Rahasia Hati

Rahasia Hati
Noda Hitam Masa Lalu


__ADS_3

Flashback on*


Malam sekitar jam 20.00 wib, sebuah mobil berhenti di depan sebuah rumah kontrakan. Turunlah dua orang wanita dari mobil itu dan seorang wanita berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumah kontrakan. Kemudian dia menggedor pintu rumah dengan kencang kelihatan seperti orang yang sedang marah.


Wanita yang satunya lagi buru-buru menghampiri wanita yang menggedor rumah dan mencoba menyabarkannya.


"Kakak Hani...jangan ribut-ribut, ini sudah malam malu dilihat dan didengar orang," ucapnya sambil menarik tangan Hani.


Tapi Hani tidak menghiraukan dia tetap menggedor pintu bahkan sambil berteriak seperti orang yang kalap.


"Diah! Buka pintunya, kita harus bicara cepat buka," teriaknya dengan marah yang amat sangat.


"Pelan-pelan Kak Hani jangan kasar," pinta Hera dengan wajah memelas.


"Jangan ikut campur ini urusanku, Hera," kata Hani masih menggedor pintu rumah.


Tak lama keluarlah seorang wanita yang dipanggil Hani. Dia adalah Diah orang yang mengontrak rumah itu. Hani lalu menyerang Diah sambil berteriak dan menjambak rambut Diah sampai Diah terduduk di lantai.


Hera langsung menangkap tangan Hani yang memukuli Diah. Hera sangat takut kalau terjadi sesuatu pada Diah karena Hera tahu Diah baru saja melahirkan. Diah tidak melawan dia cuma duduk di lantai sambil menangis.


"Dasar wanita tidak tahu diri beraninya merebut suami orang, dulu aku sudah memperingatkan kamu jangan berani mendekati Bang Sopian, sekarang kamu malah punya anak dari dia," teriak Hani dengan histeris.


"Maafkan aku Kak," sahut Diah masih sambil menangis.


"Kamu sudah berjanji padaku dulu tidak mendekati Bang Sopian lagi karena aku sudah memberitahu padamu bagaimana watak suamiku, tapi lihat kenyataannya kamu malah punya anak dari dia," teriak Hani masih mencoba memukul Diah.


Hera Langsung menangkap tangan kakaknya tapi ditepis oleh Hani dan Hani juga ikut menangis karena merasa hatinya sangat sakit.


"Sudah Kak, bicarakan baik-baik saja jangan dengan memukul kasihan Diah," mohon Hera pada Kakaknya.


Hani kemudian berusaha meredakan emosinya. Dia kemudian duduk di kursi tamu sambil memandang Diah dengan tajam dan terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar. Diah langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar dan membawa bayinya keluar kenudian duduk di sofa. Diah mencoba menyusui bayinya karena bayinya dari tadi menangis tidak mau berhenti.


Hani kemudian menangis melihat semuanya. Dia merasa bahwa semuanya sudah terlambat dan kehancuran rumah tangga yang dibinanya selama ini dengan Sopian benar-benar seperti di ujung tanduk. Karena Diah ternyata juga mempunyai anak dari suaminya.


Hani sangat menyesalkan keputusan yang diambil Diah karena bagaimanapun Diah masih berteman dengan Hera adiknya. Hera memandang Diah dengan wajah putus asa dia sangat kecewa pada temannya yang sudah salah melangkah.


"Maafkan aku Kak... aku tidak bisa mendustai hatiku, aku juga mencintai Bang Sopian," lirih Diah masih menyusui bayinya.


Hani tidak bisa lagi berkata-kata dan dia hanya memandang Diah dengan nanar. Rasa marah yang tadi dirasakannya kini berganti menjadi kasihan karena mereka berdua sama-sama korban dari cinta segitiga.

__ADS_1


"Kamu kenapa tidak menuruti apa kataku, kamu masih muda kamu masih bisa mencari yang lebih dari Bang Sopian, heeeh... terserah kamu saja aku sudah memperingatkanmu kalau terjadi sesuatu jangan pernah salahkan aku dan mengadu padaku," tegas Hani memperingatkan Diah.


Malam itu Hani benar-benar menyesal kenapa Diah masih mau berhubungan bahkan menikah dibawah tangan dengan suaminya sedangkan Diah tahu watak suaminya yang tidak bisa diam di satu wanita pada waktu yang lama.


Hani masih mau bersama dengan Sopian karena dia sudah memiliki 3 orang anak dan dia adalah yang terdaftar sebagai istri sah Sopian di perusahaan tempat suaminya bekerja jadi Hani yang bethak atas uang gaji, pensiun dan bonus dari perusahaan tempat Sopian bejerja. Dari itulah mengapa Hani masih mau bertahan dengan Sopian sampai sekarang.


Hani sudah memperingatkan Diah supaya menjauh dari suaminya karena kalau terjadi sesuatu pasti Diah yang menderita. Tapi ternyata Diah tidak mengindahkan peringatannya malah menikah dan bersama Sopian bahkan sekarang sudah mempunyai anak. Hera dan Hani kemudian meninggalkan Diah dan mereka kemudian pulang karena semua sudah terlanjur juga tidak bisa di cegah lagi.


"Apa kau tidak menceritakan padanya bagaimana sikap dan watak Bang Sopian?" tanya Hani kepada Hera adiknya.


"Sudah Kak, aku sudah banyak mengingatkannya supaya jangan dekat-dekat dengan Bang Sopian tapi ternyata dia tidak mengindahkannya," jawab Hera sambil fokus menyetir.


"Kita lihat saja nanti paling lama 3 tahun dia pasti ditinggalkan oleh Bang Sopian," kata Hani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


********


Seorang laki-laki datang tergopoh-gopoh memasuki rumah kontrakan Diah ternyata dia adalah Sopian suaminya Hani sekaligus suami Diah.


