Rahasia Hati

Rahasia Hati
NEW DAY


__ADS_3

Setelah tiga hari aku dan Miko berkabung atas kematian Mama, kami kembali ke kota untuk memulai pekerjaan. Cuti dan libur bulan madu sudah selesai. Rumahku yang sudah di renovasi siap kami tempati. Bagi kami cukup sudah untuk semua kesedihan yang dialami sekarang bersiap menyongsong kehidupan baru yaitu rumah tangga aku dan Miko.


Miko bahkan turun langsung melihat saat rumah di kerjakan temannya yang seorang arsitek design. Aku saja belum melihat hasilnya seperti apa tapi kata Miko semua sangat memuaskan. Jadi sepanjang jalan pulang aku sangat penasaran seperti apa rumahku yang baru.


Aku hampir tidak percaya melihat hasil renovasi ternyata mengagumkan. Semua sesuai dengan warna kesukaanku walau semua dikerjakan desainer tapi untuk furniture dan barang tetap kami menentukan. Aku akhirnya bernafas lega rumah impian kami berdua selesai dengan sangat menakjubkan dan indah.


***********


Something in your eyes.......


Tell me who I am .............


Something in my highs......


whenever you're near.........


Suara lembut musik membangunkan tidurku, saat membuka mata kulihat Miko tidak ada. Pandanganku berputar ke seluruh ruangan mencari keberadaan Miko, tapi tetap tidak ada. Aku bergegas bangun ingin mencari keluar dan ternyata dia baru keluar dari bathroom, baru selesai mandi.


"Kenapa tidak membangunkan aku, sebentar aku buatkan sarapan," ucapku panik sambil berlari ke arah pintu.


"Tidak usah... sudah aku buat. Mandi saja kita sarapan dan langsung berangkat, aku ada meeting pagi ini."


Miko mengatakan sambil memakai baju yang sudah siap di lemari. Tanpa basa basi aku langsung mengikuti perintahnya, karena semua sekarang beda aku harus sarapan pagi sama Miko. Dulu saat sendiri aku bebas mau sarapan kapan dan di mana saja.


"Kenapa tidak membangunkan aku tadi," sungutku kembali ketika selesai mandi.


"Tidur kamu nyenyak Beb, aku tidak sanggup melihatmu kelelahan setelah olag raga tadi malam," Miko melihatku dengan senyum serta tatapan menggoda.


"Ih... kamu nakal."


**********


Ruangan dingin menyambut hari pertamaku masuk kantor setelah menikah. Senyum manis Lisa menyapa dan kak Santi yang duduk di sofa memandang dengan sorot mata gembira. Ternyata mereka sudah menungguku dari tadi.


"Akhirnya pengantin baru datang. How you fell?"


"Good and sad," jawabku sambil.duduk di depan kak Santi dan di samping Lisa.


Terlihat mereka berdua kaget dengan sahutanku.


"Why good? Why sad? Cerita dong jangan membuat kita penasaran."


Kak Santi memperbaiki letak duduknya menjadi lebih dekat dan memandangku heran. Mungkin dia mengira bulan madu kami tidak berjalan lancar. Saat aku ingin menjelaskan semua, tiba-tiba OB datang. Dia menyerahkan minuman dan snack di mejaku dan Lisa.


"Terima kasih."


Setelah OB berlalu keluar baru aku melanjutkan cerita. Karena wajah kak Santi masih terlihat penasaran.


"Yang mana dulu... baik atau buruk?"


"Terserah."


Kak Santi berhenti sejenak dan memandang ke arah Lisa yang duduk di sampingku.


"Lisa... gantikan Kia rapat di ruangan pak Riko sekarang,'" suruh kak Santi, mungkin dia baru sadar kalau ada Lisa masih di ruangan. Lisa mengangguk setuju dan bergegas keluar dengan membawa berkas kantor. Aku memandang dengan bingung tapi kak Santi cuma mengangkat kedua bahu.


