
Julia, raskal, dan oma raskal akhirnya makan siang bersama di sebuah restouran yang berada tidak jauh dari kompleks perumahan oma raskal. Mereka tampak mengobrol ringan dengan di selingi canda tawa. Meskipun julia terlihat sedikit kikuk berada di tengah raskal dan omanya.
Bukan tanpa alasan julia merasa seperti itu. Selama ini sudah banyak yang raskal lakukan untuk nya. Terkadang julia bahkan sampai berpikir yang tidak mungkin. Julia juga sempat merasa GR saat raskal memberinya bantal berwarna pink berbentuk love untuk nya.
Setelah selesai makan siang bersama mereka pun langsung menuju rumah sakit untuk melanjutkan niat nya menjenguk nathalie.
Sesampainya disana nathalie yang tampak sudah baik baik saja menyambut gembira kedatangan oma dan raskal. Namun tidak pada julia. Nathalie bahkan seolah menganggap julia tidak ada di sekitar nya.
Julia menghela nafas. Julia tidak bodoh. Julia tau Nathalie sangat tidak menyukai nya. Pelan pelan Julia memundurkan langkah nya hingga akhir nya keluar dari ruang tempat nathalie di rawat. Julia tidak mau nathalie merasa terganggu karna kehadiran nya.
"Kan, lo mah nggak bakal di anggap sama si mata empat itu."
Julia terkejut dan langsung menolehkan kepalanya. Julia tidak menyangka ketika melihat tiara yang sedang duduk santai di kursi tunggu yang berada tepat di depan ruang rawat nathalie.
"Tiara?"
Tiara mendelik menatap julia yang tampak terkejut melihat nya. Cewek bermata belo yang juga masih mengenakan seragam sekolah itu bangkit dari duduk nya kemudian mendekat pada julia.
"Biasa aja kali. Nggak usah kaget gitu." Katanya.
Julia tertawa. Julia sangat senang melihat tiara yang ternyata menyusul nya dan raskal ke rumah sakit untuk menjenguk nathalie.
"Keadaan kak nathalie udah baikan ra." Tutur julia dengan senyuman di bibir nya.
"Kak nathalie baikan tapi nggak dengan lo." Balas tiara malas.
Julia mengeryit. Hatinya memang terasa sedang tidak baik baik saja. Dan semua itu karna sikap nathalie yang sama sekali tidak menganggap nya ada.
"Gue udah duga. Tuh cewek emang bermuka dua. Gue tadi udah mau masuk tapi liat lo yang di kacangin gitu sama dia gue jadi males." Ujar tiara dengan wajah sebal nya.
Julia hanya tersenyum mendengar nya. Tiara memang selalu benar setiap berprasangka pada nathalie.
"Eh iya jul, lo udah jenguk temen nya si nenek sihir itu belum?" Tanya tiara menatap julia.
__ADS_1
Julia menggelengkan kepalanya. Dirinya, raskal, juga omanya memang langsung ke ruang rawat nathalie tadi dan tidak pernah berpikir tentang tasya.
"Gue denger dia lumpuh. Dan pita suaranya rusak." Kata tiara.
"Ya tuhan.." Lirih julia terkejut.
"Mending sekarang kita ke ruang rawat nya aja." Ajak tiara.
Julia menganggukan kepalanya. Cewek manis itu mengikuti langkah tiara menuju ruang rawat tasya yang ternyata tidak jauh dari ruang rawat nathalie.
"Ini ruang rawat nya?" Tanya julia ketika mereka sampai di depan sebuah ruangan VIP.
"Setau gue iya." Jawab tiara.
Tiara membuka pelan ruang VIP itu. Dan seketika terlihat sosok lemah tasya yang sedang duduk bersender di atas bankar nya.
Tiara langsung masuk di ikuti julia di belakang nya. Mereka berdua terus menatap tasya yang tampak kaget melihat kehadiran tiba tiba kedua adik kelas nya itu.
"Jul..." Lirih tasya terlihat sangat kesusahan ketika menyebut nama julia.