"Apa yang dilakukannya padamu?" tanya Sopian kepada Diah.


"Tidak apa-apa Kak, dia cuma marah," jawab Diah sambil menggendong bayinya.


***********


3 tahun kemudian.


Seorang wanita yang ternyata adalah Diah datang bersama seorang anak ke rumah Hani. Diah terlihat kalut sambil menangis dan membawa anak yang dituntunnya memasuki teras rumah. Anak itu terlihat bingung dan menurut saja.


Untunglah Hani sedang berada di rumah saat itu. Dia sangat terkejut melihat Diah datang bersama anaknya. Diah itu adalah istri siri dari suaminya, yang sekarang mempunyai anak seumur dengan anak Hani. Diah menangis sambil menghampiri Hani tapi Hani sudah menduga ini akan terjadi jadi dia cuma menghela napas dan mempersilahkan Diah duduk.


Hani menatap Diah dengan yang tajam dan juga menatap anaknya dengan rasa kasihan. Kebetulan anaknya Hani yang umurnya sama sedang berdiri di depan kamarnya. Dia berdiri sambil menatap anak yang datang seperti Ingin mengetahui siapa anak yang di depannya.


"Kakak Hani, Bang Sopian kawin lagi dengan seorang wanita penghibur," kata Diah sambil menangis dan memegang tangan Hani.


"Aku sudah bilang padamu dulu tentang Bang Sopian tapi kamu tetap memaksa, akhirnya seperti ini kejadiannya, kamu tanggung sendiri resikonya," kata Hani dengan dingin.


"Bang sopian sudah sebulan tidak datang ke rumah, tidak memberi Diah uang untuk keperluan kami sehari-hari," ujar Diah masih menangis.


"Aku sudah tahu dia sekarang serumah wanita itu, kamu tidak bisa lagi menyuruh Bang Sopian kembali padamu, itu sudah wataknya," lanjut Hani.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Hani, Diah menangis semakin keras. Dia sudah tidak punya keluarga disini dan dia cuma berdua dengan anaknya. Jadi Diah sangat terpukul karena Sopian yang meninggalkannya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Kak, Bagaimana aku dengan keperluan kami sehari-hari dan biaya untuk sekolah anakku?"


Diah tidak bisa berpikir lagi dia benar-benar bingung harus kemana mengadu. Diah meminta tolong pada Hani karena Hani juga istri Sopian.


Hani kemudian menelepon Hera karena dia juga sama bingungnya menghadapi kejadian ini. Hera adalah temannya Diah mungkin Hera bisa membantu Diah. Hani sekarang kasihan melihat anaknya Diah yang masih kecil karena Hani juga punya anak yang tidak pernah diperhatikan oleh suaminya.


Hera menatap tajam ke arah Diah dan dia juga sudah menduga hal ini akan terjadi makanya Hera tidak terkejut ketika Hani menelponnya dan mengatakan Diah datang sambil menangis.


"Kami tidak bisa membantumu Itu semua adalah keputusanmu dulu," kata Hera sambil menghela napas.


"Jadi apa yang harus aku lakukan Hera?" tanya Diah sambil memandang Hera dengan wajah memelas.


"Bagaimana ini Kak, anaknya masih kecil, bagaimana kalau kita bicarakan dengan Bang Sopian dulu?" tanya Hera kepada Hani.


Hani menggelengkan kepalanya dia tidak mau membicarakan masalah Diah dengan suaminya karena dia tahu itu akan sia-sia. Suaminya saja tidak pernah pulang lagi kerumahnya, Sopian sekarang tinggal dengan istri mudanya yang baru.


"Apa kamu mau pulang kampung?" tanya Hera kepada Diah.


"Aku tidak bisa pulang kampung dengan keadaan begini," jawab Diah terisak.


"Aku akan membantumu kalau kamu mau pulang kampung," kata Hani sambil duduk disamping Hera.


"Pikirkan dulu bagaimana langkahnu selanjutnya setelah itu hubungi kami, kami akan berusaha membantumu Diah," ujar Hera sambil meyakinkan Diah.


Diah menangis sedih dan memyesal dia tidak menyangka kalau Hani dan Hera mau membantunya. Padahal dia sudah menyakiti Hani karena telah mengambil suaminya bahkan mempunyai anak. Diah kemudian meminta maaf kepada Hani karena perbuatannya dulu yang salah.


Diah lalu pulang bersama anaknya dengan perasaan bercampur aduk dia tidak menyangka Sopian sanggup meninggalkan dia dengan anaknya yabg masih kecil. Diah tidak bertemu dengan Sopian di rumah Hani dan dia juga tidak mungkin menyusul Sopian ke rumah istri mudanya.


Sambil menangis Diah memasuki rumah kontrakannya kemudian dia menatap anaknya yang sangat mirip dengan suaminya. Tiba tiba kemarahannya meledak seakan'akan melihat suaminya yang pergi meninggalkannya.


"Kalau nanti Ayahmu pulang dan Ibu tidak bertemu dengan Ayahmu, katakan padanya bahwa Ibu akan mengutuknya seumur hidupnya," kata Diah dengan sangat marah sambil menatap anaknya.


************


**Anak adalah korban pertama dari keegoisan orang tua, kadang-kadang orang tua tidak menyadari bahwa sebuah perpisahan meninggalkan luka yang dalam bagi anak-anak. Jadi sebelum memutuskan untuk berpisah lihat dulu dampaknya bagi anak-anak yang akan di tinggalkan.


**Selamat membaca jangan lupa dukung Author dengan Vote like dan komen ...terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2