
Luthfi memapahku menuju mobil, dia berjanji akan mempertemukanku dengan Bimo. Kami langsung menuju ke arah luar kota sepanjang jalan Luthfi menatapku dengan cemas dan sekali-kali memegang bahuku mencoba menenangkanku yang sedari tadi menangis tidak berhenti.
Aku tidak sanggup menghentikan air mata karena kenyataan yang terjadi sungguh membuatku shock. Setelah mengetahui semuanya aku jadi ingin bertanya pada Luthfi kenapa dulu Bimo tidak mau memberitahu padaku masalah yang sebenarnya hanya menyimpan sendiri tanpa membagi cerita denganku.
Sekali lagi itulah pribadi seorang Bimo, dia tidak akan bicara apapun yang akan menyakitiku dan membuatku merasa terbebani. Lebih ingin menyimpan lukanya sendiri supaya aku tidak terluka lagi.
Kami sampai di komplek pemakaman tempat dimana Bimo disemayamkan dan beristirahat selamanya. Air mataku semakin deras ketika turun dari mobil, luthfi masih memapahku dia takut aku akan pingsan karena sangat sedih.
Kami bejalan melalui jalan yang sudah disediakan, pemakaman sangat asri dikelilingi pohon-pohon rindang terlihat hijau. Ada taman di depan jalan masuk ke makam di dekat tempat parkir mobil yang ada di depan lokasi tempat pemakaman.
Kami sampai di sebuah makam tanahnya masih basah. Aku tidak sanggup lagi berdiri langsung duduk bersimpuh di samping nisan dan menangis keras, apa rasanya ini kenapa ada yang hilang separuh dari hatiku. Sepertinya Bimo telah membawa sebagian hatiku ke alamnya aku bahkan bisa merasakan nyeri teramat sangat bila menyebut namanya.
Aku menatap gundukan tanah yang belum kering itu dengan nanar. Dan nama Bimo tertulis di batu nisan lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematiannya. Aku duduk bersimpuh sambil memegang nisannya dan tidak bisa berkata apapun yang kulakukan cuma menangis meratapi kisah kami yang seperti tragedi jalan hidup.
Mampu meluluh lantakkan semua rasa benci yang ada di hatiku itulah sekarang kenyataannya. Semua kisah yang barusan ku dengar sanggup menghapus kebencianku selama 10 tahun pada Bimo yang sekarang berganti dengan sesal yang amat sangat.
"Kenapa tidak mau bercerita apapun padaku dulu, kenapa membiarkan aku membencimu Bim, kenapa menyimpannya sendiri, kenapa tidak membiarkan aku mengetahuinya?"
Aku meratap sambil menangis memukul nisan Bimo dengan setengah menjerit.
"Laki-laki jahat beraninya pergi meninggalkan aku sendiri dengan kenyataan seperti ini, kembali...kembali...minta maaf padaku sekarang, Bimo...Bimo..."
Aku tidak sanggup lagi meneruskan kata-kata hanya menangis dan memeluk nisan yang sudah dingin sambil meremas tanah yang ada di atas makam Bimo. Luthfi membiarkanku menangis dengan keras dia tahu aku pasti seperti ini kalau mengetahui kenyataannya.
"Bimo bukan tidak mau memberitahu kamu Kia tapi karena dia tidak mau melukaimu dan keluargamu Kia, dia ingin kamu bahagia sebenarnya dia tidak mau kamu terluka kedua kalinya karena dia," jelas Luthfi pelan sambil menatapku.
"Seandainya dia memberitahu kamu dulu akan banyak sekali orang-orang yang tersakiti karena dia tahu kamu pasti akan kembali bersamanya jadi itulah alasan kenapa dia diam dan menyimpannya sendiri," lanjut Luthfi.
"Harus bisa memafkannya, merelakannya dan meng-ikhlaskannya karena itu yang di inginkan Bimo pada semua orang yang dicintainya," kata Luthfi dengan suara agak serak seperti menahan sesuatu yang masih menyesakkan dadanya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menatap gundukan tanah di depanku dengan air mata yang tidak mau berhenti.
__ADS_1
"Kia sudah datang Bim, dia sudah bisa memaafkanmu...aku sudah membawanya padamunsekarang satu janjiku sudah kulunasi," kata Luthfi sambil menatap nisan Bimo.
Aku semakin menangis keras memdengar kata-kata Luthfii dia kemudian memelukku yang masih meletakan kepalaku di nisan Bimo. Luthfi berada di sebelahku memegangi dan memeluk bahuku seolah menguatkanku.
"Kamu harus kuat Kia, aku akan berusaha membantumu apapun yang bisa aku lakukan sekarang," katanya pelan sambil membujukku.
Aku cuma bisa memandang nisan Bimo dengan perasaan sesal sambil membelainya. Orang yang pernah sangat aku cintai sekaligus sangat aku benci terbaring di sini sendirian dalam dingin.
