Rahasia Hati

Rahasia Hati
Angry At Fate


__ADS_3

Rumah sakit tempat Bimo dirawat saat sore hari. Bimo menatap sebuah foto yang ada di tangannya.


"Hey...Coklat apa kabarmu?"


Bimo berbisik sambil tersenyum pada foto yang ada di tangannya. Dia memejamkan mata dan menaruh foto itu di dadanya seakan ingin mencari bayangan yang pernah ada di hatinya.


"Aku kangen kamu," desahnya pelan sambil menghela napas.


****************


Pintu tiba-tiba terbuka. Tari datang dengan Raffa menjenguk Bimo dan Bimo tersenyum pada Raffa. Tari yang sekarang menjaga Bimo dan Mamanya.


"Tari sudah bawa baju ganti Kakak nanti malam Kak Luthfi datang untuk menggantikan Tari menjaga Kak Bimo," kata Tari, sambil merapikan lemari kecil di samping ranjang.


"Mama bagaimana?" tanya Bimo pada Tari.


"Mama di jaga Tante Hera sementara," jawab Tari.


"Makanan Mama harus dijaga jangan sampai menyebabkan kolestrolnya naik," kata Bimo.


"Iya, Kak," kata Tari.


Tari merapikan ranjang dan menemukan fotoku yang tadi di pegang oleh Bimo. Dia mangambil dan langsung menatap Bimo sedih sambil menangis tersedu.


"Kenapa tidak mau menemui Kak Kia? Apa perlu Tari yang panggil, Kak?" tanya Tari sambil menatap Bimo dan menghapus air matanya.


Bimo tersenyum memandang Tari dan dia lalu menarik Raffa agar duduk di sebelahnya Raffa menurut bahkan memeluk Bimo.


"Kalau Kak Bimo mau menemui Kak Kia tidak perlu bantuanmu, Kakak cuna tidak mau Kak Kia melihat keadaan Kak Bimo sekarang," jawab Bimo sambil mengelus kepala Raffa. Bimo memandang Raffa dan tersenyum.


"Jadi anak baik nanti jaga Nenek sama Mama, ya," pesan Bimo pada Raffa.


"Baik, Om...Raffa janji," kata Raffa anak Tari yang masih SD.


Air mata Tari makin deras mendengar kata-kata Bimo pada Raffa. Tari kemudian mengeluarkan bubur yang dibuat di rumah dari tas dan menyerahkan pada Bimo.


Dia harus makan bubur karena lambungnya sudah tidak normal lagi. Kalau sampai perutnya sakit sekali dia bahkan harus menggigit selimut menahan semua karena kadang-kadang sakit itu menyerang tiba-tiba. Dulu rasa sakit itu datang tapi hanya sekali-kali saja tapi lama kelamaan rasa sakit itu semakin sering bahkan obat yang ada sudah tidak cukup mengatasinya.


"Maafkan Tari Kak... semua juga salah Tari sampai Papanya Kak Kia tidak menyukai Kakak," ucap Tari pelan.


"Semua sudah terjadi tidak bisa kembali seperti semula juga, jadi tidak usah diingat lagi," ujar Bimo pelan dan pasrah.


"Nanti ambil surat-surat mobil di dalam laci meja Kakak dan berikan pada Kak Luthfi," suruh Bimo.


"Mau di jual mobil Kak?" tanya Tari kaget.


"Mama perlu terapi untuk kakinya jadi perlu uang lebih perusahaan Papa tidak menjamin biaya terapi itu, Mama harus sembuh," jawab Bimo.


Tari cuma mengangguk dan dia menoleh ke arah pintu saat Luthfi datang.


"Tari pulang dulu Kak, mau memandikan Mama," katanya sambil berkemas dan mengajak Raffa pulang.


*****************


Luthfi masuk dan menaruh barang yang dibawanya, dia yang menjaga Bimo saat sakit tapi hanya bisa sore hari karena Luthfi harus menjaga tokonya.


"Aku sudah dapat orang yang bisa dipercaya untuk di toko jadi aku bisa fokus menjagamu," kata Luthfi.


