
WARNING
Bacaan untuk 18+ mohon bijaksana dalam memilih bacaan. Untuk para reader yang belum 18 tahun skip aja yah, kalau mau baca silahkan juga, tapi harus bisa memilah baik buruknya. Tolong membaca dari awal novel supaya bisa mengambil kesimpulan yang bermanfaat. Karena setiap akibat pasti ada sebab. Semoga novel ini bermanfaat dan menghibur kita semua. Selamat membaca dan terima kasih.
I wanna fall in love again.
But this time, but this time with no regret.
I wanna give it all again.
But this time, but this time with no secret.
I don't want just anyone, not anyone new
I wanna fall in love again.
With you, with you, with you
I wanna fall in love again.
( In love again, by Colbie )
Bisikan kata cinta dan sayang terdengar syahdu di telingaku, semakin membuat malam itu lebih hangat. Setiap sentuhan yang Miko lakukan telah memberikan rasa yang begitu indah dan membuatku terbang hanyut dalam buaian asmara.
Aku, wanita yang pernah mengalami rasa seperti itu dulu. Kini mengulang kembali bersama Miko, orang yang menjadi pendamping hidupku. Terasa sangat berbeda karena Miko memperlakukan aku sebagai ratu di hatinya. Dia bahkan berulang kali membisikan kata mesra, itu semakin membuatku bergairah merasakan gelora keindahan penyatuan cinta kami berdua.
*********
"Hello mrs Miko......."
"Morning mrs Miko......"
"I love you mrs Miko......."
Bisikan lembut di telinga dan sebuah kecupan di pipi membangunkanku. Saat
membuka mata kulihat Miko sedang menatapku sambil berbaring dengan satu tangan bertopang di pipi. Sambil tersenyum Miko membenarkan letak selimut dan masih menatapku dengan mesra.
"Morning too my husband......"
Aku langsung menyeruak ke dalam pelukan Miko, kembali merasakan hangat sentuhan pagi yang agak dingin. Matahari belum sepenuhnya terbit, terlihat masih agak gelap dari celah gorden yang ada tepat di depan ranjang.
Miko menyambut dengan tertawa kecil sambil mengecup dahiku serta membawa kepelukannya yang hangat. Aku masih merasakan bagaimana getaran indah bekas tadi malam, yang hampir membuat tubuhku merasakan capai begitu banyak.
"Whatever you want, you will get Beb."
"Thank you, I love you."
**********
Saat kami berjalan di pantai, suasana agak sepi. Sepertinya cuaca saat ini sangat bersahabat untuk kami karena tidak hujan. Cerah tapi tidak panas menyengat seakan memberikan kesempatan bagi kami yang tengah menikmati indah bulan madu pengantin baru di tepi pantai.
"Sepi sekali pantai sekarang. Tunggu Beb, jangan jauh-jauh dari aku," aku menarik tangan Mko yang berjalan satu langkah di depan.
"Iya... inikan belum liburan. Aku sengaja pilih waktu ini supaya lebih leluasa buat kita."
"Mungkin besok-besok aku mau mencoba diving, sudah lama tidak melakukan. Agak lupa juga bagaimana cara menyelam yang baik."
Miko memandang ke arah beberapa orang yang menenteng peralatan menyelam sepertinya mereka sedang bersiap.
"Kamu juga harus ikut, biar tahu rasa dan tantangannya," ujar Miko.
"Apa harus? Aku tidak pernah mencoba, bagaimana kalau salah?"
"Nanti ada coach yang menjelaskan semua cara dan menemani saat kita menyelam. Lagian ada aku yang pasti akan menjaga kamu Beb."
"Baiklah my Man."
Tiba-tiba Miko mengangkat tubuhku dan menggendong ke depan hamparan air laut yang biru. Seolah-olah ingin melempar aku ke dalam air, hal itu membuat kaget. Seketika aku menjerit menahan apa yang ingin Miko lakukan.
"Jangan lempar!"
