
Seminggu kemudian dan tiga hari setelah kepulangan Kia, Miko dan Dio dari kota. Tibalah hari yang di tunggu sekian lama dari dua keluarga besar.
Dikamar VIP sebuah hotel tempat acara, terlihat kesibukan beberapa orang yang akan meriasku dan menyulap menjadi pengantin yang luar biasa.
"Buat semua terlihat fresh, natural sesuai dengan tema acara," suruh Meta pada dua orang asisten make up.
"Up to you Met, yang penting jangan buat aku seperti badut," candaku di sambut tawa geli Lala yang dari tadi di belakangku.
"Tidak akan Say."
Meta masih sibuk menyiapkan beberapa ornamen yang akan di pakai buat headpice.
"Kapan mereka datang La?"
"Siapa? Miko?"
"Bukan... semua keluarga kita."
"Tadi Andi telepon, mereka masih siap-siap. Mungkin sebentar lagi berangkat dari rumah."
"Maaf... sudah merepotkan kamu La, karena menemaniku di sini."
"Santai saja, si kembar juga enjoy sama Oma dan Opa mereka."
Sekarang Om dan Tanteku lebih sering berkunjung ke rumah Andi, mungkin mereka agak kesepian. Kak Ary yang tinggal di Jakarta jarang sekali pulang sebab kesibukan begitu juga Andi. Hingga mereka yang mengalah untuk menjenguk cucu, karena jarak tempat tinggal Andi lebih dekat, jadi agak lebih sering didatangi.
Sementara di rumah Kia, semua orang sibuk bersiap ingin berangkat.
"Ary... jangan lupa bilang sama isteri kamu, untuk kontrol tamu di depan," teriak Tanteku dari dalam kamar.
"Andi... jangan lengah buat jaga om Hendra, nanti si kembar biar Papa yang urus."
"Kamu sudah bawa yang di dalam kotak tadi malam kan?" tanya Tante pada Mama.
"Sudah, aku taruh di dalam tas," jawab Mama sambil menggandeng Papa.
"Ayo... cepat nanti terlambat," ajak Tante sambil membuka pintu mobil.
Satu jam kemudian di hotel.
"Oke... sudah selesai," ucap Meta saat membenarkan letak hiasan kepala dengan pelan.
"Kita foto dulu."
Fotografer langsung menyiapkan lampu dan kamera. Lala membantuku ke arah sofa yang sudah ditata. Tak berselang lama terdengar suara pintu di ketuk. Terlihat si kembar masuk bersama keluarga besarku sudah datang.. Bena bahkan melongok di pintu sambil berteriak gembira.
"Mama Kia... Bena datang. Mama Kia cantik sekali, Bena mau seperti mama Kia nanti kalau sudah besar."
Disambut tertawa riuh dari semua orang saat dia memelukku.
"Benarkah? Bena mau bekerja seperti mama Kia?"
"Bukan... Bena mau jadi pengantin yang cantik," jawabnya masih memelukku.
"Tuh kan... berisik deh akhirnya, kalau ada Bena,"Lala menyahut sambil menarik tangan Bena.
Tanteku mengeluarkan sebuah kotak yang terlihat agak usang, tapi sangat terawat karena disimpan dengan baik.
"Pakai ini," Tante membuka kotak dan terlihat sebuah kalung emas dengan taburan berlian di seluruh rantai. Aku sampai takjub melihat keindahan cahaya yang terpancar di setiap biji berlian. Kemudian aku memandang Tante dan Mama yang berdiri di depan dengan rasa haru menyesak di dada hingga membuatku hampir menangis.
"Jangan menangis Kia... please. Aku tidak mau memperbaiki make up kamu lagi," bisik Meta sambil mengelus punggung tanganku.
"Ini warisan keluarga kita, pernah di pakai sama Nenek, Mamamu dan Tante saat menikah. Sekarang giliran kamu yang pegang, nanti akan di pakai oleh semua perempuan di keluarga kita, kalau dia menikah," Mama menjelaskan sambil memakaikan kalung ke leherku.
"Jadi ini kalung dari Nenek? Berarti sudah puluhan tahun umurnya?"
"Ini adalah pemberian Kakek saat menikah dengan Nenek."
Aku melihat kalung yang kupakai itu di depan kaca.
"Ohh.... cantik sekali."
"Rawat baik-baik supaya anakmu bisa memakainya saat menikah nanti," ucap Tante dengan senang.
