
Luthfi menatap Bimo tidak percaya seakan tidak mengerti keputusan yang diambil oleh Bimo. Luthfi seakan tidak rela Bimo mengambil langkah yang diyakininya adalah langkah terbaik. Sambil duduk di kursi Luthfi membaca surat yang diberikan Bimo kepadanya.
"Siapa yang menanda tangani ini sebelum aku?" tanya Luthfi sambil memandang Bimo dengan penuh selidik.
"Nanti kamu akan aku pertemukan karena dia juga baru datang kemarin," jawab Bimo.
Luthfi masih memandang Bimo dengan tatapan bingung akan keputusan yang diambil olehnya.
"Bagaimana kalau keluargamu bertanya, apa yang harus aku jawab?"jawab Luthfi dengan suara serak tertahan.
Luthfi merasa Bimo sudah terlewat batas dalam mengambil keputusan dia bahkan tidak memikirkan orang-orang yang ditinggalkan di sekitarnya.
"Sepertinya waktuku sudah dekat, aku sering bermimpi bertemu anak-anakku bahkan tadi malam aku bermimpi bertemu Ayahku beliau meminta maaf padaku," kata Bimo lirih sambil menatap Luthfi.
Lurhfi terdiam tak bisa bicara lagi, dia berjalan mendekati Bimo teman sekaligus sahabat yang sudah seperti saudara baginya. Luthfi memeluk Bimo dan menangis, selama berteman tidak pernah Luthfi merasa sesedih ini dengan apa yang dipikirkan Bimo.
"Kalau kamu tidak ada nanti aku mau sama siapa, Bim?" Lirih Luthfi sambil masih terisak.
Bimo menepuk bahu Luthfi sambil tersenyum dan menatapnya.
"Kamu harus bahagia, cobalah menikah berjanji padaku setelah aku mati kamu harus menikah," ujar Bimo sambil memegang tangan Luthfi.
******
Di depan pintu kamar Bimo dirawat Heri menangis terduduk di lantai, dia mendengar semua yang dibicarakan Luthfi dengan Bimo. Heri juga tidak menyangka Bimo mengambil keputusan seperti ini.
Walaupun mereka saling meledek dan saling memarah tapi Heri sangat menyayangi Bimo. Dia sangat berusaha keras agar Bimo mau menjalani pengobatan dulu. Bimo bahkan memberikan hadiah terbaik ketika Heri menikah setahun lalu.
Heri menangis sambil memukul lantai. Sahabat yang dia perjuangkan kesembuhannya akhirnya menyerah juga karena penyakit kanker lambung. Dia terpaku menatap lantai sambil menyapu air mata yang menetes. Heri kemudian sudah mulai bisa menguasai diri dan perlahan berdiri membuka pintu. Dia masuk ke dalam ruangan Bimo dan langsung memeluk Bimo.
Bimo sangat terkejut melihat Heri datang sambil menangis dan memeluknya. Bimo benar-benar tidak enak melihat teman yang paling dekat menangis sekarang padahal dia masih ada bagaimana kalau dia nanti pergi. Bimo merasa bahwa teman-temannya akan kehilangan dirinya makanya dia berusaha untuk pamit sebaik mungkin pada mereka.
"Ayolah...lanjutkan hidup kalian jangan seperti ini," kata Bimo sambil menatap kedua sahabatnya.
"Bagaimana kalau dirumah saja dirawatnya sekarang, Bim?" tanya Heri yang sudah bisa menguasai emosinya.
"Memang kenapa?" tanya Luthfi pada Heri dengan Heri.
"Demi psikologis mental Bimo, kamu makin tertekan kalau dirawat di rumah sakit, kamu nanti bisa lebih dekat lagi dengan keluargamu," jawab Heri mencoba membujuk Bimo.
Bimo menggeleng kepala sambil dan mengambil amplop dan menyerahkan pada Heri.
__ADS_1
"Aku mau mati di sini tidak ada yang boleh tahu isi amplop ini kecuali kalian yang tahu tentang semua ini," katanya menegaskan pada Heri.
Heri membacanya dengan teliti dan menatap Bimo sambil menganggukkan kepala lalu tersenyum pada Bimo.
"Aku dukung keputusanmu, Bim," katanya sambil menepuk bahu Bimo.
Luthfi sepertinya mau protes tapi ditahan oleh Heri. Dan Heri menyuruhnya menanda tangani surat di dalam amplop itu segera dan Luthfi dengan terpaksa melakukannya.
"Suratnya aku pegang, besok aku serahkan pada Dokter," katanya menatap Bimo.
"Jangan sampai keluargaku tahu, prosesnya lakukan semua di sini," kata Bimo pada Heri.
