Rahasia Hati

Rahasia Hati
I Have a Love


__ADS_3

Flash back on.


Dua orang murid berseragam putih abu-abu sedang sibuk memperhatikan beberapa coklat yang di pajang di depan toko coklat.


"Kamu beli buat siapa?" tanya Riza pada Miko sambil menatap heran.


"Buat seseorang, aku akan menyatakan perasaanku padanya saat kuberikan coklat ini."


"Siapa sih? Apa masih sekelas dengan kita?"


"Kamu lihat saja nanti saat aku berikan," Miko tertawa kecil ketika Riza makin bingung dengan jawabannya.


Mereka membeli satu kaleng coklat bermacam rasa. Yang unik adalah bentuknya, amor dengan warna pink, sesuai dengan tema valentine day. Miko tersenyum sambil menatap kado yang sudah ditangan dan akan diberikan padaku.


"Wah... lihat senang sekali kamu. Mahal itu, berapa bulan menabung uang jajan?"


Riza menatap Miko, dia tahu mereka hanya dua anak panti asuhan yang uang jajan terbatas. Tapi saat itu Miko masih di biayai Bapaknya, walau dia tidak pernah dijenguk tapi masih sering ada yang mengirim uang bulanan. Makanya Miko masih agak beruntung di banding Riza yang hanya berharap dari donatur tetap panti.


Itulah mengapa mereka berdua sangat bertekad bahwa ke depan akan menjadi orang sukses dalam pekerjaan yang akan bisa diandalkan adik-adik mereka di panti asuhan. Sekarang mereka sudah menjadi donatur tetap bahkan Miko sudah punya Dio yang dia anggap anaknya sendiri.


Mereka tidak pernah melupakan dari mana mereka berasal. Riza setiap bulan menjenguk Bunda panti, pengganti Ibu mereka. Padahal Riza bekerja di luar kota memakan waktu lama untuk datang karena jarak yang jauh. Tapi selalu di usahakan sampai ketika pulang dia mengalami kecelakaan denganku.


**********


Malam hari ketika purnama menampakan dirinya dengan begitu terang. Seakan dengan sombong mengatakan bahwa akulah yang terindah. Walaupun besok lusa akan meredup tapi purnama pasti akan bersinar lagi.


"Hayo... lagi nulis apa?"


Riza menepuk bahu Miko, membuat Miko langsung terjaga dari lamunan dan dengan cepat menutup buku yang sedang dia tulis lalu menyimpan dalam lemari pakaian milik mereka berdua. Di panti semua harus bersama termasuk tempat menyinpan pakaian dan buku.


Miko kemudian menyusul Riza yang berdiri di depan jendela sambil memandang bulan.


"Purnama kali ini benar-benar sempurna. Bintang sekeliling nampak sangat kecil di banding cerahnya sinar bulan," gumam Riza.


"Tapi bintang itu walau kecil tapi dia melengkapi bulan. Coba kalau bulan bersinar sendiri seperti di film horor, kan agak ngeri juga," canda Miko sambil tertawa kecil.


"Kamu tahu bintang yang paling terang bersinar, Za?" tanya Miko.


"Entahlah, aku bukan ahli perbintangan," Riza menggeleng sambil tertawa.


"Bintang yang muncul di awal dan akhir tahun. Aku rasa begitu juga dengan semua aspek kehidupan kita yang penting usaha di awal dan hasil di akhir."


"Bagiku yang penting harus jadi orang berhasil. Supaya bisa membalas kebaikan orang yang menyayangi aku yaitu Bunda."


Mata Riza berkaca mengingat nasib mereka sekarang yang tidak seperti orang di luar sana. Sangat bahagia dengan satu kalimat yaitu keluarga.


"Ayo tidur sudah malam," ajak Miko.


Mereka menuju ranjang tingkat tempat tidur panti. Riza tidur di atas sedang Miko di bawah.


"Jangan sampai kesiangan besok bangun. Aku harus cepat berangkat agar bisa memberikan coklat yang ku beli tadi langsung ke dia."


"Memang buat siapa sih?" tanya Riza sambil menjulurkan kepala ke bawah melihat Miko yang sudah berbaring.


