
Suasana saat itu sudah seperti restoran milik sendiri. Kami bahkan makan sambil saling menatap mesra dan tidak menghiraukan siapapun yang melihat. Ada beberapa pengunjung yang dari tadi menatap kebersamaan kami, mungkin ada rasa heran juga, mengapa kami berdua begitu mesra. Sekali lagi Miko makin acuh dia bahkan menyuapkan makanan ke mulutku sampai tak menyadari seseorang yang datang.
"Halo... Mik," suara lembut membuat kami menoleh ke arah seseorang yang berdiri tepat di belakang Miko.
Perempuan dengan style modis sangat elegan tersenyum dan mendekat. Miko langsung berdiri, aku masih menatap saat Miko memyambut hangat jabat tangan perempuan itu.
"Oh... Wulan, baru aku mau menelepon kamu."
Pikiranku yang bingung akhirnya sirna saat perempuan itu mengulurkan tangannya dan menjelaskan semua.
"Hai Kia... aku Wulan teman Miko kuliah, tepatnya fans Miko dulu."
Aku tersenyum mendengar candaan dari Wulan. Dia orang yang humoris karema suasana langsung berubah hangat saat dia bicara. Wulan menyuruh kami menghabiskan makanan dan dia sendiri hanya pesan minum dengan alasan sudah makan tadi.
"Dulu aku mengejar Miko tapi dia tidak pernah melihatku. Ternyata inilah Kia yang dulu membuat Miko menutup hatinya untukku."
"Benarkah?" Aku berusaha berinteraksi layaknya teman walau baru bertemu dan Miko terlihat santai sesekali tersenyum melihat kami.
"Iya... dulu aku tidak tahu siapa kamu, setelah mendengar kabar tentang kalian dari beberapa teman kampus bahwa Miko sudah menikah dengan Kia yang notabene cinta pertama dia. Baru aku mengerti bahwa memang kamu yang selalu ada di hati Miko."
"Hey... kenapa harus bicara yang lalu sih. Bagaimana pesananku?" Miko sepertinya agak gerah mendengar semua pembicaraan Wulan. Apalagi ketika Wulan ingin melanjutkan cerita masa lalu.
"Sudah Mik, santai aja," jawab Wulan.
Aku mengeryitkan kening tanda tidak paham saat menatap ke arah Miko.
"Wulan punya banyak toko perhiasan dan di sini ada salah satu. Dia seorang bisnis woman dan aku pesan sesuatu untuk hadiah ulang tahun kamu Beb." Miko menjelaskan.
"Herankan, bagaimana orang tekhnik bisa ke bisnis," timpal Wulan sambil menatap kami.
"Biasa aja, tidak ada yang aneh, banyak kok yang bekerja tidak sesuai bidang," ucapku.
"Yang pasti ada turunan dari Ibu semua bakat bisnisku,"
"Selamat ulang tahun Kia... semoga semua keinginan kamu bisa terwujud," Wulan mengatakan dengan tulus.
"Kok sendiri, mana Rio sama anak-anak?"
Ternyata Wulan sudah punya keluarga, dia bahkan punya dua anak. Wulan menjelaskan bahwa Rio masih sibuk dengan pekerjaan sedangkan anak-anak sibuk dengan kegiatan sekolah. Sebenarnya dia harus menemani anaknya tapi karena Miko menghubungi bahwa akan mengambil pesanan secara langsung, jadi dia yang akan menyerahkan sendiri pada kami. Sekaligus Wulan juga sangat ingin berkenalan denganku.
"Selamat ya Kia, kamu harus percaya Miko lelaki yang baik." Kalimat itu membuat aku menepis prasangka pada Wulan, dia wanita baik menurutku.
Kami melanjutkan ke lantai atas tempat usaha Wulan. Miko menggengam tanganku tidak terlepas dari tadi.
"Hadiah apa?" Bisikku saat Miko membenarkan letak tas di bahuku.
"Rahasia."
"Jangan terlalu mesra, aku iri," kata Wulan menoleh ke belakang karena dia berjalan di depan kami.
"Nanti balas mesra sama suamimu," Miko tertawa geli. Wulan cuma tersenyum melanjutkan naik lift bersama kami.
__ADS_1
*******
"Wow... surprise!"
Aku menjerit kecil saat Wulan menyerahkan sebuah kotak kayu kecil terbalut kain warna biru, ditengah tercetak logo toko huruf WL mungkin inisial nama toko Wulan pikirku. Tapi yang menarik tulisan di dalam saat ku buka ada tercetak namaku dan tanggal ulang tahunku dengan tinta emas.
Desain mewah dan elegan terpancar pada kalung yang di pesan Miko khusus untukku. Dengan liontin bentuk matahari bersinar yang penuh dengan kristal kecil sebagai ornamen. Saat dibuka ada dua buah bingkai di dalam dan terlihat foto kami saat perkawinan terpisah di masing- masing bingkai.
"Terima kasih Beb."
Aku hampir saja memeluk Miko kalau tidak lupa bahwa ini tempat ramai. Miko memasangkan dengan penuh hati-hati sambil tersenyum. Aku menatap wajah di depanku dengan penuh bahagia seraya berkata dalam hati.
"Tuhan... terima kasih sudah memberikan lelaki ini untukku. Semoga selalu dan selamanya akan seperti ini."
Wulan juga terlihat senang, dia berjalan mendekati kami.
"Aku pesan khusus buat kalian dan ini juga dibuat oleh desainer aksesoris terkenal. Karena aku tahu Kia istimewa buat Miko temanku."
"Terima kasih Wulan," aku sangat senang ternyata dia juga perhatian pada kami.
"Selamat buat pernikahan kalian, semoga langgeng sampai maut memisahkan. Oh ya Kia... jangan sungkan padaku mulai saat ini, anggap saja kita juga teman."
