
Cuaca senja agak dingin, hujan gerimis mulai turun . Angin bertiup agak kencang, beberapa helai daun pohon dipinggir jalan berguguran menerpa kaca depan mobil. Hujan deras mulai turun, butiran yang jatuh membuat embun di kaca mobil kak Santi.
Kak Santi mulai menuju rumah makan yang ingin kami kunjungi.Tempat parkir agak luas membuat kak Santi agak leluasa memarkir dibantu oleh pegawai parkir yang saat hujan tetap semangat kerja. Dengan sedikit berlari kami memasuki pintu depan melindungi kepala dengan tas agar terhindar dari tetes air hujan.
Setelah memesan beberapa menu makanan kami bersantai sambil menikmati alunan lagu yang sedang diputar.
"Sudah bisa menghubungi Miko?" Kak Santi memandangku seraya mengibaskan sisa air hujan di lengannya.
"Belum, tapi sudah aku chat kalau kita akan makan dulu."
"Seberapa besar percaya kamu sama Miko?"
Aku mengerutkan kening agak bingung dengan pertanyaan itu hingga membuat kak Santi tertawa.
"Cuma ingin tahu saja, tapi kalau aku lihat Miko sekarang, dia masih seperti dulu. Selalu care sama kamu."
"Aku tidak pernah menyangsikan pasangan Kak, dari dulu hingga sekarang. Kepercayaanku pada Miko penuh, karena cuma itu yang bisa aku lakukan. Buat apa curiga, itu tidak sehat buat suatu hubungan."
"Good," ucap kak Santi.
Aku tersenyum sambil menyambut minuman yang diberikan pelayan ," aneh sekali pertanyaan Kakak."
"Cuma mau tes aja, seandainya suatu saat Miko bohong sama kamu."
"Bohong dalam hal lain bagiku masih termaafkan asal jangan selingkuh, itu hal yang sangat fatal dan aku masih trauma ."
"Aku mengerti bagaimana hancurnya kamu dulu ditinggal Bimo menikah. Aku bangga kamu bisa kasih kepercayaan begitu besar sama Miko."
"Semoga hal yang lalu tidak akan kurasakan kembali Kak. Walaupun dulu sebelum nikah sama Miko aku sudah tahu bagaimana kehidupan dia, semua dia ceritakan. Aku rasa tidak ada yang tertinggal."
"Semoga.... ayo makan."
Kami menyantap hidangan sambil terus berbincang bermacam aneka masalah.
*******
Lampu rumah sudah menyala saat aku datang. Aku berpikir pasti Miko sudah sampai duluan. Bergegas aku masuk setelah mobil kak Santi sampai di ujung gapura masuk perumahan.
Betapa kagetnya ketika kulihat Miko yang masih memakai baju kerja ada di dapur. Dengan serius dia memasak sesuatu buat makan malam. Dia tersenyum saat melihat aku datang, " malam Beb."
"Belum makan?"
"Belum sempat." Jawab Miko sambil mengaduk saus pot di depannya.
"Masak apa? Kalau tadi telepon bisa aku bawakan makanan."
"Masak indomie, kamu mau?"
Aku menggeleng cepat, Miko malah tertawa sambil menyiapkan mangkuk.
"Takut gemuk dan aku sudah makan tadi, masa malam makan yang berat melulu. Aku temani kamu saja ya."
Dengan cermat kuperhatikan Miko membuat masakan. Dalam hati aku kagum dia begitu telaten dan rapi dalam memasak, tidak seperti aku yang kalau memasak selalu berantakan.
"Hebat... bisa begitu bersih dapur saat kamu masak," gumamku sambil mengambil air di kulkas.
"Langsung di bersihkan kalau sudah selesai memotong jangan dibiarkan berserakan."
"Membersihkan bisa nanti aja kalau sudah selesai."
"Tidak enak kalau dipandang, oke.... selesai. Ayo kita ke meja makan," ajak Miko.
Aku cuma memandang Miko saat dia menyantap makanan di meja, tanpa bicara sepatah katapun. Membiarkan dia menikmati dan bagiku pemandangan langka melihat dia memasak sendiri. Setelah mie di mangkuk tinggal separuh baru Miko menatapku yang duduk di depan dia sambil memainkan handphone.
"Tidak apa tadi pulang aku enggak jemput?"
"Enggak... kan bisa naik taksi online."
"Memang kamu sibuk dalam minggu ini? kalau sibuk besok aku pakai mobil sendiri aja."
Miko diam lalu memandangku kemudian melanjutkan makan.
__ADS_1
"Besok mungkin masih ada masalah yang harus aku selesaikan. Kamu enggak apa kalau aku terlambat jemput?"
