
Saat pagi sekitar jam 9 aku memasuki ruangan kerja dan tak sengaja saat melewati ruangan Kak Arya aku melihat Miko ada di situ. Aku langsung menghentikan langkah ku dan terlihat Miko sedang duduk di kursi tepat di depan Kak Arya.
Mereka tampak berbincang serius satu sama lain dan Kak Arya melambaikan tangan saat aku berdiri di depan pintu ruangannya. Miko ikut menoleh dengan wajah datar kemudian dia langsung berpaling kearah Kak Arya, aku langsung cemberut bagaimana mungkin dia mengacuhkan aku.
"Masuk," ajak Kak Arya padaku.
Aku kemudian masuk karena hari ini hari jumat jadi pekerjaan sudah agak berkurang lagi pula saat aku tidak ada di kantor aku tetap mengerjakan tugasku dan bisa dikirim lewat email pada Kak Santi jadi semua masih bisa ku atasi walau aku berada jauh dari kantor.
Aku mengambil kursi dan duduk di dekat Miko karena banyak sekali yang ingin ku tanyakan padanya. Dia masih terlihat acuh dan Kak Arya jadi bingung melihat sikap kami berdua yang memang aneh kalau dilihat dari situasi saat ini ada kecanggungan dianta aku dan Miko.
"Aku bertemu anakmu kemarin di panti asuhan saat ulang tahun keponakanku," kataku pada Miko langsung ke inti masalah.
Dia terlihat agak kaget tapi kemudian hanya tersenyum sambil mengangguk dan memandangku dengan santai. Kak Arya juga terlihat kaget dia tidak menyangka akan mendengar pernyataan sepeeti itu tapi Miko langsung menepuk bahunya dan tersenyum pada Kak Arya.
"Oh...ya, apa katanya hanya itu?" tanya Miko kembali memandangku.
"Banyak," jawabku.
"Kalian akan bicara serius rupanya, kalau begitu aku keluar saja," katanya sambil berdiri dan keluar ruangan.
Aku menatap Miko dengan penuh selidik dan men-dengus kesal karena kemarin susah sekali bertemu dengannya.
Ternyata dia langsung pergi ke kantor tempatku bekerja karena ada yang harus diselesaikanya disini.
"Anak angkat mu dan kamu donatur tetap disitu apa hanya kebetulan?" tanyaku pada Miko.
"Apa kamu tidak lihat file biodataku di bagian HRD?" tanyanya.
"Aku sudah tahu kamu dulu tinggal di panti asuhan dan kita satu sekolah saat SMA," jawabku.
Aku baru ingat dulu aku pernah menanyakan tentang Miko pada Rima dan Rima menjelaskan semua bahwa nama panjang Miko adalah Sajad Miko. Bunda panti memberitahukan bahwa anak panti yang bernama Sajad sudah sukses yang bisa ku pastikan bahwa itu adalah Miko.
"Benar...semua benar," jawabnya sambil tertawa kecil.
"Sekarang jawab pertanyaanku saat di makam Bimo," pintaku sambil memandangnya.
"Belum saatnya aku beritahukan, kamu belum sepenuhnya tahu siapa aku," ujarnya sambil berdiri.
"Mau kemana, kamu mau mengelak lagi?" tanyaku seakan ingin penjelasan yang lebih banyak dari Miko.
"Aku ada pertemuan dengan cabang Balikpapan satu jam lagi di meeting room atas," jawabnya menunjuk ruangan tepat di atas kami sedang duduk sambil meninggalkanku.
Aku harus menelan kecewa sekali lagi karena aku tidak bisa memaksa Miko menjawabnya apalagi alasannya sangat tepat karena ada pertemuan dengan cabang Balikpapan.
"Ada meeting dengan cabang Balikpapan?" tanyaku dalam hati.
Aku segera berlari menuju ruanganku dan bertanya pada Lisa ternyata benar ada meeting hari jam 3 siang. Kenapa aku bisa lupa saat Wiwin menelepon ku tadi malam memberitahukan perubahan jadwal kunjungan tim Balikpapan.
"Kenapa tidak mengingatkanku padaku saat aku datang tadi?" tanyaku pada Lisa sambil melempar tasku ke atas meja.
"Tadi saya kira Kakak sudah tahu dan sya kira Kakak sudah di meeting room karena sudah jam 10 belum masuk ruangan," jawab Lisa khawatir dia langsung memeriksa laptopnya.
__ADS_1
"Selesaikan laporan segera," perintah ku pada Lisa.
