
Mobil berjalan perlahan karena jalan menuju kantor lagi macet total ada perbaikan jalan. Aku sedang kesal dengan keadaan dan masih terkejut akibat perlakuan Miko ditempat parkir hotel tadi saat aku bertemu dengan Dony.
"Aisshhhh....dasar mesum!"
Aku mengumpat sambil memukul setir mobil dan merasa frustasi karena sesang macet. Aku membuka kaca mobil dan menengok keluar melihat apakah macetnya panjang. Ternyata sangat panjang aku berniat mundur saja untuk mencari jalan alternatif.
Tapi mobilku sudah terkurung hingga tidak bisa bergerak terjepit ditengah-tengah. Aku semakin putus asa kemudian berusaha menelpon Lisa untuk menanyakan apa ada acara pertemuan malam ini dengan tim yang tadi rapat bersama.
"Acaranya ditunda besok Mbak Kia, besok masih ada satu sesi rapat lagi dan setelah itu ditutup dengan makan bersama," jelas Lisa.
"Jadi kantor sudah kosong sekarang, Wiwin masih disana?" tanyaku pada Lisa.
"Masih ada di ruangan DBS, lagi bicara sama Pak Alan," jawab Lisa.
"Uhh...pacaran saja kerjanya, ya sudah aku tutup," kataku sambil mematikan panggilan.
Aku mencoba menelpon Wiwin dan ternyata diangkat dengan cepat.
"Ada motor tidak di kantor?" tanyaku langsung.
"Ada ...motor Satpam," jawabnya singkat.
"Ngapain sih...pacaran ya?"
"Enggak...lagi diskusi," jawab Wiwin sambil tertawa kecil di ikuti dengan suara Alan menanyakan siapa yang menelepon.
"Jemput... aku terjebak macet mana lagi frustasi banget," keluhku.
"Oke aku sama Satpam aja ya... biar nanti dia yang bawa mobil," bujuk Wiwin.
"Terserah deh, yang penting keluar dari kemacetan ini," kataku sambil menghembuskan napas kesal.
Tidak ada yang benar rasanya hari ini, pertama Dony dan Miko yang sudah membuat aku gugup hampir pingsan. Bisa-bisanya dia mencium bibirku tanpa rasa bersalah dan meninggalkanku begitu saja tanpa kata-kata.
"Ihh....dasar bodoh," kataku sambil memukul kepala ke kaca mobil.
Tapi yang aku tidak mengerti kenapa ada rasa aneh menyelinap di hatiku, seperti rasa yang mengambang hingga membuat jantungku berdetak cepat saat mengingatnya. Tapi dengan cepat kutepiskan karena aku sudah tidak ingin menjalin hubungan serius dengan pria.
********
Aku menatap layar laptop ada profil Rima dan ada juga nomor telepon yang bisa dihubungi. Apa aku akan mencoba menanyakan pada Rima tentang Miko? Apa nanti tidak akan mengganggunya?.
Perasaan bimbang menyelimuti hatiku, aku jadi memikirkan kembali menghubungi Rima nanti saja pikirku masih bingung mau bicara apa nanti padanya. Lagipula aku masih tidak mau minta tolong padanya karena takut akan mengganggu Rima.
Aku kemudian merebahkan badan sambil memandang foto yang ada di atas meja rias depan tempat tidur dan tersenyum sambil berkata pada foto anak-anakku serta foto Bimo yang sedang tersenyum.
"Mama menyayangi kalian, tunggu aku disana Bim."
*************
Suasana kantor sangat ramai karena saat tadi setelah rapat terakhir dengan Wakil Balikpapan diadakan makan bersama seluruh divisi termasuk plasa. Terlihat Miko masih sibuk berbincang dengan seorang dari Wakil Balikpapan di temani Kak Arya.
"Miko masih ada?" tanyaku pada Kak Santi yang berada di sebelah saat mengambil makanan.
"Dia yang rekomendasikan divisi tekhnisi, kalau Miko gigih sebentar lagi dia akan menyamakan jabatannya seperti aku sekarang," jawab Kak Santi.
Aku cuma mengangguk dan duduk di meja dekat Wiwin yang sedang makan bersama Alan. Saat aku mulai makan Miko duduk di sebelahku sambil menaruh piring makanannya.
Dia tidak menatapku langsung memakan makanannya dia hanya tersenyum dengan Wiwin dan Alan yang ada di depannya.
"Serius sekali Mik, apa mau pindah ke Balikpapan?" tanya Wiwin.
Miko tidak menjawab cuma menggelengkan kepalanya dan meneruskan makan. Aku juga tidak menghiraukannya dan melanjutkan makan. Wiwin jadi heran melihat sikap canggung di antara kami.
"Kalian bertengkar?" tanyanya sambil memandangku penuh selidik.
"Tidak," jawabku singkat.
__ADS_1
Aku tidak menceritakan kejadian di parkir hotel pada Wiwin karena masih malu bagaimana kalau satu kantor mengetahuinya aku bisa di interogasi habis-habisan.
