Rahasia Hati

Rahasia Hati
Still My Sister


__ADS_3

Dua bulan berlalu tidak terasa. Tibalah hari pernikahan Alan dengan Wiwin. Aku selalu mendampingi Wiwin saat acara lamaran dan pernikahan berlangsung. Mereka memakai adat daerah kami untuk semua prosesi acara perkawinan.


Miko datang menjemputku, dia tampak gagah dengan balutan kemeja biru langit dengan lengan dilipat sampai ke siku. Kami sudah bejanji untuk memakai baju couple.


Aku tersenyum saat Miko keluar dari mobil dan menghampiri aku yang berdiri menunggunya. Dia terlihat senang melihatku memakai simple long dress warna senada dengan bahu terbuka.


"Sexy," bisiknya saat di dekatku.


"Jangan menggoda, aku jadi malu," renggekku.


"Benar... pas sekali buat kamu."


"Ayo cepat, nanti terlambat," ajakku.


Kami segera berangkat ke gedung perkawinan Alan dan Wiwin. Tidak lucu kalau aku sahabatnya terlambat saat pesta penting Wiwin.


**********


Ketika kami datang para tamu sudah banyak maklumlah sudah jam 09.00 lewat terlihat Alan dan Wiwin tak henti-henti tersenyum dengan para tamu yang memberi selamat.


"Segera menyusul kan?"


Sebuah suara berat mengejutkan kami yang baru masuk ke dalam gedung. Ternyata kak Arya bersandar tepat di belakang pintu masuk.


"Ihhh.... mengagetkan saja;' sungutku kesal karena hampir terpekik kaget.


Kak Arya malah balas mencibir, ketika aku mau memukulnya di halangi oleh Miko.


"Jangan begitu nanti hilang cantiknya."


"Masa sih? Kok bisa?"


"Orang begitu di kasih senyum aja," jawab Miko.


Aku kemudian tersenyum menatap kak Arya walau sedikit dipaksakan.


"Nah gitu dong Kia, jangan marah. Candaanku masih dalam tahap wajar juga."


Kak Arya lalu mengajak kami ke pelaminan menemui raja dan ratu sehari. Senyum Wiwin mengembang saat melihat kami datang. Dia bahkan melambaikan tangan menyuruh cepat.


Aku memeluk Wiwin, rasa bahagia teramat sangat melihat dia sudah resmi menjadi nyonya Alan. Walaupun ada sedikit rasa sedih karena Wiwin akan pindah mengikuti Alan.


"Langsung berangkat setelah menikah nanti Lan?" tanya kak Arya.


"Belum... minggu depan mungkin. Masih ada pekerjaan di sini yang belum selesai," jawab Alan.


"Kapan menyusul? Kalau Miko sudah pasti, tinggal menunggu tanggalnya saja, bagaimana dengan anda?" tanya Alan sambil bercanda dengan kak Arya.


"Sabar saja... pasti akan ada waktunya aku akan punya pasangan. Sekarang tidak usah terburu-buru, yang penting percaya dan berdoa saja." Kak Arya terlihat agak pasrah menanggapi pertamyaan Alan. Miko memberi isyarat pada Alan untuk berhenti meleddek kak Arya.


"Benar... semua kuasa Tuhan. Biar di cari sampai kemanapun kalau belum waktunya pasti tidak bisa. Tapi yah... harus tetap berusaha. Semangat Bro.... kami paati akan doakan kamu," Miko memberi semangat dan aku juga tersenyum untuk memberi dukungan lebih pada kak Arya.


Aku juga tahu bagaimana berada di posisi dia. Karena aku pernah mengalami semua bahkan hampir tidak punya keinginan untuk melakukan. Tapi saat waktunya datang, walau aku juga masih punya rasa ragu tapi dengan dukungan banyak orang akhirnya membuat aku bisa menerima Miko dengan terbuka.


Kalau ditanya mungkin sekarang aku lebih cinta pada Miko. Dia bisa memeluk hatiku yang penuh luka dan membuat percaya diriku kembali. Ternyata tidak susah untuk merasakan yang namanya bahagia. Cukup dengan melepaskan dendam dan luka di hati. memaafkan dan menerima uluran tangan orang yang mau mengerti dan bersamaku.


"Mendekatlah dengan siapa saja yang mau dekat dengamu. Tidak usah memaksa, semua sudah ada garisnya."


Kak Santi datang langsung menepuk bahu kak Arya.


"Eh Bos.... janji yah, kalau saya menikah hadiahnya sebuah rumah," kak Arya menatap kak Santi dengan pandangan serius. Alhasil langsung kena lempar kak santi dengan tas tangan dan dengan cepat dia berlindung di belakang Miko.


"Hey... jangan bawa-bawa Miko Kak, dia milikku." Aku menarik Miko ke dekatku dan di sambut dengan gelak tawa Miko.