Aku harus berjibaku dengan laporan bulanan yang masih belum komplit dengan waktu hanya satu jam membuatku sangat frustasi. Aku hanya bisa menarik napas sambil mencoba menyelesaikan laporan karena kalau tidak mata Kak Santi bisa keluar melototi padaku saat rapat nanti.
***********
Meeting sudah satu jam berjalan kulihat Kak Santi memimpin rapat konsolidasi dengan Wakil Balikpapan. Giliran aku yang menerangkan target keuangan perusahaan selama satu bulan ke depan dan laporan keuangan bulan ini.
Kulihat Miko duduk di bagian tekhnisi dan terlihat agak bosan dengan jalannya rapat yang agak lambat dan berbagai pertanyaan dari wakil Balikpapan yang sangat berbelit-belit dan seperti ingin memojokkan pihak kami.
Beberapa kali kulihat Miko menghela napas dan mengeluarkannya dengan dengusan. Dia bahkan menguap walau sambil menutup nya dengan telapak tangannya. Terlihat sekali dia mengantuk teramat sangat.
Aku jadi tertawa kecil karena merasa agak lucu. Miko yang paling anti ber lama-lama di kantor kini harus rapat selama 3 jam membuatku tersenyum geli. Tapi aku sangat terkejut saat dia memandangku dengan tatapan tajam. Aku langsung melotot padanya sedikit malu juga ketahuan memperhatikan dan mentertawakan Miko.
Rapat berakhir kulihat Miko langsung menghampiri wakil Balikpapan dan bersalaman. Rupanya dia sudah mengenal mungkin juga pernah satu kantor dulu dengan Miko. Kulihat mereka berbincang-bincang sambil tertawa jadi bisa di pastikan Miko akrab dengannya.
********
Aku baru saja ingin duduk di sofa dengan santai tapi saat itu juga handphone berdering. Ternyata dari Dony mantan pacarku dulu yang berprofesi Wartawan sekaligus Penyanyi pub.
Aku sebenarnya malas mengangkatnya tapi aku ingat bahwa sudah berjanji saat putus dulu kami masih berteman dan dia bisa minta tolong serta menghubungi aku kapanpun.
"Ayo bertemu...ada yang ingin kukatakan padamu," ajaknya saat ku terima panggilan teleponnya.
"Aku capek sekali, baru selesai rapat selama 3 jam," ujarku sambil berusaha menolaknya.
"Kamu harus kesini dan ini yang terakhir aku meminta kamu menemui aku," katanya agak memelas.
Dony mengirimkan nama tempat dimana kami akan bertemu. Aku juga sangat penasaran apa yang akan dibicarakan Dony. Menyanggupi permintaan Dony adalah keputusan yang tepat ku pikir karena Dony sudah mengatakan bahwa ini yang terakhir kami bertemu.
********
Mobil sudah aku parkir di halaman parkir hotel A dan aku berjalan menuju tempat dimana Dony sudah menunggu untuk bertemu denganku. Walau rasa enggan menggeluti hatiku namun rasa penasaran lebih besar makanya aku mau ke sini menemui Dony.
Aku memasuki sebuah restoran yang terletak di lantai 1 hotel dan betapa terkejutnya aku melihat Dony bersama seorang Wanita duduk di pojok restoran. Aku sudah mau berbalik arah tapi Dony berteriak karena melihat kedatangan ku.
"Kia....disini," katanya sambil melambaikan tangan padaku.
Aku tersenyum sambil melangkah kearah mereka yang sedang duduk. Kulihat Wanita itu juga berdiri dan tersenyum ke arahku. Terlihat dia sangat ramah padaku mungkin Dony sudah menceritakan tentang kami.
"Sia*lan rupanya dia mau pamer," rutuk ku dalam hati.
Aku kemudian sampai di meja dan bersalaman dengan Wanita itu. Dia terlihat sangat manis dan ramah aku jadi bersyukur Dony akhirnya mendapatkan Wanita yang benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati.
Aku juga tersenyum melihat bagaimana Wanita itu memperlakukan Dony dengan mesra. Ada perasaan kalah dalam hatiku ternyata Dony yang kuputuskan sudah mendapatkan pasangan yang mencintainya sedang aku sekarang masih sendiri, berjibaku dengan masalah masa lalu yang tidak pernah bisa aku lepaskan dari hidupku.
"Kami akan menikah bulan depan," kata Dony sambil meyodorkan sebuah undangan berwarna merah hati padaku.
