semua. Tante dengan Om ku, biar mereka nanti yang mengurus semua."
"Yang penting kamu pulang dulu. Apa perlu aku jemput?"
"Tidak usah... aku bisa pulang sendiri," tolakku.
"Okelah... tapi hati-hati ya," pesan Miko agak khawatir.
"Ajak Wiwin dengan Alan saja."
"Akan ku coba, semoga mereka bisa ikut."
********
Aku mencoba menelepon Mama mengatakan keinginan keluarga Miko.
"Apa! Dua hari lagi? Berarti Mama harus cepat mengurus semua. Nanti Mama minta bantuan teman Lala, EO untuk acara pernikahan."
Mama kelihatan panik tapi Tanteku langsung mengambil handphone dari tangan Mama.
"Semua bisa di atur, yang penting kalian siap dan semua sudah setuju. Pulang sekarang Kia supaya gampang menentukan acaranya."
Tanteku sangat bersemangat saat mengetahui semua. Dia bahkan berjanji akan menangani semua acara di bantu Lala isteri Andi menantunya.
"Tante bahagia Kia, tidak ada kabar baik selain ini. Tidak sia-sia kami datang dari jauh."
*******
Aku bergegas menemui Wiwin di ruangannya.
"Miko melamarku secara resmi bersama keluarga dua hari lagi."
Hampir berteriak aku memberi tahu pada Wiwin. Semua orang diruangan itu langsung memandangku termasuk kak Santi yang berbicara dengan Wiwin.
"Wah... surprise."
"Selamat... akhirnya waktu ini tiba juga," kata kak Santi sambil memelukku.
"Beri aku waktu satu jam meyelesaikan ini. Aku ikut kamu pulang," seru Wiwin menunjuk tumpukan kertas di depannya.
"Aku mau siap-siap dulu, ajak Alan sekalian."
"Benar, jangan pulang sendiri. Takut kalau terjadi sesuatu, takut juga sama mitos."
Kak Santi menatapku dengan agak cemas. Dia lega ketika Wiwin dan Alan ikut pulang bersamaku.
**********
Aku menatap cermin dengan gugup saat hari yang di nanti tiba. Tim make up datang dan bersiap merias ku. Sebuah dress warna tosca dengan bias grey muda di bagian bawah dari bahan brukat tergantung. Itu yang akan ku pakai saat acara berlangsung, cantik sekali modelnya. Tante memesan langsung dari butik temannya dan diantar lewat jasa titipan.
Aku di dandani dengan gaya modern dengan sentuhan headpiece silver jadi semakin elegan kelihatannya.
"Wah, pangling melihat keponakan Tante, selamat Kia sayang," seru Tante ketika aku sudah selesai dan siap keluar.
Wiwin yang dari tadi menemaniku terlihat selalu tersenyum. Apalagi saat menatapku yang sudah di hias.
"Hmm... akhirnya dia lebih dulu dari aku."
"Aku akan datang saat acara kamu nanti," janjiku pada Wiwin.
"Mana sang putri kita?" tanya Rima saat masuk ke ruang rias dan ternyata dia bersama dengan Nisa.
__ADS_1
"Aaah... kamu," aku tersipu malu.
"Selamat Kia, semoga lancar sampai acara puncaknya," doa Nisa.
"Terima kasih sayang, terima kasih semua," kataku pelan.
"Jangan menangis, nanti make up nya rusak," larang Rima sambil memegang tanganku.
Semakin mendekati acara aku semakin gugup. Dari tadi teman-temanku yang akan ikut mengantar aku ke depan menemui keluarga Miko bergantian memegang tanganku yang dingin.
"Santai saja," bisik Rima.
*******
Acara di adakan di dalam rumahku. Terlihat Papa dan Mamaku duduk di kursi bagian kanan bersama Tante dan Om Dedy. Di sebelah Kiri ada Mama Miko bersama mas Tito, kak Lina dan Tari. Di barisan belakang semua berbaur antara keluargaku dan keluarga Miko.
Miko terlihat santai duduk di samping Mamanya. Dia terlihat tampan dengan kemeja warna senada dengan gaun yang kupakai. Saat aku turun dari tangga di temani Wiwin, dia tersenyum memandangku. Matanya tidak lepas dari aku sampai aku duduk di sampingnya.
Miko memegang tanganku sesaat setelah aku duduk. Dia tak berhenti tersenyum padaku dan pada semua tamu undangan. Aku cuma tertunduk malu tapi tetap tersenyum, bahagia inilah yang kurasa. Sekarang semua yang ku impikan dulu sudah tercapai yaitu merasakan bagaimana di lamar.
Aku menatap Mama Miko, beliau tersenyum sambil mengangguk. Janji yang dulu di ucapkan Mama untuk meminta aku pada orang tuaku sudah terpenuhi walaupun bukan untuk Bimo tapi untuk Miko.
Saat MC memanggil Miko untuk menyampaikan maksud kedatangannya, dengan gagah Miko berjalan ke depan. Dia bersiap memberikan kara-kata lamaran.
"Kok cantik sekali?"