"Kia janji demi keluarga kita."
"Temui Papa," suruh Mama.
Aku melihat Papa duduk di kursi bercanda dengan Beny. Segera ku hampiri dan Papa tersenyum lebar melihatku dengan pakaian pengantin.
"Pa... kia mau menikah," terbata aku berkata menahan supaya tidak menangis.
__ADS_1
"Papa tahu, Papa bahagia masih bisa melihat Kia menikah. Bilang sama Bimo kalau dia membuat Kia sedih, dia akan berhadapan dengan Papa."
Sampai saat ini Papa masih mengira Miko adalah Bimo. Walau dijelaskan berkali-kali Papa tetap memanggil Miko dengan nama Bimo. Kadang-kadang Mama berusaha menjelaskan tapi Papa tetap bersikeras bahwa Miko adalah Bimo, akhirnya kami semua pasrah. Untungnya Miko tidak keberatan dengan pendapat Papa yang sekarang sedang sakit.
Aku kembali memandang wajah Papa dengan penuh kasih. Mencium dan menggenggam tangan Papa dengan erat. Sekarang aku baru sadar bahwa Papalah yang paling memyayangiku, walaupun dulu beliau sudah berbuat buruk pada Bimo. Itu semua karena Papa terlalu sayang padaku sampai di butakan oleh amarah.
"Ayo kita foto keluarga sebelum turun ke tempat acara," ajak Tante sambil melambai tangan ke arah fotografer yang sudah siap dengan kamera.
************
Suasana agak ricuh di rumah Miko karena mas Tito dari tadi mencari kotak cincin yang di taruh kak Lina di laci meja.
"Di laci nomor berapa Kak?" tanya mas Tito sambil membuka satu persatu.
"Nomor tiga," teriak kak Lina sambil menyelesaikan dandanannya.
"Oke... dapat."
"Cepat! Kamu juga harus bersiap, nanti terlambat," kak Lina datang mengambil kotak cincin dari tangan mas Tito dan mas Tito bergegas berganti pakaian.
"Dio... mana Dio?"
Kak Lina mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan karena tidak melihat Dio yang bertugas membawa cincin pengantin.
"Dio di kamar kak Miko;" jelas Tari yang keluar dari kamar di dampingi Luthfi dan Raffa. Sepertinya mereka semua sudah siap berangkat.
"Coba kamu lihat Mama sama tante Hera di dalam,," pinta kak Lina pad Tari.
"Luthfi katakan pada semua orang cepat bersiap, kita mau berangkat setengah jam lagi. Tidak lucu kalau tamu lama menunggu."
Di dalam kamar Miko, Dio duduk di ranjang melihat Miko di bantu penata rias memakai pakaian pengantin dan memberikan polesan terakhir dengan meyemprotkan parfum ke badan Miko.
"Bagaimana Papa hari ini Dio?"
Dio hanya mengangguk, tersenyum dan mengacungkan jempol. Mas Tito masuk dan memandang Miko dengan senyum senang. Dulu saat Bimo meninggal dia sangat sedih tidak bisa melihat adik laki-laki menikah. Tapi sekarang Miko memutar kembali rasa sedih dengan bahagia. Mas Tito sekarang adalah orang yang mengantar Miko dan memberikan nasehat pada Miko menggantikan ayah mereka.
"Intinya selalu jadi suami yang baik. Lakukan semua sepenuh hati, kalau berjanji dihadapan Tuhan, kamu bertanggung jawab padaNya."
"Bagiku menikah cukup satu kali dalam hidup Mas. Aku sudah siap mental sekarang," ucap Miko pasti.
"Ingat... kamu di dukung semua keluarga. Jadi kalau terjadi sesuatu jangan sungkan meminta pendapat kami."
"Baik Mas."
"Ayo semua kita berangkat," ajak mas Tito.
***********
Di depan rumah terlihat Mama bersama tante Hera tersenyum melihat Miko keluar dari rumah. Miko langsung memeluk Mama yang duduk di kursi roda. Sambil berjongkok dia menggenggam tangan Mama.
"Ma... Miko akan menikah sekarang. Doakan supaya lancar dan bahagia bersama Kia selamanya."
"Pasti Nak, itu yang Mama dan semua orang harapkan," ucap Mama sambil tersedu.
"Sepertinya pernikahan Miko lebih mengharukan dari yang lain, buktinya Mama kamu sampai tidak bisa tidur memikirkan semua Miko," jelas tante Hera.
