
Setelah membaca isi kertas di dalam amplop coklat yang diberikan Bimo. Pria itu kemudian melempar amplop itu ke atas meja tepat di depan Bimo. Dia mendengus kesal dan merasa tidak percaya akan keputusan Bimo.
"Kamu yakin melakukan semua ini setelah apa yang terjadi?" tanyanya pada Bimo yang masih menatapnya dengan tajam.
Bimo kemudian mengambil amplop yang di lempar sambil mengangguk kepala dan tersenyum seperti sudah yakin dengan semua keputusan yang diambilnya.
"Sehebat itukah Kia, sampai membuat seorang Bimo menyerahkan semua miliknya?" tanyanya tidak percaya.
"Dia ibu dari anak-anakku, aku sangat ingin melihat dia tersenyum seperti saat dulu, ketika aku masih menggenggam tangannya," jawab Bimo lirih.
Pria itu kemudian menyerahkan kartu ATM pada Bimo sambil menyeringai senang.
"Berikan mobil dan motormu padaku, uang di sana cukup untuk membiayai terapi kaki dan pengobatan Mamamu," katanya sambil menyilangkan sebelah kakinya ke paha.
"Tanda tangani dulu surat kuasanya, setelah itu aku akan memberitahukan semua padamu," suruh Bimo sambil menyerahkan amplop tadi.
"Dasar keras kepala, terserah kamu saja lagi pula kamu juga akan mati," katanya mengambil amplop yang diserahkan Bimo
Dia menanda tangani semua kertas sambil menggelengkan kepala. Kemudian setelah selesai dia menyerahkan kembali pada Bimo dan mengambil botol air minum mineral yang ada di atas meja langsung meminumnya.
Bimo menyimpan amplop ke dalam lemari kecil di dekat ranjangnya. Dia kemudian mengambil sebuah buku yang dulu di berikan bekas Supirnya. Bimo melemparkan buku itu di meja depan Pria itu.
Pria itu terkejut seakan tidak percaya dia langsung meminum semua air yang ada di mulutnya. Dia hampir tersedak karena kaget melihat buku berisi memorinya ada di tangan Bimo.
"Kenapa tidak pernah memberitahuku, ternyata begitu kisahnya?"
Bimo tersenyum sinis dan duduk di depan Pria itu. Pria itu langsung mengambil buku dan membukanya.
"Aku benar-benar lupa kalau buku ini masih ada, aku kira sudah hangus karena kebakaran dulu," katanya sambil menatap Bimo dengan bingung.
"Siapa yang memberikannya padamu, apa dia Reza?" tanyanya pada Bimo.
"Itu tidak penting," jawab Bimo.
"Sekarang jujur padaku...apa kamu masih punya rasa sama Kia?" tanya Bimo penuh selidik.
Pria itu menatap Bimo dengan tatapan sinis sambil tertawa kecil.
"Apa kamu cemburu?"
"Aku membenci Kia dan Papanya setelah apa yang pernah Papanya lakukan pada kita," lanjutnya.
"Katakan sejujurnya padaku," kata Bimo sambil menatap tajam ke matanya seakan mencari kebenaran.
"Aku punya pacar di mana-mana, mereka lebih cantik dan sexy dari Kia, untuk apa aku masih menyimpan rasa pada Coklatmu," jelasnya sambil berdiri membelakangi Bimo.
__ADS_1
Bimo tersenyum sambil menepuk pundak Pria itu dia tahu mata Pria itu tidak berdusta walau mulutnya berkata tidak.
"Bagaimana kalau aku memintamu menjaga Coklat?" tanya Bimo.
"Atau----kamu bahagiakan dia dan menikahlah dengannya, bagaimana?"
Pria itu tidak sanggup lagi menyembunyikan tawanya, dia sampai memegang perutnya merasa sangat lucu dengan kata-kata yang di ucapkan Bimo.
"Apa kamu kira Coklat barang, yang bisa di alihkan ke lain orang dan lagi aku membenci Papanya, apa hatinya bisa begitu saja goyah dari kamu berpindah padaku?" tanyanya masih tertawa.
"Papanya sekarang sakit tidak berbeda denganku," jawab Bimo.
"Coba dekati dia...tidak ada salahnya, lagi pula dia cinta pertamamu," bujuk Bimo.
"Kamu tahu...cinta pertama jarang bisa bersatu bahkan tidak mungkin rasanya, kamu saja gagal menikahinya apalagi aku... jangan berani mengkhayal," katanya sambil berdiri di samping Bimo.
"Setidaknya di cobalah, kamu kan satu-satunya orang yang aku tahu memang benar mencintainya, jangan mengelak lagi semua ada tertulis di buku itu," kata Bimo sambil menunjuk buku yang masih terbuka dan tergeletak di meja.
Pria itu memandang Bimo dengan nanar dia sangat tidak percaya Bimo sudah se-putus asa itu padaku. Dia kemudian kembali duduk sambil tak lepas memandang buku yang ada di atas meja dan diikuti oleh Bimo.
"Aku mohon pertimbangkan usulku, aku sangat ingin melihat Coklat bahagia," kata Bimo dengan suara serak.
"Kau yakin bisa melihat semua? Kamu sudah menyuruhku menanda tangani surat itu berarti kamu sudah pasrah akan hidup dan matimu, Bim....."
Air mata Bimo menetes tanpa di sadarinya, sambil menunduk dia menangkupkan ke dua telapak tangannya kewajah sambil menghembuskan napas. Pria itu masih menatap Bimo sambil mendengus dengan kesal.