"Ayo main basah-basah," ajak Miko sambil menurunkan kakiku ke air.
"Jangan di sini Beb, di kolam renang saja yah," bujukku.
Tapi Miko tidak mengindahkan, dia bahkan menurunkan aku ke laut dan untung air dalamnya cuma selutut tidak mengenai pakaianku. Sehingga aku masih bisa berdiri dan mengejar Miko yang lari duluan. Saat berhasil kutangkap dia malah tertawa dan meyodorkan bahu supaya aku bisa dengan bebas memukul.
"Nggak jadi," urungku saat Miko menatapku dengan wajah memelas. Itulah aku, kalau untuk menyakiti orang yang di depanku sekarang, manalah aku sanggup. Sebagai ganti aku memeluk Miko mesra mengajak kembali ke hotel tapi Miko menolak, dia bilang sebentar lagi.
__ADS_1
Miko mengambil sebuah batu kecil dan menuliskan kata, Miko dan Kia selamanya di atas pasir dekat kami berdiri. Tak lama ombak kecil datang dan menghapus tulisan itu. Miko tersenyum dan memandangku yang masih menatap hilangnya tulisan di atas pasir.
"Itu permohonan, akan disampaikan ke langit lewat air laut,' ucapnya.
"Benarkah?"
"Kalau di gunung, kami dulu meneriakan keinginan, akan sampai dibawa oleh angin."
"Kekanakan sekali, berdoa bisa di manapun dan pasti akan sampai asal dengan tulus. Seperti itu merepotkan sekali," kataku geli menahan tawa.
"Namanya juga usaha Beb. Yah... seperti tradisi, jangan protes dong."
"Hey... aku enggak bilang salah, tapi aneh saja sih," debatku.
"Iya deh... iya. Mengalah sajalah dari pada malam ini aku tidur di sofa," ucap Miko berhasil membuatku tertawa.
"Yuk, kita kembali ke hotel, sudah sore," ajak Miko.
Itulah Miko suamiku, selalu mengalah demi aku. Karena dia tahu kalau wanita itu selalu benar apalagi buat seorang yang lagi disayangi.
*******
"Kamu bahagia?"
Satu tanya terucap dari mulutku pada malam ketiga bulan madu kami. Miko tersenyum sambil mengangguk, kemudian membelai rambut dan memeluk erat tubuhku saat kami menikmati indah taburan bintang di langit malam.
Berdiri berdampingan di depan kaca besar dengan menggenggam erat jari tangan Miko, aku memejamkan mata menikmati sentuhan bibir Miko yang mulai nakal di bawah telinga hingga ke bahu.
"Sebenta----ar."
Aku berusaha menahan aksi Miko dengan memegang wajahnya.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur," mohonku.
"Apa yang harus aku ingkari Beb. Semua terasa indah dan hmm........." Miko seolah berpikir sesuatu.
"Teruskan."
"Artikan sendiri saja, bagaimana sikapku sekarang."
Aku mengecup lembut bibir Miko, "Love you so much Beb ."
Miko tersenyum senang, berkali-kali mencium pipiku.
"Aku pernah berjanji padamu akan bilang I love you setiap hari. Jadi jangan protes atau bosan mendengarnya," kataku mencoba menjelaskan dan mengingatkan kembali pada Miko.
Miko semakin memelukku erat. Dia membenamkan wajah di belakang kepalaku.
"Aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan membuat isteriku sakit karena cinta, kalau ada sesuatu yang kamu tidak setuju dengan sikap dan tingkahku, kamu bisa bilang. Jangan cuma diam, katakan saja apa yang kamu tidak suka. Dengarkan aku Beb, mari kita saling melengkapi sekarang."
Aku memandang Miko dengan perasaan haru sambil membelai pipinya.
"Aku sangat percaya padamu, kalau masih sangsi tidak mungkin kita berada di sini sekarang. Miko yang ku kenal tidak akan pernah berani membuat Kia menangis karena sakit hati atau hal yang menyakitkan." Aku memandang Miko dengan tatapan mesra.
