Rahasia Hati

Rahasia Hati
Kamus Hidup


__ADS_3

Setelah meminta maaf pada Mamaku. Bimo ingin kembali menemui Heri yang sudah dari tadi menunggunya di depan pintu masuk Intalasi rawat jalan. Mamaku tersenyum mengangguk pada Bimo menyuruh Bimo bisa pergi sekarang walaupun Mamaku masih sedih sambil terisak.


Tapi tiba-tiba Lala datang dengan Papaku tepat di hadapan Bimo saat dia mau beranjak pergi. Mamaku langsung memandang Bimo dan mengangguk menyuruh Bimo supaya berbicara pada Papaku.


"Halo...Om, apa kabar?" tanya Bimo sambil mengambil tangan Papaku dan menyalaminya.


Papa sangat terkejut saat mendengar suara yang sekian lama dicari dan ditunggu.


Papaku langsung memeluk Bimo dan tersenyum senang.


"Kapan datang dari Balikpapan, kapan kamu mau melamar Kia?" tanya Papa dengan tidak sabar.


Mamaku menunduk sambil menangis, Lala yang ada di situ juga tidak tahan melihat peristiwa itu, dia langsung menjauh sambil menangis tersedu. Bimo kemudian memeluk Papaku dengan erat sambil menangis.


Papaku jadi bingung kenapa semua orang menangis mendengar perkataannya termasuk Bimo.


"Maafkan Bimo Om...Bimo terlambat datang pada Om," ujar Bimo di sela tangisnya.


"Panggil Kia... suruh dia pulang katakan Bimo sudah datang kita langsungkan acaranya bulan depan," kata Papa pada Mama yang berdiri di samping.


Mamaku langsung menangis dan terduduk di lantai tidak sanggup menjawab kata-kata Papa. Bimo makin memeluk Papaku dengan erat, dia tahu Papa sudah melupakan semua kejadian di antara kami yang sangat menyakitkan.


"Kenapa kalian menangis?" tanya Papaku kebingungan.


Bimo menarik napas panjang sebentar sambil menatap Papa. Bimo mencoba tersenyum dan menghentikan sedihnya.


"Om masih ingat kalau Bimo sangat mencintai Kia?" tanya Bimo pada Papaku.


"Iya...Om tahu Bimo sangat mencintai Kia, Om masih sangat mengingatnya," kata Papaku sambil mengelus belakag Bimo.


Sekarang ingatan Papaku berada pada saat aku dan Bimo masih saling mencintai. Aku juga tidak tahu mengapa Tuhan mengembalikan ingatan yang seperti itu dan menghapus ingatan tentang kebencian Papaku pada Bimo.


"Bimo masih harus menyelesaikan urusan dulu Om, nanti saat semuanya sudah selesai Bimo akan datang pada Om, apapun caranya," janji Bimo.


"Jadi kamu mau kembali kerja ke sana lagi? Apa sudah dibicarakan dengan Kia semuanya?" tanya Papa sambil memegang tangan Bimo seperti ingin menahannya jangan pergi.


"Iya...Om nanti Bimo bicarakan pada Kia," jawab Bimo.


"Lebih baik secepatnya, Om mau punya cucu sendiri jadi biar rumah lebih ramai nanti ada anak selain anak Andi," kata Papa.


"Om mau ambil obat dulu, ingat bawa keluargamu langsung ke rumah bila Kia datang," kata Papaku.


Papaku menepuk bahu Bimo sambil tersenyum dan beranjak pergi menuju Apotik rumah sakit. Mengambil obat yang sudah diresepkan oleh Dokter. Mamaku langsung mengelus bahu Bimo dan Lala menuntun Papa berjalan.


Bimo memandang tidak percaya apa yang dialaminya barusan. Bagaimana mungkin kebencian Papaku padanya sekarang musnah begitu saja. Dia makin menyesal karena membiarkanku salah paham begitu dalam padanya. Tapi untuk memperbaiki semua sudah tidak mungkin lagi.


Bimo menyadari kalau kesehatannya sangat tidak memungkinkan kalau dia ingin bersama denganku seperti dulu. Bimo tidak mau aku sakit untuk kesekian kalinya karena kehilangannya nanti. Karena vonis yang sudah di jatuhkan Dokter padanya mungkin tinggal sebentar lagi.

