
Semenjak kejadian pertemuanku dengan Bimo, aku benar-benar memutuskan hubungan dengan orang-orang yang berkaitan dengan Bimo. Termasuk semua teman-temanku dan juga sahabat yang paling dekat.
Rima bahkan menelpon dan sering ke rumahku saat aku tidak ada karena kalau aku ada dia tidak pernah datang lagi. Mamaku menyampaikan pada Rima permintaanku. Dia menangis saat Mamaku menyampaikan, dia sangat bingung kenapa aku tidak mau lagi menemuinya.
Satu-satunya tempat Rima bisa bicara padaku hanya di Facebook tapi aku juga tidak pernah lagi menjawab komennya kalau aku melihat hanya kubiarkan saja. Lagipula aku cuma sekali-sekali membuka media sosial dan jarang sekali melihat kegiatannya sekarang.
Heri juga pernah menelponku beberapa kali tapi aku tidak mengangkatnya sebelum aku mengganti nomorku. Semua yang berhubungan dengan Bimo sangat ingin aku lupakan dari kehidupanku kecuali anak-anakku. Kalau dipikirkan jahat sekali memang yang kulakukan tapi apa boleh buat karena semua rahasiaku yang sangat ingin kusimpan sendiri sudah terbongkar.
Bukan hanya dengan teman-temanku tapi aku sangat takut kalau keluargaku mendengarnya. Mereka pasti mereka menyalahkanku kenapa melakukan perbuatan keji seperti itu. Aku tidak mau menyakiti keluargaku dengan kenangan masa laluku yang sangat mengerikan.
Kalau mengingat itu semua aku juga tidak percaya bahwa aku sanggup melakukan itu. Apapun alasannya dosa yang ku lakukan tidaklah kecil sampai sekarang aku masih trauma dengan menikah dan melahirkan entah nanti. Tapi untuk sekarang aku tidak pernah berani memikirkan itu apalagi untuk melakukannya.
********
Pagi mulai menyibak hari, aku melangkahkan kaki menuju kantor setelah bergelut dengan macetnya jalanan. Untungnya hari ini tidak ada rapat sekarang aku selalu bolak balik ke Kotaku jadi banyak sekali pekerjaan yang harus ku lakukan dengan benar jadi agak berantakan.
Apalagi setelah kejadianku bertemu dengan Bimo rasanya hatiku mulai kacau lagi. Aku yang seharusnya bisa tidur malam kini harus meminum obat karena insomnia yang makin parah. Dokter sudah menasehati jangan terlalu sering meminumnya akan ber-efek ke ginjal.
"Kayaknya kamu harus ke Psikiater...deh," saran Wiwin padaku saat mengambil dokumen buat presentasi besok di ruanganku.
Aku tidak menanggapi sarannya hanya mengangguk dan memakan brownies di depanku. Tak berapa lama Kak Santi masuk dan memandangku agak kesal mungkin karena aku sering sekali izin. Kalau bukan pegawai tetap Kak Santi pasti sudah memecatku terlihat dari sinar matanya yang tajam.
"Manager area di Kotamu, tahun depan pensiun," kata Kak Santi lalu memberikan selembar kertas padaku. Aku cuma diam tidak menjawab apapun karena aku tahu aku salah.
Dia kemudian duduk di kursi dan mengambil brownies coklat yang ada di depanku. Lalu menatapku dan kemudian menoleh ke arah Lisa yang sedang sibuk di mejanya.
"Lisa...apa mau di rolling ke Balikpapan?" tanya Kak Santi pasa Lisa. Lisa kemudian memandang Kak Santi dengan tatapan bingung.
"Apa...bisa Kak?" tanya Lisa.
"Bisa...asal satu orang keluar dari divisi ini," jawab Kak Santi melihatku.
"Kalau mau marah...ya marah saja, tidak usah berputar-putar soal posisi dan skorsing, pecat saja sekalian repot sekali," kataku dingin lalu menyerahkan kotak kue pada Kak Santi.
