
Jam di dinding ruang makan menunjukan pukul sembilan pagi. Aku sudah bersiap berangkat ke rumah calon mertua setelah menyelesaikan sarapan. Terlihar Bena masih duduk di dekatku sambil menjilat es krim dia menatapku.
"Morning Bena... pagi-pagi sudah makan es krim." Aku menegur sambil membersihkan sisa es krim di pipinya dan Bena hanya tersenyum manis masih melanjutkan memakan sisa es krim.
"Bena, what food do you like the most?"
"Ice cream... and what about mama Kia?"
"Coklat."
"Bena juga suka coklat," kata Bena cepat.
"Oh ya?"
Bena cuma mengangguk masih dengan kegiatan menghabiskan es krim di tangannya. Aku tersenyum sambil mengacak lembut rambut Bena.
"Coklat! Ada Miko di depan," suara Andi menganggetkan aku yang lagi santai. Dengan cepat aku bangkit dan menemui Miko. Tak lupa aku pamit dengam Bena sambil mencium pipinya.
"Mama Kia pergi ya sayang.... love you Bena........"
Di depan, Miko kulihat lagi bicara sama Papa dan Mama.
"Pergi sekarang?" tanyaku pada Miko.
"Ayo."
Setelah berpamitan pada Papa dan Mama, kami bergegas berangkat.
"Kia.... jangan lupa pesanan Meta," teriak Lala yang ikut mengantar aku dan Miko ke halaman depan.
"Okey... nanti kalau sampai di toko aku telepon."
**********
"Memang Meta pesan apa?" tanya Miko saat di dalam mobil menuju rumah Mama.
"Headpiece yang di pakai saat acara nanti, spesial katanya buat aku," jawabku sambil memasang safety belt.
"Oh."
Tapi Miko mejalankan mobil bukan ke arah rumah mama tapi ke arah panti asuhan.
"Sebelum menikah, ada masalah yang harus kuselesaikan," katanya seakan menjawab tatapan kebingunganku.
Saat kami sampai ku lihat Bunda sedang menyemprot tanaman yang ada di depan kantor yayasan. Bunda langsung tersenyum ke arah kami saat Miko keluar dari mobil. Bunda mempersilahkan kami duduk di kursi depan.
"Bagaimana Bun, sudah di bicarakan dengan Dio?" tanya Miko.
"Belum, Bunda bingung bagaimana caranya Mik. Takutnya akan salah paham nanti," jawab Bunda.
Aku yang ikut mendengar pembicaraan Miko dengan Bunda merasa bingung. Berusaha meraba kearah mana topik yang mereka obrolkan sambil memandang Miko.
"Kalau begitu Miko yang akan bicara dengan Dio."
"Ada apa sih?' tanyaku.
"Masalah Dio, aku mau dia ikut tinggal sama kita, saat kita sudah menikah. Tapi aku belum tanya sama dia dan kamu juga, makanya aku bawa kamu ke sini supaya enak menjelaskan dan menyelesaikan semua Beb."
"Tapi menurut Bunda lebih baik Dio di sini. Selain temannya banyak, kalian pengantin baru masa harus disibukan dengan mengurus anak. Nikmati dulu saja nanti setelah Dio besar baru di ambil."
Bunda berusaha memberi Miko pengertian karena masalah ini menyangkut anak-anak. Bunda tidak ingin Dio merasa terpaksa dan menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan dia nanti.
"Aku ingin Dio ikut sama kita. Bagaimana menurut kamu?" Miko memberitahu keinginannya padaku.
"Baiklah.... aku menurut saja. Tapi harus dengan persetujuan Dio walau dia masih anak-anak, kita harus menghargai pendapatnya. Pokoknya di mana dia merasa nyaman saja."
*****
Dio memandang bingung saat Miko memberitahukan maksud kedatangan kami ke sini. Miko memberitahukan dengan sedikit tegas tapi buru-buru aku merangkul Dio dan menengahi mereka.
__ADS_1
"Papa mau Dio ikut tinggal sama Papa. Itu maunya Papa sekarang, Mama mau dengar maunya Dio. Kita tidak memaksa kalau Dio menolak. Dimana Dio mau tinggal asal nyaman dan buat Dio bahagia,kita akan setuju," dengan lembut aku berkata sambil membelai rambutnya.
Dio memandangku kemudian Miko dan menundukan kepala. Hatiku sudah tidak enak melihat dia demikian. Dengan memberi isyarat pada Miko supaya membujuk Dio untuk tenang.
"Memang Dio enggak mau tinggal sama Papa dan Mama, nanti setelah Papa menikah?"
"Dio enggak punya teman di sana Pa," lirihnya tetap menunduk.