"Baiklah, aku akan mengingatnya. Nanti kalau aku minta bantu kamu pasti bisa kan?"
"Pasti," jawab Wulan sambil tertawa senang.
"Kalian melupakan aku?"
*******
Saat di dalam mobil aku baru ingat kejadian kami melihat sunrise dulu sebelum menikah. Dimana teman-teman cowok Miko mengatakan kalau ada cewek yang mengejar Miko tapi Miko malah menjauh.
"Jangan-jangan Wulan adalah cewek yang dulu dikatakan temanmu anak dosen itu?" Tanyaku pada Miko yang sedang mengganti chanel radio mobil. Suara lembut Tulus mengalun menemani kami menunggu lampu merah berubah hijau.
"Iya."
"Benar... tidak punya rasa apapun?"
"Iya."
Aku menatap Miko dengan intens dan terus mencari perubahan raut muka , tapi semua biasa saja. Akhirnya aku lega karena memang Miko terlihat biasa saja tidak ada terasa canggung tadi saat dekat Wulan dan sekarang dia malah menyentuh kalung di leherku.
"Cantik? Suka?"
"Indah Beb, thank you so much. I love you my husband."
"Wulan bahagia sekarang bersama Rio, mereka keluarga yang patut jadi inspirasi. Aku sering bicara dengan Rio kalau bertemu saat urusan pekerjaan. Jadi kamu tidak usah khawatir dengan masa laluku."
"Aku percaya," kataku sambil memeluk lengan Miko yang masih menyetir menuju arah pulang. Hanya itu yang aku bisa lakukan karena aku adalah orang yang malas mencari tahu lebih jauh.Terlihat agak bodoh dan pasrah namun itulah Kia. Tetapi saat sekali saja kau khianati kepercayaanku dalam bentuk apapun maka lebih baik jangan pernah berani kembali padaku.
*******
__ADS_1
Siang sangat terik, matahari sinarnya seperti mau membakar bumi karena hawa terasa panas. Seseorang juga merasa panas bahkan lebih panas dari lahar gunung berapi. Jelas sekali terlihat kalau otaknya berpikir keras entah tentang apa itu.
Tak lama ada wanita datang sambil melemparkan baju ke arahnya.
"Hey Gadis, sudah dibilang jangan berani memakai baju kesayanganku."
Tapi dia hanya menatap wanita itu dengan wajah datar seperti orang linglung.
"Kesambet s*tan mana kamu?"
"Aku melihat Miko kemarin di mall, Vin," desisnya.
"Dia ada di kota ini? Kenapa aku tidak tahu? Kenapa dia tidak pernah menghubungiku?"
"Bicara yang benar Dis, jangan bergumam seperti orang bingung," Vina berkata sambil duduk di sebelah Gadis.
"Dia bahkan bersama seorang wanita mesra sekali. Aku mengikuti mereka hampir satu jam tapi karena harus pulang jadi aku tinggalkan mereka yang sedang makan."
"Kamu tidak pernah ketemu Arya?" Tanya Gadis pada Vina.
"Tidak... buat apa aku sudah menikah," jawab Vina singkat.
"Aku menunggu dia begitu lama tapi dia malah bersama wanita lain saat bertemu denganku."
"Ya ampun Dis, kamu tidak mengerti kalau Miko selalu bilang dia tidak bisa berhubungan serius dengan perempuan manapun. Kalian cuma sebatas teman sesaat saja, ingat itu."
"Tapi aku sangat menyukai Miko." Gadis berteriak sambil berdiri dan keluar kamar.
Gadis yang didera perasaan marah menghampiri anak Vina. Bela yang berumur tiga tahun sedang nonton televisi acara kartun agak kaget. Tapi Gadis tetap tidak perduli, dia segera menggendong kemudian membawa Bela keluar rumah.
"Gadis jangan bawa Bela, kalau terjadi sesuatu bagaimana,"
Vina berteriak panik berusaha mengejar mereka tapi Gadis berlari cepat keluar gang dan mencari taksi di depan jalan besar.
"Bela ikut mommy Dis sebentar."
Bela yang berumur tiga tahun hanya memandang Gadis dan mengangguk. Gadis menyuruh supir berangkat dengan menyebut alamat kantor Miko.
Bermodal nekat Gadis menanyakan pada satpam di depan kantor dan meminta untuk bertemu Miko. Satpam berusaha menghubungi Miko dan mengatakan ada yang ingin bertemu tak lupa dia menyebutkan juga nama Gadis.
Setelah menunggu lama, Gadis melihat Miko keluar kantor dengan wajah tegang. Dia mendekati Gadis yang sedang menggendong Bela dengan memasang wajah dingin.
"Jangan pernah datang padaku dengan trik murahan seperti ini."
*******
**Mana yang lebih baik, dicintai atau mencintai? Bisa berbeda artinya menurut berbagai versi. Kasih komentar dong supaya bisa open diskusi. Kalau mau tanya soal novel Kia juga boleh, biar kita ada interaksi karena GC belum di buka jadi kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan, tulis aja semua di kolom komentar.
**Maaf para reader tersayang karena Kia selalu terlambat update, semoga bisa mengerti keadaanya. Semoga juga masih ada yang mau mampir dan ingat sama Kia. Jangan lupa like komen vote dan gift kalau mau, saya akan feedback walau terlambat.
** Terima kasih atas semua yang masih mendukung Kia, kalian ter the best guys. Orang baik tidak pernah dibiarkan terluka oleh semesta, mengalah bukan berarti kalah tapi lebih pada ketenangan diri. Semoga kalian semua dibalas dengan kebaikan juga, so stay healthy... stay strong... stay happy... and stay with Kia. Thank you all, see you next time.
__ADS_1