"Lihat pekerjaan divisi ini yang berantakan, kamu selalu kabur tanpa izin, apa itu yang namanya profesional?" tanyanya sambil makan kue tanpa menghiraukanku yang memandangnya sinis dari tadi.
Aku menghela napas panjang dan menelpon saluran HRD ke ruangan Bang Riko, terdengar dia yang menerima telponku.
"Berikan seorang Anak magang, stay di ruanganku," kataku sambil menatap Kak Santi. Bang Riko sepertinya mau protes atas keinginanku tapi langsung ku putuskan sambungannya.
Kemudian aku menelpon gudang belakang kantor yang menyediakan peralatan kantor.
"Satu meja lengkap untuk ruangan Accounting... siapkan sekarang," kataku masih menatap Kak Santi yang sedang makan kue.
"Lisa .. berikan tempat untuk Anak magang baru di sebelah kamu," kataku pada Lisa asistenku.
Kak Santi menatapku kemudian meminum kopi yang ada di atas meja lalu tertawa nyaring sambil memukul bahuku. Dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
"Memang tidak bisa di lawan,"katanya sambil meminum habis kopiku.
Bang Riko masuk tergesa-gesa ke ruanganku langsung berbicara setengah berteriak pada kami seperti terlihat sangat panik.
"Mana Arya...komplain dari costumer Starbucks, jaringan lokal di sana mati," kata Bang Riko sambil mengambil kue yang ada di mejaku.
"Kenapa ke sini kalau mencari Arya, tanya sama bagian costumer," ujar Kak Santi langsung protes pada Bang Riko yang membuat heboh kantor.
Memang layanan di Mall harus diutamakan karena menyangkut bisnis dan jasa sering perbaikan berbarengan dengan usaha atau rumah tapi sudah kebijaksanaan perusahaan kalau menyangkut bisnis sedapat mungkin harus didahulukan.
"Aku akan ke sana," kataku sambil berdiri bergegas mengambil tasku.
"Lisa...telpon Bang Beny dan Alan aku yang ke sana," kataku sambil keluar ruangan.
__ADS_1
"Bukan bidang divisimu," teriak Kak Santi padaku.
"Sekalian refreshing, kirim tim Tekhnisi sekarang... aku mau mengopi sambil cuci mata," kataku tersenyum pada Kak Santi langsung turun ke lanntai dasar.
"Tuh... kan, mau kabur lagi...Kia," teriak Kak Santi sepertinya sangat kesal.
Aku tertawa dan melambaikan tangan tanpa menoleh pada Kak Santi masuk ke dalam lift. Aku berpapasan dengan Wiwin langsung ku tarik menjauh agar tidak kelihatan Kak Santi.
"Jangan ke sana...Kak Santi mengamuk," kataku sambil tertawa.
"Mau ke mana?" tanyanya masih bingung menatapku.
"Mau ngopi dulu," jawabku singkat.
"Bawakan aku kopi paling enak kalau kamu pulang," pintanya.
"Oke...."
Aku langsung menuju ke arah Mall sambil tertawa geli. Kak Santi orangnya memang begitu kalau marah cuma di mulut saja tidak pernah sampai ke hati makanya aku agak berani membantahnya. Tapi walau begitu aku sangat menyayanginya dia sudah seperti Kakak kandungku sendiri.
*********
Rumah sakit tempat Bimo di rawat suasana agak ramai karena senua keluarga Bimo kumpul. Mama Bimo dengan kursi roda ada di depan ranjang Bimo. Kak Lina dengan putri yang sudah gadis duduk di sofa sebelah dengan Mas Tito yang juga datang dengan Istri dan anaknya.
Tari sibuk membereskan lemari yang ada di samping Bimo. Tante Hera sedang ngobrol dengan Mama Bimo dia berdiri di samping kursi roda. Luthfi duduk di sebelah Bimo yang sedang berbaring sambil bercanda dengan Raffa yang memainkan game di Handphone.
