
Waktu berlalu tanpa terasa satu tahun sudah kami bersama. Hari-hari yang kami jalani terasa indah semua masalah apapun bisa kami selesaikan bersama dengan baik. Kasih sayang Miko padaku tidak diragukan lagi. Seperti yang kurasa saat ini bahwa semua cinta yang telah diberikan oleh Miko seperti air yang benar-benar menghanyutkan.
Beberapa kali kami pulang menemui keluargaku dan keluarga Miko. Tari bahkan sudah mengandung dan sebentar lagi akan melahirkan.
"Selamat Tari... akhirnya Raffa akan punya adik,'" ucapku sambil mengelus perut Tari yang sudah agak besar karena umur kandungannya sudah berjalan tujuh bulan.
"Agak sakit ini Kak, beda dengan Raffa dulu. Tari bahkan tidak bisa makan selama dua bulan pertama. Untung ada susu hamil jadi agak terbantu."
"Yang penting kamu sama bayi sehat," doaku sambil merasa agak malu karena aku belum bisa seperti dia.
"Amin... semoga Kakak menyusul."
Tari mengelus bahuku seperti mengerti tentang perasaaku. Aku sudah bercerita juga tentang keadaanku pada dia tentang vonis dokter, tapi sekali lagi dia memberi semangat agar aku tidak putus asa.
******
Semangat juga diberikan oleh sahabatku Wiwin, dia bahkan mencari di internet dokter kandungan yang terbaik untukku. Lima hari aku bersama dia juga Miko di Singapura untuk memeriksa kesehatan alat reproduksi kami. Hasilnya kami berdua sehat bahkan dokter di sana tidak mengatakan kalau aku susah hamil.
Dokter bilang aku dan Miko sangat sehat untuk mempunyai anak tapi mungkin belum dikasih sama yang di atas. Dokter menyarankan kami selalu bahagia tidak boleh stres agar bisa memperlancar rencana untuk memiliki anak.
Dari awal sampai akhir Miko selalu mengingatkan dan menguatkan aku kalau dia akan menerima aku apa adanya. Karena semua yang dikatakan Miko terdengar sangat tulus aku sampai menangis memeluknya. Bagi aku kasih sayang Miko adalah obat terbaik dari semua rasa khawatir selama ini.
"Jika kamu nanti tidak dapat hamil, jika kamu nanti tidak bisa memberikan aku anak. Tidak apa Beb, asal kamu tetap.di sisiku sampai akhir hayatku."
*********
Akhirnya aku bisa kembali tenang dukungan dan semangat yang diberikan Miko serta keluarga juga teman-teman seakan membuat aku kembali bisa berdiri menatap masa depan lagi. Cinta dan kasih yang diberikan mereka lebih dari segalanya. Aku sangat bahagia semua tangan yang menggenggam rasa khawatirku ialah tangan orang yang paling dekat.
Beberapa kali aku berkunjung ke makan ibu Miko dan Mama, selalu aku memohon agar mereka memaafkan kesalahanku. Bukankah salah satu penghalang dari keinginan untuk terkabul adalah kesalahan yang belum dimaafkan. Begitu juga saat aku menemui pusara Bimo, aku bahkan berkata minta tolong pada Tuhan agar berikan aku satu anak lagi melalui Miko.
Lucu memang, tapi itulah yang kulakukan. Miko bahkan tertawa geli melihat aku bicara begitu tapi apalah daya aku cuma berusaha. Saat berkunjung ke panti, Bunda bahkan memeluk sambil menguatkanku. Tak lupa mengelus perutku dan berkata.
"Semoga Tuhan kabulkan permohonan kalian. Bunda juga ikut memohon jadi jangan takut nanti saatnya pasti akan tiba."
Itulah kalimat yang membuat perasaanku bisa kembali tenang.
Dio yang tadi cuma diam ikut bicara juga.
"Kalau Dio punya adek, Dio akan tinggal sama Mama. Dio akan berdoa tiap malam supaya dikasih cepat adek."
"Anak baik," ucap Miko sambil memeluk Dio.
Kami memang sebulan sekali menengok Dio dan membawakan apapun keperluan untuk dia. Supaya walau kami jauh dia tetap merasa diperhatikan.
*******
Ucapan datang dari Mama yang berusaha menelepon dari aku sampai di rumah. Tapi handphone tidak teangkat karena sedang mandi. Dengan cepat kuhubungi kembali.
"Kapan pulang?"
"Kenapa Ma? Apa Papa sakit? Mama sehatkan?"
Rasa khawatir yang kurasakan sangat beralasan karena Mama akan menelepon hanya saat penting.
"Semua sehat... Papa rutin chek up jadi semua bisa di kontrol."
Lega sekali aku mendengar penjelasan Mama.
"Selamat ulang tahun anakku... maaf Mama belum bisa memberikan yang terbaik selama ini. Tapi kamu selalu yang terbaik buat Mama........."
Sedikit terisak Mama menghentikan kalimat sejenak, deras air mataku mengalir mendengar ucapan Mama.
