
Aku memejamkan mata merasakan hangatnya pelukan Miko, mencari apakah ada ketulusan dan kejujuran di dalamnya. Tapi mengapa aku malah merasakan ketakutan yang teramat sangat karena kejadian yang lalu.
Aku melepaskan perlahan dan berbalik menghadap Miko sambil tersenyum.
"Aku akan pikirkan semuanya setelah membereskan masalah yang ada," kataku pelan.
"Aku akan menunggu, tapi jangan lama-lama aku juga punya batas kesabaran," jawab Miko sambil memegang pipiku.
"Berapa lama?"
"Satu minggu sudah cukup aku akan tunggu dan jawab semua atau aku akan meninggalkanmu selamanya."
"Apa aku sedang di ancam?"
"Sepertinya begitu," jawab Miko sambil tertawa dan memegang tanganku.
"Kamu juga harus membereskan wanita yang kemarin main g*la denganmu di depanku, hmm...membuat orang yang melihat malu sendiri."
Miko tertawa lalu memegang tanganku dan berusaha membujukku.
"Maaf Kia maaf, janji tidak akan terulang lagi, hmm....."
"Kalau aku tidak datang mungkin semua sudah lolos, apa sering seperti itu?"
"Aku laki-laki dewasa kalau ada yang menawarkan apa harus ditolak, kan mubazir," jawab Miko sambil tertawa kecil menggodaku.
"Bicara seenaknya, jangan dekat-dekat denganku!" bentak ku dengan kesal.
"Sudah jangan di bahas lagi, ganti topik saja, aku tidak akan seperti itu lagi, nih apa aku harus mengucapkan sumpah seperti pegawai yang baru masuk?"
Aku jadi geli melihat Miko yang berusaha membujukku dengan canda dan celotehnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, jadi percaya lah padaku kecuali semua diluar kehendak ku."
"Kalau mau meninggalkanku silahkan tapi tinggalkan dengan baik pamit dengan baik dan katakan alasannya, biarkan aku berterima kasih, jangan main pergi saja seperti Bimo," ujarku sambil menatap Miko.
"Satu lagi jangan pernah mengarang cerita yang tidak benar, aku memang menyukaimu tapi aku belum menerima kamu sepenuhnya di hatiku."
"Bagaimana kalau itu terjadi?"
"Aku akan men-delete kamu dari otakku," jawabku sambil cemberut.
"Aku ada di otakmu?" tanya Miko seperti meledek ku.
"Memangnya pikiranku ada di dengkul," jawabku sambil memukul bahunya karena kesal.
Kami berdua tertawa bersama
dan kami menoleh ke arah pintu karena ada yang membukanya ternyata Wiwin yang datang. Dia langsung mengangkat tempat makan yang dibawanya sambil berjalan ke arah kami.
"Aku bawa bubur ayam Bunda kesukaan kamu," katanya langsung menaruh di meja.
"Tidak masuk kantor?"
"Aku sudah absen dan izin langsung kesini, nanti Kak Santi akan kesini juga setelah selesai rapat dengan tim HRD."
"Kalau begitu aku langsung pulang ke kantor cabang ya... ada pemasangan Tray Fire Alarm dan CCTV untuk kantor pertambangan harus selesai dalam waktu dua hari, akhir pekan aku datang ke sini jangan sampai sakit lagi dan kamu harus jawab semuanya."
Miko langsung memelukku dan tersenyum memandang wajahku sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kalian punya hubungan khusus?" tanya Wiwin yang membawa mangkuk bubur ke arahku.
"Tidak."
"Ya."
Aku dan Miko menjawab pertanyaan Wiwin secara bersamaan kemudian kami tertawa karena merasa lucu dengan tingkah sendiri.
__ADS_1
"Seperti ada hal yang disembunyikan, aku mencium sesuatu yang tidak beres," sungut Wiwin menarikku mengajak makan.
"Semuanya beres salam sama Alan, nanti aku akan telpon kalau mau menikah bilang ya, jadi kita bisa sama-sama pestanya, nanti perjalanan bulan madunya aku yang tanggung," kata Miko pada Wiwin yang langsung membuat muka Wiwin merah karena malu.
"Dasar kalian berdua sama-sama aneh," kesal Wiwin ketika melihat kami tertawa bersama.
"Semangat... I love you," bisik Miko di telingaku.
Miko pulang setelah menelepon supirnya untuk menyiapkan mobil di bawah. Aku memandangnya sambil tersenyum ketika Miko pamit pulang. Aku bertanya pada hatiku sendiri sanggupkah aku balas memegang tangan Miko sedang masa lalu yang menyakitkan masih membekas jelas di hatiku.
Aku memakan bubur ayam yang dibawakan Wiwin sambil bercerita semua yang terjadi saat aku bersama Miko. Wiwin memandangku sambil mengelus bahuku dia meminta maaf karena jarang besama denganku dalam bulan ini.
"Hmm... kamu sudah tidak sayang denganku lagi karena sudah punya Alan," sungutku sambil menyerahkan sendok yang ku pegang padanya.