"Bukan apa apa sih... cuma enggak enak. Dia belum menikah takut terkontaminasi kalau kamu cerita nanti," jelas kak Santi sambil tersenyum geli.


"Ahhh.... ok."


"Sad?"


"Mama Miko meninggal tepat hari ketiga bulan madu kami. Jadi maaf Kak, aku tidak bawa oleh-oleh. Kami harus buru-buru pulang."


"Benarkah? Bilang sama Miko aku ikut belasungkawa. Maaf juga kami tidak bisa datang."


"No problem Kak... kita mengerti kok."


"Good?"


"Ehmmm... Miko ternyata sangat romantis kalau........"


"Kok dihentikan, cerita yang benar."


"Miko berhasil mematahkan pikiranku bahwa wanita harus terima apa saja dalam berhubungan."


Kak Santi memandangku dengan tatapan lebih bingung.


"Yah... selama ini yang aku tahu dan alami dulu. Bahwa wanita nurut aja apapun yang pasangan kita lakukan. Tapi ternyata dia membuat pikiranku terbuka bahwa wanita bisa juga aktif bahkan dominan dalam berhubungan. Jangan diteruskan lagi ceritanya please, aku bisa malu."


Seketika kak Santi tertawa keras mendengar penjelasanku.


"Okey... aku memang bodoh dalam hal itu, puas." aku mengakui dan membuat kak Santi tertawa makin keras lagi.


"Ini kantor Kak," ujarku membuat kak Santi memghentikan tawa seketika.

__ADS_1


"So mrs Miko... how about you husband?"


"Hot... and you know... his foreplay menakjubkan."


"You like it?"


"Yes... banget."


Kami tertawa bersama, kak Santi bahkan melemparkan bantal sofa ke arahku. Kemudian dia menelepon seseorang sambil menunjukan layar handphone padaku, bertuliskan nama suaminya.


"Atur jadwal sayang, kita bulan madu lagi," pintanya manja sambil berdiri ingin meninggalkan aku yang masih tertawa geli. Aku berusaha mendekat tapi di dorong menjauh oleh kak Santi.


"Abaaaang... selamat berbulan madu lagi," aku berteriak supaya didengar suami kak Santi. Dengan cepat ditutupnya panggilan telepon dan memandangku dengan tegas.


"Kita teruskan nanti, cerita kamu harus lengkap semua jangan ada yang tertinggal. Ikut aku menemui abang ajak Miko sekalian juga, kita makan siang bersama."


"Why?"


"Biar ketularan hot kayak Miko."


*********


Sementara di depan.pintu utama kantor, Miko kaget melihat siapa.yang berdiri menunggu. Dia tersenyum dengan wajah penuh tanya berdiri di depan pintu masuk.


"Hai Bro... how new day buat pengantin baru?"


"Bisa nggak kalo nanya jangan di tempat umum," kesal Miko berlalu dan dengan cuek.


"Hey... ini sepi cuma ada satpam."


"Ayo ke ruanganku."


"Oh ya... kopi saya antar ke ruangan sekarang," pinta Miko pada OB yang berpapasan dengan mereka.


"Baik Pak," OB bergegas menuju ruangan Miko.


"Kenapa penasaran sekali sih, sama privacy saya. Kalau Kia tahu bisa kena gampar you pakai koran."


"Makanya aku langsung ke sini... lebih aman nanya sama kamu," sahut Arya terkekeh.


"Gimana?"


"Ya begitulah... kayak kamu nggak pernah lakuin saja," Miko duduk sambil menyeruput kopi yang masih panas.


"Beda Bro, main-main sama serius."


"You dominan? Keren Bro... lucky man," kak Arya tersenyum sambil menaikan kedua alis tanda respek.


Miko terseyum sambil membayangkan saat kami bersama.


"Hari kami baru dimulai, aku berharap ke depan kami bisa melewati apapun cobaan bersama. Kia masih seperti dulu, manja sedikit ceroboh perlu penyesuain extra supaya tidak ada gesekan masalah."