Kata pertama yang diucapkan Miko sambil menatapku. Disambut tepuk tangan dan sorak dari para tamu.
"Saya sudah melamar Kia beberapa waktu lalu. Tapi sekarang saya kembali dengan keluarga secara resmi. Kepada Om dan Tante saya mohon izinkan saya untuk menjadi pasangan Kia. Saya berjanji akan menjaga dan menyayangi sampai saya menutup mata. Izinkan kami bersama dalam satu ikatan keluarga. Saya mencintai Kia Om, Tante," mohon Miko sambil menatap kedua orang tuaku yang duduk di sampingku.
Papa terlihat bahagia, dari tadi hanya tersenyum. Mama yang kelihatan terharu bahkan beliau menunduk menahan tangis. Aku memegang tangan Mama dengan erat. Beginilah wanita pasti gampang terharu walau hanya dengan sebuah kata.
"Kia... aku menyayangi kamu. Be my wife, lets be happy. I love you so much."
Miko menghampiri aku sambil tersenyum mesra. Kemudian aku yang memberikan jawaban atas permohonan Miko. Dengan sedikit gugup aku mencoba merangkai kata agar terlihat bagus.
"Eeem... karena kedua keluarga sudah setuju, tidak banyak kata yang bisa saya ucapkan karena kami sudah sama-sama menyayangi. Dan kami juga sepakat untuk bahagia bersama.........."
Kata-kata ku terhenti, air mataku yang dari tadi kutahan akhirnya keluar. Aku memandang Mama dan Papa, Mama masih menunduk sedang Papa tersenyum sambil mengangguk.
"Ayo Kia, kamu pasti bisa," kata semangat dari Andi yang berdiri sambil memegang kamera.
"Kan... pasti menangis," kata Miko.
Aku menarik napas panjang. Mencoba menatap Miko dan mengangguk setuju dan menghapus air mata bahagia.
"Baiklah my Man... aku mau jadi isterimu."
Suara riuh tepuk tangan menggema di ruangan tempat acara kami. Miko menghampiriku yang masih tersedu. Tanteku langsung memanggil tim make up untuk memperbaiki riasan wajahku yang rusak akibat menangis haru.
"Jangan menangis lagi, kita mau sesion foto ini. Nanti kamu jelek kelihatannya," protesnya.
"Aku berlatih semalaman untuk kalimat yang kusampaikan di depan tadi," bisik Miko, aku tersenyim geli mendengarnya.
Miko kemudian berjalan kearah keluargaku
Ku lihat Miko bicara dengan anggota keluargaku termasuk Andi. Aku mendatangi keluarga Miko yang dari tadi menatapku.
"Akhirnya kamu tetap jadi bagian keluarga kami," kata kak Lina dengan bahagia.
"Mama sudah penuhi janji Mama dulu, lega rasanya," ucap Mama bersemangat.
"Selamat Dik, Kia memang ditakdirkan jadi adik iparku," mas Tito tersenyum dan menyalami tanganku.
Tari tidak berkata apapun, dia memelukku sambil menangis bahagia. Aku tahu dia adalah salah satu orang yang paling ingin aku bahagia dengan Kakaknya. Semua teman-temanku juga memberi selamat dan mendoakan kebahagiaan kami.
Hari ini, tidak pernah akan aku lupakan. Aku jadi ingat dulu saat aku menginginkan hal ini terjadi bersama Bimo dan tidak pernah terwujud. Tapi saat aku tidak berharap terlalu besar pada Miko, dia yang mewujudkannya. Baru aku sadari bahwa harapan yang terlalu besar akan menghantam diri sendiri ketika semua gagal. Apalagi cuma berharap pada seseorang.
Aku berdiri menatap semua orang dan menyapu pandangan ke siapa saja dalam ruangan ini. Mereka terlihat bersemangat dan bahagia, jadi tidak ada alasan untuk meragukan bahwa aku juga bisa bahagia. Apalagi ketika gadis cantik yang cerewet datang mendekatiku sambil membawa cake coklat di tangannya.
"I love you mama Kia, hope you happines... ever and----ever,' ucap Bena dengan manis lalu menyerahkan cake padaku.
*********
Maafkan saya reader semua, satu bab ini dulu kita update. Baru nanti kita masuk di mana Kia menemukan sesuatu yang bisa menggoyahkan perasaannya pada Miko. Wow, pasti banyak yang bertanya apa itu? Nanti kan saja di bab selanjutnya.
Terima kasih sudah setia dengan Rahasia Hati. Saya juga mohon maaf karena terlambat update ada sesuatu dan lain hal. Semoga masih mau membaca novel ini yang banyak kekurangannya. Kalau mau kritik dan saran serta saya feedback boleh di tulis di kolom komentar. Satu lagi jangan lupa dukung penulis dengan vote murah hati, saya sangat menghargai dan berterima kasih sedalamnya.
__ADS_1
Cuaca sangat ekstrim sekarang semoga kita semua masih dalam keadaan sehat. Semoga badai virus cepat berlalu dan kita bisa kembali hidup normal. Thank you all, see next time.