"Ternyata seperti itu sifat kamu kalau sudah punya pasangan melupakan pasangan yang lama?"
"Iisshhh... memangnya kamu pacarku? Bicara sembarangan kalau orang dengar nanti kita dikira tidak normal," jawab Wiwin sambil menaruh tempat makan ke dalam tasnya.
Dia kemudian duduk didepanku sambil menatap mataku.
"Bagaimana dengan Miko? Apa harus dipikirkan lagi? Jelas sekali dia mengharapkan balasan yang pasti?"
"Kia...aku mohon jangan coba menolaknya, coba jalani saja biarkan berjalan dengan sendirinya."
Wiwin mencoba membujuk tetapi aku masih merasa keraguan yang ada dihatiku sangat besar untuk melihat ke depannya.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan rasa ragu, cobalah jalani bersama Miko, aku berjanji akan membantu."
Aku tersenyum pada Wiwin duduk disebelah dia sambil merebahkan kepalaku di pahanya dan dia tertawa kecil.
"Kumat sudah manjanya," katanya sambil mengelus kepalaku.
"Aku masih takut dengan masalah yang dulu, apalagi setelah tahu kenyataannya, aku bahkan menganggap Papa lah yang menyebabkan keluarga Bimo merasakan sakit," ucapku sambil memeluk tangan Wiwin.
"Kia... berhenti menyakiti dirimu sendiri dengan pikiran yang bukan-bukan tidak semua orang berpikiran seperti yang kau bayangkan, menyakiti diri sendiri juga ada batasnya."
"Setiap kali melihat wajah Miko, aku kembali terbayang semua peristiwa itu bagaimana aku bisa bertahan disampingnya?"
"Selalu overthinking dengan apapun, coba relax saja semua pasti ada jalan keluarnya, Miko adalah orang yang tepat untukmu."
"Hmm...seperti peramal saja," kataku sambil menggelitik perut Wiwin, dia langsung membangunkan aku karena ada pengantar makanan yang datang. Wiwin lalu menuju ke pintu dan menerima makanan dan obat yang harus ku minum.
"Bagaimana kalau aku coba pacaran dengan orang yang berbeda jalur?"
Wiwin menatapku heran sambil memberikan obat dan air putih padaku kemudian duduk di sampingku.
"Ya..ahh, pacaran dengan anti mainstream lah seperti, karyawan biasa, pekerja serabutan, e--m pedagang kaki lima atau pengangguran sekalian," kataku sambil tersenyum menggoda Wiwin.
"Aku harus menemui Dokter untuk melakukan scan kepala kamu, sepertinya yang terganggu bukan hatimu tapi otakmu."
Dia sangat kesal dengan pemikiranku sampai setengah berteriak membentak. Aku cuma tertawa melihat raut muka Wiwin yang masih ditekuk karena marah.
"Bagus kan, beda jalur mungkin akan membuat hidupku lebih berwarna," kataku sambil memegang perut karena merasa geli sendiri.
"Kamu bisa meledakkan kantor kalau benar itu dilakukan, bagaimana mungkin seorang manager pacaran dengan orang yang saling silang dan tidak satu list dengan profesi kamu, akan ada tabrakan berbagai macam komitmen jangan coba berdiri diatas sesuatu yang tidak relevan."
"Jodoh siapa yang tahu," kataku sambil berdiri menuju ranjang.
"Jangan lakukan hal gila seperti itu Kia, aku orang pertama yang akan menentangnya, lagian kalau kamu lakukan itu kamu bisa membuat Kak Santi pingsan ditempat," ujar Wiwin dengan nada mengancam.
"Kenapa aku bisa pingsan?"
Kak Santi datang yang langsung masuk ke ruangan dan menenteng kotak pizza. Aku langsung turun dari ranjang ingin menghampiri tapi dicegah Wiwin.
"Hati-hati selang infus, ihh selalu ceroboh."
"Dia mau punya pacar yang beda jalur Kak dan bedanya 180 derajat, perlu dipertanyakan otaknya," kata Wiwin sambil memgambil kotak yang dibawa dan menaruhnya di atas meja.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Tanya sendiri Kak, bicara ngawur begitu," kata Wiwin sambil menuntun ku duduk di kursi.
"Kalau dipikir-pikir aku tidak perlu orang yang kaya, aku sudah punya pekerjaan, rumah, mobil tidak perlu juga yang ganteng, lebih penting bisa menemani aku dan terima aku apa adanya," ujarku sambil menatap Wiwin.
"Aku tidak sombong semua sesuai kenyataan kan, hidupku lebih dari cukup, pekerjaan sudah dititik aman, wajah tidak memalukan, Miko menawarkan hatinya walau belum ku jawab, apa yang kurang coba?"
"Kurang bersyukur."
Aku langsung tertawa nyaring mendengar jawaban Kak Santi dan juga melihat ekspresi Kak Santi dengan Wiwin yang sedang bingung. Lucu menurutku karena aku tahu mereka tidak akan mungkin sependapat denganku.