"Selamat, semoga bahagia sampai akhir," ucap ku tersenyum sambil menerima undangan yang diberikan Dony.
"Terima kasih," kata Wanita itu tersenyum padaku.
__ADS_1
"Aku pamit dulu masih ada yang harus aku selesaikan," kataku sambil berdiri dari kursi.
"Aku akan antar," kata Dony cepat.
"Tidak usah," seru ku dengan cepat karena tidak enak masa Dony harus meninggalkan calonnya hanya untuk mengantarkan aku ke tempat parkir.
Tapi Dony memaksa dia sepertinya ingin berbicara berdua denganku dan Wanita itu ternyata menyetujui keinginan Dony. Akhirnya aku menerima kami berjalan bedua menuju tempat parkir melewati ruang lobi hotel.
"Belum punya pasangan?" tanya Dony sambil berjalan disebelahku.
"Menurutmu aku masih sendiri?" tanyaku balik pada Dony.
"Kamu harus mencari pasangan Kia, ayolah hilangkan trauma di hatimu, tidak ada salahnya mencoba," kata Dony mencoba memberikan pengertian padaku.
Tiba-tiba kulihat seseorang keluar dari mobil dan seseorang yang ku kenal dengan baik. Dia kelihatan sangat manly dengan kemeja hitam dengan jeans dan kacamata hitam.
"Miko," desisku.
Aku menoleh pada Dony dengan perasaan agak senang sambil tersenyum dan berharap semoga Miko mau bersandiwara denganku agar aku tidak terlihat sangat memalukan di depan Dony.
"Siapa bilang aku sendiri, itu dia sudah mau menjemputku, aku duluan sampai jumpa Dony" kataku pada Dony sambil menunjuk ke arah Miko.
Aku bergegas menuju ke arah Miko sambil tersenyum lebar.
"Hai...sayang," teriak ku sambil melambaikan tangan pada Miko.
Miko terlihat kaget menatap kearahku dia bahkan menengok ke belakang seperti bingung dengan sikap ku. Aku langsung menghampirinya dan langsung memeluknya. Miko hanya diam ketika aku memeluknya dia terlihat masih bingung.
Bantu aku kali ini, jadi pacarku sebentar ya, putar aku sekarang," pintaku sambil memandangnya dengan penuh harap.
Miko masih menatapku yang memeluknya dan dia memandang Dony yang masih berdiri melihat kami. Diluar dugaan Miko membalas pelukan ku dan menuruti permintaan ku dengan menggangkat badanku dan memutar ku.
Dia bahkan tersenyum mesra menatapku dan aku jadi malu sekali padanya tapi apa boleh buat aku terlanjur berkata pada Dony bahwa Miko pasangan ku. Aku juga tersenyum mesra pada Miko seakan yang kami lakukan memang benar bahwa kami adalah pasangan.
Miko menurunkan tubuhku dari gendongan dan menatap ku sambil memegang wajahku. Dia kemudian mencium bibirku dengan cepat dan dia bahkan mengecup bibirku beberapa kali. Aku tetegun merasa terkejut dengan reaksi Miko seperti itu.
Aku masih sangat terkejut atas perlakuan Miko dan aku mencubit perutnya tapi dia hanya tertawa seakan menang. Kalau tidak ada Dony saat itu aku mungkin akan memukulinya. Aku melihat kearah Dony dan dia melambaikan tangan padaku kemudian masuk kembali le dalam hotel.
Aku memandang Miko dengan agak kesal karena tidak menyangka akan seperti itu reaksinya tapi dia masih tertawa sambil memandangku.
"Kalau mau akting jangan setengah-setengah, impas kan karena aku mau pura-pura jadi pacar kamu," katanya sambil memandangku dengan senyum yang sangat licik.
"Bibirmu punyaku sekarang, emu..uah," lanjutnya sambil memajukan wajahnya mendekat ke wajahku lalu meninggalkanku masuk ke lobi hotel dan aku masih terdiam masih agak gugup dengan perlakuan Miko tadi.
*************
**Ada apa dengan hati Kia? Apa dia terpikat dengan sebuah kecupan di bibir yang diberikan Miko? Apa semua hanya berujung dengan sandiwara?
Ada jawabannya di episode selanjutnya.
**Dukung Author dengan rate, vote, like dan komen di karya ini agar membuat penulis lebih semangat berkarya.
__ADS_1
**Terima kasih atas dukungannya, selamat membaca dan jangan abaikan protokol kesehatan...happy reading all.....😊😊