"Cewek yang sering di antar Papanya."


"Hah... kakak kelas kita? Kamu serius?"


"Umurku sama dengannya, cuma aku yang terlambat satu tahun masuk sekolah."


"Benar juga sih."


"Aku menyukai dia saat pertama kali bertemu di depan kelas," Miko mengingat tabrakan denganku saat aku terlambat di antar Papa.


"Dia seperti langit buat kita Mik. Apa tidak kamu pikirkan lagi? Nanti kamu sendiri yang sakit."


Riza membujuk Miko karena dia pikir tidak mungkin aku dan Miko bisa bersama karena level kehidupan kami jauh berbeda.


"Kita cuma anak panti Mik. Apa kamu tidak bisa sedikit realistis?"


Riza sudah agak khawatir dengan perasaan Miko. Dia bisa melihat dinding pemisah yang sangat tinggi.


"Aku akan mencoba Za. Kalau tidak bisa aku akan mundur," jelas Miko.


Riza kembali menatap Miko, hatinya trenyuh melihat sahabat yang sedang kasmaran tapi dengan orang yang jauh di atas status sosial mereka.


"Baiklah... aku akan mendukungmu. Tapi ingat kalau harus mundur jangan terlalu sakit hati."


"Hadeh... seperti guru saja, nasehat panjang lebar," kesal Miko yang kemudian menutup mata untuk tidur.


********


Miko setengah berlari memasuki kelas. Dia agak gugup karena mungkin terlambat dan pasti kena hukum.


"Aaah.... kenapa harus bangun kesiangan," sesal Miko.


"Maaf Mik, aku lupa setel alarm."


Riza yang sedari tadi berada di belakang Miko ikut menyesal.


"Jadi tidak bisa ku berikan pagi ini."

__ADS_1


"Nanti pulang sekolah saja, lebih lama waktunya," bujuk Riza.


"Saat istirahat saja, jadi bisa ketemu dia," ujar Miko sambil duduk dan mulai menyimak pelajaran.


*********


"Cari siapa ya?"


Sebuah suara mengejutkan Miko yang berdiri di depan kelasku. Matanya tak lepas dengan bangku yang ku duduki tapi sayang aku tidak terlihat.


"Mungkin sedang di kantin," bathin Miko.


"Kia......"


"Oh, tadi keluar bersama Rima. Kalau mau tunggu saja, aku pergi dulu."


"Ya."


Orang yang bicara dengan Miko itu pergi meninggalkan Miko yang masih berdiri di depan pintu. Tiba-tiba Riza berlari menghampiri Miko dengan wajah tegang.


"Mik.... panti... kebakaran....."


Dengan napas terengah dia mencoba memberitahu Miko.


"Ayo pulang, aku sudah minta izin tadi," ajaknya sambil menarik tangan Miko.


"Sebentar.... aku taruh ini dulu."


Miko bergegas menaruh kaleng coklat di laci mejaku. Kemudian dia mengejar Riza untuk melihat keadaan panti.


********


Riza memandang sebuah buku di tangannya. Akan dia berikan pada Bimo karena dia sudah berjanji. Pikirannya melayang pada saat kejadian dia berusaha menyelamatkan barang di kamar mereka. Sedang Miko membantu Bunda membawa semua barang di kantor panti.


Suasana sangat mencekam saat itu. Riza berusaha menyelamatkan yang bisa di selamatkan saja. Karena api makin membesar sudah melalap hampir separuh bangunan panti. Riza hanya sempat menyelamatkan alat-alat dan buku sekolah dia dengan Miko sedang yang lain tidak sempat. Bahkan baju saja hanya sebagian yang bisa dia ambil. Sebenarnya dia ingin mengambil barang mereka lebih banyak lagi tapi keburu Miko datang dan menariknya keluar.


Api sudah ada di atas atap kamar mereka. Lambat sedikit saja mereka bisa terpanggang. Untungnya Riza tidak celaka hanya Miko yang mengalami luka bakar pada bahu kirinya. Miko berteriak menahan sakit dan panas ketika sebuah balok kayu yang terbakar menimpa bahunya. Dia bahkan pingsan karena tidak sanggup menahan.


