
Hari sudah sore dan aku masih berada di makam Bimo. Aku juga tidak tahu kenapa aku enggan sekali bergerak pulang menuju ke rumah dan masih rindu rasanya hingga aku memeluk nisannya kemudian aku meminta maaf padanya.
Tetapi ada suara tiba-tiba yang mengejutkanku, aku langsung berdiri dan melihat siapa orang yang berani membentakku dengan suara nyaring. Betapa kagetnya aku melihat seseorang berdiri di dekatku yang sudah lama tidak bertemu hampir dua tahun denganku.
"Miko!"
Aku setengah berteriak memanggil namanya sambil menatap tidak percaya kalau itu Miko. Tetapi Miko malah memandangku dengan wajah yang datar dan seperti acuh tak acuh bahkan seperti ada benci dimatanya.
Dia kemudian berjalan melewatiku dan menuju sebuah makam yang berada di belakang makam Bimo. Aku terdiam cuma bisa memandangnya sambil masih bertanya-tanya kenapa ada Miko di sini.
Aku berjalan kearahnya sambil menatap makam yang akan dikunjungi Miko. Terlihat seperti makam seorang wanita apakah saudara atau Ibunya aku masih bertanya-tanya walau hanya di dalam hati. Kemudian Miko meletakkan bunga yang di bawanya di atas makan tersebut.
Lama sekali dia memandang makam yang ada di depannya, sambil menarik napas yang panjang dan berkata seolah berbicara dengan seseorang.
"Istirahat yang tenang Bu, sekarang aku akan sering mengunjungimu."
Barulah aku mengetahui bahwa yang dikunjungi Miko adalah makam Ibunya. Terlihat gurat kesedihan di mata Miko seperti ada rasa dakit yang dipendamnya. Dia kemudian memandangku yang berdiri di sebelahnnya sambil tersenyum kecil kemudian kembali memandang makam itu.
"Dia teman Miko Bu, teman satu kantor," kata Miko seakan sedang berbicara meyakinkan Ibunya.
Aku tidak bisa berkata-kata hanya memandangi Miko dengan tatapan bingung. Miko kemudian mengucapkan salam perpisahan bagi ibunya dan kembali berjalan menuju tempat parkir keluar dari area pemakaman.
Aku masih diam dan hanya mengikuti Miko berjalan ke arah parkir tempat mobil kami berada. Tapi Miko tidak menghiraukan dia bahkan tidak melihatku sama sekali.
"Tunggu sebentar Miko, ada yang ingin kutanyakan padamu," kataku sambil mencoba menarik tangannya.
"Jangan mencoba mendekatiku," katanya dengan sedikit marah.
"Aku tidak mencoba mendekatimu, aku cuma ingin bertanya sesuatu padamu," kataku sambil menghalangi jalannya.
Miko kemudian berhenti dan menatapku dengan tajam. Aku jadi bingung apakah Miko masih marah dengan kejadian dua tahun lalu karena laporanku hingga dia di mutasi ke luar kota.
"Sekarang tanyakan apa yang ingin kau tanyakan padaku," ujarnya sambil memandangku.
Kenapa kau bahagia aku tidak bisa bersatu dengan Bimo, itu pertanyaan 2 tahun yang lalu yang ikut tanyakan padamu?"
"Lupakan semua kata-kataku, aku saat itu sedang marah jadi kata-kata itu hanya terucap keluar dari mulutku begitu saja," jawab Miko sambil berjalan meninggalkanku.
"Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan, sekarang aku mau bertanya kembali padamu," kataku sambil menarik tangannya.
"Apa hubunganmu dengan Bimo, kalian ada ikatan keluarga?" tanyaku pada Miko.
"Cari sendiri jawabannya, nanti setelah kamu dapatkan temui aku," jawab Miko sambil meninggalkanku dan berjalan kearah mobilnya.
Dia kemudian pergi meninggalkanku yang masih bingung ucapan-ucapannya yang tadi. Aku masih terpaku memandang Miko yang berlalu begitu saja dengan mobilnya tanpa menoleh ke arahku.
************
Aku pulang dengan hati tidak karuan, kemunculan Miko di makam Bimo kemudian sikap acuhnya yang tidak mau menjawab pertanyaanku membuat aku semakin kesal.