"Kia... Mama ingin kamu jangan pernah terbebani dalam hal apapun. Masalah anak atau yabg lain itu bisa selesaikan dengan kepala dingin. Jangan pernah menanggung apapun sendiri saat sedih. Mama akan ada kapan kamu mau selalu di sisimu, jadi jangan pernah simpan masalah sendiri harus dibagi sama Mama."
"Iya Ma... Miko suami yang baik buat Kia jadi Mama jangan khawatir. Mungkin akhir bulan kami akan pulang, Ma. Mama juga yang terbaik buat Kia, terima kasih atas semua Ma... Kia sayang Mama,"
Mama menutup telepon ketika ada suara Papa memanggil, aku bisa mendengar ketika Mama bicara pada Papa sesaat sebelum telepon ditutup.
"Dari Kia Pa... Kia bilang kangen Papa."
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam tapi Miko belum pulang. Tadi sore saat jam pulang kantor dia menelepon akan terlambat karena ada sedkikit problem di lapangan. Aku selalu memaklumi karena resiko punya suami seperti Miko yang suka kerja di luar dari pada duduk manis di kantor.
"Padahal malam ini istimewa, apa dia lupa?" Gumamku agak kesal.
Aku mencoba tidur walau susah, karena selama ini setiap ingin tidur aku selalu memegang tangan Miko. Tanpa disadari kebiasaan ini seolah melekat di otakku kalau tidak memegang tangan Miko aku tidak bisa tidur. Sekuat tenaga kupejamkan mata karena dibarengi rasa kantuk dan badan lelah akhirnya aku bisa tertidur tetap ditemani alunan musik lembut.
***********
Sesuatu yang dingin menyentuh pipiku, seketika aku kaget sedikit terlonjak.
"Aaaauuuwwww."
Tangan yang menyentuh pipiku segara kujauhkan. Saat itu lampu padam di depanku ada sebuah cahaya lilin terlihat berkedip dalam gelap. Wajah seseorang yang kukenal akhirnya terlihat saat lampu dinyalakan.
"Happy birthday to you... happy birthday to you.... happy birthday Kia-ku... happy birthday to my love."
Sebuah kue berbentuk hati berhiaskan bunga pink dan lilin menyala dimajukan Miko ke arahku.
"Make a wish."
Aku memejamkan mata berdoa agar kami selalu bersama dalam hal apapun.
"Aku kira kamu lupa," sambil memeluk Miko haru ku coba menahan agar tidak menangis, tapi tetap tidak bisa . Aku memeluknya tercium aroma sabun rupanya sebelum menemuiku Miko mandi dulu. Dia meletakan kue di meja kecil masih dengan memelukku. Dengan tatapan mesra dia menggendongku kembali ke ranjang.
"Malam ini aku punyamu Beb," bisiknya tepat di telingaku sambil mengecup dengan mesra.
"Tapi aku lapar," rengekku berusaha menjauh.
"Kok bisa? Apa tadi belum makan malam?"
Aku menggeleng cepat sambil memegang perut.
"Lama menunggu kamu, aku makan kue dululah," dengan cepat aku beranjak dari ranjang dan mengambil kue di atas meja serta langsung menyantapnya.
"Hey!"
Miko terlihat tidak berdaya, dia cuma menunduk lesu kemudian tertawa melihatku makan. Miko mendekat dan membersihkan sisa mentega di sekitar bibirku.
**********
Sudah tradisi di kantor kalau siapapun ulang tahun akan di kasih surprise, termasuk aku. Pagi itu kak Santi dan yang lain sudah siap dengan kue dan bermacam makanan. Tak ketinggalan kak Arya, dia bahkan sudah siap dengan kotak hadiah di tangan sambil tersenyum menatapku. Tidak ada kata yang bisa aku ucapkan melihat mereka mendoakan aku agar bahagia.
Alhasil airmataku mengalir karena haru, Lisa membawakan puding buatannya sendiri membuat aku makin bahagia. Dia bahkan berterima kasih karena selama ini aku menganggap dia keluarga bukan bawahan di kantor.
Setelah acara make a wish dan acara makan kue berakhir, kak Santi menyuruhku masuk ruangannya sebentar seperti ada yang mau di perlihatkan.
"Satu lagi surprise buat kamu," bisiknya.
Aku hampir berteriak kaget melihat seseorang berdiri tepat didepanku samhil merentangkan tangan.
"Kak lily."
Aku menutup mulutku menahan supaya jangan berteriak dan langsung menghambur ke pelukannya. Dengan erat kupeluk melepas kangen, lama juga kami tidak bertemu.
"Happy birthday.... happy wedding ....."
Kalimat lembut terucap dari bibir kakak yang datang dari jauh membuat aku makin tak bisa membendung air mata.
"Dia mau menghabiskan masa kerja di sini sebelum pensiun," jelas kak Santi sambil tertawa.
"Kangen nggak sama aku kak?"
"Kangen.... Kia yang manja. By the way Miko mana?"
