Rahasia Hati

Rahasia Hati
Menebus Waktu


__ADS_3

Miko berjalan mendekati buku yang tergeletak di atas ranjang. Pikirannya melayang saat dia harus merelakan semua perasaan cinta di hati. Bimo kakak tiri yang saat itu sudah berhubungan serius denganku. Tidak mungkin dia bisa merebut apapun dari Bimo kecuali kasih sayang ayahnya dulu.


"Kamu harus mengalah Nak. Dia kakakmu, kalian bersaudara. Ketahuilah dia lebih banyak membutuhkan kasih sayang daripada kamu," suara pelan dan membujuk dari Ibunya hadir dalam mimpi Miko.


"Kenapa Miko selalu mengalah Bu? Dia selalu mendapatkan segalanya sedang Miko sendirian di sini. Ini sangat tidak adil," teriak Miko.


"Biarkan waktu yang akan menjawab. Tunggu saja, kalau dia benar untukmu, dia akan kembali padamu."


Suara itu lambat laun menghilang dan membangunkan Miko dari tidur. Miko menyeka setetes air mata di ujung pelupuk. Hatinya sakit saat itu, bertemu dengan Ibu yang sudah tiada dan menyuruh Miko menyerah dengan perasaannya padaku.


"Kalau itu yang Ibu inginkan, Miko akan melaksanakan. Walau aku masih belum rela sepenuhnya."


Saat itu cuma merelakan dan fokus dengan diri sendiri yang di lakukan Miko. Berusaha mengejar cita-cita agar bisa sukses. Cinta setelah itu bagi Miko hanya sebuah kata kosong. Tidak ada makna dan tujuan. Makanya dia selalu bermain-main saja tidak pernah menganggap serius.


Miko kembali menatap buku dan akhirnya percaya pada kata Ibunya dulu. Waktu ternyata bisa menjawab semua. Takdir akhirnya berpihak pada Miko, dia bisa merengkuh kembali perasaan yang dulu harus dilepaskan.


Miko tersentak saat dua tangan melingkar lembut di pinggangnya. Sebuah pelukan hangat di pagi yang agak dingin membuat senyum Miko mengembang. Bahagia itulah yang dirasakan, dia mengelus tanganku dan menoleh ke arah bahu tempat ku letakan kepalaku dengan mesra.


"Biarkan aku menebus waktu yang sudah terbuang. Tentang semua perasaan kamu yang dulu pernah ada. Aku benar-benar sayang kamu sekarang Mik," ucapku pelan sambil mengeratkan pelukan. Miko masih wangi kendati belum mandi. Aku bisa mencium aroma khas mint Huggo Iced dari Huggo Boss di badan Miko. Membuatku memejamkan mata dengan perasaan damai dan menyegarkan.


"Terima kasih Beb," kata Miko sambil membelai kepalaku dan ingin berbalik.


"Tetap seperti ini sebentar, biarkan aku memeluk kamu lebih lama," pintaku.


Miko tersenyum senang, dia mengangguk lemah sambil tertawa kecil.


"Trust me."


"Yes.... really Beb."


"I will say love to you everyday."


"Okay I'll wait."


Aku tersenyum kembali menaruh kepala di punggung Miko. Waktu yang berpihak padaku sekarang tidak akan ku sia-sia kan. Kali ini dengan menggenggam tangan Miko tidak ada rasa ragu lagi. Soal masalah yang kemarin hanya terpaan kerikil kecil semata tidak akan bisa mengguncang hubungan kami. Aku melantunkan syair lagu dengan pelan di balik punggung Miko.


Dan diriku bukanlah aku


Tanpa kamu tuk memelukku


Kau melengkapi ku


Kau menenangkan aku.


********


"Antar aku ke kantor," mohonku pada Miko setelah semua sudah beres dan aku bisa keluar dari rumah sakit.


"Istirahat saja, nanti di kantor malah ribut kamu datang dengan perban di tangan."


"Cuma luka kecil saja... aku mau ke kantor. Pasti banyak pekerjaan yang tertinggal," rengekku sambil menatap Miko dengan wajah memelas.


"Baiklah tapi setelah itu harus istirahat. Aku juga mau bicara dengan kak Santi."


Aku tersenyum menang setelah mendengar jawaban Miko.