Hari itu hari peringatan kematian Ayah Bimo yang di adakan di Rumah sakit dengan makan sekeluarga saja. Tari memesan nasi kotak kemudian berdoa dan makan bersama.
Mama Bimo menatap Bimo sambil memegang tangannya. Dia merasa sedih dengan keadaan Bimo sekarang seperti tidak punya semangat hidup.
"Apa Kia sudah tahu keadaanmu?" tanya Mama Bimo sambil mengelus tangan Bimo.
"Apa mau Mas yang bicara?" tanya Mas Tito sambil mendekat ke ranjang Bimo.
Bimo menggeleng masih tersenyum melihat keluarganya yang sedang berkumpul.
"Kenapa tidak mau di obati dari dulu, Bim?" tanya Kak Lina sambil memegang bahu Bimo dan berdiri di samping Bimo yang sedang berbaring.
Bimo hanya bisa tersenyum pada semua orang yang ada di situ dia sudah tidak bisa bicara lama sekarang mungkin karena anemia yang tambah parah. Dia sering merasa pusing walau hanya duduk di ranjang.
*************
Pagi sekitar jam sembilan Heri datang ke kamar opname Bimo.
Dia membawa kursi roda karena hari ini Bimo harus di periksa dokter di poli depan.
"Siap...Bim, kita periksa dulu Dokter Joko sudah datang," kata Heri menyebut nama Dokter yang merawat Bimo.
"Tidak di periksa di sini saja?" tanya Luthfi karena melihat Bimo masih lemah.
"Alatnya tidak bisa di bawa ke sini," jawab Heri.
Mereka kemudian membawa Bimo ke Poli depan supaya di periksa Dokter. Tapi Bimo tidak mau memakai kursi roda katanya dia masih kuat berjalan karena Poli dekat dengan ruanngan tempatnya di rawat.
********
Sesampai di Poli mereka menunggu sebentar di ruang tunggu. Betapa terkejutnya Bimo melihat Papaku juga ada di situ. Bimo menatap ke arah Papaku dan berusaha menghindari bertemu maka Bimo memutar jalan ke samping yang masih bisa tembus ke Poli depan dan duduk jauh dari tempat Papaku duduk.
Bimo memandang Papaku dari jauh tapi Papaku tidak melihat.
Sebelum masuk ke ruangan pemeriksaan Bimo ingin ke toilet dia pergi sendiri tanpa di temani Luthfi. Betapa terkejutnya Bimo ketika mau keluar toilet dia melihat Papaku di depannya. Rupanya Papaku mau masuk ke toilet sedang Bimo mau keluar mereka sekarang berhadapan satu sama lain.
__ADS_1
"Maaf," kata Papaku sambil bergegas masuk ke dalam toilet.
Bimo merasa sangat bingung kenapa Papaku tidak mengenalinya sama sekali. Tak lama Mamaku datang mencari Papaku dan sangat terkejut ketika melihat Bimo.
"Bimo...kan?" tanyab Mamaku sambil menunjuk kearahnya.
"Iya ...Tante," jawab Bimo sambil memunduk kepala.
"Kamu sakit, kenapa kurus dan pucat sekali sekarang?" tanya Mamaku heran.
Bimo cuma tersenyum pada Mamaku, dia tidak menjawab yang keadaan yang sebenarnya di alaminya. Lala datang menemui Mamaku karena merasa terlalu lana memunggu di ruang tunggu saat Papa ke toilet. Lala takut kalau terjadi sesuatu dengan Papaku.
"Tante mau bicara sama kamu," kata Mamaku pada Bimo.
Mamaku kemudian menyuruh Lala menunggu Papaku yang masih di toilet. Mama mengajak Bimo bicara di depan taman Rumah sakit.
*********
Bimo menanyakan pada Mamaku keadaan Papaku yang membuat dia bingung karena saat di toilet tadi Papaku tidak mengenali Bimo.
"Om...terkena komplikasi penyakit Bimo, karena hipertensi, penurunan daya ingat dan yang paling parah glukoma, Om sekarang tidak bisa melihat dengan jelas makanya Om tidak mengenalimu tadi sekarang, Om mengenali orang lewat suara," jelas Mama menceritakan penyakit Papa pada Bimo.