"Bisakah kau berjanji satu hal padaku Beb?Jangan pernah meninggalkan aku apapun keadaannya?"
"Kecuali kuasa Tuhan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu suamiku. Aku beruntung bisa memilikimu."
"I belive Beb," bisik Miko mengeratkan pelukannya, membuatku semakin merasakan kejujuran kata hati kami berdua.
"Selesai... kan? Kalau begitu ayo kita nikmati kembali kemesraan yang tertunda."
Miko menggendong tubuhku dan membaringkan dengan lembut di atas ranjang. Tatapan matanya mampu membuat aku menggigit bibir berusaha menahan keinginan hati yang seakan meledak. Perlahan tapi pasti kami mengarungi samudera cinta yang sedang bergelora. Aku bahkan beberapa kali memanggil nama Miko saat semua berlangsung.
Malam ketiga itu semakin membuatku merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Keindahan yang tercipta tidak akan bisa terlupakan. Tidak juga bisa terhapus oleh waktu, semua akan membekas menjadi kenangan terindah dalam hidupku.
******
Pagi hari saat matahari mulai muncul, aku berniat berjemur di tepi pantai dengan bikini warna salem. Miko yang saat itu sudah berada di depan hotel menunggu sambil berbaring di lazy chair lengkap dengan payung tepat di depan kamar kami.
Eksklusif memang karena punya akses langsung ke pantai dan kolam renang di samping. Seperti punya pantai dan kolam renang pribadi saat liburan. Ketika aku datang Miko menatap dengan kagum.
"Tidak ada orang kan? Cuma kita saja kan?"
"Ada beberapa di ujung sana,' jawab Miko sambil menunjuk ke arah kanan.
"Apa harus ganti?"
"Tidak usah, tutup dengan ini saja." Miko melempar handuk ke arahku.
__ADS_1
"Giliran berdua malu.Saat ada orang dan di tempat terbuka mau pakai bikini."
Kata-kata Miko membuatku tidak enak hati.
"Ya sudah, aku ganti." Aku beranjak dari kursi tapi ditarik Miko hingga jatuh tepat di atas badannya.
"Kita berenang di kolam saja, biar lebih nyaman berdua," ajaknya seraya menarik tanganku.
********
"Ayo cepat, siapa yang sampai ke ujung duluan harus mau disuruh apa saja."
Aku mengajak Miko supaya tidak bosan melewati waktu hanya dengan berpelukan.
"Oke.... siapa takut."
Miko tersenyum menerim tantanganku. Akhirnya juga bisa dipastikan kalau dia.yang menang. Perlahan Miko mendekat sambil memegang kedua tanganku. Tiba-tiba menarikku rapat kebadannya, aku agak tersentak tapi tersenyum kemudian. Miko menyentuh kedua pipiku, aku cuma bisa memejamkan mata.
Dengan lembut dia mendorongku kepinggir kolam dan mengunci tubuhku dengan kedua tangannya. Bibir kami saling bersentuhan pertama cuma kec*pan lembut tapi lama kelamaan semakin dalam dan menagih. Aku terbawa emosi, tak kuasa membalas semua yang Miko lakukan.
Getaran tubuh terasa menggebu menginginkan hal yang lebih. Sekejap Miko menghentikan semua dan memandangku sendu.
"Kita teruskan di bathub"
Miko mengangkat tubuhku yang masih agak kaget dengan perubahan suasana. Sambil memeluk leher Miko yang menggendong, sekali-kali kukecup pipinya sambil tertawa geli melihat wajah Miko yang merah seperti tidak sabar lagi.
Hampir satu jam merasakan sensasi berc*nta di bathub. Membuat aku harus kembali istirahat di ranjang. Memang benar kata Miko tidak perlu acara jalan-jalan. Cukup berdua.saja menikmati karena nanti belum tentu kami bisa merasakan waktu berdua yang lama.
********
"Besok kita jalan-jalan, cari oleh-oleh buat semua."