Bimo membawa rahasia kebenaran yang terjadi sampai menutup mata. Dia tidak mau melukaiku dan membuat hubunganku dengan orang tuaku hancur untuk kedua kalinya karena dia. Dia memilih aku membenci dan menyalahkannya supaya aku bisa tetap bersama dengan orang tuaku.
Satu jam lamanya aku di makam Bimo dan air mataku tidak bisa berhenti menetes. Aku sangat menyesali mengapa mengetahui ini bukan dari Bimo sendiri tapi dari orang lain. Apa yang harus kulakukan sekarang sangat ingin sekali kembali ke saat terakhir bertemu Bimo di acara reuni dan mendengar dia menceritakan sendiri semuanya bukan seperti ini.
Aku kembali menangis mengingat kejadian saat itu ketika aku berteriak marah padanya dan aku bahkan mendorongnya sampai terjatuh di lantai. Sekarang setelah tahu kenyataannya benci yang ada dihatiku sekian lama musnah berganti dengan penyesalan.
"Maafkan aku Bim..maafkan aku," lirihku sambil memeluk nisannya.
"Ayo pulang sekarang sudah sore nanti aku antar kalau kelamaan nanti sakit," kata Luthfi membujukku.
*******
Luthfi menghentikan mobil di depan rumahnya kemudian dia menyuruhku turun dan masuk kedalam rumahnya.
"Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu," katanya sambil membuka pintu rumah.
Kami masuk ke dalam Luthfi kemudian masuk ke kamarnya sepertinya ingin mengambil sesuatu kemudian tidak lama dia keluar membawa sesuatu. Luthfi menyerahkan sebuah buku rekening beserta kartu ATM padaku dan aku kaget sekali menerimannya.
"Apa ini?" tanyaku masih terisak.
"Sebelum meninggal Bimo sudah persiapkan semuanya, uang itu tabungannya untuk menikah denganmu dulu dan Bimo ingin aku memberikannya pada kamu," kata Luthfi.
"Pegang saja, aku tidak mau," kataku menolak tabungan Bimo yang di berikan oleh Luthfi.
__ADS_1
"Itu uangmu Kia... Bimo tidak berani memakainya, dia lebih memilih menjual mobil dan motor daripada memakai uang itu," jelas Luthfi sambil menyerahkan buku dan kartu padaku.
Aku semakin terharu dan kembali menangis mendengarnya. Kartu ini kuberikan pada Bimo saat terakhir aku bertemu dengannya di Sangata dan itulah malam terakhir aku bersamanya. Luthfi menatapku sambil tersenyum dia sekarang tahu aku juga tidak pernah berhenti mencintai Bimo walau ada kebencian di dalam hatiku.
"Bukalah kotak itu nanti semua ada barang-barang kenangan kalian dan ada sesuatu yang ingin di beritahukan Bimo di situ, persiapkan dirimu Kia," kata Luthfi sambil menepuk bahuku pelan.
"Ada lagi yang tidak ku ketahui? Kenapa terlalu banyak yang aku tidak tahu, kenapa seperti ini Bimo padaku, kenapa banyak sekali hal yang kalian rahasiakan padaku?"
Luthfi tersenyum padaku dan dia kemudian memegang tanganku sambil menghela napas.
"Bimo adalah sahabat sekaligus keluargaku, dia sampai saat terakhir dalam hidupnya tetap memikirkan kamu Kia, aku sangat bangga padanya dia tidak pernah berpaling hati dari kamu," katanya sambil menatapku yang masih menangis.
"Maafkan Bimo dengan tulus buang semua kebencian di hatimu, dia orang yang paling banyak berkorban untukmu," lanjut Luthfi.
"Tapi aku tidak bisa melihatnya lagi," isakku sambil menunduk dan menghapus air mataku dengan kedua telapak tangan.
"Kalau kamu membuka kotak yang di berikan Bimo kamu akan tahu pengorbanan yang dia berikan untukmu," kata Luthfi menatapku.
"Kamu masih bisa bersamanya, dia akan melihatmu setiap hari Kia, jadi nanti kalau kamu menatapnya cobalah tersenyum agar dia bahagia melihatmu."
Aku cuma memandang Luthfi dengan tatapan bingung. Tapi dia tersenyum sambil mengajakku pulang karena sudah malam. Dan aku akan membuka kotak yang diberikan Bimo malam ini karena ingin sekali mengetahui apa yang ada di dalamnya.
**********
**Apa isinya kotak yang diberikan Bimo yang menurut Luthfi adalah pengorbanan Bimo untuk Kia.
**Berapa kali Bimo jatuh cinta pada Kia selama hidupnya? Mengapa dia sanggup melakukan apapun agar masih bisa melihat Kia?
**"Hey Coklat, aku ingin merayumu sekarang, hal yang tidak pernah kulakukan seumur hidupku."
** Nantikan episode selanjutnya dan terima kasih atas semua dukungannya, jangan lupa rate, like, komen dan vote ya.....😊😊.
__ADS_1