__ADS_1
Bisa-bisanya Miko menyuruhku jadi detektif mencari sendiri bagaimana hubungannya dengan Bimo. Dari tadi aku uring-uringan memikirkannya sampai Mama menegur-ku saat makan malam karena aku sangat tidak fokus dan hampir menumpahkan makanan.
Handphoneku berbunyi saat aku sedang menonton televisi bersama Papa. Ternyata dari Wiwin dan aku kemudian berjalan keluar dan mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Ternyata Miko yang mengisi jabatan yang kamu inginkan itu," jelas Wiwin padaku.
"Benarkah, pasti tidak salah kan?" tanyaku kepada Wiwin.
"Iya... aku sudah memeriksanya di ruang HRD bersama Kak Santi dan Bang Riko,"jawab Wiwin.
"Berapa lama sudah dia mengisi jabatan itu, siapa yang mendukungnya di sini?" tanyaku lagi karena sangat penasaran.
"Hampir 2 bulan sudah berjalan sepertinya Kak Arya yang menanganinya," jawab Wiwin.
"Kalau begitu aku besok minta izin 1 hari lagi untuk menemui Miko, ada yang harus aku perjelas dari semua masalah ini Kamu mau menolongku kan? Katakan itu pada Kak Santi semuanya."
Wiwin menyanggupi permintaanku untuk meminta izin 1 hari lagi agar bisa menyelesaikan masalahku dengan Miko yang tertunda dua tahun lalu.
"Aku harus mendapatkan jawaban kamu Miko besok," desis-ku.
************
Aku menuju kantor cabang perusahaan tempatku bekerja yang ada di kotaku. Aku sengaja kesana agak siang untuk menemui Miko karena kalau saat pagi mungkin akan mengganggu mereka yang sedang bekerja di kantor.
Para pegawai langsung menunjukkan tempat Miko saat aku datang dan memperlihatkan ID card-ku. Saat mereka mengetahui bahwa aku dari perusahaan yang sama tapi berlainan kantor saja.
"Pak Miko ada di belakang, mari ikut saya," ajak Pegawai yang berada di meja resepsionis.
Pegawai itu kemudian menunjukan aku ke tempat di mana Miko berada. Ternyata Miko berada di gudang dengan beberapa pegawai gudang lainnya terlihat sibuk sedang memperbaiki sesuatu.
Aku segera menghampirinya dan mengucapkan terima kasih kepada pegawai yang tadi mengantarku. Miko sepertinya sedang asyik hingga tidak melihat kedatanganku dan cuma temannya yang di sebelah yang melihat aku datang.
Dia kemudian menepuk bahu Miko dan menunjuk ke arahku yang berada tidak jauh dari mereka. Miko langsung menoleh dan memandangku ekspresi wajahnya sangat aneh bagiku sepertinya Miko sudah tahu kalau aku akan datang menemuinya.
Dia kemudian menghentikan kegiatannya dan berjalan ke arahku sambil menganggukan kepala pada teman yang di sampingnya.
"Selesaikan dulu ganti semua kabelnya setelah itu kita pasang di lapangan," ujar Miko pada temannya.
Miko mengajakku ke ruangan kantornya terlihat sangat biasa saja maklum hanya kantor cabang tidak seperti kantor tempatku. Hanya ada satu meja kerja, sebuah sofa untuk menerima tamu dan dispenser air untuk membuat minuman.
Miko mempersilahkan aku duduk di sofa dan mengambilkan minuman untukku. Aku menahan mulut ku agar tidak berbicara menunggu Miko duduk dulu.
"Kopi apa teh?"tanyanya padaku.
"Teh saja, aku sudah minum kopi tadi pagi," jawabku.
Miko kemudian menyerahkan segelas teh padaku. Dia kemudian duduk juga di sofa tepat di depanku. Aku masih memandangnya dengan kesal karena dia belum menjawab semua pertanyaanku. Tapi Miko terlihat cuek saja dia duduk sambil minum kopinya.
"Jawab pertanyaanku Miko," ujarku sambil minum teh yang diberikan Miko.
__ADS_1
"Coba ulangi pertanyaan yang mana aku lupa?" tanya Miko sambil tersenyum kecil.
Aku langsung merasa kesal karena seperti merasa diremehkan oleh Miko. Kalau tidak ingat ini kantor aku bisa langsung berteriak marah tapi aku mengurungkannya karena akan malu dilihat orang.