"Aku selalu kalah," desis Miko sambil menggeleng kepala tetap dengan senyuman manis ke arahku.


********


"Satu posisi, tolong kosongkan untukku Kak."


Miko langsung to the point saat memasuki ruang kerja kak Santi. Kak Santi yang lagi serius menatap laptop agak kaget dengan kedatangan Miko.


"Memang perusahaan ini milik ayahmu? Se-enaknya saja, kenapa lagi?"


Kak Santi menutup laptop dengan wajah ditekuk.


"Aku akan menikah, bagaimana mungkin harus jauh dengan Kia. Aku minta tolong kali ini Kak."


Miko memasang wajah memelas hingga membuat kak Santi mencibir. Kak Santi melemparkan notes kecil dengan kesal ke arah Miko. Disambut dengan senang oleh Miko.


"Please." Miko sampai menangkup kan dua tangan seperti memohon pada raja.


"Kalian selalu membuat aku sakit kepala," maki kak Santi sambil memukul belakang Miko dengan koran.


"Tunggu sebentar, mungkin permohonan Alan pindah akan di setujui. Kamu gantikan dia tapi tetap di kantor akses bukan di sini. Untung peraturan menikah satu kantor sudah di cabut kalau tidak repot sekali kalian."


"Kapan turun SK Alan?"


"Bulan depan paling lambat," jawab Kak Santi sambil duduk di sofa.


"Nanti aku suruh Riko ke pusat mengurus semua. Kalian fokus dengan pernikahan saja. Anggap ini hadiah istimewa dari seorang kakak."


"Bagaimana dengan Wiwin? Jadi ikut Alan?"


"Kalau Alan pindah, otomatis Wiwin ikut."


"Kalau begitu aku harus segera pindah ke sini. Siapa yang akan menemani Kia nanti."

__ADS_1


"Aku sudah tahu semua kisahnya, Alan yang cerita, tidak satupun yang tertinggal."


Kak Santi menatap Miko dengan serius kemudian tersenyum geli.


"Cinta lama tidak bisa di lawan, kan?"


"Wah... Alan mulutnya ember banget. Perlu dilabrak nanti," Miko ikut tersenyum melihat kak Santi tertawa.


"Aku ingin menebus semua waktu yang telah ku lewatkan untuk Kia. Demi saudaraku, demi aku dan Kia. Aku menyesali dulu saat Kia ditinggal Bimo tidak berusaha menggapai hatinya."


"Kalau saat itu kamu mencoba maju, kamu tidak akan menang juga karena Bimo masih ada."


"Itulah Kak... aku selalu mengalah dalam segala hal kalau semua tentang Bimo," ucap Miko pelan.


"Tapi lihat siapa yang terakhir tertawa dan bisa memiliki hati Kia seutuhnya tanpa ada kesakitan. Kamu kan? Jadi kamu pemenangnya Mik. Tidak ada salahnya mengalah dulu untuk menang kemudian."


"Takdir yang membawa aku bisa memilki Kia."


"Apapun itu, tetap kamu pelabuhan terakhir Kia," kata kak Santi sambil menyandarkan badan di sofa.


"Terima kasih Kak. Tolong kami supaya bisa dekat dan tinggal bersama."


"Tebus waktu yang terbuang dengan baik. Kia bukan hanya teman tapi sudah seperti a---dik bagiku. Aku serahkan dia pada kamu dan biar aku yang bereskan semua urusan kantor."


Kak Santi mengatakan kalimat itu dengan penekanan di kata adik.


"Terima kasih Kak. Aku tidak akan berani mengingkari semua janjiku pada siapapun termasuk Kakak," jelas Miko sambil berdiri akan pamit.


"Kakak percaya padamu Mik."


"Terima kasih untuk dukungan Kakak. Aku janji akan membalas nanti."


Kak Santi tersenyum melihat kesungguhan Miko. Baginya kami semua adalah keluarga bukan atasan dan bawahan di kantor. Bos sekaligus kakak terbaik untukku.


***********


Ketika aku lewat di ruangan kerja Wiwin, dia tidak ada.


"Kemana Wiwin?"


Aku mencoba bertanya pada seorang staff yang sedang bekerja.


"Keluar bersama pak Alan."


Aku meneruskan menuju ruanganku. Terlihat Lisa sangat kaget melihat aku datang. Matanya menatap ke arah tanganku yang sedang di perban.