"Ambil surat mobil dengan Tari taruh di showroom atau tawarkan pada temanmu," kata Bimo pelan pada Luthfi.


"Mau di jual mobil...apa seperlu itu kamu bisa pakai uangku atau deposito, Bim?" tanya Luthfi agak kaget.


Bimo menatap Luthfi kemudian memegang perutnya kesakitan sambil menelungkup di atas ranjang dan mengerang memejamkan mata. Luthfi menghampirinya langsung memijat belakang Bimo sambil menatap dengan khawatir.


"Apa perlu di panggil perawat? Apa sakit sekali Bim?" tanya Luthfi cemas dia ingin memanggil perawat.

__ADS_1


Tapi Bimo menarik tangannya dan menggeleng kepala supaya tidak usah. Luthfi menghentikan langkahnya lalu mengambil segelas air untuk Bimo yang masih mengerang pelan sambil meringis kesakitan.


Bimo akhirnya bisa mengatur napasnya karena rasa sakitnya sudah agak berkurang dan meminum segelas air yang diberikan oleh Luthfi. Dia kemudian kembali duduk di pinggir ranjang sambil memejamkan mata menetralkan kembali keadaanya.


"Untuk apa di jual mobil?" tanya Luthfi lagi dia seperti tidak mau Bimo sampai mejual mobilnya karena hanya itu kenang-kenangan saat Bimo bekerja.


"Untuk pengobatan Mamaku, perlu terapi kaki dan jalan...biayanya agak mahal, aku ingin Mamaku bisa sembuh," jawab Bimo pelan.


"Seharusnya kamu dulu yang punya pikiran supaya sembuh bukan malah memikirkan Mamamu kamu tidak khawatir meninggalkan Mamamu dan Tari?" tanyanya.


"Ada Mas Tito nanti aku bicara padanya," jawab Bimo.


"Mas-mu saja hanya satu kali ke sini saat kamu dirawat, apa masih bisa percaya padanya?" tanya Luthfi seakan sangsi Mas Tito mau merawat Mamanya karena Istrinya yang tidak mau kalau di ajak kesini.


*****


Seorang Wanita terlihat menyusuri lorong Rumah sakit tempat Bimo dirawat. Dia mengetuk pintu kamar tempat di mana Bimo opname dan membuka pintu dengan pelan.


Bimo dan Luthfi yang ada di dalam terlihat kaget, Bimo langsung tersenyum tipis dan Luthfi mempersilahkan masuk dan duduk.


Sari dia mantan istri Bimo datang menjenguk Bimo yang hampir empat tahun sudah bercerai dan Sari sekarang sudah menikah. Dia memberikan plastik yang berisi buah pada luthfi kemudian duduk di kursi depan ranjang Bimo.


"Apa suamimu tahu kamu ke sini?" tanya Bimo pada Sari.


Sari mengangguk sambil menatap Bimo dengan mata berkaca-kaca hampir menangis melihat keadaan Bimo sekarang. Tidak ada lagi Bimo yang dulu yang sanggup menjalankan alat berat dengan gagahnya.


Bimo duduk di samping Sari sambil tersenyum mengulurkan tangannya dan meminta maaf atas semua tindakannya yang membuat Sari terluka saat itu.


Sari menangis keras dan memeluk Bimo dengan erat bagaimanapun dia pernah hidup lima tahun bersama Bimo walaupun hanya sebagai orang asing.


Sari juga meminta maaf pada Bimo karena kesalahan dan ketamakan Bapaknya dan semua yang dilakukannya hingga membuat Bimo menderita hingga tidak bisa menikahiku. Dua orang yang pernah terikat itu saling memaafkan karena hanya itu yang bisa di lakukan agar sakit dan dendam selama ini terpendam dalam hati bisa usai.


Setelah semua selesai Sari pulang sambil tersenyumpada Bimo. Bimo kembali terdiam kemudian menatap Luthfi dan berbaring di ranjang Rumah sakit mungkin masih merasa sakit pada perutnya.


"Sudah satu selesai hutang maafku tinggal dengan Coklat dan beberapa persoalan lagi."


