
Miko tidak bisa mengendalikan diri lagi, kepalanya seperti mau pecah karena rasa khawatir. Bagaimana mungkin tidak cemas mendengar teriakanku dan bunyi rem mendecit kemudian hilang tidak terdengar lagi suara dari handphone.
Dengan cepat Miko kembali menghubungiku tapi tidak ada sambungan. Dengan tergesa dia berlari keluar ruangan menuju tempat parkir dan memacu mobil secepat mungkin.
"Seharusnya sudah aku beri tahu semua sejak awal pulang kemarin, sebelum acara pertunangan," sesal Miko.
Miko menuju rumah dinas, dia bermaksud mengambil sesuatu. Dimana semua yang ada di situ sdalah jawaban dari kesalah pahaman sekarang. Miko melajukan mobil sambil berpikir bahwa aku akan pulang ke kota.
"Besok kalau aku tidak masuk kerja. Kamu gantikan aku bertemu dengan orang dari instansi pemerintah," kata Miko pada asistennya di telepon.
********
Bruuuukkk.
Praaang.
Bunyi hantaman benda keras terdengar memecah kesunyian. Jalan yang hanya ada dua mobil itu seketika menjadi riuh dengan suara decit ban yang di rem paksa. Tabrakan membuat kaca samping kanan mobilku pecah berkeping dan sebagian pecahan mendarat di pergelangan tanganku.
Dengan refleks ku tekan tombol darurat dan terbuka halangan di depan setir untuk pengamanan kepala. Aku segera membenamkan kepalaku dan memegang setir dengan kuat supaya tidak terlempar. Untungnya hal itu membantu mengamankan bagian kepalaku dan aku masih dalam posisi aman, hanya luka lecet di tangan karena sedikit benturan dan irisan kecil karena pecahan kaca.
Tapi rasa terkejut yang membuat dadaku sesak dan ebih mengerikan dari luka yang ku derita. Aku menangis keras sambil berusaha keluar dari mobil yang sudah berhenti. Dengan tangan gemetar ku buka pintu mobil dan berhasil keluar tapi kaki ku masih gemetar. Aku terjatuh ke tanah sambil memegang tangan yang sakit.
"Tolong,"
Ku lihat supir dan seorang lagi dari mobil yang bertabrakan denganku, berjalan menghampiri. Aku masih terduduk sambil masih memegang tangan yang memar dan meringis kesakitan.
"Mari kita ke rumah sakit Nona, saya akan bertanggung jawab."
Laki-laki itu memegang tanganku dan berusaha membantu aku berdiri. Tapi kaki ku masih lemah hingga aku tidak kuat berdiri tetap dalam posisi terduduk di tanah.
"Kita harus ke rumah sakit Nona, saya akan bawa kamu ke kota. Maaf saya gendong kamu nanti mobil kamu biar teman saya yang bawa. Percayalah saya tidak bohong."
Aku cuma mengangguk karena kepalaku sudah terasa pusing dan akhirnya aku pingsan. Semua jadi gelap yang terakhir aku merasa laki-laki itu menggendongku dan bicara pada temannya untuk membawa aku ke rumah sakit di kota.
************
Suasana dingin dan pemandangan putih serta bau khas obat. Semua kulihat dan kurasa saat membuka mata. Aku langsung merasa bahwa ini suasana rumah sakit. Ku lihat dua orang laki-laki berdiri di dekat jendela sambil bicara dan minum soda kaleng.
"Maaf... kalian siapa?"
Setengah berbisik aku bertanya, mereka langsung menoleh ke arahku dan cepat menghampiri aku yang sudah sadar.
"Kita tadi tabrakan, aku membawa kamu ke sini," jawab laki-laki yang berbaju biru.
"Namaku Riza," sambungnya memperkenalkan diri padaku.
"Saya Fahri," seorang lagi berkata sambil tersenyum padaku.
"Aku Kia."
Riza menyerahkan sebotol air mineral padaku.
"Terima kasih."
"Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, jangan khawatir mobilmu sudah kami amankan untuk di perbaiki. Oh ya... itu barang-barang di dalam mobil," katanya sambil menunjuk tas dan beberapa barangku yang lain di atas meja.
Seorang perawat masuk dan memberitahu pada kami yang masih berbicara.
"Wali pasien, tolong ke bagian administrasi."
Riza menyerahkan kartu namanya dan ponselku, dia kemudian pamit untuk membereskan administrasi rumah sakit bersama Fahri.
"Tidak apa kan, kamu sendiri?"
Aku mengangguk dan mereka keluar dari kamar tempatku di rawat. Aku membuka ponselku yang mati mungkin karena terlempar saat tabrakan tadi.
"Semoga tidak rusak," harapku.
Ternyata masih bagus dan betapa kagetnya aku saat melihat daftar panggilan tidak terjawab semua dari Miko. Aku terdiam dan berpikir sejenak, mencoba mencari jalan untuk menyelesaikan masalahku dengan Miko.
"Kalau semua berasal dari Bimo, Luthfi pasti tahu apa yang terjadi," pikirku.
