Rahasia Hati

Rahasia Hati
Aku Lebih Dulu Menyukaimu


__ADS_3

Flashback on*


Papa menghentikan mobil di depan sekolahku dengan cepat aku keluar setelah mencium tangan Papa. Aku berlari masuk ke dalam halaman sekolah karena melihat tidak ada orang lagi di luar, aku pasti terlambat pikirku.


"Jangan lari nanti jatuh," teriak Papa menegurku.


Aku melambaikan tangan dan berjalan dengan tergesa-gesa sambil membuka tas hingga tak melihat ada orang berjalan didepanku dengan buku yang bertumpuk.


Bruuuu...uuuk.


Badanku menghantam buku yang sedang di bawa akibatnya semua terjatuh ke lantai.


"Maaf... aku tidak sengaja, aku sedang buru-buru," jelas ku sambil ikut memilih buku yang berserakan.


"Tidak apa, cepat masuk nant kamu di hukum," katanya sambil tersenyum.


"Terima kasih ee---eem ....Miko."


Aku melihat nama di ID card siswa nya dan tersenyum sambil bergegas berlari menuju kelas.


"Dasar ceroboh," kata Miko sambil menggeleng kepalanya dan memandangku yang hilang di ujung lorong kelas.


******


Aku meringis menahan sakit karena ingin sekali buang air kecil tapi kelas belum juga usai. Terpaksa aku berdiri dan bergegas minta izin langsung berlari menuju toilet di ujung dekat tempat parkir. Aku berpapasan dengan seorang Pria yang membawa kain pel untuk mengepel lantai.


Aku segera memasuki toilet untuk pipis betapa terkejutnya karena tissue toilet habis. Aku tidak sempat melihat tadi saat masuk jadi sekarang aku kebingungan sendiri.


"Halo... ada orang diluar?"


"Apa bisa minta tolong ambilkan tissue di depan?"


Tak ada jawaban karena memang tidak ada seorang pun disana. Aku berteriak dengan nyaring sambil menggedor dinding toilet sedikit khawatir.


"Ada orang di luar, minta tolong ambilkan tissue toilet di depan?"


Aku hampir menangis tidak mungkin aku keluar dengan keadaan seperti ini. Tiba-tiba sebuah tangan terlihat di atas pintu toilet dengan satu gulung tissue yang ingin diberikan padaku dan aku langsung senang dan mengambilnya.


Diluar toilet ternyata yang membawa kain pel tadi adalah Miko, dia bertugas piket membersihkan ruang laboratorium yang ada di depan toilet.


"Menggelikan," ujar Miko sambil tertawa dan pergi menjauh.


Aku keluar dari toilet dan mencari siapa orang yang tadi memberikan tissue toilet untuk mengucapkan terima kasih tapi tidak ada seorangpun yang terlihat.


"Kenapa tidak mengizinkan aku mengucapkan terima kasih," sungutku sambil kembali ke kelas.


***********


Mama sedang sibuk menyiapkan kotak makan saat aku datang dari sekolah. Banyak sekali dan aku tahu itu untuk ulang tahunku yang ke -16.


"Kenapa harus di Panti asuhan Ma?"


Aku melemparkan tas sekolah sambil membaringkan tubuhku di sofa. Aku agak kecewa karena ingin merayakan dengan temanku tapi Mama tetap memaksa harus di Panti asuhan.

__ADS_1


"Mana lebih membutuhkan hiburan, teman kamu apa anak yang kehilangan Orang tuanya?"


Mama langsung menghampiri dan menepuk belakang serta menyuruhku berganti pakaian karena akan berangkat ke panti asuhan.


Ketika kami sampai sudah banyak anak yang berkumpul dan acaranya dimulai dengan doa yang dipimpin Ibu panti.


"Selalu seperti anak SD," keluhku sambil memandang lantai yang ku pijak.


Aku keluar saat acara makan dan duduk di kursi sebuah taman sambil memandang bunga mawar yang sedang mekar baunya sangat harum menyegarkan hingga membuatku sedikit tenang.


Seseorang memperhatikan dari jauh sambil tersenyum melihatku duduk sendiri di taman yang memejamkan mata menghirup aroma bunga mawar yang mekar saat itu.


"Kenapa selalu menyendiri wahai gadis manja, kenapa aku tidak pernah bisa mendekatimu?"


Miko berkata pelan sambil menarik napas panjang dan kembali dengan kegiatannya saat itu membereskan kantor Ibu panti.


*******


Rima menyerahkan sebuah kaleng padaku sambil tersenyum lebar karena merasa gembira.


"Ada yang meletakan di laci meja kamu, penggemar rahasia sepertinya," ledek Rima.


Aku memgambil kaleng yang berisi coklat kesukaan ku kemudian membukanya sambil tersenyum melihat bola coklat beraneka warna dan rasa. Kartu ucapan yang bertuliskan you are my valentine to day.


"Siapa ya?"


"Tidak penting siapa yang memberi, ayo makan saja aku mau yang putih pasti enak," jawab Rima sambil mengambil bola coklat berwarna putih.


**********


Bimo lalu melepaskan tanganku saat kami sampai di kantin. Ada beberapa orang yang meledek termasuk Heri yang mengatakan kami seperti kekasih yang lagi bertengkar.


Sepasang mata menatap tajam ke arah kami. Miko dia sedang makan dan duduk di ujung dekat jendela memperhatikan aku yang sedang bicara dengan Bimo.