"Apa ide gila kamu akan di direalisasikan?"
"Kalau benar kamu lakukan, aku akan memutuskan hubungan persahabatan kita."
Wiwin melotot padaku diikuti oleh Kak Santi yang juga sudah agak kesal dengan ide gilaku.
"Astaga Kia, cukup Dony yang dulu sering menggoyang kantor dan membuat Satpam mengeluarkan energi ekstra untuk mengusirnya," keluh Wiwin sambil.
"jangan coba melakukan hal yang tidak-tidak, aku bisa mendepakmu keluar wilayah," ancam Kak Santi yang disambut dengan tawa senang Wiwin.
"Aduh...apa kalian pikir aku senekat itu, tidaklah... aku kan Kia walaupun pernah trauma dengan cinta tapi aku masih bisa memikirkan siapa yang paling berhak di sampingku kelak."
"Sama Miko saja jangan coba protes lagi jalani saja dulu, berdamai dengan keadaan Kia, tidak ada orang yang lebih menerima kamu selain Miko."
Aku memeluk Kak Santi yang sudah ku anggap Kakak sendiri.
"Pindahkan Miko kesini dulu Kak, aku tidak mau pacaran jarak jauh," pintaku pada Kak Santi.
"Tidak bisa secepat itu harus melalui prosedur kantor pusat, Miko sekarang kepala cabang sekaligus manager asset management regional IV tidak ada jabatan disini selain menggantikanku, tapi akan kita coba lah di usahakan nanti, banyak maunya ternyata kamu," gerutu Kak Santi sambil mengambil potongan pizza.
"Clear, jadi jangan punya pikiran aneh lagi karena kamu bisa menaruh bom di kantor dan membuat Kak Santi hilang kesadaran," ujar Wiwin sambil tertawa.
Aku menatap Kak Santi dan mengambil potongan pizza yang akan di makannya lalu memasukan pizza itu ke dalam mulutku.
"Tidak semua anti mainstream itu bagus, dasar manja," sungut Kak Santi mengambil kembali sisa potongan pizza di tanganku dan memakannya.
Seseorang muncul di pintu masuk ternyata Kak Arya dia datang membawa kotak kue langsung menghampiri kami yang duduk di sofa.
"Apa sekarang kantor pindah kesini? Kantor kosong tiga ruangan cuma ruangan Riko yang full."
"Coklat, Miko telpon suruh berikan ke kamu, kalau banyak pikiran memang bagus makan yang manis-manis apalagi di temani sama yang manis," kata Kak Arya sambil memberikan kotak kue padaku.
"Huuuu...uh.... yang katanya pujangga dari barat, apa baru datang dari timur berkelana mencari pasangan?"
Wiwin langsung tertawa geli melihat Kak Arya yang kaget dan kelimpungan mencari jawaban.
"Nakal kamu ya, nanti dibilangin sama Babang Alan," jawab Kak Arya sambil ikut tertawa.
"Aduh... aku langsung sembuh, ini lebih bagus dari obat, waah perutku."
Aku tertawa memegang perutku yang mulai kram menahan geli karena canda Kak Arya.
"Hey... kalian lupa ada Bos disini?"
"Mana... tidak terlihat, oh Maaf Bos," jawab Kak Arya sambil menggosok kedua tangannya meminta maaf pada Kak Santi dan langsung kena timpukan bekas kotak pizza.
"Ayo booking room karaoke, aku mau menyanyi sepuasnya jangan bawa gadis gemulai, aku pecat kamu nanti dari temanku," ajakku pada Kak Arya.
"Waah... tukang ancam."
"Kalian bertiga cepat menikah saja... makin lama makin tidak beres," ujar Kak Santi ikut tertawa bersama kami.
Hari itu kami berempat tertawa lepas dan bercanda, di kantor memang kami adalah atasan dan bawahan tapi saat bercengkerama seperti ini tidak ada batasan di antara kami semua sudah seperti keluarga. Dan mereka keluarga kedua bagiku yang selalu menguatkan di saat sakit dan mendukung keinginan yang baik.
************
__ADS_1
**Sekedar mengingatkan setiap orang adalah pribadi yang unik berada di jalannya masing-masing, jangan biarkan pendapat orang lain mendistorsi kenyataan kita, nilai kita tidak akan berkurang berdasarkan kemampuan seseorang melihatnya. Jadilah benar untuk diri sendiri dan cintai dirimu sendiri. Semakin kamu mencintai dirimu sendiri semakin sedikit omong kosong yang akan kamu toleransi. Tidak ada siapapun yang bisa menyakitimu jika kamu tidak mengizinkannya. Kadang-kadang kamu harus melewati hal yang menyakitkan untuk mendapatkan yang terbaik, lihat dan nikmati saja momen itu dengan sabar biarkan tangan Tuhan yang bergerak mengatasi semuanya.
**Selamat membaca dan terima kasih atas semua dukungannya, semoga semua pembaca sehat selalu dan bahagia . Stay home, stay healthy and stay with me 🤗🤗