*******


"Aku baru saja di telpon Rima, Coklat sekarang ada di sini dan mau datang nanti reuni kelas kita dulu," jelas Heri sambil duduk di sebelah Bimo yang masih meringis menahan sakit.


"Perlu ku jemput Coklat...Bim, akan kulakukan walau harus menghadapi Papanya?" tanya Heri dengan bersungguh-sungguh.


Bimo cuma menggeleng kepala dan kembali meringis kesakitan sambil memegang perut.


"Dari tadi seperti itu dia... Her," kata Luthfi menghampiri Bimo dan menggosok bahunya.


"Sudah minum obat?" tanyanya.


Heri lalu mengambil kumpulan obat Bimo yang ada di atas meja yang diminum Bimo setiap hari dan memeriksa setiap kepingnya.


"Harus ditambah dosisnya sudah tidak mempan ini padahal sudah 500 Mg ,lho... Bim," ujarnya menatap Bimo dengan cemas.


"Besok aku bicara sama Dokter minta tambah dosisnya, kalau masih sakit harus ditambah injeksi ke infus lebih sering," lanjutnya sambil menghela napas.


Heri memberikan obat lalu menyuruh Bimo meminumnya supaya sakit di perut Bimo berkurang. Bimo menerima dan cepat meminumnya sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.


Bimo terdiam memandang taman di depan jendela kamarnya kemudian dia turun dari ranjang dan mendekati jendela sambil memandang bunga bougenvile merah ungu yang tumbuh di taman Rumah sakit tepat di depan jendela dia berdiri.


"Bunganya bagus seperti bunga di depan rumah Coklat waktu di komplek dulu ," bisiknya pelan.


Papa dulu memang suka merawat bunga makanya di depan rumahku di komplek dulu seperti taman bunga yang indah. Macam-macam bunga dari bougenvile sampai bunga anggrek ada juga kolam ikan kecil. Rupanya melihat bunga itu Bimo teringat rumahku dulu yang sering di lewatinya saat sekolah dan sering datang saat kami masih di setujui Papa.


"Ciptaan Tuhan memang indah," kata Heri sambil ikut memandang bougenvile yang mekar sangat indah warnanya bercampur antara merah dengan ungu.


Bimo langsung tersenyum sinis mendengar kata-kata Heri dan kembali duduk di ranjang.

__ADS_1


"Aku sepertinya ragu kalau kasihNya untukku," desis Bimo seperti orang marah dan dendam.


Heri dan Luthfi kaget mendengar perkataan Bimo. Mereka berdua saling memandang kemudian menatap Bimo


"Jangan begitu...Bim," kata Luthfi seakan ingin membantah semuanya.


"Kenapa? Kalian percaya itu?" tanyanya sambil memandang Heri dan Luthfi bergantian.


"Aku bahkan meragukan akan hal itu," lanjutnya.


Heri terdiam memandang Bimo seakan mengerti perasaan Bimo tapi Luthfi sepertinya masih tidak puas dia ingin menasehati Bimo tapi di tarik oleh Heri dan dia kemudian membatalkan apa yang ingin dikatakannya.


"Kalau memang kasihNya ada, kenapa membuat cintaku dengan Coklat seperti ini? Kenapa saat aku ingin kembali pada Coklat malah membuatkan jalan yang sangat sulit? Kenapa membuatku sakit bahkan di vonis mati karena kanker? Kemana kasihNya saat aku dulu berteriak minta tolong agar aku dan Coklat bisa disatukan? Dimana kasihNya saat aku ingin sekali sembuh dan bertemu dengan Coklat? Kami cuma ingin bahagia dulu aku tidak minta lebih dari itu, itupun tidak di kabulkan jadi sekarang tidak salah kalau aku ragu akan kasihNya."


Bimo menahan tangis berteriak ketika mengatakan semuanya dia meluapkan semua yang ada di hatinya karena takdir dari Tuhan yang sangat dia benci dan sangat tidak dia inginkan. Bimo bahkan memukul kasur yang didudukinya dengan keras seperti ingin mengeluarkan amarah yang selama ini dipendamnya.


