Rahasia Hati

Rahasia Hati
Penjaga Untuk Kia


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Papa dan aku kemudian menjalankan mobilku menuju ke rumah Bimo. Tetapi sebelum ke rumah Bimo aku singgah di sebuah mesin ATM yang ada di depan minimarket dan bermaksud mengambil sejumlah uang untuk diberikan pada Mama Bimo. Aku menarik uang dari rekening yang diberikan Bimo padaku lewat luthfi. Aku mengambil uang sebanyak Rp 5.000.000 untuk diberikan pada Mama Bimo.


Aku sampai di rumah Mama Bimo dari jauh kulihat Tari sedang menyapu halaman dan Mama Bimo duduk di teras sedang melihatnya. Aku bergegas menghampiri mereka kemudian aku duduk di kursi sebelah Mama Bimo dan aku segera menyerahkan uang yang ku ambil dari ATM tadi. Terlihat Mama Bimo bingung ketika aku menyerahkan uang itu dan Tari juga terlihat heran karena dia tidak menyangka aku mau memberikan uang pada mereka


"Ini Mah... uang untuk Mama," kataku sambil menyerahkan uang itu.


Mama Bimo terlihat masih bingung dan ingin menolak pemberianku tapi aku tetap memaksa memberikannya. Mama bimo terlihat sangat terharu ketika aku memberikan uang tersebut.


"Jangan Kia, Mama tidak mau menerimanya," kata Mama Bimo sambil terisak dan berusaha mengembalikan uang itu padaku.


"Uang Bimo juga Mah, uang buat kami menikah dulu dan ini hanya sebagian Kia akan berikan pada Mama tiap bulan," kataku sambil menyerahkan uang itu kembali.


"Mama tidak bisa menerimanya Mama terlalu banyak bersalah padamu...Mama tidak mau Kia," ucap Mama Bimo sambil menangis.


"Kia pernah mengandung anak Bimo Mah, itu cucu Mama juga terima ini Ma... semua demi Bimo dan demi Cucu Mama," ucapku sambil terisak juga.


Mama Bimo menangis dengan keras ketika aku mengucapkan kata itu. Mungkin beliau merasa bersalah atas perbuatannya dulu yang pernah dilakukan padaku.


"Mama malu padamu, Mama sudah jahat tapi kamu masih baik pada Mama," kata Mama Bimo sambil tersedu.


Tari yang dari tadi menyapu langsung memeluk Mamanya dan dia juga ikut menangis menyaksikan semuanya percakapanku dengan Mamanya.


"Maafkan keluarga kami, Kak," kata Tari pelan.


Aku mengangguk kepala dan menghapus air mata di pipiku kemudian memegang tangan Mama Bimo sambil menatapnya.


Setelah aku paksa akhirnya Mama Bimo mau menerima uang yang kuberikan dan aku kemudian pamit sambil tersenyum kepada Mama Bimo dan Tari.


"Kia pergi dulu ya. Ma... Kia mau menengok Bimo," kataku pada Mama Bimo.


*************


Aku bermaksud Menemui Bimo di makamnya sebelum ke sana aku singgah di toko bunga. Aku membeli bunga tulip putih bunga kesukaanku yang akan kuberikan pada Bimo.


Ketika sampai di tempat pemakaman suasana sangat sepi walaupun hari masih siang. Aku berjalan perlahan menuju pusara Bimo kemudian aku duduk di samping batu nisannya. Aku kemudian menaruh bunga yang kubeli tadi di depan nisan Bimo.


Tak terasa air mataku jatuh saat menatap nisan itu. Aku kemudian membelai batu nisan Bimo seolah-olah itu dia sambil menangis terisak. Lama aku di situ hanya diam dan menangis dan kudengar langkah kaki perlahan mendekat.


Aku terkejut melihat Luthfi yang datang dan dia tersenyum kemudian menghampiriku. Dia menyalakan rokok dan menaruhnya di atas makam Bimo.


"Kata Bimo sebelum meninggal kalau mengunjunginya bawakan rokok," ujarnya sambil tersenyum.


Aku ikut tersenyum dan hampir tertawa mendengar kata yang diucapkan Luthfi.


"Kalian memang sahabat yang hebat," kataku sambil menggeleng kepala.


"Sebentar dulu di sini nanti kita pulang sama-sama," katanya.

__ADS_1


Aku mengangguk setuju dan menunggunya sebentar memberikan waktu buat Luthfi bicara dengan Bimo.


"Sudah baca catatan Bimo?" tanyanya dan aku cuma mengangguk.


"Bimo tidak mau mengatakan padamu tentang perbuatan Papamu karena akan menyakiti banyak orang," jelas Luthfi sambil menatapku.


"Dia sangat menyesal akhirnya, kami bahkan mengikutimu seharian saat melihatmu dengan pria itu dia memutuskan untuk menjauh supaya jangan menganggu kebahagiaanmu," lanjutnya.


"Aku tahu kalian mengikutiku, aku juga sengaja berenang dan mencium Dony supaya Bimo cemburu," kataku sambil tersenyum pada Luthfi.


"Benarkah? Wah...malunya," kata Luthfi sambil menutup mukanya.


"Bimo sangat mencintaimu, kisah cinta kalian tidak ada duanya," kata Luthfi sambil memandangku.


"Kapan dia memutuskan untuk memberikan matanya pada Papaku?" tanyaku.


"Setelah Papamu bicara menyuruh pada Bimo untuk melamarmu dan Bimo berbicara pada Dokter, aku yang menanda tangani sebagai Walinya," kata Luthfi.


"Sampai akhir Bimo memanggil namamu malam itu sebelum tidur dia bilang padaku, coba lihat Kia sekali-sekali tolong di bantu kalau dia kesulitan," lanjut Luthfi.