"Accident kecil, sudah tidak apa-apa."


Kami kemudian membahas beberapa masalah kerja yang sempat ku tunda karena acara lamaran. Lisa memang smart sebagai asisten, aku tidak tahu kalau saat aku absen bukan dia yang menangani pasti akan sulit.


"Terima kasih Lisa, sudah bantu aku dalam pekerjaan."


"Itu memang tugas Lisa Kak."


Aku tersenyum padanya, ucapan terima kasih selalu kukatakan pada Lisa. Walaupun itu memang pekerjaan dia, tidak ada salahnya memberi penghargaan kecil meski dengan satu kalimat.


"Maaf Lisa tidak bisa datang ke acara Kakak."


"Tidak apa, Kakak mengerti."


"Oh... selamat siang pak Miko," Lisa berseru kaget menatap ke arah pintu masuk.


"Formal sekali, panggil Kakak saja."


Miko kemudian menghampiri dan duduk di sebelahku.


"Ayo berangkat...."


"Mau kemana?"


"Kita liburan sambil kencan."


Aku kaget mendengar ajakan Miko yang mendadak.


"Tanggal merah besok dua hari. Kita liburan ke gunung bersama teman-teman komunitas ku."


"Kita? Teman kamu? Aku juga ikut?"


"Ya."


Miko menarik tanganku untuk bangun dari duduk dan mengikutinya. Lisa tersenyum geli melihat aku yang masih bingung.


********


"Waaaa...ahh......"


Aku berteriak kagum melihat pemandangan di bawah kaki gunung. Tak terkatakan betapa indahnya sampai aku memejamkan mata menikmati angin yang bertiup semilir. Miko tersenyum puas melihat aku senang. Dia juga ikut berdiri di sebelahku.


Perjalanan ke sini cuma tiga jam dari kota. Kami berangkat bersama lima orang teman Miko. Mereka yang punya planning untuk reuni bersama setelah lama tidak berjumpa karena kesibukan masing-masing. Semua yang ada adalah mereka teman kuliah Miko, aku beranggapan begitu saat mendengar pembicaraan di antara mereka tadi.

__ADS_1


Teman-teman Miko kelihatan senang saat mendengar kami akan segera menikah.


"Akhirnya.... Miko akan lepas status bujangan. Semoga bahagia untuk kalian."


Doa dari teman Miko membuat aku tersipu. Mereka berjanji akan datang saat pernikahan kami.


"Itu tenda kalian, sudah di siapkan tadi," tunjuk teman Miko di sebuah tenda tak jauh dari kami berdiri.


Aku menatap Miko seakan mau bertanya kenapa cuma satu tenda.


"Aku akan tidur di luar, jangan cemas aku bukan laki-laki brengs*k" kata Miko sambil tertawa kecil.


"Tidak apa, aku ingin ditemani kamu. Tapi ingat belum bisa yang aneh-aneh, nanti setelah resmi baru boleh."


Aku masih trauma dengan kejadian dulu dengan Bimo. Tapi Miko sepertinya mengerti bahwa aku tidak ingin melanggar norma kehidupan lagi. Cukup dulu karena itu membuat aku sakit dan menyesal tiada akhir.


********


Dingin yang menggigit malam itu, saat kami bersantai di depan tenda membuat aku merapatkan jaket yang membalut badan. Kami bercanda di depan api unggun sambil menunggu mie ramen yang di masak Miko matang.


Aku sudah agak akrab dengan teman-teman Miko. Mereka bahkan tidak segan meledek Miko, membuat Miko hanya bisa tersenyum.


"Kamu ingat tidak, dulu Miko sering dapat nilai A+ karena namanya sama dengan anak dosen fakultas lain."


"Iya... dikira dosen kita dia anak sesama pengajar."


"Oh ya... dulu ada cewek yang mengejar Miko. Dia bahkan sering ikut mata kuliah walau bukan jam kuliah dia. Ternyata seorang anak pengusaha. Tapi ketika di kejar Miko malah lari ketakutan."


"Kenapa Mik?"


"Aku sadar diri, cuma anak yang tinggal di panti. Mana berani aku suka sama dia," jawab Miko sambil memegang tanganku dan aku cuma tersenyum.


