
Senyum mengembang di wajah Tari menyambut kedatangan kami. Hal yang sama terjadi juga dengan kak Lina, saat kami bertiga turun dari mobil.
"Hai... Ganteng," sapa Tari pada Dio saat kami berhadapan di teras rumah.
Dio yang disapa ramah oleh Tari menunduk malu disambut tertawa kecil kak Lina sambil memeluk aku kemudian Dio sedang Miko masih sibuk di mobil.
"Anak Miko sama Bimo memang ternyata, persis sekali sama loh kamu," kata kak Lina saat memeluk Dio.
"Benar Kak, sama persis," sahut Tari.
"Sudah lengkap keluarga kalian, semoga tidak ada halangan apapun yang mengancam. Kita semua mendukung penuh apapun keinginan kalian."
Mas Tito menepuk bahu Miko saat sampai di depan mereka.
"Mana Mama?"
"Ada di dalam."
"Sebentar dulu aku mau bicara sama Dio, kayaknya anak yang pemalu sama irit bicara," ujar kak Lina.
"Persis Bimo," sahut Miko.
Bimo memang jarang bicara dengan orang di sekitar apalagi yang tidak akrab. Tidak jauh berbeda dengan Miko, hanya Miko lebih humble dan murah senyum. Tapi kalau sudah akrab dengan mereka berdua, pastilah sering bercanda.
Tapi yang lebih mengingatkan aku pada Bimo adalah warna kulit Dio yang terlihat putih pucat. Kalau terkena sinar matahari hanya berubah jadi merah muda dan tidak menjadi hitam.
"Dio sayang... ini semua keluarga Dio." Kak Lina bahkan menunjuk mereka satu persatu.
"Saya tante Lina, ini tante Tari sama kak Raffa. Itu yang berdiri dekat pintu om Tito dan kak Putri."
"Ayo salaman dulu sama semua, nanti baru kita temui nenek di dalam," suruhku pada Dio.
Dio langsung melakukan masih sambil menunduk dan tersenyum.
"Ayo dong angkat kepala Dio, tidak usah malu," mas Tito geli melihat Dio masih agak takut dengan mereka.
"Santai saja, kan ada Papa," ucap Miko sambil memegang kepala Dio dengan sayang.
Setelah bersalaman dengan semua orang, Miko mengajak Dio ke dalam menemui Mama yang sedang ada di kamar. Miko ingin kami bertiga saja yang menemui dan bicara sama Mama. Kak Lina mengerti dan paham keinginan Miko, maka dari itu mereka semua menunggu di teras saat kami masuk.
*********
Dengan perlahan Miko mengetuk pintu kamar mama.
"Siapa?"
Terdengar suara nyaring dari dalam.
"Miko sama Kia, Ma."
"Ooh... Kia aja masuk dulu."
Aku segera masuk dan melihat mama lagi kesulitan memakai baju. Segera ku hampiri dan bernaksud menolong beliau.
"Susah sekali... apa mungkin Mama tambah gemuk," gumam Mama masih berusaha memakai baju.
"Ganti saja Ma, kalau susah memakainya. Memang kelihatan agak gemuk Mama sekarang," ujarku sambil membantu Mama memakai baju kembali.
"Kalian mau pamit ke kota? Hati-hati loh. Pengantin harusnya tinggal di rumah saja menunggu hari H acara."
"Tidak bisa ditinggal pekerjaan Ma. Nanti 3 hari lagi kami balik ke sini juga."
"Susah juga kalau menyangkut pekerjaan, Mama tidak bisa melarang kalian."
"Selesai Ma? Miko menunggu di depan. Ada surprise buat Mama."
Aku membantu mama membereskan kamar dan mendorong kursi roda keluar kamar menemui Miko sama Dio yang sedang menunggu.
*********
__ADS_1
Mama terlihat kaget saat melihat Dio dan memandang Miko dengan penasaran. Miko yang melihat Mama sudah keluar kamar langsung menghampiri sambil menggandeng Dio. Mata Mama tidak lepas dari Dio, sampai akhirnya mereka berhadapan satu sama lain.
"Dio... ayo salam sama Nenek," ucap Miko pelan.
Dio mendekati Mama dan menganggukkan kepala. Mama masih diam menatap Dio. Betapa kaget aku saat melihat reaksi Dio yang berbeda dari biasa orang melakukan salam. Tangan kecil itu langsung memegang pipi Mama dengan lembut seperti sudah ada ikatan di antara mereka.