"Kenapa kamu bahagia aku tidak bisa bersatu dengan Bimo?" tanyaku sambil memandang Miko dengan tajam.
"Bagus kan, daripada kamu bersatu dengan orang yang akan mati karena sakit," jawabnya sambil tersenyum mengejek.
"Itu bukan jawaban, itu persepsi kamu. Jawab yang benar sekarang, kamu tahu aku sudah minta izin 1 hari lagi supaya bisa bertemu denganmu jadi jawab supaya aku tidak penasaran," kataku agak sedikit kesel karena Miko menanggapi hanya dengan senyum.
"Apa begitu penting jawabannya?"
"Aku sudah jawab tadi, coba cari pertanyaan lain yang lebih bagus, yang lebih kena dengan masalah kamu dan Bimo," ujar Miko
"Kamu kenapa berputar-putar dengan kata-kata tinggal jawab saja apa susahnya?" tanyaku dengan agak marah.
"Cari dulu akar masalahnya, baru kamu bisa menghubungkan semua dan akan menemukan jawaban pertanyaan mu," jawab Miko.
"Memangnya apa akar masalahnya, ayolah Miko aku sudah capek seperti ini," keluhku sambil menghela napas.
"Cari tahu dulu siapa aku nanti aku akan menjelaskan semuanya... hmmm," kata Miko sambil tersenyum licik.
"Dan satu lagi jangan berani coba-coba mendekatiku lagi kalau nanti aku sudah menjelaskan semuanya, ini peringatan," ancamnya.
Miko kemudian meninggalkanku yang sangat kesal karena dia harus ke lapangan untuk perbaikan alat yang rusak pada sebuah tower. Dia bahkan tidak berpamitan padaku pergi begitu saja meninggalkanku sendiri di ruangannya.
Aku mengambil kartu nama Miko yang ada di atas meja kerjanya. Dan menghampiri pegawai yang ada di depan menanyakan dimana Miko tinggal saat ini. Mereka mengatakan bahwa Miko tinggal di perumahan yang disediakan oleh kantor.
***********
Aku kemudian mencoba melihat rumah yang Miko tempati di komplek perumahan tempat karyawan kantor kami. Jalannya agak sempit dan mobil hanya bisa masuk satu saja tidak bisa berdampingan.
Mulai memasuki komplek dan bertanya pada seorang Ibu yang sedang menyapu alhirnya dia menunjukan rumah di ujung ketika aku menanyakan tempat Miko tinggal. Rumah di ujung komplek disitulah Miko tinggal aku menuju ke sana dengan jalan mobil secara perlahan.
Betapa terkejutnya aku melihat ada motor Bimo parkir di depan rumah tepatnya di teras. Dadaku terasa berdegup kencang ada apa ini kenapa ada barang Bimo disini. Aku keluar dari mobil untuk memastikan bahwa itu motor Bimo dan ternyata benar motor lama Bimo ada disitu.
Hatiku sangat sakit melihatnya dan seribu pertanyaan ada di otakku hingga membuatku tak bisa lagi menahan tangisku. Sambil memukul motor didepanku aku terduduk menahan supaya tangisku jangan bersuara.
Teka-teki apa ini, kenapa mereka seperti sangat dekat antara Bimo dengan Miko. Apa yang tidak ku ketahui dari semuanya dan rahasia apa yang masih Bimo simpan hingga dia membiarkan aku seperti orang bodoh yang hanya bisa meraba-raba jawabannya.
"Kamu masih punya rahasia yang belum ku ketahui, Bim?"
"Kamu jahat Miko, kenapa membuat aku mencari jawaban teka-teki ini."
"Kalian bersekongkol dasar brengsek," kataku sambil melempar vas bunga yang ada di meja ke dinding karena kesal yang kurasakan.
**********
**Ternyata Kia mulai mengetahui jawaban teka-teki itu sedikit demi sedikit ketika ulang tahun Bena anaknya Andi.
__ADS_1
**"Ini Papaku, dia tadi datang kesini untuk menjengukku," kata anak itu sambil tertawa padaku. Siapa anak itu? Mengapa Kia terlihat kaget melihat foto ditangan anak itu.
**Selamat membaca? Jangan lupa dukung Author dengan Vote like dan komen di karyaku, terima kasih...sehat selalu, jangan lupa cuci tangan prioritaskan kesehatan.