Rahasia Hati

Rahasia Hati
60


__ADS_3

Setelah motor gede raskal tidak lagi terlihat, julia pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Seulas senyum terukir di bibir nya ketika mengingat pengumuman dari kepala sekolah tadi siang.


Julia tidak sabar untuk memberitahu ayah dan bunda nya tentang keberhasilan nya lulus dari tes beasiswa yang di ikutinya.


Julia melangkah menuju kamar nya. Cewek itu mengambil amplop berisi surat pemberitahuan tentang keberhasilan nya. Senyum di bibir nya terus saja mengembang melihat amplop putih yang berada di tangan nya.


Ayah dan bunda nya pasti ikut bahagia.


Julia keluar dari kamar nya kemudian melangkah menuju meja makan dimana nia dan rendy sedang berbincang dan bercanda dengan anya.


"Ayah, bunda." Panggil julia pelan.


Rendy dan nia langsung menoleh. Keduanya tersenyum menatap putri sulung mereka yang berdiri di seberang kursi tempat mereka duduk.


"Kenapa nak?" Tanya rendy setelah menyeruput secangkir teh hangat yang di buatkan khusus oleh nia untuk nya.


"Emm.. Julia mau nunjukin sesuatu ke ayah sama bunda." Jawab julia mendekat pada nia.


Nia dan rendy saling menatap sesaat kemudian kembali menatap bingung pada putri sulung nya itu.


"Nunjukin apa nak?" Tanya nia penuh perhatian.


Julia tersenyum. Cewek itu mendekat pada kedua orang tuanya kemudian memberikan amplop berlogo sekolah nya.


Nia yang menerima nya menatap sekali lagi pada julia kemudian menoleh menatap suaminya yang duduk memangku anya di samping nya.


"Ini apa sayang?" Tanya nia sambil membuka amplop tersebut.


Julia hanya tersenyum saja menanggapinya. Cewek itu tidak sabar melihat respon ayah dan bunda nya begitu tau dirinya bisa mendapatkan beasiswa yang sangat di impikan nya.


"Julia ini.."


Ucapan nia menggantung ketika membaca surat pemberitahuan yang di berikan julia tadi. Wanita itu menggelengkan kepalanya kemudian menatap julia dengan kedua matanya yang berair.

__ADS_1


"Apa itu bunda.." Rendy yang penasaran mengambil alih surat pemberitahuan itu dari tangan istrinya.


Dan tidak jauh berbeda dengan nia, pria berkumis tipis itu pun terdiam ketika membaca nya.


"Nak.. Kamu.." Nia tidak bisa berkata kata karna air matanya sudah menetes menyebrangi pipi tirus nya.


Nia bangkit dari duduk nya. Di raih nya dua tangan julia. Wanita itu menggenggam erat kemudian mencium bergantian kedua punggung tangan putri sulung nya penuh rasa haru juga bangga nya.


"Bunda.." Lirih julia ikut meneteskan air matanya.


"Kamu memang anak bunda yang pinter nak.. Selamat yah.." Tangis nia mengusap lembut pipi chuby julia.


Julia menganggukan kepalanya dan langsung berhambur memeluk tubuh ramping bunda nya. Sebenar nya bukan respon seperti itu yang julia harapkan. Julia ingin melihat respon senang yang di penuhi dengan tawa.


Rendy yang melihat nya tersenyum. Pria itu bangkit dari duduk nya. Rasa bangga nya pada putri sulung nya semakin besar. Selain julia bisa mengerti bahkan membantu mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil nya, julia juga diam diam berusaha mengikuti tes beasiswa untuk meringankan pengeluaran mereka setiap bulan nya.


"Selamat ya nak. Ayah bangga sama kamu." Ungkap rendy tersenyum bangga menatap julia yang masih memeluk erat tubuh nia.


"Emm.. Untuk merayakan keberhasilan julia, Gimana kalau malam ini kita makan di luar?" Tanya rendy.