"Lo nggak perlu ngomong kalau susah kak. Kita kesini cuma pengin tau keadaan lo gimana. Bukan buat denger lo ngomong." Celetuk tiara.
Julia mendelik. Cewek itu menyikut lengan tiara merasa tidak enak pada tasya yang hanya tersenyum menanggapi celetukan tiara.
Tasya menghela nafas. Tangan nya berlahan terangkat dan meraih tangan julia yang berada tepat di samping bankar nya.
"Ma-ka-sih.." Katanya susah payah.
Julia menganggukan kepalanya.
"Sama sama kak. Udah seharus nya kan kita saling tolong menolong sesama teman." Balas julia.
Tasya meneteskan air mata mendengar nya. Ingin sekali tasya mengatakan yang sebenar nya bahwa kecelakaan yang menimpa nya dengan nathalie bukanlah sebuah kecelakaan yang di akibatkan karna kelalaian.
__ADS_1
"Lo tenang aja kak polisi sedang menyelidiki penyebab kecelakaan lo dan kak nathalie." Senyum tiara.
Tasya menganggukan kepalanya. Cewek itu yakin bahwa semuanya akan terungkap dan nathalie segera akan mendapat balasan atas apa yang di lakukan nya.
Hanya 15 menit julia dan tiara menemani tasya. Mereka berdua kemudian keluar dan pergi dari rumah sakit itu tanpa memberitahu pada raskal dan omanya.
"Lengan lo gimana jul?" Tanya tiara saat mereka sudah berada di dalam mobil nya.
"Lengan gue udah nggak papa kok." Jawab julia tersenyum kemudian menatap lengan nya yang masih di balut dengan perban.
Tiara menganggukan kepalanya. Sebenar nya tiara sangat sebal sekali dengan raskal dan omanya saat ini. Mereka berdua sama sekali tidak mencari julia padahal julia sudah tidak bersama mereka lagi. Dan raskal bahkan nggak menghubungi julia untuk menanyakan keberadaan cewek itu dimana sekarang.
"Jul gue kok ngrasa sedikit aneh ya sama kecelakaan itu." Ujar tiara tanpa menoleh pada julia yang berada di samping kemudinya.
"Aneh gimana?" Tanya julia menatap bingung pada tiara yang sedang fokus dengan kemudinya.
"Setau gue jalan ke rumah kak nathalie itu bakalan jauh banget kalau lewat jalan arah ke rumah lo. Tapi kok bisa dia lewat sana dan tiba tiba kecelakaan sih. Aneh nggak sih menurut lo?"
Julia terkekeh mendengar nya. Awalnya julia juga merasa seperti itu. Tapi julia mencoba untuk berpikir positif dan tidak mau menaruh curiga pada nathalie. Meskipun julia tau nathalie memang sangat tidak menyukainya. Tapi julia yakin nathalie tidak mungkin berniat buruk padanya.
"Ya mungkin kak nathalie lagi pengen jalan jalan aja ra. Atau mungkin mau sekalian nganter kak tasya." Balas julia.
"Ya juga sih.. Tapi gue tetep merasa ada yang aneh dan perlu gue tau."
Julia tertawa. Tiara memang sahabat nya yang selalu berpikir terlalu jauh dan kadang tiara juga sering bertingkah konyol dan menyebalkan.
"Eh iya jul lo udah makan siang belum? Gue laper banget nih." Tanya tiara.
"Gue udah makan sih tadi sama oma sama raskal. Tapi kalau lo laper gue temenin deh." Jawab julia tersenyum.
"Ciah.. Abis makan sama calon oma mertua ternyata." Ledek tiara.
"Iihh.. Apaan sih lo ra. Nggak lucu tau." Sebal julia mengerucutkan bibir nya.
__ADS_1
Tiara tertawa tergelak melihat ekspresi sebal julia.
Tiara, lo selalu bisa membuat gue yakin. Lo selalu bisa membuat rasa ragu di hati gue berlahan terkikis. Gue nggak tau apa jadinya gue kalau sampai gue nggak ketemu sama lo.