"Enggak... besok aku berangkat sendiri deh."
Miko mengangguk dan menghabiskan suapan mie terakhir.
"Memang ada masalah apa?" Tanyaku pelan.
"Adalah... cuma sedikit mungkin besok sudah beres," jawabnya.
"Tidak mau cerita? mungkin aku bisa bantu."
Miko menggeleng, dia lalu membersihkan bekas makan dan mencuci mangkuk.
"Benar tidak mau cerita, aku jadi curiga. Apa masih masalah kantor?"
"Bukan... nanti setelah semua beres aku cerita sama kamu Beb, tanpa tertinggal satupun," jawab Miko menuju ke arahku dan memeluku dari belakang.
"Ayo mandi dulu setelah itu kita santai, nonton tv sambil rebahan di kamar dan aku bisa memeluk kamu," ajaknya tak lupa mencium pipiku.
Aku jadi tersipu, saat Miko menarik tanganku dengan mesra menuju kamar.
*****
Jam masih menunjukan pukul tujuh lewat beberapa menit, saat aku memasuki parkir kantor. Masih terlalu pagi ternyata aku datang. Terlihat hanya beberapa mobil yang baru ada, biasanya aku berangkat agak siang tapi tadi aku berangkat duluan dari Miko karena takut jalan macet.
"Halo Kia, selamat pagi."
Seseorang menepuk bahuku lembut dan ternyata ka Lily yang ada di belakangku. Sambil merangkul tubuhku dan memegang tangan, dia kemudian mengajak aku masuk bersama.
"Pagi Kak," aku membalas rangkulannya.
"Bagaimana pernikahanmu?"
Walau satu kantor dan sering bertemu aku jarang punya waktu bersama kak Lily karena ruangan kami berjauhan bahkan kalau mau bertemu harus melewati beberapa blok ruangan divisi lain. Juga karena kesibukan masing-masing menyebabkan jarang bertemu kecuali ada rapat atau kegiatan kantor yang membuat kita harus kumpul. Lagipula kak Lily akan segera pensiun jadi agak jarang di kantor.
"Baik kak... tidak ada kendala."
"Syukurlah... tapi jangan lupa pernikahan yang baik-baik saja belum tentu bisa selamanya begitu. Intinya harus tetap terus terang sama pasangan. Kalau kamu merasa sesuatu menganggu antara kalian harus bicara jangan disimpan supaya Miko juga tahu kamu tidak suka."
"Usahakan selalu komunikasi, jangan karena kamu sudah tahu dia di kantor, kamu jadi biasa aja. Tetap harus beri kejutan, telepon atau temui dia kalau ada waktu."
"Terima kasih nasehat pagi ini Kak. Nanti ajak semua kumpul deh, kita makan bareng."
"Atur saja, semoga waktunya tepat."
"Kia duluan Kak, mau periksa jadwal hari ini."
"Okey... bye Kia," kak Lily meneruskan langkah menuju lift.
******
Saat aku sudah sampai tiga meter dari ruangan, terlihat kak Arya berdiri tepat di depan pintu. Dia seperti sengaja menunggu aku datang. Melihat tatapan selidiknya aku menjadi curiga.
"Pagi Kia... kamu baik-baik saja kan?"
"Baik lah... emang ada sesuatu hal yang mengganggu?" Aku balik bertanya sambil menghentikan langkah tepat di depan kak Arya.
"Benar baik saja? Tidak terjadi apapun?"
Pertanyaan sangsi kak Arya berlanjut saat memasuki ruangan. Dia malah duduk di sofa dan tetap memandangku yang lagi menaruh tas di meja. Aku kemudian ikut duduk di sofa, berusaha santai supaya bisa mengorek informasi dari kak Arya. Kenapa dia sampai tidak percaya aku baik saja.
"Memang Kakak tahu apa, sampai bertanya begitu?"
Dia tidak menjawab, cuma mengangguk kecil sambil tersenyum. Aku jadi semakin penasaran tapi dia malah sibuk minum teh hangat di meja.
"Aneh saja... aku lihat kamu berangkat sendiri tadi."
"Miko harus menyelesaikan sesuatu beberapa hari ini jadi aku tidak mau merepotkan."
"Dia cerita apa tentang sesuatu itu?" kak Arya menatapku dengan cemas.
__ADS_1
"Enggak."
"Kamu enggak nanya?"
Aku menggeleng heran melihat kak Arya kaget seperti itu.
"Memang Kakak tahu apa? Apa ada sesuatu yang aku belum tahu?"