"Eemmm.. Nggak usah yah." Tolak julia dengan senyuman di bibir nya.


"Kenapa nggak usah. Nggak papa kok sekali kali kita makan di luar. Kebetulan juga hari ini pendapatan bunda lumayan kok." Kata nia merangkul bahu julia lembut.


"Bunda tapi.."


"Anak baik harus nurut sama ayah sama bunda." Kata nia dan rendy dengan kompak menyela ucapan julia.


Julia tertawa mendengar nya. Cewek itu mengusap lagi pipi chuby nya pelan.


"Ya udah deh kalau begitu. Julia ke kamar dulu." Kata julia kemudian.


"Iya nak.." Angguk nia dengan senyuman manis di bibir nya.

__ADS_1


Nia menghela nafas setelah putrinya berlalu. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Wanita itu tau siapa julia. Dan membaca sendiri surat pemberitahuan dari sekolah julia tentang keberhasilan nya benar benar membuat nia merasa bangga juga sangat sedih.


"Bunda.." Panggil rendy pelan.


"Bunda tau siapa julia yah.. Julia tidak sepintar itu. Julia pasti sangat berusaha keras untuk mendapatkan nilai sebagus itu." Katanya lirih.


Rendy terdiam. Andai saja dirinya tidak bangkrut julia pasti tidak perlu susah payah mengikuti tes beasiswa. Semuanya akan baik baik saja. Istrinya tidak perlu capek mencuci dan menyetrika gunungan baju setiap harinya. Julia juga tidak perlu bekerja paruh waktu untuk membantunya mencari tambahan uang.


"Maafin ayah.." Lirih rendy menundukan kepalanya.


Nia langsung menolehkan kepalanya. Wanita itu menggelengkan kuat kepalanya. Semua yang terjadi pada keluarga nya bukan salah suaminya atau siapapun. Nia tau semua yang di milikinya hanya lah titipan dari sang pencipta.


"Nggak ayah. Kamu nggak salah ayah." Kata nia menatap suaminya.


Anya yang berada di gendongan rendy ikut menangis. Anak kecil itu merasa tidak tega melihat bunda nya terus saja menangis di depan nya.


"Bunda jangan nangis.." Katanya mengucek kedua matanya.


"Nggak sayang. Bunda nggak nangis." Nia buru buru mengusap air matanya kemudian mengambil alih anya dari gendongan suaminya.


Sedangkan rendy, pria itu tidak bisa berkata apa apa. Rendy hanya diam dengan mengusap lembut bagian belakang kepala anya.


Rendy sangat berharap semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga nya di kehidupan sederhana nya yang sekarang.


Di kamar nya julia berkali kali menghela nafas untuk mengusir rasa sesak di dadanya. Julia tau apa yang di rasakan oleh kedua orang tuanya. Julia senang karna bisa membuat nia dan rendy merasa bangga padanya. Meskipun julia tidak bisa menampik rasa sedih nya melihat kedua orang tuanya meneteskan air mata tepat di depan nya.


Julia melangkah menuju ranjang kecil nya kemudian mendudukan dirinya disana. Cewek itu tersenyum ketika mendapati bantal pink berbentuk love pemberian raskal ada di samping nya.


Julia meraih bantal pink tersebut. Julia menyadari dirinya bisa seperti sekarang karna campur tangan raskal juga. Cowok itu sudah begitu baik memberinya pekerjaan juga mengajarinya belajar agar bisa lolos tes beasiswa.


Raskal. Satu nama orang yang dulu pernah berniat gue hindari. Kebaikan yang selama ini gue dapetin dari dia tidak bisa gue ungkapin dengan kata apapun. Gue nggak nyangka raskal bisa begitu baik sama gue. Gue juga nggak nyangka bisa begitu dekat dan hampir setiap saat bisa bareng dia.


Dia nggak cuma baik. Dia juga ganteng. Tidak heran jika banyak cewek yang mengidolakan dia di sekolah.

__ADS_1


__ADS_2