Aku mencoba menelepon Luthfi dengan perasaan masih agak kesal.
__ADS_1
"Kenapa Bimo membuatku seperti barang yang bisa dititipkan ke sana kemari? Apa dia yang memaksa Miko untuk menikahiku? Kenapa saat tiada, dia masih membuat masalah di hidupku?"
Emosiku pecah saat Luthfi menerima panggilan. Aku bahkan berteriak menumpahkan kekesalanku. Luthfi masih diam mungkin dia kaget mendengar semua pertanyaanku.
"Jelaskan pelan-pelan," jawabnya sambil membujukku
"Aku---- menemukan surat perjanjian antara dia dengan Miko. di sana tertulis Miko akan mennjadi pendampingiku karena alasan sakitnya Bimo."
"Aku benar-benar tidak tahu kalau ada kesepakatan itu Kia,' Luthfi menyangkal semua.
"Apa selama ini aku kalian anggap bodoh? Mengapa tidak ada seorangpun di antara kalian memberitahuku dengan jelas alasan semuanya? Kalian besekongkol berbuat jahat padaku? Mengapa ini kuketahui saat hubunganku dengan Miko sudah resmi?"
Aku tersedu mengatakan semua pada Luthfi. Sepertinya Luthfi cuma diam membiarkanku menumpahkan semua kekesalan, dia tahu aku orang yang kalau marah cuma sebentar jadi dia tidak mau menjawab. Yang kulakukan hanya menangis, hampir 5 menit kemudian ku dengar suara Luthfi.
"Sudah tenang? Sudah bisa bicara dengan logika?"
"Ya......."
"Okey... aku jelaskan yang aku tahu saja. Saat aku menanda tangani surat donor, aku juga kaget ada nama Miko. Lalu Bimo menjelaskan bahwa dia adalah adik tiri lain ibu. Bimo bukan hanya menyuruh Miko saja menjaga kamu Kia. Aku , Herry bahkan Tari juga dia minta melihat kamu saat dia sudah pergi. Cuma itu yang bisa aku jelaskan pada kamu. Kalau soal kesepakatan menikah itu harus Miko yang menjelaskan. Tapi yang aku tahu Miko sangat mencintai kamu Kia."
Luthfi berhenti bicara sejenak.
"Coba lah memandang Miko dari sudut lain Kia. Jangan seperti ini, dia orang yang paling menerima kamu. Tidak ada siapapun yang berhak mendampingimu sekarang selain dia. Aku mohon ayolah Kia... jangan hanya karena masalah kecil seperti ini. Aku tidak ingin kamu akan mengalami hal sakit seperti dulu."
"Demi diri kamu sendiri, jangan berbuat sesuatu yang akan kamu sesali," mohon Luthfi dengan lirih yang berhasil menohok dadaku.
Aku menutup wajah yang masih basah karena tangisan. Mencoba mencerna saran Luthfi. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku tak ingin gagal menikah dua kali.
"Aku akan bicara dengan Miko, terima kasih Luthfi," lirihku.
"Kia... Miko mencintai kamu dan sangat takut kehilangan kamu. Itu lebih penting dari segalanya. Aku percaya Kia sekarang bukan Kia yang dulu. Yang selalu ingin lari dari masalah, hadapi sekarang Kia... aku ingin kamu bahagia."
*********
Miko membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Hatinya sangat tidak enak apalagi tadi di jalan dia melihat banyak orang berkerumun. Saat di tanya, di beritahu bahwa ada kecelakaan kecil satu jam lalu. Cemas dan gugup melanda Miko, dia bahkan tidak merasa membawa mobil dengan sangat cepat.
Dreetttt....... Dreeettt......
Ponsel berbunyi dengan cepat di tekan headset di telinganya.
Suara Luthfi sangat nyaring membuat Miko meringis karena telinganya jadi sakit.
"Aku di jalan, menyusul Kia. Dia menelepon kamu, bagaimana keadaannya? Apa yang dikatakannya?"
"Kelihatan tidak apa-apa. Tapi dia kesal karena surat yang di buat kamu dengan Bimo. Kenapa aku tidak tahu Mik? Kapan kalian membuat itu? Kenapa tidak di musnahkan saja? Dasar ceroboh, sampai ketahuan begitu."
"Aku bahkan lupa bahwa surat itu ada. Dulu setelah menulis ku letakan di sebuah buku. Entahlah---- rasanya kepalaku mau pecah Fi."
"Jelaskan pada Kia, bujuk dia Mik. Aku sudah menasehatinya tadi dan dia sepertinya sudah bisa mengerti. Semua tergantung kamu saja lagi, jangan buat dia marah. Kamu tahulah bagaimana caranya. Finishing dengan baik, aku mohon."
"Okey... akan kulakukan dengan baik. Terima kasih informasinya friend."
"Good luck."
Luthfi mematikan sambungan. Miko menatap sesuatu yang tergeletak di kursi sebelah.
"Kamu... buktikan bahwa aku serius tidak main-main dan tidak seperti yang dipikirkan Kia."