"Semoga... aku percaya Mik, kalian pasti bisa."


"Harus... itu sudah komitmen kami berdua. Okey... aku ada rapat di lantai lima, mau nunggu di sini atau balik ke kantor kamu?"


"Aku ikut rapat juga menggantikan Riko. Dia masih ada urusan di kantor dengan tim Kia."


"Ayolah nanti terlambat," ajak Miko.


***********


Handphone Miko bergetar sampai dua kali menandakan panggilan masuk. Dia melihat dan tertera tulisan my wife. Segera dimatikan dengan berat hati dan mengirim chat bahwa dia sedang rapat.


Setelah selesai rapat Miko mencoba menghubungiku, dia penasaran kenapa aku sampai menelepon.


"Maaf aku lupa, kamu tadi ada rapat."


Aku jadi merasa agak bersalah karena mengganggu pekerjaannya.


"Ada apa?"


Suara lembut Miko membuatku senang, berarti dia tidak marah pikirku.


"Diajak makan siang sama kak Santi dan Abang, bisa nggak Beb?"


"Oh ya... bisa kok. Masih agak longgar jadwal kerjaku di hari pertama. Nanti siang aku akan jemput kamu di kantor."


"Tidak usah, aku sama kak Santi. Kamu langsung ke lokasi aja biar enggak banyak makan waktu di jalan."


Aku bicara selembut mungkin supaya Miko tidak salah paham.


"Ya sudah, nanti kirimkan alamatnya."


"Thank you Beb... I miss u," bisikku membuat Miko tertawa senang.

__ADS_1


*******


Makan siang bersama kak Santi dan Abang siang itu di sebuah restoran dengan pemandangan alam gunung. Agak sedikit keluar kota tapi masih bisa dijangkau hanya satu jam lewat jalan tol.


Hampir satu jam kami makan bersama sambil bercanda dan meledek, membuat kak Santi membulatkan tekad untuk melakukan jalan-jalan berdua dengan Abang. Aku senang melihat kebersamaan mereka, yang menikah sudah lebih sepuluh tahun tapi masih mesra.


"Cinta itu ibarat tanaman, harus dirawat disiram dan diberi pupuk supaya tumbuh subur. Jangan dibiarkan begitu saja bisa layu nanti. Aku sama abang selalu punya waktu buat kencan. Kami mengulang masa-masa pacaran dulu. Minggu kemarin kita berdua makan jagung bakar di pasar malam, tidak perlu mahal yang penting quality time," jelas kak Santi ketika kutanya apa resep mereka bisa awet sampai sekarang.


"Yang pasti jangan pernah menunda menyelesaikan apapun masalah kalian berdua. Jangan pernah membiarkan pasangan salah paham terlalu jauh. Jelaskan atau katakan saja apa yang mengganjal di hati, selesaikan semua baru bisa berdamai lagi," Abang ikut menimpali.


"Terima kasih Bang... lain waktu kita bisa diskusi lagi." Miko berkata sambil bersalaman dengan Abang.


"Jangan lupa yang kita bicarakan tadi."


"Siap Bang, saya akan kirim alamatnya."


Aku menatap Miko penasaran begitu juga kak Santi.


"No... ini area laki-laki," ucap Miko sambil menggeleng kepala dan tersenyum misterius dengan Abang.


"Heh... mencurigakan," desisku, Miko hanya tertawa dan mengajakku pulang.


********


"Mau kembali ke kantor atau kita langsung pulang?" Miko membukakan aku pintu mobil.


"Emang kamu bisa pulang cepat hari ini?"


"Sudah lewat jam 15.00, jadi malaslah balik ke kantorku. Lagian aku mau ketemu Riko tadi dia tidak hadir rapat masih ada yang harus dibicarakan."


Miko mulai menjalankan mobil menuju kantorku. Aku tersenyum senang, hari pertama masuk kerja, bisa ditemani dan berangkat bareng suami.


