Rahasia Hati

Rahasia Hati
Pegang Tanganku


__ADS_3

Flashback on*


Seorang pria datang ke kantor Bimo dan kebetulan Bimo sudah mau pulang kerja. Bimo tersenyum melihat dia berjalan dari jauh sambil melambaikan tangan. Ketika sampai di depan Bimo langsung memeluknya.


Dia adalah Miko adik tiri Bimo yang saat itu sedang merintis karier dengan bekerja sebagai pegawai kontrak di PT Telkom Balikpapan. Dia datang karena ingin bertemu dengan Bimo sekaligus ingin menengok makam Ayah mereka.


"Kita ke makam dulu nanti kemalaman," ujar Bimo.


Miko hanya menurut saja, kemudian dia mengikuti Bimo ke parkir tempat motor Bimo di taruh selama bekerja. Bimo memang sengaja membawa motor karena dia tahu Miko akan datang. Jadi mereka bisa leluasa jalan kemanapun karena tidak enak membawa mobil perusahaan pada saat bukan jam kerja.


Mereka sampai di makam Sopian Ayah mereka dan Miko langsung mengikuti Bimo berjalan menuju ke arah makam.


"Miko anak kesayangan Papa datang dari Balikpapan."


Bimo langsung bicara seolah-olah memberitahu pada Ayahnya bahwa adik tirinya sudah datang. Miko kemudian bersimpuh di depan makam sambil memegang nisan mendiang ayahnya.


"Apa kabar Pa?"


"Maaf Miko tidak datang saat Papa menutup mata," katanya pelan sambil menunduk.


Bimo menepuk bahu Miko menguatkan supaya jangan terlalu sedih. Miko sepertinya sudah bisa menerima dengan hati lapang kematian Ayah yang tidak pernah ditemuinya selama ini hanya mengirimkan uang lewat Bu panti untuk kebutuhannya selama dia masih di Panti asuhan.


Dan ketika dia kuliah Bimo lah yang menanggung semua biayanya karena saat itu Bimo sudah sukses dalam pekerjaannya. Miko juga sempat tinggal di rumah Kak Lina di Balikpapan saat masih kuliah bersama Bimo yang saat itu juga dinas di daerah sana.


Setelah sudah puas di makam Ayahnya, Miko berdiri dan mengangguk pada Bimo mengajak pulang karena hari sudah menjelang senja saat itu.


"Kita makan dulu baru pulang ke rumah Mama, kamu mau kan?"


Bimo memandang Miko dengan setengah berharap bahwa Miko menyetujuinya. Muka Miko agak kaget mendengar permintaan Bimo dan langsung menolak secara halus karena dia belum siap bertemu dengan ibu tirinya. Padahal Kak Lina sudah mengatakan pada Miko bahwa Mamanya juga terpukul saat mengetahui Ibunya Miko bunuh diri.


********


Mereka menuju sebuah cafe tempat Bimo selalu makan. Mereka masuk dan Bimo melambaikan tangan pada pelayan dia langsung memghampiri Bimo karena sudah kenal. Bimo lalu menanyakan pada Miko apa yang ingin di makan dan Miko langsung menjawab ingin capcay udang seperti yang tertulis di menu.


"Minumannya dua botol," kata Miko pada pelayan sambil memandang Miko yang tersenyum sambil mengangguk. Tak lama pelayan langsung menyuguhkan pesanan dan dua botol minuman. Mereka menyantap makanan dan di akhiri dengan minum sambil ngobrol dengan santai.


"Apa kabar calon istrimu?"


Miko bertanya pada Bimo yang sedang menuang minuman.


"Makin buruk, Papanya semakin marah besar ketika ku katakan kami sudah terlalu jauh."


Bimo terlihat seperti putus asa hingga membuat dia semakin ingin minum lebih banyak.


"Lagi...bawakan 2 botol."


"Kalau aku oleng kamu yang bawa motor," ujar Bimo pada Miko.


Miko tertawa kecil kemudian ikut minum juga meski harus kontrol karena dia yang akan mengendarai motor.


"Kia sendiri bagaimana, apa memilih kamu?"


Miko bertanya pada Bimo sambil memandangnya menunggu jawaban tapi Bimo cuma diam.

__ADS_1


"Menikah saja lalu pergi jauh ke luar daerah atau kemanapun asal bisa bersama."


Miko memberi saran pada Bimo tapi Bimo menggeleng kepala dan tersenyum.


"Aku akan menunggu waktu yang tepat supaya bisa bicara sama Om Hendra bersama Kia," jelas Bimo.


Kemudian Bimo mengajak Miko pulang karena sudah malam dan esok mereka berdua harus bekerja pagi harinya.