Pertanyaan beruntunku pada kak Arya membuat dia mengurungkan niat yang mau berdiri jadi duduk kembali. Dia terlihat menarik napas panjang dan mencoba membuatku tidak gelisah.
"Kia... kamu tahu kan bagaimana kehidupan Miko sebelum menikah denganmu? Seandainya ada sesuatu yang kamu dengar tidak baik saat itu, apa reaksimu?"
"Itu kan masa lalu, buat apa di permasalahkan."
"Jadi kamu tidak peduli tentang masa lalu Miko?"
Aku menggelengkan kepala dengan pasti.
"Aku juga punya masa lalu yang kelam, kita semua punya masa lalu. Tidak etis kalau aku protes tentang masa lalu Miko sedangkan aku.juga punya masa lalu yang hitam."
"Jadi kamu tetap percaya Miko?"
"Aku percaya Miko sama ketika aku percaya dengan Bimo, bagiku itu tidak berubah."
Diluar dugaan kak Arya tertawa senang. Dia bahkan memegang kepalaku dengan gemas.
"Kamu juga harus percaya Kia, kalau aku mendukung kalian. Jangan pernah mengambil keputusan tanpa bicara sama Kakakmu ini."
"Iya."
"Tetap seperti itu jangan berubah... janji ya," tegasnya.
Aku tersenyum sambil meninju pelan bahunya ketika berjalan ingin keluar ruangan kantorku.
"Kakak juga janji... harus tetap di belakangku, apapun yang terjadi."
Kak Arya kembali tersenyum lebar dan menautkan ibu jari dengan telunjuk menyatakan setuju dan keluar menuju ruangannya.
*********
Jam tiga siang ini terasa panas, untungnya ac ruangan masih bisa di tambah dingin. Lisa masih sibuk dengan laptop, dia terlihat serius tanpa menoleh kemanapun. Aku memandang ke arah luar terasa silau, matahari seakan memancarkan penuh cahaya ke bumi.
Tiba-tiba telepon kantor berdering, segera Lisa mengangkat dan memandangku.
"Kak Kia... ada tamu di lobi tunggu bawah."
"Siapa?"
"Tidak tahu... kata satpam seorang wanita."
Aku mencoba mengingat kalau hari ini punya janji. Tapi nihil, sepertinya tidak ada.
"Baiklah... aku temui saja dia. Bilang sama satpam suruh tunggu."
Melangkahkan kaki dengan bergegas karena rasa penasaran, membuat aku hampir menabrak seseorang saat ingin masuk lift.
********
Aku menghentikan langkah seketika, saat melihat seorang wanita yang sedang berdiri memandang lukisan di lobi. Wanita dewasa sekitar 25 tahun lebih, aku melangkah mendekatinya. Dia terlalu menikmati lukisan hingga tidak merasa ada aku yang berdiri di sebelahnya.
"Bagaimana lukisan matahari terbit itu menurutmu? Mengapa matahari tidak bisa satu langit bersama bulan? Kenapa salah satu dari mereka harus bersembunyi kalau yang lain muncul?"
Dia kaget dengan perkataanku dan langsung menoleh cepat ke samping. Terlihat muka yang agak pucat dengan sorot mata tajam. Aku sedikit terkejut, wanita ni melihatku seperti punya sesuatu yang berbahaya itu tersirat dari matanya.
"Salam kenal... aku Kia," sapaku tersenyum sambil mengulurkan tangan yang disambut agak dingin.
"Saya Gadis."
*************
**Ketika kepercayaan diberikan seseorang secara tulus dan tanpa terbalut apapun, itu pasti sangat membahagiakan tetapi satu kali saja terjadi pengkhianatan atas itu maka jangan pernah berpikir akan mendapatkan kembali. Bisa saja hal itu kembali tapi pasti penuh dengan keraguan dan kepalsuan.
__ADS_1
**Ingatkah tentang cerita si pengintip, dia selalu melihat kamu dari jauh tapi tak berani berhadapan. Jangan berpikir dia penakut tapi dia percaya ada waktu yang akan berputar mungkin saja dia menunggu itu. Ketika bom waktu itu meledak maka dia bisa muncul entah dalam bentuk dia sendiri atau orang lain. Tetapi satu yang harus diingat, bahwa tetap kamulah yang pegang kendali atas dirimu sendiri.
**Halo reader yang selalu menunggu Kia, semoga masih betah di sini karena selalu lambat update. Saya selalu minta maaf atas semua dan terima kasih masih mendukung Kia. Hal yang baik pasti akan diganti dengan yang baik pula. Jangan lupa vote, like, komen dan gift kalau mau. Stay health... stay strong... stay happy and stay here with Kia, thank you.