"Dikantor depan... acara intens kami udah tadi malam. Jadi sekarang sama orang tercinta lainnya." Aku agak malu memjelaskan pada kak Lily.
"Aku mau kasih hadiah masa dicuekin... dasar Coklat," sungut kak Arya sambil menaruh kotak di meja.
"Emang spesial?" Kak Santi penasaran sambil mengguncang kotak.
__ADS_1
"Maaf... terima kasih kak, sehat selalu buatmu."
Aku tersenyum menatap kak Arya yang terlihat agak kesal. Perlahan kubuka terlihat sebuah kamera edisi terbaru. Dengan gembira aku memeluk kak Arya dan kesalnya tadi terlihat hilang. Aku mencoba menggunakan kamera merekam kebersamaan kami di ruangan kak Santi dibantu kak Arya.
"Kok kamera? Apa maksudnya?" Kak Lily memandang kak Arya.
"Biar bisa merekam momen terbaik kak... nanti aku ajarin lagi. Semangat Kia, hidup hanya sekali jadi ciptakan momen indah dan abadikan, supaya bisa dilihat kembali kapan saja serta oleh siapa saja."
"Thank you so much, brother."
*******
Saat Miko menelepon ku ceritakan kado kak Arya, dia sedikit kaget.
"Tumben dia baik hati sama kamu Beb... padahal kalau ulang tahunku dia cuma traktir makan tidak pernah kasih hadiah."
"Entahlah, mana mahal lagi. Bukan kamu kan yang beli?"
"Bukan."
"Apa dia punya salah sama aku ya? Jadi sikapnya seperti itu?"
"Heeey... jangan prasangka yang aneh deh. Ingat besok quality time kita sekaligus ada yang mau aku kasih."
"Benarkah? Jadi deg-degan deh menunggu."
"Okey tunggu saja... udah yah sampai nanti sore, bye Beb."
"Bye... I love you."
**********
Mall saat hari minggu selalu penuh, kami bahkan sudah setengah jam berada di tempat parkir baru bisa lega saat ada parkir kosong. Berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, aku dan Miko tak perduli kalau beberapa orang melihat kami sambil tersenyum. Karena agak ramai Miko bahkan memeluk pinggangku supaya jangan terkena orang lain. Dia berusaha melindungiku dari tabrakan beberapa orang yang berpapasan.
"Malu Beb," kataku pelan sambil memandang Miko.
"Tak apa, dari pada kamu tersenggol pria lain," sahutnya tegas.
"Ya ampun... makin protektip kamu."
Aku menurut saja padahal banyak orang memandang kami dengan berbagai macam tatapan. Ada tatapan kagum, maklum bahkan iri. Tapi Miko sangat cuek dia bahkan lebih erat memelukku tanpa menghiraukan mereka.
Langkah kami terhenti di depan restoran western. Aku mengajak Miko makan dulu sebelum keliling pusat perbelanjaan. Memang sudah jam makan siang. Kami benar-benar menikmati waktu berdua sekaligus merayakan ulang tahunku. Tak menunggu lama pesanan kami datang, kami meniknati makanana diiringi live band.
"Makan yang benar Beb," ujar Miko sambil menyeka sisa saus steak di daguku.
"Maaf... di depan suami enggak perlu malu juga kan?"
"Benar juga sih."
"Tapi bohong... pengen liat suamiku peka apa tidak kalau isterinya cemong," tawa kecilku membuat Miko ikut geli.
"Wah... modus, tapi ingat modusnya cuma sama aku tidak boleh yang lain."
"Pasti... terima kasih Beb."
*******
Akan tetapi sepasang mata terlihat kaget saat melihat kami di tempat parkir, dia bahkan mengikuti sampai ke depan restoran. Dia berjalan 2 meter di belakang kami dan mengikuti secara diam-diam. Sepertinya dia ingin memastikan sesuatu karena manik mata itu tak pernah lepas dari gerak-gerik aku dan Miko. Dia juga duduk di meja yang tidak jauh dari tempat kami makan.
Dari sorot mata menyiratkan rasa yang belum bisa dijelaskan. Kaget, marah dan sedikit iri tapi yang jelas ada semacam rasa tidak rela.
"Seharusnya aku yang ada di samping kamu bukan dia. Seharusnya kita bisa bahagia bersama, seharusnya aku yang memegang tanganmu bukan dia."
********
**Pecayalah gravitasi bukan hanya pada ilmu fisika saja tapi juga ada di kehidupan kita. Dia bahkan tidak punya siklus jadi bahagiamu sekarang belum tentu kamu akan rasakan tiga jam kemudian ataupun besok.
**Maaf reader tercinta baru sekarang bisa up semoga masih ada yang menunggu novel Kia. Jangan lupa vote, gift, like dan komen yah biar semangat plus. Terima kasih atas semua dukungan yang telah diberikan, kalian ter the best guys.
__ADS_1
**Salam hangat untuk semua reader Rahasia Hati, stay strong... stay healthy... stay happy and stay here with Kia... see you next time