__ADS_1


Bimo memandang kepergian Papa dan Mamaku dengan sedih. Heri kemudian memegang bahu Bimo menuntunnya ke dalam memasuki ruang tunggu dan Bimo kemudian memasuki ruang periksa Dokter.


"Bagaimana, Dok?" tanya Heri pada Dokter yang masih memegang perut Bimo dan memeriksa layar scanning di depannya.


Dokter menggeleng kepala dan menatap Bimo yang turun dari ranjang tempat dia di periksa.


Bimo memperbaiki baju dan duduk di sebelah Heri yang menolong memundurkan kursi di depan meja Dokter.


"Sudah seperti yang kita katakan bahwa tanpa operasi dan kemoterapi tidak bisa menahan sel kankernya, lihat bahkan sudah sampai ke liver," jawab Dokter sambil menunjuk ke arah layar.


Heri menarik napas berat lalu menatap Bimo sambil menepuk belakang Bimo untuk menguatkan.


"Kalau semua itu dilakukan sekarang, apa saya bisa sembuh?" tanya Bimo.


Heri kaget mendengarnya dia menatap Bimo tidak percaya dan tersenyum senang.


"Kamu mau melakukannya, Bim... kamu akhirnya punya pikiran untuk sembuh, Bim?"


Bimo memandang Heri kemudian kepada Dokter, dia ingin mendengar apa yang di katakan Dokter tentang penyakitnya sekarang dan seberapa banyak persentasi untuk dia bisa sembuh.


"Saya tidak bisa menyebutkan berapa angka pastinya kemungkinan sembuh karena sudah sampai stadium ke-3 hampir ke-4, yang pasti tidak mungkin," jelas Dokter dengan agak sedih.


Bimo menganggukan kepala dan kemudian menatap ke arah Dokter bahwa ia sudah tahu semua yang akan terjadi padanya.


Setelah selesai semua pemeriksaan Bimo hari ini, Heri dan Bimo keluar dari ruangan Dokter. Tiba-tiba Bimo menghentikan langkah kaki Heri yang agak terkejut dengan sikap Bimo.


"Baiklah aku akan mencoba melihat rekam medisnya setelah itu aku coba bicara dengan Dokternya, nanti aku kasih tahu padamu," jawab Heri.


Mereka kemudian menuju kembali ke ruangan tempat Bimo dirawat. Heri setelah mengantar Bimo kembali ke ruangan Dokter yang tadi memeriksa Papaku dia mencoba bicara dengan Dokter tentang kesehatan Papaku.


*******


Diruangan Dokter yang memeriksa Papaku Heri telihat tengah berbicara dengan serius. Heri mendengarkan penjelasan Dokter dengan baik dan sekali-kali dia mengangguk. Bimo ingin tahu sejauh apa penyakit hipertensi yang diderita Papaku dan efeknya terhadap yang lain.


Heri menyimak segala sesuatu yang dikatakan Dokter karena di bidang kesehatan kalau salah informasi saja bisa fatal. Setelah semua jelas Heri kembali ke tempat kerjanya, dia bermaksud menemui Bimo nanti setelah makan siang.


*****


Bimo menatap handphonenya kembali memutar video yang pernah dikirim Heri saat reuni kemarin di mana teman-teman sekelas mengucapkan semangat termasuk aku. Bimk tersenyum sambil membenarkan letak kepalanya di bantal.


Luthfi datang menemui Bimo setelah menutup tokonya. Dia langsung menghampiri Bimo yang berbaring di ranjang kemudian duduk di kursi depan ranjang.


"Aku bertemu dengan Orang tua Coklat," kata Bimo saat Luthfi duduk.


Luthfi nampak sangat terkejut mendengar kata-kata Bimo langsung mendekat ingin mendengar penjelasan Bimo lebih lanjut.


"Bagaimana kejadiannya?" tanyanya sangat penasaran.

__ADS_1


Bimo kemudian duduk di ranjang, dia menaruh handphone yang di pegangnya di meja kecil sebelah ranjang kemudian menceritakan pada Luthfi satu-persatu.


"Aku tidak percaya Papanya Coklat mengalami demensia dini dan kebutaan akibat hipertensi," kata Bimo pelan sambil menatap Luthfi.


Luthfi terkejut mendengar penjelasan Bimo. Dia sama sekali tidak menyangka Papaku yang dulu sangat keras bahkan ketika berteriak marah pada Bimo sangat menakutkan bagi Luthfi yang sempat menemani saat Bimo di marahi Papaku.