"Nenek... apa kabarmu?"
Kelihatan Dio masih agak ragu dan takut. Seketika mata Mama berair sambil menatap Miko.
"Anakmu? Sama siapa? Miko... ada apa ini sebenarnya?"
Terbata-bata Mama berucap sambil menahan tangis, lalu menatap Dio dengan pandangan masih tidak percaya bahwa sosok kecil yang berdiri di depan adalah cucunya.
"Miko akan cerita semua tanpa tertinggal satupun Ma, tapi janji Mama jangan sedih."
Aku memegang bahu Mama yang masih kaget.
"Ini anak angkat Bimo Ma, karena Bimo sudah tiada jadi Miko yang menggantikan tempat Bimo."
Lama Mama memandang Dio yang masih berdiri di depannya. Perlahan tangan Mama menarik tangan Dio yang masih ada di pipinya dan membawa ke dada sambil memejamkan mata. Seolah Mama ingin merasakan kehangatan kasih sayang Bimo dari tangan Dio. Masih memejamkan mata Mama bahkan menggelengkan kepala sambil menangis tersedu. Rindu pada Bimo hadir kembali dan terlihat jelas di wajah Mama yang masih menangis.
"Mama tidak pernah tahu semua kebaikan yang dilakukan Bimo. Dia tidak pernah bilang apapun pada Mama," lirih Mama.
Mama lalu memeluk Dio, begitu erat dan lama seakan memeluk Bimo. Tak terasa air mataku ikut menetes melihat pertemuan ini. Bagaimana tidak Mama seperti memandang Dio sebagai Bimo, mengingatkan aku juga dengan sosok Bimo yang pernah ku cinta.
Setelah puas melepas kerinduan pada Dio, Mama mulai bisa tersenyum dan memandang Dio dengan penuh sayang.
"Benar-benar mirip Bimo."
Disambut senyum merekah di bibir Dio. Tanpa ragu Dio memanggil Mama dengan penuh keyakinan.
"Nenek."
"Bawa Dio ke depan Beb... aku mau bicara sama Mama," pinta Miko.
"Ayo Dio, kita temui Kak Raffa," ajakku.
"Kenapa baru cerita sekarang?"
Mama memandang Miko dengan sedikit kesal.
"Sebenarnya sudah lama Dio pengen Miko bawa ke Mama. Tapi memunggu waktu yang tepat. Maafkan Miko Ma, jangan marah yah Ma," mohon Miko sambil memegang tangan Mama.
"Jadi dia tinggal di panti asuhan tempat kamu dulu? Kenapa tidak ikut dengan kamu?"
"Bimo dulu harus kerja Ma, sekarang Miko juga seperti itu. Jadi lebih aman Dio, saya titip di panti supaya Miko fokus kerja buat biaya Dio."
"Bimo melakukan itu pasti karena kedua bakal anaknya yang tidak bisa hidup. Mama masih merasakan bersalah bila mengingat semua kesakitan Bimo dan Kia yang dulu."
"Semua sudah berlalu, kita harus merelakannya Ma. Miko sudah menggantikan Bimo untuk Kia jadi Mama tidak boleh bersedih lagi," bujuk Miko.
"Kalian berdua sama jahat dan egois. Selalu saja membuat Mama terkejut. Apa ada lagi yang belum kamu ceritakan sama Mama?"
"Semua sudah Ma... tidak ada rahasia lagi."
"Mama sudah tua Miko, kalau masih ada cerita yang belum Mama ketahui katakan secepatnya nanti keburu Mama tiada, baru kamu menyesal."
"Benar Ma... tidak ada rahasia lagi. Semua sudah Miko ceritakan."
"Jangan bicara seperti itu Ma, Miko mau menikah masa Mama bicara kematian. Mama harus lihat anak Miko sama Kia nanti. Jadi Miko mohon Mama harus tetap sehat."
"Iya... Mama sangat ingin melihat anakmu dengan Kia. Tapi umur manusia semua kehendak Tuhan. Mana bisa kita ikut mengatur, kalau maut sudah menjemput tidak ada yang bisa lari."
"Miko selalu berdoa supaya Mama sehat dan panjang umur."
