Rahasia Hati

Rahasia Hati
32


__ADS_3

"Kakak suka kuda pony nggak?" Pertanyaan anya tidak di jawab oleh raskal yang terus saja menatap julia dan tiara yang sedang asik mengobrol tanpa memperdulikan nya.


Kedua cewek itu benar benar mengabaikan nya sejak istirahat pertama di sekolah.


Sampai sekarang gue masih nggak tau apa salah gue.


Tiba tiba saja sikap julia dan tiara menjadi tidak bersahabat sama gue.


"kak?" Anya menyentuh lengan raskal yang terus saja menatap kedua sahabat nya.


Anya mencebikkan bibir nya karna raskal tetap saja tidak merespon nya.


"Kakak?!!" Karna kesal anya pun memanggil raskal dengan pekikan keras nya.


Tidak hanya raskal, julia dan tiara pun menoleh pada anya. Kedua nya mengeryit bingung melihat wajah anya yang tampak sebal. Anya juga melipat kedua tangan nya menatap sebal pada raskal.


"Dek, manggil siapa?" Tanya julia bingung.


Tiara juga menatap anya.


"Kak raskal nyebelin !" Pekik anya berlalu memasuki kamar nya.


Julia dan tiara melongo melihat nya.


Tingkah anya benar benar seperti remaja yang di kecewakan oleh pacar nya.


Raskal menghela nafas.


Dia benar benar tidak memperhatikan anya kali ini. Sebenar nya raskal mendengar pertanyaan anya, hanya saja raskal malas untuk menanggapi nya.


"Anya kenapa jul?" Nia muncul dari dalam kamar anya dengan wajah bingung.


Julia menatap raskal sekilas kemudian menggeleng menjawab pertanyaan bunda nya.


"Julia juga nggak tau bunda" Jawab julia.


Nia menghela nafas mendengar nya. Akan sangat susah membujuk anya jika sudah menangis seperti itu.


"Emang nya anya kenapa tante?" Tanya raskal menatap nia.


"Anya tiba tiba menangis saat masuk kamar" Jawab nia menghela nafas.


Raskal terdiam, tidak menyangka jika anya akan seperti itu hanya karna raskal tidak menjawab pertanyaan nya.

__ADS_1


"Adek lo kaya remaja lagi puber" Bisik tiara pada julia.


Julia mendelik mendengar bisikan tiara. Meskipun julia juga berpikiran demikian namun apa yang di bisikan tiara julia takut jika nia sampai mendengar nya.


"Sembarangan lo" Kata julia menyikut pelan tiara.


Tiara tertawa pelan melihat wajah sebal julia padanya.


Sekitar pukul 20;15 tiara berpamitan pada nia untuk pulang. Tiara menyalimi nia yang masih sibuk dengan setrikaan nya.


Berbeda dengan raskal yang sedang berusaha membujuk anya untuk keluar dari kamar nya.


Raskal benar benar tidak tau jika anya akan sangat sulit untuk di bujuk.


"Kalo anya mau keluar, kakak janji besok kakak bawain boneka yang gede" Bujuk raskal di depan pintu kamar anya.


Anya muncul dengan cepat sedetik setelah raskal berhenti berucap. Senyum manis terukir di bibir anya mendongak menatap raskal yang berdiri di depan nya.


"Beneran kak?" Tanya anya menatap raskal.


Raskal tersenyum dan mengangguk.


Cowok itu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan tinggi badan anya.


"Iya,, tapi anya nggak boleh kaya tadi lagi" Jawab raskal mengusap puncak kepala anya.


Julia dan nia yang melihat nya hanya menghela nafas. Padahal nia saja sejak tadi berusaha membujuk anya dengan berbagai cara tapi tetap tidak berhasil.


Tapi raskal, hanya dengan kata seperti itu saja mampu meluluhkan hati anya.


"Lo kenapa sih cuekin gue?" Pertanyaan raskal membuat julia menoleh kepadanya.


Julia mengerutkan kening nya menatap raskal yang memasang wajah sendu nya.


"Menurut lo?" Tanya julia ketus.


"Hhh,, kalo gue tau, gue nggak bakal nanya" Kata raskal menghela nafas kesal.


Julia berdecak.


Cewek itu memutar bola matanya jengah kemudian masuk ke dalam rumah nya meninggalkan raskal yang hanya diam menatap punggung nya.


"Jul"

__ADS_1


"Pulang sana" Usir julia.


Raskal menghela nafas lagi.


Dia benar benar bingung dengan sikap julia dan tiara kepadanya.


Raskal melangkah menuju motor nya.


Sekali lagi raskal menoleh ke pintu utama rumah julia yang masih terbuka.


Raskal berharap julia kembali muncul di sana untuk menatap nya seperti biasa.


Namun harapan hanyalah harapan, julia justru menutup pintu rumah nya. Raskal berdecak, dengan enggan cowok itu menaiki motor nya kemudian melaju meninggalkan pekarangan rumah sederhana julia.


Selepas kepergian raskal julia kembali membuka pintu rumah nya. Julia memang sudah sepakat dengan tiara untuk bersikap demikian pada raskal.


Itu mereka berdua lakukan karna raskal sudah mengizinkan natalie bergabung tanpa bertanya lebih dulu pada tiara dan julia.


Rasain, emang enak di cuekin.


Julia melangkah memasuki rumah nya. Seulas senyum terukir di bibir nya saat melihat nia yang sedang menata beberapa keranjang cucian nya.


"Julia bantu ya bun" Ujar julia menghampiri nia.


"Nggak usah nak, kamu istirahat aja" Jawab nia tersenyum menatap nya.


"Julia belum ngantuk bunda" Kata julia mengambil tumpukan baju yang sudah rapi di samping nya.


"Kalo begitu kamu belajar" Senyum nia mengambil alih tumpukan baju di tangan julia.


"Tapi bunda_"


"Istirahat ya sayang, bunda bisa sendiri kok. Sebentar lagi juga selesai" Kata nia menyela ucapan julia.


Julia tidak lagi bisa menjawab.


Nia benar benar tidak bisa di bantah.


"Iya bunda" Kata julia pasrah.


Nia tersenyum karna julia menuruti ucapan nya.


Julia melangkah pelan menuju kamar nya. Julia benar benar tidak tega melihat nia yang selalu sibuk dengan baju baju tetangga yang di cucinya.

__ADS_1


Julia memasuki kamar nya. Cewek itu melangkah menuju ranjang nya. Dengan kasar julia menghempaskan tubuh mungil nya disana.


Julia ingin sekali membantu nia menyelesaikan pekerjaan nya, namun apa daya jika nia sudah menolak julia tidak akan bisa membujuk nya.


__ADS_2