Miko memandang Dio sambil tersenyum, aku senang Miko mau memahami kemauan Dio.
"Jadi Dio mau tetap di sini sama Bunda?"
Dio mengangguk pelan dan sepertinya Miko sudah mengerti.
"Jadi kapan Dio mau tinggal sama Papa? Setelah tamat sekolah?"
Dio masih dengan anggukan kepalanya menyetujui.
"Okey... Papa tunggu yah."
"Dio.... Mama senang Dio kalau mau tinggal sama Papa. Tapi kalau Dio mau begitu kita tidak bisa memaksa. Tapi Dio nanti sekali-kali mau dong nginap di rumah Papa sama Mama."
"Iya... Dio janji Ma."
Miko tersenyum kemudian mengepalkan tangannya ke arah Dio dan disambut Dio dengan hal yang sama.
"Janji laki-laki harus di tepati," ujarnya dan dibalas Dio dengan tersenyum senang. Aku ikut tertawa kecil melihat interaksi di antara mereka.
"Dimana Bimo menemukan bintang kecil ini. Dia mampu membuat Miko dewasa sepenuhnya dan terlihat seperti Papa asli bagi Dio," bisikku dalam hati.
*********
Flasback on*
Sore menjelang senja mobil Bimo melaju menuju pulang setelah seharian bekerja ke arah mess karyawan. Saat itu Bimo bersama supinya asyik mendengarkan lagu di mobil. Betapa kaget Bimo saat supir menekan rem mendadak yang hampir membuat kepala Bimo kena dashbord.
"Ada apa?" tanya Bimo sedikit kesal.
"Yang benar?"
Mereka lalu turun dan terkejut melihat anak usia 3 tahun sedang berdiri di pinggir jalan sambil menangis. Dengan perasaan penasaran dan bingung Bimo menghampiri anak itu.
"Mana Ibumu? Kamu tersesat? Di mana rumahmu?"
Rentetan pertanyaan membuat anak itu memghindar sedikit menjauh dari Bimo karena takut.
"Siapa namamu?"
"Dio," jawab anak itu sedikit cadel.
"Jangan takut, nanti Om antar pulang. Tunjuk aja di mana jalannya yah." Bimo berusaha membujuk anak itu.
"Apa bisa Pak? Dia masih kecil mana bicara tidak lancar, apa ingat di mana rumahnya?" sangsi supir Bimo yang berdiri di sebelah Bimo.
Anak itu masih menangis sesegukkan sambil mencoba memegang tangan Bimo. Entah apa maksudnya tapi dengan cepat Bimo meraih tangan kecil dan tersenyum.
"Om akan membuat kamu bisa bertemu orang tuamu, Om janji. Kalau tidak ketemu Om akan merawat kamu," janji Bimo saat itu.
"Kita ke kantor Polisi dulu melapor, setelah itu kita pulang," ajak Bimo pada supirnya kemudian menggendong anak itu dan membawa ke mobil.
********
Setelah dari kantor Polisi Bimo membawa anak itu pulang ke mess tempat dia tinggal. Anak itu sudah agak akrab dengan Bimo, dia telihat senang ketika di belikan banyak makanan kecil. Tidak lupa Bimo juga membeli beberapa pakaian anak dan keperluan sehari-hari.
Saat Bimo bekerja Dio di titipkan dengan Bibi yang sering membersihkan ruangan Bimo untuk sementara. Untungnya semua orang dan karyawan yang ada disitu mengerti. Pada awalnya memang tidak apa-apa tapi lama kelamaan Bimo kerepotan juga.
Bimo yang tidak pernah mengurus anak-anak dan Bibi tempat menitip Dio juga akan pindah. Jadilah Bimo kebingungan, sudah dua kali dia menanyakan ke kantor Polisi apakah ada yang melapor kehilangan anak tapi dijawab dengan tidak ada. Polisi menyarankan Bimo menitipkan ke panti asuhan supaya lebih gampang bagi Bimo setelah mendengar semua penjelasan Bimo bahwa dia juga harus bekerja.
Bimo menatap wajah Dio saat tidur. Ada rasa sayang di hati kalau berpisah. Walau sebentar dia bersama Dio tapi semua terasa manis apalagi dia ingat bakal anak kami yang pernah ada dan tidak bisa diselamatkan. Perasaan bersalah dan sayang akhirnya menyebabkan Bimo memikirkan ingin benar-benar merawat Dio.
__ADS_1
Tapi apalah daya dia juga harus bekerja dan vonis dokter tentang penyakit yang diderita harus membuat dia mengurungkan niat baiknya. Dengan menghela napas panjang Bimo menelepon Miko.
"Aku ingin menitipkan seseorang di panti asuhan tempat kamu dulu. Katakan bagaimana prosedur yang berlaku di sana."
