
Hari ini untuk pertama kalinya gue bekerja. Ternyata nggak seribed seperti apa yang gue bayangin. Mungkin karna oma raskal begitu baik sama gue. Gue hanya bertugas membantu menjaga toko, merapikan bunga bunga pada tempat nya juga melayani pembeli. Tidak banyak memang namun tetap saja rasa lelah terasa di badan gue.
"Julia" Julia menolehkan kepalanya ketika oma raskal memanggil nya.
"Iya oma" Dengan segera julia melangkah menghampiri oma raskal yang berdiri di samping meja nya seraya tersenyum.
"Ada apa oma?" Tanya julia setelah sampai di depan oma raskal.
"Ini tolong kamu antar bunga ini ke alamat ini" Kata oma raskal menyerahkan sebuket bunga serta secarik kertas bertuliskan alamat yang akan di tuju julia.
"Oh baik oma" Jawab julia memeluk sebuket bunga mawar putih itu.
"Di sebelah sana ada sepeda. Kamu bisa memakai nya. Alamat ini deket dari sini ko" Kata oma raskal lagi.
Julia mengangguk mengerti dan segera melangkah meninggalkan oma raskal yang tersenyum menatap nya.
Suara motor raskal membuat julia mengalihkan perhatianya. Sesaat cewek itu menatap raskal yang baru saja menghentikan motor nya kemudian kembali dengan sepeda yang akan membawanya menuju alamat si pemesan bunga.
"Mau kemana?" Tanya raskal menghampiri julia yang sudah siap dengan sepedanya.
"Nganterin pesanan" Jawab julia menunjuk bunga yang ia taruh di keranjang depan sepeda itu.
Raskal mengangguk mengerti.
"Gue boleh ikut?" Tanya cowok itu.
"Hah? ikut? ikut gue maksud nya?" Julia balik bertanya merasa bingung dengan pertanyaan raskal.
"Ya ialah ikut lo siapa lagi?" Kata raskal tertawa kecil.
"Pake motor gue aja" Raskal kembali berucap.
Julia terdiam.
Cewek itu melirik pada motor raskal kemudian menatap bunga di keranjang sepedanya.
"Gue jamin bunga nya nggak bakal rusak" Ujar raskal yang mengerti kebimbangan julia.
Julia menghela nafas kemudian mengangguk menyetujui. Julia akan merasa sangat tidak enak hati jika menolak permintaan raskal. Bagaimana pun juga raskal sudah membantunya.
__ADS_1
Raskal tersenyum senang kemudian melangkah menuju motor nya kembali. Julia mengikuti cowok itu dari belakang dengan sebuket mawar putih yang di peluk nya.
"Oma raskal anterin julia!" Seru raskal seraya menaiki motor nya.
Dari dalam toko nya oma raskal tersenyum melihat julia yang menaiki motor raskal. Wanita baya itu merasa cucunya begitu sangat menyukai julia.
"Kita kemana?" Tanya raskal saat menstater motor nya.
"Ke alamat ini" Jawab julia menyodorkan secarik kertas dari belakang tepat di depan wajah raskal.
"Oh ini sih deket" Kata raskal.
Julia tidak lagi berkata. Cewek itu duduk anteng di boncengan raskal yang mulai melajukan motor nya dengan kecepatan sedang.
Sial.
Nggak tau kenapa kok gue ngrasa agresif di depan julia. Gue harap julia tidak risih karna sikap gue ini. Tapi gue bener bener nggak bisa buat biasa aja. Jujur, gue selalu pengin deket sama nih cewek.
Raskal terus memikir kan apa yang di lakukanya. Raskal sangat khawatir jika julia akan merasa tidak nyaman dengan sikap nya kali ini.
Bisa saja julia merasa raskal sok kenal dan sok dekat kepadanya.
Hampir 15 menit perjalanan akhir nya motor raskal memasuki sebuah kompleks. Saat di depan gerbang motor raskal di hentikan oleh seorang satpam penjaga kompleks. Satpam tersebut meminta untuk raskal menunjukan kartu identitas nya.
Julia menghela nafas.
Cewek itu sangat bersyukur karna kehadiran raskal kali ini. Jika saja tadi julia menolak untuk raskal ikut sudah di pastikan julia tidak akan dapat masuk ke dalam kompleks tempat tinggal si pemesan bunga karna julia tidak membawa apapun selain bunga nya.
Raskal menghentikan motor nya di depan rumah minimalis benomor 17. Julia segera turun dan mencocokan dengan alamat yang tertera di kertas yang di bawanya.
"Bener nggak?" Tanya raskal menatap julia.
"Iyah bener" Jawab julia dengan senyuman di bibir nya.
"Ya udah bentar yah" Kata julia sebelum berlalu menuju pintu utama rumah tersebut.
Raskal menganggukan kepalanya meskipun raskal tau julia tidak melihat nya.
____
__ADS_1
Pukul 17;15
Julia memasuki ruang ganti untuk mengambil tas dan seragam sekolah nya. Seharian ber aktivitas membuat rasa lelah mendera tubuh nya. Beruntung pertama kalinya bekerja raskal menemaninya setiap oma raskal menyuruh nya untuk mengantarkan pesanan bunga.
Julia mengurungkan niat nya untuk segera berlalu. Julia berdiri di depan cermin dan tersenyum menatap pantulan dirinya sendiri. Cewek itu melepaskan topi pink yang melindungi kepalanya dari teriknya matahari selama bekerja.
Gue yakin gue bisa.
____
Julia turun dari motor raskal.
Lagi lagi cowok itu membantu julia. Jujur julia sangat tidak enak hati atas kebaikan raskal padanya. Padahal julia sempat tidak menyukai cowok itu.
"Mampir dulu yuk?" Ajak julia pada raskal.
Raskal mengangguk. Cowok itu tidak menolak kemudian langsung mengikuti julia menuju rumah sederhana cewek itu.
Ketika hendak memasuki rumah nya julia di buat bingung dengan tingkah anya. Anya berdiri di ambang pintu dengan wajah bersemu merah. Bukan hanya itu saja yang membuat julia bingung. Anya berdandan rapi. Rambut nya yang biasanya hanya di kuncir kini tergerai dengan jepitan kecil yang mencapit poni nya.
Julia melirik pada nia yang berdiri tidak jauh di belakang anya. Nia hanya mengangkat bahu pertanda tidak tau.
"Ini siapa?" Pertanyaan raskal menyadarkan julia. Cewek itu menoleh dan tersenyum kikuk pada raskal.
"Ini adek gue" Jawab nya.
Raskal mengangguk dengan senyumanya.
Cowok itu berjongkok mengsejajarkan tinggi nya dengan tinggi anya.
"Hay nama kamu siapa?" Tanya raskal pada anya.
"Nama aku anya" Jawab anya malu malu.
Julia melongo melihat anya yang sebegitu malu malunya di depan raskal. Tingkah anya seperti remaja yang malu malu saat bertemu dengan orang yang di sukainya.
"Bunda juga nggak tau. Begitu mendengar suara motor raskal anya langsung buru buru keluar" Kata nia menatap anya yang tampak sangat ceria bersama raskal.
Julia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tidak mungkin jika anak seumuran anya tau tentang menyukai seorang cowok.
Di tatap nya anya yang sedang tertawa di pangkuan raskal. Tidak biasanya anya bisa langsung akrab dengan orang asing