************
Di depan ruang administrasi rumah sakit. Dua orang laki-laki duduk menunggu antrian untuk membayar biaya opname.
"Aku seperti mengenal dia," gumam Riza.
"Benarkah?"
Fahri memandang Riza dengan heran.
"Tapi di mana ya?"
"Apa teman kamu saat kuliah? SMA?"
"Entahlah... seperti tidak asing namanya bagiku."
__ADS_1
"Riza....."
Sebuah suara mengejutkan Riza, dengan cepat menoleh ke arah orang yang memanggil. Dia sangat terkejut dan tidak percaya dengan siapa yang di belakangnya sedang berdiri.
"Miko....."
"Waaahhh. Pasti di antara sialku hari ini ada juga sesuatu yang beruntung," kata Riza sambil memeluk Miko. Sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak ketemu.
"Kamu kapan pindah? Terakhir aku dengar masih di Pontianak."
"Belum lama... kamu kok tidak ada kabar? Masih sering ke panti menjeguk Bunda?"
"Aku baru datang dari sana tadi, sekarang mau pulang tapi ada sedikit trouble. Aku di daerah pantai sekarang di pindah ke situ."
"Trouble apa?"
"Kecelakaan kecil di jalan, mobil dia yang menabrak, padahal aku sudah klakson dengan nyaring dan menepi ke pinggir. Tapi mungkin dia lagi human eror. Karena aku pakai mobil perusahaan dan yang menabrak wanita pula, jadi ku putuskan menolong dia."
Miko langsung mengerutkan dahinya.
"Wanita? Apa Kia?"
"Iya.... namanya Saskia. Kok kamu tahu?"
"Dia tunanganku, Kia yang dulu pacar Bimo waktu SMA."
Riza terperanjat, dia memandang Miko dengan penasaran.
"Pacar Bimo kakak tiri kamu, aku dengar Bimo sudah wafat. Pantas saja tadi aku merasa mengenalnya. Apa kalian sudah bertunangan?"
"Iya."
Miko mengangkat sesuatu di tangannya yang membuat Riza terbelalak.
"Aku yang memberikan itu pada Bimo Mik. Maaf... tapi Bimo melakukan semua demi Kia."
"Terima kasih Za, sudah membuat aku bisa meraih kembali cinta pertama ku," kata Miko tersenyum.
"Kalau begitu aku akan serahkan Kia padamu. Sudah aku bayar semua, sampaikan maafku pada Kia. Aku harus mengejar waktu dua jam untuk masuk kerja, maklum perusahaan tidak mentolerir pegawai lalai."
"Senang bertemu dengan kamu Za, oh ya.... ini nomor teleponku nanti kita bicara."
"Semoga bahagia kalian, nanti aku berikan alamat tempat mobil Kia di perbaiki. Jangan lupa undang aku kalau menikah."
"Pasti."
Riza lalu mengajak temannya pulang dan meninggalkan rumah sakit.
*******
Miko membuka pintu ruangan bonsai tempat aku di rawat. Ada sedikit sesal di hatinya membuat aku harus mengalami semua ini.
"Hai... Beb."
Aku memandang Miko dengan sedikit kaget. Padahal aku baru saja mau menelepon dia, tapi di luar dugaan dia sudah ada di depanku. Miko berjalan memghampiriku yang duduk bersandar di headboard ranjang. Dia langsung duduk di depanku dan memegang tanganku.
"Maafkan aku... aku yang salah. Terlambat menjelaskan padamu. Ayo... pukul saja aku," mohon Miko sambil memukulkan tanganku ke pipinya.
Aku segera menarik tangan dan menjewer kupingnya dengan keras.
"Dasar nakal! Berani sekali membuat aku menangis."
"Aaahhh... sakit!"
Miko mengusap telinganya sambil tersenyum padaku yang masih memandang dia dengan cemberut. Miko kemudian menyerahkan sesuatu padaku dengan wajah serius.
"Ini... yang akan menjelaskan semua kesalah pahaman kita. Juga tentang semua perasaan aku padamu."
*********
**Katanya sesuatu dari masa lalu bisa membuat orang trauma, sakit, dendam atau hal buruk lainnya. Tapi ada juga sesuatu dari masa lalu yang akan menolong seperti sebuah bukti tentang perasaan Miko. Walaupun kita sudah pindah ke lain dimensi waktu tapi yang tertulis bisa menjelaskan semua. Apa yang di berikan Miko pada Kia? Kalau membaca dari awal pasti tahu jawabannya.
**Sekali lagi penulis minta maaf pada pembaca karena terlambat update. Maafkan saya.... Maafkan semua kekurangan saya. Terima kasih pada semua orang yang sudah datang memberikan dukungan. You're the best reader, I love you guys.
__ADS_1
**Jangan lupa dukung karya ini dengan rate 5, vote se ikhlasnya, like dan komen supaya saya bisa feedback walau terlambat dan semangat update. Salam hangat dari Rahasia Hati untuk semua. Stay healthy, stay happy and stay here with Kia. Thank you all.