Baru Bimo mengerti kenapa sikap Papa begitu padanya. Tidak percaya itulah yang dirasakan Bimo sekarang karena dari pertama melihat Papa Bimo sangat gugup kalau Papa melihatnya tapi ternyata tidak seperti dugaannya.
"Apa Kia tahu keadaanmu sekarang?" tanya Mama pada Bimo ketika mereka duduk di kursi depan taman.
"Bimo sudah bertemu Kia empat bulan yang lalu saat di reuni, Tante," jawab Bimo.
"Bagaimana reaksinya, apa kalian sudah berbaikan?" tanya Mamaku.
Bimo menggeleng kepala dia mengatakan pada Mamaku bahwa aku sekararang semakin marah padanya. Bimo juga mengatakan kesalah pahaman diantara kami sangat besar. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf saja.
Mamaku memandang Bimo dengan sedih dan Mamaku memegang tangan Bimo sambil menangis.
"Maafkan Tante, Bim...Tante tidak bisa membela kalian di depan Om, sesuai janji Tante," kata Mamaku.
"Bimo yang salah Tante, Bimo yang meninggalkan Kia, Bimo berdosa pada Kia atas semuannya," ucap Bimo pelan.
"Tante sudah tahu cerita kalian semuanya termasuk kehamilan dan segalanya...cuma Tante tidak memberitahu Kia supaya dia tidak tambah sedih," kata Mamaku sambil menangis terisak.
Bimo kaget sekali mendengar bahwa Mamaku mengetahui segalanya. Dia tidak menyangka Mamaku mengetahui kejadian yang ingin aku rahasiakan dari keluargaku. Dan yang lebih mengejutkan Bimo ternyata Papaku yang menceritakan pada Mamaku saat aku ditinggalkan Bimo menikah.
Bimo lalu berlutut di depan Mamaku, akhirnya seorang Bimo yang keras kepala sekarang berlutut meminta maaf atas semuanya pada Mamaku.
"Maafkan Bimo Tante, ampuni Bimo," mohon Bimo sambil memegang tangan Mamaku dan menangis.
Bimo lalu menceritakan pada Mamaku alasan kenapa dia sampai meninggalkan aku menikah dan berubah sikap padaku dulu. Tidak ada yang tertinggal satupun, semuanya di bongkar oleh Bimo di hadapan Mamaku. Karena firasat Bimo mengatakan Mamaku suatu saat akan mengatakan padaku.
Tapi Bimo meminta pada Mamaku jangan memberitahukan padaku dulu semuanya. Karena dia yang akan bicara padaku nanti tidak ada yang boleh bicara padaku selain dia itulah permintaan Bimo pada Mamaku.
Mamaku menangis keras mendengar semua penjelasan Bimo. Mamaku tidak menyangka semua ini terjadi pada kami berdua. Mamaku sampai memeluk Bimo yang jiga masih menangis, Mamaku sampai menangis keras karena keadaan kami yang sangat menyedihkan dan semua yang membuat kami sangat menderita selama ini.
Semua penjelasan dari Bimo membuat Mamaku sangat terpukul dan tidak menyangka sama sekali akan hal itu. Mamaku mengira semua yang Bimo lakukan atas dasar Mamanya yang ingin Bimo menikah ternyata tidak seperti itu alasannya. Mamaku kembali menangis sambil memeluk Bimo menyesali mengapa semua ini bisa terjadi pada jalan hidup kami.
"Ya...Tuhan mengapa seperti ini nasib anak-anakku," ratap Mamaku sambil mengelus bahu Bimo yang juga sedang menangis.
**********
**Bimo mengatakan semua pada Mama Kia? Apa sebenarnya peristiwa yang terjadi 15 tahun yang lalu?..
**Nantikan episode selanjutnya...terima kasih sudah mendukung penulis...sehat selalu 😊😊
__ADS_1