"Antar aku dulu kamu bawa motor pulang," kata Bimo pada Miko.


*****


Malam itu baru jam delapan belum terlalu larut sebenarnya tapi saat itu hujan gerimis dan Miko menanyakan pada Bimo apa bisa menunda untuk


pulang tetapi Bimo menolak.


"Cuma hujan kecil saja tak masalah, ayo," ajak Bimo.


Miko menuruti kata Bimo dan dia menjalankan motor secara perlahan karena jalan agak licin. Mereka melewati jalan perusahaan jadi tidak di aspal hanya tanah saja jadi rentan sekali untuk tergelincir.


Jalan sangat sepi karena yang boleh lewat hanya mobil perusahaan di siang hari jalan itu ditutup total. Perusahaan Papaku cuma beroperasi hanya siang hari tidak seperti perusahaan Bimo yang beroperasi 24 jam makanya jalan sepi apalagi saat itu hari sedang hujan.


Saat mereka sudah setengah jalan untuk pulang tiba-tiba sinar lampu sebuah mobil besar menyilau kan mata Miko yang sedang mengendarai motor.


TIIIN...TIIIIN.


Suara klakson mobil besar berbunyi nyaring dengan cepat Miko menjalankan motor ke pinggir mengalah karena mobil perusahaan yang lewat sangat besar sejenis trailer. Saat mobil melintas di samping mereka ban mobil mengenai lubang jalan dan menyemburkan air di genangan yang ada dijalan bekas tertampung air hujan. Air langsung mengenai baju Bimo dan Miko yang saat itu sedang berhenti di pinggir jalan.


"Aahh...kenapa jalan sini tadi."


"Ayo lanjutkan, nanti kita bisa mandi," ajak Bimo.


Mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang masih Miko yang mengendarai motor. Sekitar 200 meter mobil yang tadi jauh di depan dan tidak kelihatan lagi tiba-tiba muncul tepat di persimpangan pertigaan jalan dengan kecepatan penuh.


Miko yang saat itu di depan sangat terkejut dan dia tidak menduga kalau mobil ada di pertigaan seperti sedang menunggu mereka lewat. Miko lalu mengarahkan lampu motor ke arah kaca mobil.


"Om Hendra... Papa Kia."


Bimo lalu menyuruh Miko ke pinggir agar memberi jalan mobil yang dikendarai Papa dengan seorang temannya.


Mereka sudah jalan dipinggir tapi mobil tetap mengarah pada mereka seperti sengaja ingin menabrak. Bimo kelihatan sangat panik dia bingung harus bagaimana sedang dipinggir sebelah kiri mereka ada jurang tidak begitu dalam tapi cukup membuat kaki patah bila jatuh kesana.


"Loncat saja atau jatuhkan ke jurang."


Bimo berteriak menyuruh Miko meloncat tapi Miko masih bersikeras menjalankan motor di jalan. Bimo kemudian mendorong Miko dari belakang agar jatuh ke samping kiri mereka yang berupa jurang. Bimo kemudian mengarahkan motor terjun langsung ke jurang walaupun bagian belakang motor sempat ter-hantam bumper mobil besar yang di dikemudikan oleh Papa.


Saat itu tidak ada orang satu pun yang lewat cuma ada satu rumah itupun jauh sekitar 500 meter dari tempat kejadian. Bimo bahkan terlempar hampir 300 meter masuk ke dalam jurang dan langsung pingsan sedang Miko juga pingsan dengan kepala berdarah karena terbentur sebuah batu besar di dasar jurang.


Flashback off*


*******


Hari sudah mulai gelap karena senja akan segera menghilang lampu-lampu taman sudah mulai menyala. Suasana agak sepi saat itu ketika Miko memberitahukan semua detail kejadian padaku tanpa satu saja yang terlewatkan.

__ADS_1


Dadaku seolah meledak karena sakit mendengar semua penuturan Miko. Aku seakan-akan membayangkan seorang monster berwujud Papaku ketika aku memejamkan mata setelah mendengar kejadian tragis yang menimpa dua bersaudara itu. Aku terduduk di jalan sambil menepuk dadaku yang terasa sangat sesak hingga membuatku susah bernapas.


Ingin sekali rasanya aku menangis sekuatnya tapi tidak bisa bersuara karena seperti semua tertahan di tenggorokanku. Hanya air mata yang mengalir tidak bisa berhenti. Miko ikut duduk sambil memandang dan memegang tanganku memberikan kekuatan agar aku bisa menerima semua.


"Kau pasti sangat membenci aku dan Papaku," isakku sambil menatapnya.