"Kia marah padaku mungkin," jawab Miko sambil menatapku tersenyum.
"Tidak."
Aku langsung melotot pada Miko saat dia mengatakan aku marah dan ternyata dia hanya tertawa sambil memandangku kemudian memandang Alan dengan senyum penuh arti. Miko berdiri dan mendekat ke wajahku dengan cepat kemudian meninggalkan kami.
"Emua...ahh."
Sikap Miko membuat jantungku langsung berhenti berdetak dan aku sangat malu sekali. Alan hanya tertawa melihat semuanya dia kemudian menatap Wiwin.
"Mereka dalam hubungan tertentu kayaknya," ujar Alan pada Wiwin.
"Kalian pacaran, ada yang belum kamu ceritakan padaku?" tanya Wiwin masih sangat penasaran terlihat wajahnya masih bingung.
"Nanti aku ceritakan," jawabku langsung menghabiskan makanan dan berdiri menjauh dari Wiwin.
Aku mencari Miko ternyata dia diruangan best friend terbaiknya yaitu Kak Arya. Ingin sekali rasanya aku berteriak kalau tidak ingat ini di kantor.
"Kita harus bicara," tegas aku pada Miko.
Aku sampai menarik Miko ke ruangan kerjaku, dia menurut saja. Kak Arya terlihat bingung pada sikapku memang aneh sekali aku juga merasakannya.
"Kamu kenapa berbuat seperti ini padaku, kamu mau memberitahukan peristiwa kemarin di kantor?"
"Sikap kamu yang aneh, seakan tertulis di dahi kamu bahwa kita berciuman kemarin," jawab Miko santai sambil duduk di sofa.
"Miko ini tidak benar kamu harus tahu aku tidak akan meninggalkan Bimo," jawabku pelan.
"Parah...tidak realistis sekali orakmu masih mau bersama dengan orang mati, hidup kamu adalah milikmu yang sudah pergi relakan saja mungkin ada yang lebih baik sebagai gantinya," ujar Miko sambil menghela napasnya.
Aku tidak bisa percaya dengan cinta seorang Pria sekarang," kataku sedikit nyaring.
"Masih mau sendiri itu keputusan kamu tapi jangan selalu mengenang orang mati disana Bimo juga tidak bahagia kalau sikapmu begini."
Aku memandangnya sambil berharap Miko membuka rahasianya sedikit dan menjawab pertanyaan yang aku lontarkan padanya.
Tapi dia memandangku dengan sinis dan berdiri mendekatiku.
"Aku sudah bilang padamu cari tahu hubunganku dengan Bimo, ternyata otak kamu tidak cerdas dan kalau kamu tidak suka aku akan menghentikannya sampai disini dan jangan coba berani mendekatiku lagi, mulai sekarang anggap semuanya tidak ada."
Miko meninggalkan ruangan kerjaku menuju keluar seperti mau meninggalkan kantor. Aku cuma bisa diam melihatnya, kalau lebih baik seperti itu aku akan coba melakukannya.
Tapi aku kaget juga Miko akan sinis seperti itu padaku. Jujur ada rasa sakit saat Miko berkata jangan berani mendekatiku seolah aku dilarang dekat-dekat dengannya tapi kenapa? Pertanyaan itulah yang sekarang berputar di otakku.
Tiba-tiba handphone berdering dan masuk nomor telpon yang tidak kukenal aku membiarkan saja, paling orang iseng pikirku. Tapi ternyata sudah empat kali panggilan tidak berhenti juga, aku lalu menerimanya karena rasa penasaran.
"Kia...aku Heri, ayo bertemu di restoran hotel di depan kantor kamu asa yang ingin kuberikan padamu dan aku menginap di sini," ajak Hery saat ku angkat.
Aku langsung merasa senang dari semua kekesalan ku hari ini masih ada hal yang bisa membuatku gembira. Sambil berlari kecil aku keluar menuju hotel di depan kantor. Jalan kaki dan menyeberang jalan saja sebentar sudah sampai di depan restoran yang akan ku tuju.
********
Heri sudah ada di sana ternyata dia tersenyum sambil melambaikan tangan padaku. Aku juga tersenyum menghampirinya dan duduk di depan Heri.
"Kok bisa ke sini, ada acara kantor?" tanyaku sambil membuka list menu.
"Ada seminar di lantai atas besok satu hari," katanya sambil memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat padaku.
"Apa ini?"
"Surat kuasa donor kornea mata Bimo dulu, sudah saatnya kamu tahu" jawab Heri.
Heri menatapku sambil menepuk lengan ku seolah ingin menguatkan. Aku menerimanya dengan hati hancur mengapa selalu aku yang terlambat mengetahui segalanya tentang Bimo.
Aku membuka perlahan ada surat peryataan setuju yang di tanda tangani Bimo. Aku sangat terkejut saat melihat kuasa hukum Bimo ada Luthfi dan Miko mereka berdua yang menanda tangani surat itu.
__ADS_1
"Kenapa ada nama Miko disini?" tanyaku pada Heri dengan hati yang sedikit gugup.