Aku memandang makam Bimo.


"Terima kasih, Bim, I love you Bim," kataku pelan sambil menyentuh nisan Bimo.


Tak lama ada sebuah mobil datang dan Heri ternyata. Dia langsung menghampiri kami dan dia lebih parah dari Luthfi malah membawa minuman buat Bimo. Dia menuangkan minuman dan menaruhnya diatas makam Bimo. Aku sudah mau protes tapi di tahan oleh Luthfi.


"Segini saja Bim, sisanya buat nanti kalau kebanyakan nanti lupa jalan ke surga lagi pula mahal sekarang dan uangku terbatas harus beli susu anakku," katanya dengan wajah memelas.


"Bicara se-enaknya saja," sungutku sambil cemberut.


"Bagaimana kalau Bimo lupa jalan ke surga, bagaimana kalau dia tersesat?" tanya Luthfi pada Heri masih tertawa.


"Nanti aku yang akan menjemputnya, aku yang bertanggung jawab," kata Heri sambil memandangku dengan muka lucu.


Kalau ini bukan tempat pemakaman aku sudah mengejar Heri saking kesalnya. Bisa-bisanya dia bercanda dengan orang yang sudah meninggal.


"Hmm... kamu seperti orang gila saja," kataku mencibir pada Heri.


Kami bertiga duduk di bangku sebuah taman yang ada di depan lokasi makam Bimo.


"Kata Bimo kalau menjenguknya bawa vitamin di sana tidak ada yang jual," kata Heri sambil tertawa.


Aku dan Luthfi jadi tertawa hingga aku jadi lupa akan kesedihanku. Heri tersenyum memandangku dia terlihat senang sekali melihat aku sudah bisa tertawa lepas.


"Kamu tidak mau menikah?" tanyaku pada Luthfi.


"Aku trauma menikah karena kisah kalian," jawabnya singkat.

__ADS_1


Aku tahu Luthfi adalah orang yang menyaksikan jalan cinta kami yang seperti tragedi. Tidak salah kalau dia sedikit takut menjalani pernikahan karena kisah cintaku dengan Bimo yang berakhir tragis.


"Hmm.. bohong! Bimo malah menyuruhnya menikah denganmu setelah Bimo meninggal," kata Heri dengan wajah datar.


"Benarkah?" tanyaku sambil melihat Luthfi dan dia menggeleng kepalanya cepat.


"Jangan bercanda... ah," kataku pada Heri.


"Benar... begini, kamu menikah dengan Kia saja jadi nanti kamu harus menyerahkan Kia padaku kalau kita semua sudah sama-sama di sana, kalau dengan orang lain nanti aku tidak bisa bertemu Kia lagi," jelas Heri sambil menirukan sikap Bimo.


"Bimo dasar jahat, memangnya aku barang yang bisa diserah terimakan," kataku dengan kesal.


"Jangan dipercaya, dia bohong," kata Luthfi sedikit malu yang kemudian ditimpali Heri dengan tertawa.


"Terima kasih sudah merawat Bimo," kataku pada mereka.


"Itu memang tugasku, aku-kan bekerja di situ," ujar Heri.


"Aku sudah menganggap Bimo keluargaku dari dulu makanya saat dia sakit aku tidak berani jauh darinya," jelas Luthfi.


"Sebelum meninggal Bimo sudah persiapkan semuanya, uang tabungannya untuk menikah denganmu dulu yang kemarin aku kasih ke-kamu dan juga uang pengobatan Mamanya," jelas Luthfi.


"Aku mau pindah kerja di sini, supaya bisa merawat Papaku, merawat Mama Bimo dan ingin sering mengunjungi Bimo juga," kataku sambil memandang mereka bergantian.


"Baguslah jadi kita bisa lebih sering ketemu," kata Heri dan Luthfi memandangku sambil memgangguk.


"Kamu harus bahagia Kia," kata Luthfi sambil menepuk belakangku.


"Aku tidak mau menikah karena aku akan menemui Bimo di sana dan menemui anak-anakku juga mereka tega sekali meninggalkanku disini sendiri," kataku pelan.


"Kamu tidak sendiri Kia, aku sama Luthfi selalu ada untukmu," kata Heri meyakinkanku.


"Terima kasih," ucapku sambil memandang Heri dan Luthfi bergantian.


"Bimo...sekarang aku punya dua orang yang akan menjagaku, kamu pasti sangat iri," seruku sambil menepuk belakang mereka.


Kami kemudian tertawa bersama sambil membuat high five.


"Kamu harus bahagia," kata Luthfi sambil membenarkan rambutku yang berantakan karena angin.


"Langitnya sangat indah," kata Heri menunjuk ke atas.


Kami memandang langit bersama sambil tersenyum. Kemudian aku memandang Heri dan Luthfi bergantian. Dua orang ini kalau disatukan adalah sifat seorang Bimo. Heri dengan tingkah lucunya yang sering menggodaku persis Bimo saat membuatku merajuk. Luthfi yang menyayangi dan menjagaku mirip dengan Bimo yang dulu saat kami masih bersama.


Terlihat awan biru berarak pelan terkena angin seakan-akan mengatakan bahwa esok masih ada hari-hari yang cerah untukku dan dengan dua orang sahabat Bimo di sampingku sekarang membuatku yakin aku masih bisa menjalani hariku ke depan.


************

__ADS_1


** "Kamu mau tidur di kuburan?" Sebuah suara berat mirip Bimo membentakku dengan sedikit kasar. Siapa dia? Kenapa dia juga ada di situ?


** Terima kasih sudah membaca jangan lupa vote, like dan komen itu sangat mendukung penulis, selamat membaca semoga sehat selalu.


__ADS_2