Miko hanya diam sambil menatapku masih memegang tanganku mencoba membuatku tenang.


"Awalnya begitu aku sangat membenci kamu, Papamu karena kejadian itu aku harus meminum obat muntah selama setahun karena trauma akibat gegar otak kecil tapi dibalik semua itu ada sesuatu yang yang harus aku lakukan lebih penting dan sesuatu yabg harus aku tepati dari pada membenci kamu berlebihan."


"Kenapa tidak seorang pun memberitahuku semua kebenaran yang terjadi," teriakku sambil memukul bahu Miko yang duduk tepat didepanku.


Miko tidak menjawab dia hanya memandangku sambil masih memegang tanganku seperti membiarkan aku meluapkan semua emosi yang ada


dalam hatiku. Kenyataan yang sangat menyudutkan Papa dan aku membuat mentalku sangat down.


Sekarang aku semakin percaya bahwa keputusan Bimo meninggalkanku dahulu adalah hal yang paling tepat. Bagaimana mungkin Bimo menikah dengan seorang putri yang ingin membunuh dia dan adik tirinya. Kenyataan yang sempat membuatku merasa kehilangan kepercayaan diri untuk bangkit.


Aku mencoba berdiri beranjak dari tempatku duduk tapi kepalaku terasa berputar sangat hebat. Badanku terasa limbung dan penglihatan ku terasa gelap. Aku sudah tidak bisa menahan semuanya lagi dan akhirnya aku benar-benar pingsan di situ.


**********


Pintu kamar rumah sakit terbuka terlihat Wiwin datang bersama Alan setelah mendapat telpon dari Miko bahwa aku pingsan dan sekarang di rawat di rumah sakit. Wiwin kelihatan panik dia bertanya sambil menatap Miko yang berdiri di depan pintu.


"Apa yang terjadi, kenapa Kia sampai pingsan?"


"Tanya sendiri nanti pada Kia, ini sesuatu yang sangat rahasia bagiku tapi aku tidak tahu bagi Kia, aku tidak mau membuka aib orang lain," jawab Miko sambil duduk di sofa diikuti oleh Alan.


Wiwin menghampiriku yang masih tidak sadar sambil mengelus tanganku, dia sungguh bingung apa yang terjadi padaku sahabat yang selalu bersama dan saling curhat. Tapi kini seakan semua sudah tak seperti itu lagi seperti ada yang berbeda di antara kami.


"Sahabat macam apa aku yang membiarkan teman baik ku sendirian menanggung sakit."


Wiwin menangis sambil memelukku yang masih diam karena belum sadar dari pingsan. Dia sangat menyesal selama beberapa bulan ini tidak sering bersamaku karena sibuk bersama Alan.


"Maafkan aku Kia, buka matamu sekarang aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu sendirian lagi."


"Mulai sekarang luangkan waktu buat Kia lagi, aku akan mengerti," kata Alan sambil memeluk Wiwin.


"Mungkin Kia tidak akan bangun sampai besok, tadi Dokter sudah memberikan obat penenang dosis tinggi supaya bisa tidur mengembalikan stamina tubuh kembali normal."


Miko berkata lalu menghampiri Wiwin yang masih berdiri di sebelah ranjang tempat aku tidur.


"Kalian pulang saja malam ini biar aku yang menjaga Kia, besok pagi kamu datang kesini gantikan aku menjaganya," kata Miko pada Wiwin.


Wiwin menyetujui dan berpikir bahwa aku juga harus istirahat total malam ini supaya keehatan cepat pulih. Dia segera pulang bersama Alan setelah berpamitan dengan Miko.


Miko kembali duduk di sofa yang terletak persis di depan ranjang dimana aku tidur. Dia memandangku yang masih terbaring pulas sambil menghembuskan napas panjang. dan perlahan Miko memegang tanganku sambil tersenyum.


"Tahukah kamu Kia... aku mencintaimu sebelum kamu mencintai Bimo dan aku akan memegang tanganmu mulai sekarang sesuai janji ku pada Bimo."


******************


**Membenci seseorang terlalu dalam akan menempatkan orang itu di tempat yang istimewa dalam hatimu.

__ADS_1


**Mengapa Miko berkata seperti itu? Apa dia memang sangat mengenal Kia saat dahulu?


**Selamat membaca dan terima kasih atas dukungannya selama ini. Penulis minta maaf karena lama up dan juga kalau ada sesuatu di karya saya yang tidak berkenan di hati pembaca karena penulis juga seorang manusia yang jauh dari kata sempurna. Sehat selalu dan tetap jaga protokol kesehatan.


__ADS_2