"Hah... kamu punya anak dari Kia?"
"Iya seorang anak, tapi bukan dari Kia."
"Dari mana?"
"Nemu di jalan."
"Aduh jangan lawak Bim," Miko masih teekejut dan mengira Bimo bercanda.
"Benar... aku tidak bohong, serius ini."
"Kasihan anak sekecil itu di tinggal," kata Miko dan dia jadi teringat saat ditinggal Ibu pergi selama-lamanya dulu saat masih kecil. Hatinya ikut trenyuh mendengar cerita Bimo, bagaimanapun dia juga pernah merasakan hal yang sama dengan Dio.
"Baiklah... besok aku ke sana kita sama-sama menemui Bunda. Yang pasti aku mau lihat anak itu."
"Okey... aku tunggu besok."
Bimo mematikan telepon dan memdekati Dio yang sedang tidur. Dia menatap wajah Dio dengan perasaan sedih.
"Aku pastikan kamu tidak akan merasakan seperti yang pernah aku rasakan yaitu kehilangan sosok ayah. Kalau aku tidak ada nanti masih ada ayah satu lagi yang akan merawatmu. Aku juga pastikan dia mau menerima kamu sebagai anaknya," kata Bimo pelan sambil berbaring di sebelah Dio.
Flashback off*
*********
"Ayo ikut Papa ke rumah Nenek. Mulai sekarang Dio harus tahu kalau Dio juga punya keluarga," ajak Miko dan Dio mengangguk terlihat senang menatap Miko dengan mata berbinar.
"Oh ya... siapkan pakaian Dio, ikut Papa sama Mama ke kota. Sekolah libur dan Dio belum pernah ke kota juga."
Aku jadi senang melihat Miko mengajak Dio bersama kami pulang.
"Ayo kita jalan-jalan nanti sepuasnya di kota."
"Iya Pa," Dio terlihat senang mendengar ajakan Miko berlari menuju kamarnya.
"Mama tidak tahu sama Dio? Bimo dan kamu tidak pernah cerita?" tanyaku kaget mendengar ajakan Miko tadi.
"Aku menunggu saat yang tepat. Takut kalau Mama tidak bisa menerima Dio. Tapi kemarin aku sudah bicara sama kak Lina, mas Tito dan Tari mereka semua sangat antusias kalau aku bisa membawa Dio ke rumah dan memperkenalkan pada Mama dan mereka," jelas Miko.
"Kenapa kalian suka sekali menyimpan sesuatu dari orang terdekat sih? Kamu dengan Bimo sama... selalu ada rahasia."
"Tapi aku tidak pernah punya rahasia apapun denganmu Beb."
Aku memandang Miko dengan penasaran.
"Right... you dont belive it?"
"Aku percaya," jawabku di sambut pelukan hangat Miko.
"Ayo Pa," suara kecil membuat senyumanku makin lebar.
"Dio ganteng banget," pujiku melihat Dio berdiri di hadapan kami dengan pakaian rapi.
"Iya dong... siapa dulu Papanya," celutuk Miko yang membuatku dan Dio tertawa.
"Ayo kita temui Nenek, kita bikin surprise buat dia," ajak Miko disambut anggukan kepala Dio.
Kami berangkat menuju rumah Mama setelah berpamitan dengan Bunda. Tak lupa memyerahkan undangan pada Bunda dan Bunda berjanji akan datang lebih awal nanti.
***********
**Bagaimana reaksi Mama saat bertemu dengan Dio, anak angkat Bimo dengan Miko? Apa akan ada air mata? Apa Dio akan bisa diterima dan menerima semua orang dari keluarga Miko? Nantikan saja.
**Maaf lagi buat reader tercinta Rahasia Hati karena selalu terlambat up cerita. Semoga masih ada yang menanti kelanjutan cerita ini. Tidak akan pernah keluar jalur karena semua masih berhubungan dengan tokoh-tokoh utama. Dan Bimo hadir lagi di bab ini walau di flashback. Semoga bisa mengobati kangen pembaca pada Bimo, jadi tolong kasih bunga buat Bimo, Miko dan Kia dong atau kopi juga boleh 😁
__ADS_1
**Terima kasih pada semua yang mendukung novel ini. Pada sesama penulis mari kita saling dukung jangan lupa tinggalkan jejak supaya saya bisa feedback walau terlambat. Mulai saat ini saya akan feedback yang meninggalkan jejak saja karena saya takut kalau nanti kedatangan saya kekarya teman-teman membuat tidak nyaman. Kalau sudah meninggalkan jejak di karya saya berarti dia mau di feedback.
**Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia apapun keadaannya, karena sehat itu penting dan utama. Thank you so much to all the readers, you are the best guys, meet in the next chapter.