"Atau... tidak bisa membuka hati yang sudah terkunci?" tanya teman Miko sambil mendelik padanya.


"Sudah! Jangan bahas wanita di depan tunangan aku."


Sampai tengah malam mereka masih berbincang. Aku sudah tak tahan dan minta izin masuk untuk tidur. Miko mengantar tapi dia bilang akan menghabiskan waktu bersama temannya, jadi aku tidur saja dulu.


"Aku mungkin tidak tidur, masih ingin bersama mereka. Kamu tidak marah kan? Nanti jam 4 pagi aku bangunkan, kita lihat sunrise."


"Benarkah?"


"Ya... tidurlah. Aku akan temani kamu sebentar Beb," ucap Miko sambil membelai rambutku.


**********


Ketika membuka mata aku kaget. Ternyata ada dalam mobil jip offroad yang kami pakai di awal perjalanan. Tidak ada orang di dalam mobil tapi saat kulihat di samping kanan di bawah pohon rindang, Miko duduk masih dengan rokok dan sebotol kopi di tangan.


Dia tersenyum melihatku bangun dan keluar mobil menghampiri tempat dia duduk.


"Pagi... Beb."


"Kenapa aku dibalut selimut tebal begini?" tanyaku sambil membuka selimut yang menutupi tubuhku.


"Supaya kamu hangat, atau mau lebih hangat lagi? Sini aku peluk."


Aku membiarkan Miko memelukku. Udara di atas gunung memang dingin sekali. Miko sampai memakai jaket berlapis supaya tidak membeku. Aku bahkan turun dari mobil masih dengan balutan selimut.


"Masih lama?"


"Sebentar lagi... kira-kira lima belas menit," jawab Miko sambil menyerahkan kopi botol padaku.


Hembusan angin membuatku makin mendekat pada Miko dan menaruh kepalaku ke dadanya. Aku bisa merasakan aroma nafas Miko bercampur antara rokok dengan kopi. Miko tertawa ketika aku menutup hidung, tapi dia malah mencium keningku.


"Kamu tahu Beb... dulu aku ingin sekali melihat sunrise dengan orang yang istimewa. Orang yang menyayangiku dan mencintaiku. Baru kali ini bisa terwujud."


"Are you happy?" tanyaku sambil mendongak menatap wajahnya.


"Ya... semua pasti akan bisa kulakukan. Keinginan bersama pasangan yang belum bisa terlaksana waktu itu. Akan aku tebus mereka satu persatu, keinginan dalam hatiku," ucap Miko sambil mencium kepalaku dan aku merasakannya dengan memejamkan mata.


"Dia muncul."


Miko menunjuk ke arah horizon matahari terbit. Sinar orange kemerahan tersembul di balik awan. Muncul perlahan dengan indahnya di antara suasana yang masih gelap. Miko mengambil kamera yang ada di mobil dan bergegas merekam.


"It's beautiful... very beautiful."


Miko tersenyum bahagia. Dia mengarahkan kamera ke arah sunrise dan merekam ekspresi kekaguman di wajahku berulang kali. Aku tidak pernah se-senang ini karena semua baru pertama kali ku alami.


"Thank you my Man... I love you. Kamu memberikan warna baru di hidupku."


*********


** Mudah sekali menyemangati orang lain. Tapi untuk diri sendiri sangat susah. Untuk melawan semua saya sendiri bahkan pernah berpikir untuk menyerah. Tapi hati tidak bisa berdusta karena takut dengan perasaan bersalah. Seperti saya, yang takut mengingkari janji dengan para reader.


** Jangan pernah meremehkan seseorang yang jatuh karena sakit dan kecewa. Kalau dia sudah bangkit dan berdiri kembali, bisa jadi kamu lah yang pertama merasakan penyesalan dan bersalah. Jangan lupa bilang I love you pada pasangan. Bukan bucin itu, tapi ungkapan rasa sayang, agar nanti tidak menyesal setelah orang itu pergi.


**Selalu saya ucapkan terima kasih yang besar pada pendukung Rahasia Hati. Tidak akan bisa seperti ini saya tanpa kalian. Mari kita saling mendukung dalam berkarya. Jangan lupa 3M, mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.


** Stay healthy because health is more important, stay happy because we are happy only that feels and stays with Kia. happy reading hope to be entertained.

__ADS_1


__ADS_2