Riza menghela napas sampai sekarang dia masih ingat bagaimana susah payah dia menggendong Miko menuju ke tempat aman. Peristiwa itu sangat menakutkan bagi Riza dia bahkan sampai menangis memanggil Miko. Takut kalau terjadi sesuatu yang fatal pada Miko.


Untunglah Miko langsung di bawa ke rumah sakit dan segera di tindak. Dia masih ingat bagaimana Miko sering memegang bahu kalau terasa nyeri. Luka itu meninggalkan bekas dan membuat Miko seminggu menginap di rumah sakit.


Flashback off.


***********


Aku menatap Miko dan mengambil sebuah buku yang disodorkan. Dengan perlahan ku buka masih menatap Miko dengan seribu rasa penasaran. Miko masih tersenyum manis dan menatapku dengan mesra.


Saat terbuka di halaman pertama, aku membelalakan mata melihat foto ulang tahunku yang dirayakan di panti.


Aku tidak meneruskan kalimat hanya menghela napas. Aku benar-benar heran foto ini di ambil saat aku baru pertama kali tinggal di kota tempat Papa bekerja. Memang tepat hari lahir ku. Bagaimana bisa Miko memilikinya? Apa dia mengenal aku dulu?.


"Kita bertemu saat kamu berkunjung ke panti bersama Mama."


Miko bicara pelan sambil memegang tanganku.


"Kenapa aku tidak tahu kalau saat itu kamu ada?"


"Aku cuma anak panti. Tidak berani mendekati kamu, aku hanya memandang dari jauh."


"Kenapa? Apa sudah suka sama aku?"


"Aku cuma kagum, saat itu masih ada gadis remaja yang mau merayakan hari lahir di panti. Biasanya cuma anak-anak kecil.," jawab Miko.


Aku tertawa, benar juga saat itu anak remaja merayakan dengan teman bahkan pacar. Tapi aku malah dengan anak panti. Sebenarnya aku ingin seperti anak lain tapi Mama tidak memperbolehkan.


"Aku anak baik saat itu," gumamku pelan.


Membuka halaman ke dua, ternyata membuat aku semakin terpana. Sebuah kartu merah muda bergambar hati dengan tulisan yang membuat pikiranku melayang ke masa lalu. Aku bahkan tersenyum kembali saat semua seperti di putar ulang.


Rima memberikan kaleng coklat beraneka rasa. Berisi kartu ucapan kasih sayang, you are my valentine. Saat itu kami senang sekali menerima dan tidak tahu itulah jawaban Rima saat ku tanya siapa yang menaruh di laci mejaku.


Aku menutup muka sambil menggeleng kepala. Rasa senang terpancar di wajahku, saat merasa Miko menyukai aku dulu.


"You are Mr good?"


Kening Miko berkerut mendengar pertanyaan yang kulontarkan tiba-tiba. Aku tertawa, baru ingat bahwa hanya aku dengan Rima yang memberi nama si pemberi coklat dengan Mr good. Dia langsung terbahak ketika kuceritakan nama itu.


"Yes... I'm Mr good."


Miko menjawab dan mengecup pipiku dengan cepat. Aku kaget dan membelalakan mata.


"Kiss thief!"


Dengan cepat dia memundurkan wajah dan menutup kupingnya. Takut akan kujewer lagi. Akhirnya aku hanya bisa memukul bahu kiri Miko.


"Aduh... sakit," rintih Miko seperti kesakitan.


Aku terkejut langsung mengelus bahu Miko dengan pelan.


"Benarkah? Maafkan aku, sakit ya?"

__ADS_1


"Kadang-kadang agak nyeri, mungkin tidak bisa sembuh total."


"Bekas apa?"


"Kena api saat kebakaran di panti dulu," jawab Miko sambil memperlihatkan kan bekas luka di bahunya.


Aku menatap Miko dengan wajah sedih dan perasaan bersalah.


"Maafkan aku......."


Miko tersenyum masih menatapku.


"Kamu... masih ingat kejadian kecelakaan dengan Papa? Apa masih marah? Apa ini masih sakit?" tanyaku sambil mengelus bekas luka di bahu kiri Miko.