"Apa mereka benar pacaran?"


Riza teman Miko datang dan duduk disebelah Miko. Miko memandang Riza dan mengangkat bahunya masih memandang kami yang duduk tak jauh tanpa bicara apapun.


"Haa...ah, kenapa kamu selalu terlambat dari saudara mu dalam segala hal, menyedihkan," ujar Riza yang kemudian berdiri lalu meninggalkan Miko yang masih duduk.


********


Praaa...aang.


Cangkir yang ku pegang jatuh ke lantai saat aku menuang air panas untuk membuat kopi di kantor saat dinas di kantor pusat Balikpapan. Baru dua bulan di tinggal Bimo menikah pikiranku masih tidak bisa konsen dengan apapun saat itu.


"Kenapa sangat ceroboh, itu air panas," teriak Miko sambil menarik tanganku ke wastafel pantry lalu menyalakan air dan mengalirkan ke tanganku.


"Jangan diangkat aku mau ambil kotak obat, tetap disitu," suruhnya padaku yang masih diam tapi menurut saja.


Miko memandangku sambil mengoleskan salep ke tanganku dan aku hanya menunduk diam tidak bicara sepatah kata seperti orang bingung.


"Terima kasih," kataku sambil berdiri dan meninggalkan Miko yang masih duduk disitu tanpa melihat wajahnya.

__ADS_1


"Tatapan kamu berubah Kia... tidak seperti dulu, kini sangat dingin."


Flashback off*


*********


Kubuka mataku perlahan terasa sangat berat dan merasakan tanganku di pegang seseorang. Miko ternyata tertidur dengan posisi duduk dan kepala di ranjang terlihat pulas sekali mungkin lelah karena menjaga aku semalaman.


Aku menarik tanganku perlahan supaya tidak membangunkannya dan turun dengan pelan karena ingin ke kamar mandi, berjalan perlahan sambil memegang tiang infus. Ketika aku keluar kulihat Miko masih tertidur, aku mengambil minuman jeruk di kulkas.


Aku berdiri didepan jendela sambil melihat keluar. Hujan deras mengguyur bumi seolah ingin menghapus panas yang kemarin. Tiupan anginnya menghempaskan titik hujan ke arah kaca hingga menimbulkan embun yang menyelimuti kaca di depanku.


Aku mendekatinya dan menuliskan kata hope di kaca yang berembun sambil memejamkan mata berdoa agar semua lebih baik kemudian meniupnya hingga terhapus. Aku kemudian menghapus sebagian kaca karena ingin melihat turunnya air hujan.


"Aku rindu seseorang saat hujan turun."


Aku masih menatap kearah jendela dan nenoleh ke belakang saat mendengar suara kursi berdecit karena Miko terbangun. Dia mencariku karena tidak ada diranjang dan tersenyum ketika melihatku berdiri di depan jendela.


"Sudah lama bangun?"


"Apa sudah baikan?"


Miko bertanya sambil beranjak dari kursi dan langsung mencuci muka kemudian mengambil minuman di kulkas. Miko berjalan mendekatiku yang masih berdiri memandang hujan di luar dan ikut berdiri di sampingku sambil meminum kopi di botol minuman.


"Tahukah kamu bahwa hujan memiliki kemampuan menghipnotis, dia bisa meresonansikan ingatan masa lalu dan itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang sedang rindu."


Aku berkata pelan dan Miko melihat ku yang masih memandang tetesan hujan yang jatuh dari dahan pohon di depan jendela yang kami pandang saat ini.


"Setiap melihat hujan aku selalu rindu orang-orang yang meninggalkanku sendirian," kataku pelan sambil memandang Miko dengan mata berkaca-kaca.


Tak terasa aku menangis sambil menunduk dan terisak. Benar saat ini aku merindukan orang yang bisa memelukku saat menangis karena semua kejadian masa lalu.


"Bagaimana aku bisa menghapus masa lalu yang begitu sakit, menyedihkan dan membuatku trauma."


Miko lalu mengambil kedua tanganku dan menggenggam dengan erat sambil tersenyum padaku.


"Ayo kita sembuh kan luka ini sama-sama, aku dan kamu berpegangan seperti ini, Kia kamu juga berhak bahagia," ujar Miko sambil memelukku dari belakang.


"Apakah bisa, apakah itu mungkin?"


"Bagaimana kalau kita coba bersama?"


Aku berbalik menatap mata Miko dengan dalam, Miko hanya mengangguk sambil tersenyum padaku.


"Aku akan menyetujui usul Bimo sekarang jadi kamu harus siap dan yang harus kanu tahu bahwa akulah yang pertama memcintaimu sebelum Bimo," ujar Miko sambil membalikan badanku ke arah jendela dan memelukku.


************


**Bukan masalah siapa yang lebih mencintai, menyukai dan menghargai tapi siapa yang mendampingi saat kamu terluka dan sendiri.


**Saat hujan turun ada sebuah irama yang tercipta dan hanya bisa didengar dia yang sedang merindukan seseorang.


**Kebahagian tidak bisa diukur dari kesenangan yang datang tapi di titik mana kita sudah cukup merasa bahagia, karena bahagia terlalu berlebihan tidak akan baik juga.

__ADS_1


**Selamat membaca dan terima kasih atas dukungannya...sehat selalu, stay home for healthy, dont forget health protocol😊


__ADS_2