"Wah, belum menikah sudah over protektif. Bisa di kurung tiap hati nanti kamu Mik."


"Tidak apa di kurung sama istri sendiri. Kalau masih wajar, ya kan Beb?"


"Sudahlah... tidak bisa di lawan orang yang lagi kasmaran."


Kak Arya meninggalkan kami menuju ke arah meja prasmanan sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


"Makan dulu lah... bye."


********


Tiga hari kemudian, aku kaget ketika Wiwin datang ke rumah, malam-malam lagi.


"Aku mau nginap."


"Ada apa? Bertengkar dengan Alan? Kamu baik-baik saja kan?"


Cemas menyelimuti hatiku melihat Wiwin datang sendiri tanpa Alan. Hatiku sampai gugup, mereka baru tiga hari menikah tapi sudah seperti ini. Kepanikanku di sambut Wiwin dengan senyuman dan pelukan.


"Win... aku cemas ini. Ayo jelaskan padaku."


"Aku mau bersama sahabatku malam ini. Sebelum nanti berangkat bersama Alan dan pindah kota."


Wiwin berkata dengan lembut dengan tersenyum manis. Berhasil membuat hatiku berdenyut sakit . Air mataku akhirnya jatuh mengingat dia akan meninggalkan aku pindah mengikuti Alan.


"Kia....."


Wiwin memeluk aku yang mulai tidak bisa menahan isakan. Akhirnya pecah juga, kami berdua menangis bersama sambil berpelukan.


*******


Kami berdua berbaring bersama di ruang santai sambil menatap dan berpegangan tangan.


"Kamu tahu Kia... aku sebenarnya lebih sedih karena harus meninggalkan kamu sendiri di sini."


"Aku yang sedih Win... berjanjilah jangan pernah tidak mengangkat kalau aku menelepon."


"Aku akan langsung kesini kalau sesuatu terjadi padamu Cintaku. Alan pun tidak bisa menghalangiku. Sudah kami bicarakan semua makanya aku bisa berada di sini sekarang bersamamu."


"Aku tidak bisa membayangkan kalau sendirian tanpa kamu."


"Benarkah?"


"Benar... nanti siapa yang memasak kari untukku, membersihkan kulkasku dan berbaring bersamaku seperti ini lagi."


"Heeem... dasar manja. Apa cuma itu gunanya aku di dekat kamu," kesal Wiwin sambil memcubit pipiku.


"Makanya selama ini aku agak menjauh. Biar kamu terbiasa tanpa aku. Tapi tetap saja seperti berat rasanya Kia. Kita yang sudah seperti saudara harus berpisah walau hanya karena jarak."


"Tetap jadi saudaraku Win... jangan pernah berubah," pintaku dan Wiwin mengangguk pasti.


Bel pintu berbunyi, aku bangun dan dengan cepat ku buka.


"Halo Kak... Lisa datang," senyum Lisa merekah sambil menenteng keranjang buah. Lebih kaget ketika melihat seseorang masuk membuka pintu pagar kemudian.


"Kak Santi juga ke sini?"


"Iya Kak." Lisa masuk ke dalam, aku masih menunggu kak Santi berjalan ke arahku.


"Angin apa yang membawa Bos ke sini?"


"Angin topan," jawaban sekenanya dari kak Santi membuatku tertawa. Dia kemudian masuk meninggalkanku yang masih tertawa geli dan menghempaskan badan ke sofa.


"Sekali-sekali bagus juga kumpul seperti ini. Idenya Wiwin tuh... supaya Kia tidak merasa sendirian. Jadilah kami ke sini dan untungnya Lisa mau ku ajak tadi," jelas kak Santi.


Hatiku senang mendengar kata-kata kak Santi. Bergantian kupandangi mereka, orang-orang yang ada di sampingku kalau aku sakit dan butuh bantuan.


"Jangan menangis lagi yah, Cinta. Ingat... kalau aku pergi masih ada mereka di sini mememani kamu," kata Wiwin sambil membawa nampan berisi irisan buah yang dibawa Lisa tadi.


"Aku sayang kalian," kataku sambil memeluk kak Santi.


"Ini coklat hangat Kak,"Lisa menyerahkan secangkir coklat panas padaku.


"Kok bukan kopi, aku pengen kopi."


"Ingat lambung kamu Kia. Kopi sama buah double asamnya," cegah kak Santi.


"Selalu ceroboh," ledek Wiwin.

__ADS_1


Malam itu kami kumpul bersama, kedatangan mereka membuat aku merasa bahwa aku tidak sendiri. Mereka selalu ada memegang tangan dan berdiri di sampingku. Inilah arti sahabat sesungguhnya. Tidak memgenal perbedaan status, umur dan tempat tinggal. Selalu bisa membantu satu sama lain, merasakan sakit sama-sama dan saling menyayangi di atas nama satu ikatan yaitu teman, sahabat rasa keluarga.