"Oke... nanti kalau aku menjengukmu kamu minta bawakan apa? Vitamin?" tanya Heri sambil tertawa kecil.
"Aku tunggu," jawab Bimo meninju pundak Heri.
"Kamu bawakan aku rokok," kata Bimo sambil memandang Luthfi yang masih ingin protes pada Bimo tapi Bimo kemudian memeluknya.
*******
Mama Bimo datang dengan Tari dan Raffa sambil membawa kue ulang tahun. Hari ini Bimo ulang tahun dan mereka mau merayakan di tempat Bimo di rawat.
"Mama akan menuruti maunya Bimo, katakan Nak," kata Mamanya sambil memangis terisak.
"Mama harus sehat percayalah Bimo akan menjaga Mama dari atas," kata Bimo sambil memegang tangan Mamanya dan menatap Mamanya.
"Biarkan Mama melihat wajah Bimo anakku," isak Mamanya sambil memegang wajah Bimo dan menciumi Bimo.
Tari yang tadi hanya memangis dalam diam kini sudah tidak tahan lagi. Dia menangis keras sambil memeluk Kakaknya dengan erat.
"Kenapa harus seperti ini, Kak Bimo," tanya Tari di sela-sela tangisnya.
"Om Bimo..."
Raffa ikut memeluk Bimo sambil menangis karena melihat Nenek dan Mamanya menangis.
"Raffa boleh pakai semua yang di kamar Om Bimo, asal jangan buka kotak yang di atas lemari," kata Bimo sambil membelai kepala Raffa.
"Menikah lagi carikan Ayah buat Raffa," ujar Bimo sambil mencium kepala Tari.
"Berikan kotak yang ada di atas lemari pada Kia, Ma...Bimo minta tolong pada Mama," kata Bimo sambil memandang Mamanya yang masih menangis.
__ADS_1
Mama Bimo mengangguk dan mencoba menghapus air matanya. Lama sekali Mama Bimo memeluk Bimo dan menciumi Bimo seolah itu yang terakhir dia dapat melakukannya pada Bimo.
"Nanti kalau aku meninggal semua prosesi pemakaman di sini saja tidak usah di rumah," kata Bimo pada Tari.
Tari terkejut mendengar kata-kata Bimo dia tidak percaya Bimo tidak mau ada prosesi kematian di rumah mereka. Alasannya karena di rumah cuma ada Tari dan Mamanya jadi dia tidak mau membuat orang rumah susah.
"Telpon Lina sama Tito suruh mereka pulang," kata Mamanya Bimo dengan cepat pada Tari.
Mama Bimo sepertinya merasa bahwa Bimo sudah tak lama lagi bersama mereka. Melihat gelagatnya yang tadi bercerita bahwa dia bertemu anak-anaknya dan Ayahnya dalam mimpi.
Malam itu Mama Bimo, Tari dan Raffa tidak pulang. Mereka menemani Bimo menginap di rumah sakit.
*******
Bruuuu.....uukkk.....
Aku terkejut sekali ketika mobilku menabrak pagar depan rumah. Padahal ini tidak pernah terjadi karena aku sudah hapal sekali cara memasukan mobil ke dalam garasi.
"Aa..aah...."
Aku kecewa sekali dengan kejadian ini dan untungnya cuma lecet tidak sampai penyok pada bampernya.
"Kok...bisa tidak fokus sih," kataku sambil memukul kepalaku pelan.
Aku bergegas memasukan mobil dan berniat besok akan membawa ke bengkel. Handphoneku berbunyi ternyata dari Wiwin, dia mengatakan besok Manager Witel Balikpapan datang berkunjung dan kami akan mengadakan penyambutan pada malam hari di Hotel A jadi aku di minta ikut menyiapkan segala keperluannya nanti.
"Memangnya besok acaranya?" tanyaku.
"Iya ...kamu lupa besok tanggal 25," jawabnya agak kesal.
Aku terkejut langsung melihat kalender di depan kamar mandi. Kalau besok tanggal 25 berarti hari ini ulang tahun Bimo batinku. Aku berjalan menuju meja dan memandang foto anak-anaku dengan hati agak nyeri.
"Ucapkan selamat pada Papa kalian...dia ulang tahun hari ini," kataku sambil menatap foto yang ada di mejaku.
*********
**Setidaknya ucapkan selamat tinggal dengan orang-orang yang pernah menemanimu dengan baik dan benar, jangan sampai pergi begitu saja tanpa kata-kata.
**Bimo telah melakukan itu dengan benar pada orang-orang yang dekat dengannya, dia tahu pamit bukan hanya suatu kesopanan tapi juga suatu keharusan agar yang ditinggalkan tidak merasa di abaikan.
**selamat membaca dan terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1