Rahasia Hati

Rahasia Hati
Brother


__ADS_3

Pagi hari sekitar pukul 9 Diah membawa anaknya ke warung yang tidak jauh dari rumah kontrakannya. Diah mengenal pemilik warung tersebut dan dia juga sering minta bantuan kepada Bu Mirna pemilik warung itu.


"Bu Mirna...saya minta tolong mau menitip anak saya karena saya mau menemui suami saya," kata Diah sambil mendorong badan anaknya ke depan untuk masuk ke dalam warung milik Bu Mirna.


"Iya, tidak apa-apa...mari sini, Nak ," kata Bu Mirna sambil mengajak anak Diah untuk masuk ke dalam warung.


Diah lalu meninggalkan anaknya bersama Bu Mirna yang sedang menjaga warung. Anak itu menurut saja, dia hanya diam sambil memandang Ibunya yang pergi mencari Ayahnya.


*********


Diah sampai di depan rumah Istri baru suaminya. Perasaan Diah sudah tidak bisa digambarkan semua bercampur aduk menjadi satu. Diah kemudian mengetuk pintu dan tidak lama pintu terbuka kemudian keluar seorang wanita yang masih sangat muda.


Tak lama kemudian terdengar suara suaminya dari dalam yaitu suara Sopian.


"Siapa yang datang, Dik?" tanya Sopian kepada istri barunya.


Istri baru Sopian tidak menjawab dan dia menatap Diah dengan wajah yang agak kesal. Mungkin dia tidak mau diganggu kebersamaannya dengan Sopian. Diah kemudian menerobos masuk ke dalam rumah dan dia mendapati suaminya sedang tidur-tiduran di ranjang sambil melihat televisi.


Sopian terkejut melihat Diah datang. Dia kemudian turun dari ranjang dan menarik tangan Diah dengan sedikit kasar menuju ruang tamu. Istri muda Sopian hanya melihat saja dia masih berdiri di depan pintu.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Sopian pada Diah dengan agak keras.


"Kamu sudah tidak pulang lagi, Bang...kamu ternyata disini. Bagaimana aku dengan anak kita, apa kamu sudah lupa pada kami?" tanya Diah sambil menjerit histeris.


"Jangan ribut disini malu, aku akan kesana nanti tunggu di rumah saja, sekarang kamu pulang dulu," suruh Sopian kepada Diah.


"Aku menyesal menikah denganmu Bang, Aku juga menyesal punya anak denganmu. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Kak Hani, watakmu memang seperti ini dari dulu," kata Diah sambil menangis menatap Sopian.


"Aku juga sedang hamil," sahut istri muda sopian sambil duduk di samping Sopian.


Diah merasa sangat marah dan dia lalu berusaha memukul Sopian. Tapi dengan cepat ditangkap oleh Sopian dan hal itu membuat Diah semakin marah. Diah kemudian menangis sambil berteriak pada Sopian.


"Aku benci padamu Bang, aku juga benci pada anakmu, walaupun kamu melupakanku setidaknya kamu jangan melupakan anakmu," teriak Diah sambil menangis meluapkan amarahnya.


******


Diah pulang dengan hati hancur dan dia tidak menyangka Sopian akan melupakan dirinya dengan anaknya. Penyesalan sudah tidak berarti lagi sekarang hanya kebencian yang memuncak dalam hati Diah.


Tidak tahu lagi cara memperbaiki hubungan dengan Sopyan Diah sampai kehilangkan akal sehat nya. Diah tidak bisa pergi kemanapun dan takut apa yang akan dihadapinya di masa datang. Akal Diah sudah kalut dan dia bingung harus minta tolong kepada siapa lagi.

__ADS_1


Sambil menangis Diah mencari tali dan dia lupa akan anaknya yang dititipkan nya di warung Bu Mirna. Sementara di depan warung Bu Mirna seorang anak melihat Ibunya datang. Dia kemudian berlari menuju rumahnya bermaksud untuk menemui ibunya sambil membawa mainan mobil-mobilan yang didapatnya dari Bu Mirna.


*********


Street...sreeettt.....


Anak itu menarik mobil-mobilan mainannya dan dia membuka pintu rumahnya kemudian berteriak memanggil ibunya.


"Bu...Ibu sudah pulang?" tanyanya sambil masuk ke dalam rumah.


Dia sangat tercengang melihat Ibunya sedang memotong sebuah tali. Dia terdiam dan hanya bisa memandang Ibunya dari jauh karena dilarang mendekat.


"Pergi ...jangan dekat-dekat ke sini. Pergi sana ke Ayahmu katakan kalau Ibu mau pergi dan tidak akan kembali lagi."


Anak itu cuma diam dan hanya memandang ibunya yang sedang sibuk dengan seutas tali dengan tatapan bingung dan sedih.


"Masuk ke dalam kamar, jangan keluar kalau belum di panggil," teriak Diah pada anaknya.


Anak itu dengan cepat berlari memasuki kamar dan duduk di atas ranjang sambil menatap ke lantai. Matanya kelihatan sedih dan dia seperti ingin menangis tapi ditahannya karena takut akan kena marah oleh Ibunya.


Braaakkkk.....


Dia kemudian menangis karena sangat ketakutan. Anak itu kemudian berlari keluar menuju ke arah warung Bu Mirna dan dia memanggil Bu Mirna sambil menangis karena tidak menyangka Ibunya akan seperti itu.