Miko menggeleng, aku akhirnya luluh dan memeluk Miko. Terisak dan terbata aku mengatakan terima kasih.


"Duduk di sini," pintaku sambil menunjuk tempat di belakang aku duduk.


"Biar aku bisa bersandar."


Miko duduk di belakangku. Perlahan dia menyandarkan tubuhku ke tubuhnya.


"Masih pusing?" tanya nya sambil mengelus kepalaku.


Aku menggeleng dan menyelesaikan melihat buku rahasia Miko.


"You know Beb... I have a love. Dari dulu sampai sekarang hanya untukmu," bisiknya pelan di telingaku.


Aku menutup buku dan memandang wajah Miko.


"Aku cinta pertama kamu?"


"Yes... you my first love."


Mata Miko menyiratkan kesungguhan.


"I belive you now, I love you," ucapku sambil tersenyum.


*******


"Maaf Pak! Kami mau memeriksa pasien!"


Suara nyaring seperti membentak membangunkan aku dari tidur. Kulihat Miko tidur tepat di samping, jadi tadi malam dia ke sini padahal dia tidur di sofa. Aku langsung bangun dan mengguncang badannya. Miko bukannya bangun malah memeluk pingggangku yang sedang duduk.


Kulihat dua perawat menatap tajam kepada kami. Mata mereka seperti menaruh curiga dengan kelakuan kami berdua.


"Miko... bangun, ada perawat," dengan tidak sabar ku guncang lagi badannya.


Miko dengan segera bangun dan pindah berbaring di sofa. Aku merasa geli melihat kelakuannya seperti masih ingin tidur.


"Maafkan tunangan saya."


Perawat akhirnya tersenyum setelah ku katakan hubunganku dengan Miko. Setelah selesai memeriksa mereka pergi dan mengatakan bahwa aku sudah bisa keluar tapi tunggu dokter untuk izin. Aku memandang Miko yang masih memejamkan mata.


"Bangun!"


Aku melempar bantal dan tepat kena Miko.


"Wah....."


Miko bangun menghampiriku sambil tertawa. Dia mengambil dan meminum teh hangat di atas meja dekat ranjang.


"Kenapa pura-pura tidur?"


"Aku malu, seperti tertangkap basah saja," jawabnya duduk di sampingku.


"Aku mau mandi, enggak enak banget badan seperti lengket semua.


"Apa perlu aku bantu?"


"Bantu apa?"


"Yaah.... mandiin kamu lah."


"Enak saja," aku memandang Miko sambil beranjak meninggalkan Miko menuju kamar mandi.


"Tolong ambilkan bajuku dalam koper," pintaku.


"Benar tidak mau di tolong? Bagaimana dengan infusnya?" Miko menyerahkan baju dan handuk tepat di depan pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.


"Aku bisa sendiri," dengan cepat ku ambil handuk dan segera menutup pintu kembali.


Baaamm.


"Nanti juga akan jadi punyaku. Saat itu tiba, aku akan menghabisimu Beb," teriak Miko sambil memukul pintu kamar mandi dengan pelan dan aku cuma bisa tertawa geli mendengar kata-kata Miko.


**********


**Kasih sayang bisa di perlihatkan tiap hari dan dengan hal kecil saja. Contohnya tersenyum pada siapa saja adalah bentuk kasih sayang universal yang sangat murah tapi bisa mendatangkan efek dahsyat. Mulai sekarang cobalah tersenyum pada siapa saja dan dalam keadaan apapun. Percayalah di setiap kesakitan pasti ada kebahagiaan tersimpan.


**Reader tercinta maafkan saya karena bisa update sekarang harusnya seminggu sekali tapi kembali lagi ada hal lain yang saya harus kerjakan. Semoga masih bisa memaklumi kesalahan yang saya buat, very sorry guys.

__ADS_1


** Terima kasih atas semua dukungan pada penulis yang banyak kekurangan ini. Mohon VOTE dan GIFT nya yah Guys, supaya penulis semangat. Jangan lupa like dan komen juga, kalau mau saya feedback. Mari lah kita saling dukung dan bersama dalam menuju kebaikan dan kesuksesan.


Stay healthy, stay happy and stay here with Kia. Thank you all, you're the best guys.


__ADS_2