********


Aku menatap Wiwin dengan pandangan sedih saat mengantar dia ke bandara. Walau sudah ditemani Miko tetap saja hatiku seperti tidak rela melepaskan dia jauh dariku. Miko dari tadi memegamg tangan akhirnya memeluk bahuku untuk menguatkan.


Tidak bisa kupungkiri rasa sedih kehilangan masih tidak ingin ku rasakan lagi. Dulu saat sahabatku Rima menikah aku di tinggal sendirian ketika dia pindah kota. Sepertinya hal-hal seperti ini bisa terulang dihidupku. Aku sudah kenyang dengan rasa kehilangan. Jadi salahkah kalau aku tidak mau merasakan itu lagi.


Kepergian Wiwin walau hanya beda kota tapi tetap juga membuatku sedih. Tapi aku sepertinya sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Ini tidak se-sakit saat harus berpisah dan ditinggalkan Bimo.


"You still my sister... Cinta,"


Saat mau pergi Wiwin memelukku dengan erat. Kami dibiarkan oleh Miko dan Alan berdua, mereka bahkan sedang minum kopi.


"Aku percaya Win... begitu juga arti kamu bagiku," kataku pelan mencoba menahan supaya tidak menangis.


"Aku sayang kamu. Janji kamu harus datang saat aku menikah."


"Pasti... aku datang dua hari sebelum acara perkawinan kamu."


Akhirnya air mataku jatuh saat Wiwin memberikan sebuah gelang rantai emas dengan gambar dua merpati lambang setia dalam persahabatan.


"Hadiah pernikahan buat Kia . Teman, sahabat sekaligus keluargaku," lirih Wiwin sambil menunduk.


Setetes air mata jatuh di tanganku saat Wiwin memakaikan gelang ke tanganku. Wiwin menangis, hatinya juga sedih meninggalkan aku. Percayalah saat kamu meninggalkan orang yang kamu sayangi itu sangat menyakitkan.


"Oke stop, sudah waktunya kita berangkat."


Suara Alan membuat aku yang memeluk Wiwin kaget. Dengan cepat ku hapus air mata dan berdiri, begitu juga Wiwin. Mereka kemudian memasuki ruang pemeriksaan dan melambaikan tangan tanda perpisahan.


******


"Masih sedih?"


Miko membuka obrolan saat di mobil. Dari tadi dia cuma diam membiarkan aku menikmati perasaanku sendiri tanpa beniat menganggu. Akhirnya aku bisa sadar dan tersenyum pada Miko.


"Mata kamu sudah sembab begitu. Cukup Beb, aku tidak suka melihatmu menangis."


Aku mengagguk dan memegang tangan Miko.


"Berarti kamu tidak boleh membuatku sampai menangis."


"Aku usahakan."


"Kenapa jadi agak meragukan jawabanmu?"


Miko tersenyum melihatku sudah kembali bisa merasa kesal bahkan menatapnya dengan tajam. Dia tidak jadi menyalakan mesin mobil lalu menatapku dengan serius.


"Aku mohon jangan menangis lagi dalam hal apapun. Aku yang akan memeluk dan menjaga kamu.... belive me."


Seketika aku mendekat dan memeluk laki-laki yang akan menjadi pasangan hidupku. Miko mendekatkan wajahnya, aku merasa sesuatu akan terjadi.


"Jangan menciumku di sini."


"Enggak."


"Ah... bohong."


"Benar."


Miko tersenyum geli melihat gelagatku yang mau menjauhkan badan dari dia. Miko menarikku dengan cepat agar makin mendekat padanya.


"Kalau begitu aku cium saja.... masa bodoh."


**************


Curhat Author.


Maaf saya pada para pembaca, kalau lama sekali tidak update novel Rahasia Hati. Selain kesibukan juga karena saya pikir sekarang saya lebih baik mengutamakan kualitas di banding kuantitas. Saya dulu update teratur tapi level sama pembaca makin berkurang. Jadi saya terpaksa nengambil sikap bahwa, ya sudahlah saya tulis sebaik mungkin saja agar tidak keluar dari alur cerita.


Karena novel ini berkisah tentang kehidupan. Semoga saja ada yang bisa diambil manfaat dari jalan cerita. Kalau untuk komersil sepertinya tidak bisa di harapkan lagi. Bukan saya pesimis tapi realistis. Yang penting hobi menulis saya tersalurkan semoga ke depan ada yang mengenang kisah Kia yang penuh dengan suka duka ini.

__ADS_1


Terima kasih atas semua dukungan yang telah diberikan pada saya, semoga di balas oleh yang di atas. Sekarang saya tidak bisa berjanji akan update teratur, sebisanya saya saja. Semoga masih ada yang mau membaca karya saya, mohon pengertian yang teramat sangat.


Terakhir... semoga kita semua selalu sehat, selalu bahagia dan selamat membaca.


__ADS_2