Bimo akhirnya bisa tersenyum kecil mendengar kata-kata barusan. Dia langsung mengambil buku itu dan menaruh kembali ke lemari. Duduk kembali di samping Pria itu dan menarik napas lega.
"Dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah menang padamu," desis Pria itu sambil menoleh Bimo di sampingnya.
"Siapa bilang? Kamu lebih unggul dariku sekarang, kamu sehat dan masih bisa mengejar Coklat sedang aku hanya bisa terpuruk di sini menyesali semuanya, kamu lebih kaya dariku sekarang sampai berani melempar kartu itu padaku," kata Bimo menunjuk kartu debit di depannya.
Pria itu memandang Bimo dan tertawa sambil menepuk bahu Bimo.
"Mati di sampingku..aku akan mengurus semuanya," katanya dengan tegas.
"Berjanjilah padaku kamu ambil sekarang peranku supaya aku bisa tenang meninggalkan semuanya," pinta Bimo.
Pria itu cuma mengangguk dan memeluk bahu Bimo. Dia kemudian bangkit berjalan dan mengambil minuman di kulkas kecil di bawah jendela samping sofa yang mereka duduki.
"Bagaimana kalau Coklat tidak mau menerimaku?" tanyanya sambil membuka botol yang berisi kopi dingin.
"Hanya kamu pemilik hatinya...Bim," lanjutnya seolah ragu akan berhasil.
"Kamu lebih hebat dalam hal wanita, kamu pikirkanlah bagaimana caranya lagi pula aku percaya cinta itu masih ada di hatimu," jawab Bimo lirih.
__ADS_1
"Aku rasa kita berdua seperti pecundang sejati, mencintai wanita yang sama sekian lama...aku benar-benar geli membayangkan nasib kita yang miris seperti ini," kata Pria itu tertawa keras.
Bimo akhirnya ikut tertawa dan meminum air mineral botol yang diberikan Pria itu.
"Bahagiakan Coklat, menikah dengannya dan punya anak yang lucu," kata Bimo sambil menepuk bahu Pria itu.
"Aku benar-benar benci pada kamu dan Coklat, di mana-mana wasiat itu berupa rumah atau apapun-lah...tapi ini seorang wanita, dasar brengs*k kamu," umpatnya.
Mereka berdua tertawa bersama kemudian Bimo menatap Pria itu dengan wajah memohon.
"Cobalah berdamai dengan semua orang di masa lalumu, jangan cuma aku saja...aku ingin kamu memaafkan semua yang terjadi di masa lalu, jangan seperti diriku yang menyesal di akhir," kata Bimo pelan.
"Akan aku coba melakukannya, jangan terlalu risau tetap fokus dengan keputusanmu saja," sahutnya.
"Aku titip mereka juga," lirih Bimo.
"Ahh....aku benar-benar membencimu, Bim.. kenapa semua kamu titipkan padaku, apa aku gudang titipan?"
Pria itu kembali tertawa kecut sambil menatap Bimo dengan wajah kesal.
"Apa jadi pindah ke sini?" tanya Bimo.
"Sedang di urus, semoga bisa cepat...heh, kamu sepertinya senang aku pindah ke sini , apa lagi yang mau kamu titipkan?"
Pria itu langsung mengambil makanan yang diberikan bagian gizi untuk makan malam Bimo. Dia menaruh di meja dan menyuruh Bimo segera makan.
"Gantikan aku sebagai Bimo pada semua orang yang aku cintai termasuk Coklat, kalau kamu tidak melakukannya aku akan mengirim hukuman dari atas," kata Bimo sambil tertawa kecil dan mulai memakan makanan yang di buatkan khusus untuknya.
"Dasar g*la," kata Pria itu meninju pelan bahu Bimo.
Mereka berbincang lama membahas masa lalu dan rencana yang akan datang. Bimo sekarang sudah bisa merasa bahwa dia akan melepaskan semuanya dengan tenang. Karena seseorang sudah datang mengambil tanggung jawabnya pada orang-orang dekatnya.
Bimo ingin sekali Pria itu kembali ke perasaannya dulu saat masih mencintai aku. Dan ternyata Pria itu mau mempertimbangkan usulannya untuk mengejarku kembali.
Ada sebuah beban yang lepas di hati Bimo saat mendengar Pria itu mau memikirkan usulannya karena Bimo tahu aku tidak mungkin bisa melepaskan trauma yang dia berikan padaku. Rasa sakit yang aku alami tidak akan bisa sembuh dengan sendirinya harus ada orang lain yang membalutnya dan menyembuhkannya.
Bimo berharap sangat besar pada Pria itu agar bisa menyembuhkan luka yang pernah ditinggalkannya untukku karena dia sudah tidak mungkin lagi melakukannya.
"Aku akan mencobanya tapi aku tidak bisa berjanji itu akan berhasil," ujar Pria itu sambil memandang Bimo.
"Berjanji padaku kamu akan selalu menjengukku dan kalau kamu berhasil menikah dengannya, kamu harus membawa Coklat padaku, aku akan memberikan restuku pada kalian," kata Bimo dengan mata berkaca-kaca menatap Pria itu.
***********
**Panggung sandiwara terbesar adalah dunia ini. Masing-masing punya peran sendiri dan jika salah satu peran akan hilang maka akan ada yang lain bisa menggantikannya, pemeran pembantu bisa menjadi pemeran utama.
__ADS_1
** Selamat membaca dan terima kasih atas segala dukungannya....always stay here .....