"Kelihatannya kamu senang Beb."


"Gimana enggak senang, bisa dekat sama kamu kalau kerja."


"Jangan sampai kurang fokus yah... nanti kena SP sama kak Santi."


"Heh... mengganggu mood baik aku," keluhku sambil cemberut tapi kemudian tersenyum kembali ketika tangan kami saling menggenggam.


**********


"Makan malam kita pesan saja Beb," kata Miko saat kami baru sampai di depan rumah.


"Baiklah... aku mau bersihin badan dulu. Setelah itu baru siap makan malam."


"Pesan makanan apa? Paket lengkap plus sayur atau fast food?"


"Tempat kita makan biasa... jangan lupa capcay sayur," pintaku.


"Okey... you get Beb."


"Aku mandi duluan."


Aku tersenyum sambil berharap semoga Miko sekarang akan tetap seperti ini. Sebagai suami yang sayang, pengertian dan sabar.


*****


Kulihat Miko masih sibuk dengan handphone ketika aku selesai mandi.


"Belum selesai?"


"Sudah, cuma lagi chat sama Arya ada yang mau dibicarakan." Kemudian dia berhenti menaruh handphone di nakas dan menuju kamar mandi.


Suara bel berbunyi pertanda pesanan kami sudah datang. Kami makan berdua sambil membicarakan perihal kantor dan lain-lain. Semua berjalan dengan baik saja sekarang, kami hanya mencoba menjalani hidup dengan semestinya. Miko bahkan berkata tidak berharap apapun dariku cukup ada di sisi dia. Aku bersyukur mendapatkan Miko, dia lebih pengertian dari yang kukira. Kami berharap apapun  yang terjadi nanti semua bisa kami lalui dengan sabar. Masa depan kami hanya ingin bahagia seperti sekarang.


********


Malam beranjak larut, aku masih bersandar di bahu Miko sambil mencoba memejamkan mata. Miko yang  sedari tadi sibuk dengan laptop di paha dan bersandar di head bed seakan mengerti bahwa isterinya sudah mengantuk. Dia menghentikan kegiatan kemudian membaringkanku di bantal tepat di sampingnya.


Masih dengan lembut Miko memelukku, dia berbaring menyamping dengan satu tangan menopang wajah berhadapan denganku. Perlahan dia mencium keningku sambil menatap mesra.


"Good night Beb."


"Thank you for all," ucapku setengah berbisik. Masih dengan mata mengantuk aku tersenyum merasakan belaian tangan Miko.


"You know Beb... hari pertama kerja dibikinin sarapan sama suami itu sesuatu banget," kubelai pipinya perlahan kemudian hanyut tertidur.


******


**Bahagia itu ternyata mudah, cukup menerima dan bersyukur dengan apa yang kita punya. Keinginan boleh banyak, usaha boleh keras, cita-cita boleh tinggi tapi jangan lupa mungkin yang kita capai sekarang adalah yang terbaik buat kita. Semesta sudah mempunyai porsi sendiri untuk kita masing-masing tidak kurang, tidak lebih dan tidak tertukar.


**Maaf yang besar saya sampaikan pada reader Rahasia Hati karena selalu terlambat update. Saya maklum kalau ada yang kecewa, kesal bahkan marah tapi mohon maaf, saya juga harus memikirkan kehidupan real. Ini bukan masalah sibuk, malas atau apapun tapi lebih pada prioritas.


**Terima kasih pada reader yang masih menunggu dan mendukung novel ini. Semoga masih ada yang mau membaca cerita Kia dan saya harap cerita ini bisa menghibur reader semua. You are the best guys, dukungan kalian membuat saya semangat dan bahagia.

__ADS_1


**Please fav, like, komen, vote and gift serta doanya semoga saya bisa up lebih sering. Thank you... stay happy... stay strong... stay healthy and stay here with Kia. See you next time.


__ADS_2