Miko yang sudah berpakaian kaos dan celana pendek menjatuhkan diri di sampingku. Dia menarikku kembali ke pelukan dengan tangan kanan sebagai bantal.
"Kita seminggu kan di sini? nanti dua hari terakhir saja. Aku belum merasakan berjemur di pantai, gara-gara kamu yang selalu pengen."
"Memang kamu enggak pengen?"
"Iya juga sih.... tapi enggak kayak kamu, selalu mau," sanggahku cepat.
"Wajar dong kitakan pengantin baru. Semoga bisa cepat menghasilkan kerja kerasku," kata Miko sambil membelai perutku.
"Semoga Tuhan kabulkan," doaku dengan memejamkan mata menepis bayangan masa lalu.
"Apapun nanti, aku tetap Miko yang menyayangi Kia apa adanya," bisik Miko lembut membelai rambutku seolah mengusir rasa kekhawatiranku.
"Janji padaku... jangan pernah berubah."
"Trust me, mrs Miko......"
Kecupan lembut mendarat di dahiku membuat hatiku kembali tenang. Miko kembali memelukku dan merebahkan kepalakau tepat diatas dadanya. Pelahan menaruh tangan di atas dahi sambil memejamkan mata dia berguman.
"Aku sering ditinggal orang yang kusayangi. Ibu, dia bahkan memarahiku karena aku mirip ayah dan menyuruhku pergi ke kamar kemudian hilang begitu saja. Ayah, aku tahu dia meninggal seminggu setelah semua terjadi dan aku tidak pernah bertemu dia selama kuliah sampai saat ayah menutup mata. Hanya Bimo yang bisa kutemani saat dia wafat. Aku sungguh tidak mau lagi merasakan sakitnya ditinggal."
Aku memandang wajah Miko, dia masih memejamkan mata. Perlahan kuturunan tangan di dahinya dan menaruh di pipiku. Miko membuka mata dan tersenyum manis sambil menatapku.
"Jadi isteriku tercinta, kamu harus tinggal lebih lama di sampingku."
"Kalau di suruh memilih, aku atau kamu yang pergi dulu kalau dipanggil Tuhan?"
"Aku saja... biar aku jangan ditinggal lagi." Miko kembali membawaku dalam pelukannya.
"No... no, aku saja Beb. Aku tidak bisa hidup tanpamu," rengekku.
"Stop! Jangan bicara yang tidak-tidak lagi. Ihhh.... merusak momen saja," rajukku.
Miko mengangguk mengiyakan keinginanku. Tiba-tiba suara panggilan handphone membuat Miko melepaskan pelukan dan dengan ekspresi sedikit kaget menerima kabar tersebut. Terdengar di telepon suara serak dan berat meyiratkan kesedihan.
"Maaf mengganggu bulan madu kalian. Tapi tolong, sekarang kalian harus segera pulang."
************
**Janji sepantasnya harus ditepati karena janji adalah utang. Tapi jika kita berjanji pada seseorang dan orang tersebut membuat kita kecewa, apakah masih perlu untuk ditunaikan. Memaafkan gampang tapi melupakan rasa kecewa tersebut yang tidak mudah. Saya di sini meminta maaf kalau pernah berjanji dengan siapapun dan saya tidak bisa memenuhinya. Maafkan saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah.
**Tapi janji saya untuk tetap update novel ini harus saya laksanakan. Karena masih banyak reader tercinta Rahasia Hati yang sudah mendukung saya, kalian ter- the best guys. Tidak ada kata apapun yang bisa mewakili rasa terima kasih mendalam dari saya. Dukungan kalian membuat saya masih melanjutkan menulis. Jangan lupa like, komen dan vote sama gift kalau berkenan. Semoga novel yang lain bisa menyusul yah, reader Yena dan Revan mohon sabar, nanti akan kita teruskan satu-satu.
**Next word...
Stay healthy... stay happy... stay strong... dan stay with Kia. See you next time, I love you all reader.
__ADS_1