"Ibu...Ibu..Ibuku kesakitan," katanya terbata-bata sambil menangis menunjuk ke arah rumahnya.


Bu Mirna sangat terkejut langsung menghampiri anak itu. Anak itu menceritakan semua yang dilihatnya dengan terbata-bata padamu Bu Mirna sambil menangis dan memanggil ibunya.


Mendengar semuanya Bu Mirna langsung bergegas ke rumah kontrakan Diah sambil menggendong anak Diah dan betapa terkejutnya dia melihat Diah sudah tidak bernyawa lagi tergantung dan bunuh diri di dapur rumah kontrakannya.


Bu Mirna langsung keluar memanggil tetangga yang lain. Dia juga sangat shock melihat Diah seperti itu. Padahal tadi dia melihat Diah datang dan menyuruh anaknya pulang. Tapi dia tidak menyangka Diah sanggup melakukan hal itu hanya karena ditinggal oleh suaminya.


Bu Mirna memeluk anak yang masih menangis. Dia sangat sedih dan merasa kasihan kepada anak kecil yang masih berumur 3 tahun karena harus ditinggalkan Ibunya dengan cara mengenaskan seperti itu.


"Ya...ampun, apa yang harus aku lakukan padamu."


Bu Mirna menangis sambil memeluk anak itu. Anak itu juga menangis masih memanggil ibunya. Bu Mirna sangat kasihan pada nasib anak itu dan dia kemudian membawa anak itu ke rumahnya dan akan berbicara pada suaminya. Bagaimana mereka akan menentukan yang akan dilakukan pada anak itu.


********

__ADS_1


Bu Mirna memandang anak itu dengan tersenyum, dia membawa anak itu ke sebuah Panti asuhan yang masih berlokasi satu kota. Dia sebenarnya ingin memelihara anak Diah tapi keadaan ekonominya tidak memungkinkan dan anaknya juga sudah tiga orang.


Maka ketika dia berdiskusi dengan suaminya jadi diambilah sebuah keputusan bahwa mereka akan menitipkan anak Diah ke Panti asuhan di kota mereka dengan diam-diam agar suaminya Diah tidak tahu kemana anaknya karena mereka benci akan kelakuan suaminya yang meninggalkan Diah dan anaknya begitu saja.


"Tinggal disini ya...nanti Ibu jenguk satu minggu sekali, Miko anak pintar harus menurut sama Bunda panti, nanti kalau Ibu sukses kita tinggal sama-sama lagi," kata Bu Mirna sambil menangis memegang wajah Miko.


Suami Bu Mirna kemudian ikut juga memeluk Miko sambil memegang kepala Miko kecil dia juga terharu menyaksikan istrinya menangis.


"Doakan Bapak berhasil ya, nanti Miko Bapak jemput," kata Suami Bu Mirna sambil mencium Miko.


Miko cuma menatap kedua orang yang menangis dengan wajah datar dia saat itu tidak menangis hanya diam karena Ibunya yang telah tiada berpesan padanya agar jangan pernah menangis dalam keadaan sesedih apapun.


*********


Sebulan kemudian di teras rumah Hani terlihat Hera datang dengan tergopoh-gopoh sambil membuka pintu rumah.


Hani yang saat itu sedang duduk nonton televisi terkejut tidak biasanya Hera datang tanpa menelpon lebih dulu.


"Diah meninggal, dia bunuh diri," kata Hera pada Hani sambil duduk di sofa sebelah Hani.


Hani sangat terkejut mendengar kata-kata Hera dia kemudian memukul bantal kursi dengan sangat marah.


"Aku sudah muak dengan kelakuan Bang Sopian, ini tidak bisa dibiarkan kalau perusahaan mengetahui Bang Sopian bisa di pecat, bagaimana nasibku dan anak-anakku?"


Hani panik dia kemudian menyuruh Hera mendatangi bekas rumah kontrakan Diah dan menanyakan semua kejadiannya serta kabar anaknya Diah. Mereka disekitar mengatakan bahwa mereka sudah mengurus kematian Diah tanpa ribut karena pemilik kontrakan tidak mau ada yang mengetahui kejadian sesungguhnya.


Dan tentang anaknya mereka mengatakan di asuh oleh Bu Mirna pemilik warung yang sudah pindah dua minggu yang lalu karena mengikuti suaminya bekerja di luar kota.


Hera mengatakan semuanya pada Hani dan mereka akhirnya mengerti semua yang dilakukan orang sekitar kontrakan pada Diah karena semua demi kebaikan mereka. Tidak sampai ke area hukum karena pemilik kontrakan tidak mau masalah menjadi rumit. Merupakan kebaikan juga bagi Hani karena perusahaan tidak mengetahui kabar sebenarnya.


"Siapa yang meninggal sih, Ma?" tanya Lina Kakak Bimo yang waktu itu masih SD.


"Ibu dari saudara tirimu, adik tiri kalian," ujar Hera pada ketiga anak Hani yaitu Lina, Tito dan Bimo yang sedang bermain di teras depan rumah.


Flashback off*


************


** Bagaimana reaksi Kia ketika melihat siapa yang ada di hadapannya? apa yang ingin di kejar Kia sampai mau menunggu Miko selesai dari pekerjaannya? dapatkah apa yang diinginkan Kia? mari lihat di episode selanjutnya.

__ADS_1


**Selamat membaca dan jangan lupa Vote like dan jejak komen serta terima kasih atas dukungannya.


__ADS_2