"Amin, begitu juga untuk Miko. Mama tidak mau kehilangan anak lagi, cukup Bimo. Kalau Tuhan mau ambil Mama saja jangan anak Mama."
"Miko sayang Mama."
__ADS_1
*********
"Ayo kita makan," ajak Tari pada semua orang.
"Aku sudah makan tadi di rumah," tolakku.
"Aku belum makan," timpal Miko.
"Kalau suami belum makan, isteri harus makan juga walau tadi sudah," canda kak Lina.
"Baiklah."
Meja makan pagi itu ramai sekali.
"Isteri mas Tito tidak datang?" tanyaku sambil memberikan sendok pada Miko.
"Nanti, dua hari sebelum acara. Anakku masih sekolah," jawabnya.
"Putri... masuk fakultas apa?"
Miko memandang putri yang sedang mengambil nasi.
"Hukum Om."
"Aku mau dia di tekhnik Mik, tapi anaknya keras kepala. Masa kuliah ngikut sama teman, kalau nggak ada teman nggak mau masuk kuliah. Kan aneh banget anak jaman sekarang," gerutu kak Lina dan Putri hanya diam saja mendengar Mamanya kesal.
"Raffa nanti mau jadi gamer saja," celutuk Raffa seakan tahu giliran dia yang akan ditanya dan di sambut gelak tawa semua.
"Apa sajalah... Raffa masih sekolah juga." Tari geli mendengar perkataan anaknya.
"Mana Luthfi, dari tadi tidak kelihatan?" tanyaku pada Tari.
"Sudah pergi Kak, ada yang mesti di urus. Pergi juga pagi sekali tadi," jawab Tari.
"Dio... cita-citanya apa?"
Mas Tito bertanya sambil menyuap makanan.
"Dio mau seperti Papa."
"Benarkan... anak tidak pernah jauh dari Papa."
Miko tertawa dengan bangga menepuk bahu Dio yang duduk di sebelah. Ada rasa senang di hatiku melihat mereka berdua.
"Dio.. apa mau tinggal di sini sama Nenek?"
Mama yang dari tadi diam, akhirnya ikut bicara.
"Ayo jawab... Papa mau dengar Dio bicara sendiri sama Nenek."
"Dio mau tinggal dengan Bunda panti saja Nek. Disana banyak teman sekolah Dio, nanti kalau sudah tamat sekolah, baru Dio tinggal sama Papa dan Mama."
"Baiklah, Nenek mengerti. Tapi harus sering main ke sini, karena ini juga keluarga Dio."
"Baik Nek."
"Wah... tegas juga Dio. Keras kepalanya mirip Bimo, tidak bisa dilawan," mas Tito tersenyum menatap Dio.
Benar juga, siapa yang bisa melawan keras kepala Bimo dulu. Sampai akhir juga aku tidak pernah bisa menang dari dia, begitu juga dengan orang sekitarnya. Diam-diam aku memandang wajah Dio, paduan yang lengkap antara Bimo dan Miko membuat Dio jadi seperti lebih spesial di mataku.
"Laki-laki kecil ini terlihat sama dengan dua orang yang mengisi hatiku. Tapi dia adalah paket lengkap gabungan dari mereka berdua jadi lebih istimewa," bathinku.
*********
**Benarkah tidak ada rahasia lagi seperti yang Miko katakan. Bisa di tangkap tidak, ada sesuatu yang akan terjadi nanti. Ayo siapa yang mau menebak, tulis di komen yah reader tercinta.
**Maafkan penulis yang selalu terlambat up. Saya pribadi minta maaf sebesarnya pada reader Rahasia Hati atas semua kekurangan ini. Pas banget masih dalam suasana lebaran maaf lahir bathin semua buat teman-teman penulis dan pembaca. Semoga masih ada yang menunggu dan mendukung karya ini.
**Jangan lupa like dan komen serta hadiah se ikhlasnya🙂 kalau sudah meninggalkan jejak pasti akan saya feedback walau terlambat. Jangan takut dalam hal positif , mari saling dukung dalam berkarya.
__ADS_1
**Semoga kita semua di beri berkah dan kesehatan, amin3x. Katakan kebaikan apa yang ingin kamu katakan, lakukan kebaikan apa yang ingin kamu lakukan sebelum semua terlambat. Always stay healthy... stay happy and stay here with Kia. See you next time.