"Apa separah itu?" tanya Luthfi masih tidak percaya.


"Beliau bahkan tidak mengenaliku saat berpapasan dan yang lebih membuatku kaget beliau mengingatku sebagai Bimo 15 tahun yang lalu saat aku masih tugas di Balikpapan," jawab Bimo.


Luthfi makin terkejut mendengar Papaku mengingat masa lalu yang bagus dan melupakan masa lalu yang pahit. Bimo kemudian melanjutkan penjelasannya yang masih membuat Luthfi terheran-heran.


"Beliau malah menyuruhku melamar Coklat bulan depan," kata Bimo sambil tersenyum.


"Seandainya Beliau mengatakan itu dahulu mungkin aku tidak terbaring di sini dan Coklat tidak akan hidup dalam kebencian yang berkarat di dalam hatinya," lirih Bimo.


"Apa mungkin itu hukuman bagi Beliau karena menyakiti hati anaknya dan calon menantunya?" tanya Luthfi pada Bimo yang kemudian menggerakan bahunya.


"Waahh...Coklat hebat sekali, Orang-orang yang menyakitinya sekarang berada di titik nadir, Kamu, Mamamu dan Papanya," sahut Heri saat memasuki ruangan Bimo di rawat sambil tertawa.


Bimo dan Luthfi terkejut tidak menyangka Heri datang. Heri membawa beberapa kertas berisi rekam medis Papaku dan langsung memberikannya pada Bimo.


Bimo mengambil kertas-kertas itu dan mulai membacanya sambil mengeryitkan kening kemudian menatap Heri yang berdiri di depannya.


"Tidak ada harapan untuk glukoma dan demensia dini Papa Kia tapi hipertensi masih bisa di atasi dengan pola makan dan obat yang diberikan Dokter," jelas Heri.


"Obatnya sudah yang paling mahal termasuk untuk demensia sudah paling bagus, Coklat tidak main-main dalam mengobati Papanya, menurut Dokter saat terkena tekanan tinggi seperti itu tidak ada yang bisa bertahan hidup, tapi Papanya Coklat malah membaik semangat hidup Beliau memang tinggi," lanjut Heri menjelaskan pada Bimo.


"Jalan hidup memang tidak bisa di tebak seperti sudah ada kamusnya, tertulis dan tak bisa di hapus walau kita mati-matian mencobanya," kata Bimo seperti sudah bisa menerima sedikit apa yang terjadi padanya.


*******


Malam hari ketika Luthfi tidur di kursi sofa dan Heri sudah pulang. Bimo merenung di depan jendela kamar rumah sakit. Ada penyesalan yang teramat sangat di dadanya yang membuat dia harus menarik dan membuang nafas sangat panjang.


Bimo membuka satu jendela dan merasakan angin lembut membelai wajahnya, walaupun angin malam sangat dingin tapi dia merasakan kesegaran yang sudah sekian lama tidak ia rasakan.


Memandang gerakan beberapa dahan pohon yang bergesekan membuat Bimo seolah mantap dengan sebuah keputusan yang sedari tadi telah dipikirkannya. Mulai saat bertemu dengan Papaku sampai mendengar penjelasan Heri membuat Bimo yakin mengenai langkah selanjutnnya yang harus dia ambil.


Bimo memejamkan mata merasakan kembali angin yang menerpa wajah dan tubuhnya kali ini angin agak sedikit kencang sampai membuat Bimo merasakan dingin hampir ke tulang. Dia menutup jendela dan kembali berjalan menuju ranjang untuk beristirahat.


"Aku akan memberikan segalanya milikku dan akan membuat Coklat bisa mengenangku untuk selamanya," kata Bimo pelan sambil mengunci jendela kamar ruangannya.


"Kalau ini caranya untuk menebus dosaku pada Coklat, akan aku lakukan semuanya," desahnya pelan sambil memejamkan mata dan tidur.


*******


**Takdir kelabu yang sudah tertulis tidak akan bisa di kubur dalam dan ketika waktumu telah habis, sebelumnya buatlah dirimu seperti musim kemarau walau daun berguguran tapi akan di kenang selamanya.

__ADS_1


**Selamat membaca....terima kasih atas dukungannya...


__ADS_2