Bimo saat itu berada pada sebuah titik di mana kemauan untuk bertemu denganku sangat besar tapi keadaan tidak memungkinkan. Bimo dihadapkan di titik paling bawah hidupnya, sakit jadi tidak bisa bekerja karena perusahaan tidak mau mempekerjakan karyawan yang sakit.


Sebagai tulang punggung keluarga walaupun masih menerima gaji pokok tapi kebutuhan hidup makin besar. Jadi wajarlah dia sangat tertekan dari segi kejiwaannya. Hanya satu yang membuatnya bertahan hidup yaitu ingin bertemu denganku.


Heri langsung mendekati Bimo dan memegang bahunya sambil menatap Bimo.


"Kamu bukannya tidak percaya Dia penyayang tapi kamu cuma marah padanya, Bim," kata Heri pelan sambil mengelus bahu Bimo mencoba menenangkan Bimo.


"Nanti saat reuni kalau Coklat datang aku akan bicara agar dia bisa mengerti semua dan mau bertemu denganmu tapi kanu harus janji selesaikan semuanya sebelum terlambat," pinta Heri.


Bimo cuma diam sambil memandang ke arah jendela dia menatap Heri.


"Bawakan aku Vitamin Her, aku mau minum sedikit saja," katanya memohon.


Lithfi langsung berdiri ingin menolak keinginan Bimo tapi Heri mengangkat tangan menyuruh Luthfi diam.


"Oke, besok aku bawakan tapi janji cuma sedikit aku bawa yang kaleng saja," kata Heri pada Bimo.


Bimo langsung menepuk bahu Heri sambil tertawa dan menganggukkan kepala tanda setuju dengan keputusan Heri.


**********


Keesokan harinya Heri datang dengan membawa dosis obat yang baru dia ambil dari Apotik Rumah sakit dan langsung memberikan pada Bimo untuk di minum setelah Bimo makan oatmeal yang di berikan bagian gizi Rumah sakit.


"Mana janjimu?" tanya Bimo pada Heri.


"Nanti setelah satu jam," kata Heri.


"Kalau terjadi sesuatu kamu harus bertanggung jawab Her," kata Luthfi kesal.


"Santai saja aku sudah tanya temanku yang Apotiker katanya setelah satu jam bisa tapi harus rendah kadarnya aku sudah pilih yang 1% saja jadi tidak apa," jelas Heri sambil duduk di sebelah Luthfi.


Setelah satu jam berlalu Heri memberikan kaleng bir pada Bimo setelah membuka tutupnya. Luthfi memberikan kertas dan pulpen pada Bimo.


"Tulis wasiatmu kalau terjadi sesuatu Heri yang bertanggung jawab bukan aku," katanya dengan kesal karena Bimo tidak mengindahkan kata-katanya dan melanggar larangan Dokter.


Bimo tertawa keras dan menepuk bahu Luthfi kemudian meremas kertas yang diberikannya langsung melemparkannya ke tong sampah di depan pintu.


"Aku tidak akan mati cepat, dosaku sangat banyak pada Coklat jadi aku harus membayarnya dengan rasa sakit yang kurasakan sekarang lebih lama supaya bisa lunas," ujar Bimo sambil memandang Luthfi.


Heri tertawa mendengar perkataan Bimo yang seperti orang sedang frustasi. Bimo lalu meminum kaleng yang diberikan Heri sampai habis kemudian memberikan kaleng yang kosong kembali pada Heri.


"Aaah, aku hidup lagi," kata Bimo sambil tersenyum pada kedua sahabatnya. Luthfi hanya menghela napas kesal dan duduk di samping Bimo.


************


Praaaa......aaang.....


Piring kue yang kupegang terjatuh tepat didepan kakiku. Piring itu pecah dan kacanya mengenai kakiku karena terinjak. Seketika darah menetes di ibu jari kakiku aku meringis menahan pedih dan sakit sambil mengambil kaca yang menempel di daging dengan pelan sambil memejamkan mata. Akhirnya bisa terlepas darahnya makin menetes banyak di lantai.

__ADS_1


"Tanda apa ini?" tanyaku sambil berbisik.


**************


__ADS_2