"Miko adalah saudara Bimo umur mereka hanya terpaut beberapa hari," jawab Heri terkejut dengan reaksi ku.
"Waaa...ah."
Aku langsung terhenyak mendengar semuanya jadi ini yang di kejar Miko agar aku mencari tahu identitas dirinya yang sebenarnya. Air mataku menetes menerima kenyataan bahwa mereka adalah bersaudara.
Aku tidak bisa lagi menahan tangisku, apa yang kulakukan dulu saat bersama Bimo sampai saudara Bimo saja aku tidak tahu.
"Apalagi yang disimpan Bimo yang aku tidak tahu," isak ku sambil menatap Heri.
"Kenapa Bimo membuat aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun tentang orang yang pernah kucintai?"
Aku merasa sangat kesal dengan kenyataan yang kuterima bahwa aku terlihat seperti orang jahat karena semua hanya Bimo simpan sendiri tanpa memberitahukan padaku.
"Jangan merasa bersalah Kia, aku juga baru tahu setelah Bimo menyetujui jadi pendonor."
Heri mencoba memberi pengertian padaku saat aku masih menangis tersedu. Dia bahkan berdiri menghampiriku sambil mengelus bahuku.
"Aku akan kembali ke kantor, nanti akan ku hubungi lagi," kataku pada Heri sambil berdiri dan meninggalkannya.
Aku bergegas berlari menuju kantor dan berharap Miko masih ada di situ. Satpam sampai bingung melihatku berlari masuk ke dalam kantor sambil menyeka air mata.
******
Aku berlari menuju ruangan Kak Arya karena aku yakin kalau Miko masih ada dia pasti ada
di situ.
"Mana Kak Arya?"
"Sudah keluar bersama Pak Miko, dua jam yang lalu, mungkin tidak kembali kesini lagi Mbak," jawab Pegawai yang ada di situ.
Aku langsung menghubungi Kak Arya dan ternyata langsung di angkat.
"Dimana Miko?"
"Disini...disebelahku."
Kak Arya menjawab singkat dan terdengar suara musik yang sangat nyaring membuat telingaku rasa mau pecah.
"Kalian dimana?"
Kak Arya memberitahukan dimana mereka berada dan ternyata mereka sedang ada diruang VIP room karaoke sebuah hotel berbintang lima. Aku harus bertemu dengan Miko hari ini kalau tidak aku bisa penasaran hingga tidak bisa tidur.
Aku menuju hotel yang di beritahukan Kak Arya padaku. Hotel itu customer produk kami jadi kalau Pegawai kantor kami ingin menggunakan fasilitas hotel akan diberikan pelayanan yang istimewa.
Sambil tergesa-gesa aku memasuki pintu utama dan menuju room karaoke yang diberitahukan Kak Arya. Ternyata ada di lantai lima hotel , saat masuk lift aku terkejut melihat pasangan yang berpelukan tanpa perduli kehadiranku di sekitar mereka.
Saat di depan room aku bertemu Kak Arya dengan seorang gadis karaoke yang seksi. Mereka seperti sedang mabuk, wanita itu bergelayut manja di bahu Kak Arya seperti sedang menginginkan sesuatu. Dia membisikkan sesuatu di telinga Kak Arya dan Kak Arya mengangguk lalu tertawa sambil mencium pipi wanita itu.
Aku cuma bisa memandang kelakuan mereka dan Kak Arya santai saja saat melihatku berdiri di depan mereka.
"Ternyata benar datang kamu Kia, Miko ada di dalam," kata Kak Arya terlihat sempoyongan karena pengaruh alkohol dan langsung meninggalkanku bersama wanita itu.
Aku memasuki room yang ditunjuk Kak Arya sambil membawa amplop yang diberikan Heri. Membuka pintu dan betapa terkejutnya aku melihat keadaan di depanku. Sambil menutup mulutku tak terasa air mataku menetes melihat semuanya.
Sakit itulah satu kata yang kurasakan saat ini. Hatiku terasa di sayat-sayat, walaupun kenyataan Miko adalah saudara Bimo tapi dia sudah memberikan satu rasa indah saat mengecup bibirku tidak bisa kupungkiri bibit cinta mulai tumbuh perlahan walaupun sekuat tenaga sudah aku tolak.
Aku kemudian berlari keluar room meninggalkan Miko sambil berharap agar dia jangan mengejarku. Tadi aku ingin sekali bertemu dengannya karena rasa ingin tahu yang teramat sangat sekarang aku ingin berlari menjauh darinya secepat mungkin dan menghilang meninggalkannya.
***********
**Kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa cinta datang perlahan dia menyentuh hati dan kemudian tumbuh, seberapa besar kekuatan untuk menolaknya hanya kita sendiri yang mampu melakukannya.
**Apa yang terjadi setelah itu, apakah Miko berusaha mengejar Kia atau membiarkannya saja?
__ADS_1
**Jangan lupa dukungannya rate vote like dan komen, selamat membaca terima kasih ...selalu sehat...