"Benarkah? Jangan begitu Ma, nanti Mama sakit."
"Mama terlalu gembira, Mama sehat kok. Bagaimana dengan Ibumu?"
"Miko sudah ke sana kemarin bersama Kia dan Dio, juga ke tempat Papa dan Bimo saat pulang dari kota."
"Mama akan menggantikan tempat dia hari ini, Mama sangat berterima kasih pada Ibumu."
"Miko mengerti, terima kasih Ma," kata Miko sambil mencium pipi Mama. Sekali lagi Mama memeluk dan mencium dahi Miko.
"Mama bangga, kamu berbeda dengan Papa."
***********
Didepan hotel sejumlah golf cart sudah menunggu untuk mengantar keluarga Miko ke tempat acara pernikahan. Tempatnya di sebuah taman bagian belakang hotel. Sesuai tema perikahan ditempat terbuka harus direncanakan dengan matang. Manager hotel sampai ikut menyambut dan mengantar keluarga Miko.
Pesta pernikahan ini tidak digelar secara besar. Hanya keluarga dan teman dekat saja, supaya lebih akrab dan bisa membaur satu sama lain. Saat Miko sampai di tempat, dia disambut oleh teman akrab di kantor dan lebih membuat Miko senang saat melihat Bunda dengan Riza juga datang. Mereka sudah tiba sebelum Miko sampai, Riza melempar senyum sambil melambaikan tangan dan Miko segera menghampiri.
"Terima kasih sudah datang Bunda. Terima kasih Za buat semuanya, aku tunggu undangan kamu juga." Riza tersenyum sambil mengangguk.
"Bunda bahagia... sungguh ba----hagia," tersendat Bunda berkata.
"Terima kasih Bunda, Miko akan selalu sayang sama Bunda."
"Harus kamu tahu, salah satu kebahagian seorang Ibu ialah saat melihat anaknya menikah dengan bahagia. Kamu tetap Miko anak Bunda walau nanti sudah berkeluarga."
__ADS_1
"Miko janji akan selalu menengok Bunda bila ada waktu."
"Sana cepat, nanti terlambat acaranya."
"Iya Bunda."
*********
"Hello Bro.... selamat menikah."
Kak Arya beserta teman kantor sudah datang dan duduk di meja samping kanan. Tepat di jalan arah Miko menuju tempat pengucapan janji nikah.
"Akhirnya sah juga Mik, semoga bahagia sampai tua," Alan berdiri sambil memberikan sesuatu pada Miko.
"Apa ini?"
"Nanti dibuka saat berdua Kia, biar lebih surprise," kata Alan dengan wajah serius.
"Seperti meragukan."
"Hey... itu aku yang pilih," kak Arya berusaha meyakinkan Miko.
"Ahhh.... lebih meragukan lagi kalau kamu ikut andil dalam memilih," sangsi Miko.
Wiwin menutup mulut menahan tawa begitu juga yang lain, melihat ekspresi keraguan Miko.
"Selamat ya Mik,' kak Santi ikut berdiri di depan Miko.
"Tidak sabar mau lihat Kia dengan pakaian pengantin," lanjutnya.
"Terima kasih Kak."
Kak Santi juga datang ditemani dengan suami serta Lisa asistenku.
"Miko... di sini... selamat....."
Nisa melambaikan tangan memanggil Miko. Miko tersenyum sambil mengangguk membalas ucapan Nisa bersama Rima yang datang dengan keluarga masing-masing.
"Pengantin, tolong stand by di posisi," suara MC memanggil Miko, dengan cepat setengah berlari Miko menuju ke sana.
***********
Perjalanan ke tempat acara sangat unik, aku di kelilingi beberapa pelayan yang membentangkan kain putih menutupi badanku, supaya tidak kelihatan oleh siapapun. Kecuali Lala yang menuntunku menuju taman. Keluargaku sudah lebih dulu ke sana dan duduk di meja paling depan bersama keluarga Miko.
Saat sampai di depan para tamu baru kain penutup di buka. Semua orang bertepuk tangan dan kulihat Wiwin sampai memeluk Alan sambil menangis gembira. Dia melambai tangan dan memberi semangat padaku lewat kepalan tangan di depan dada.
Ku lihat Papa menuju ke arahku sambil tersenyum. Mengulurkan tangan dan menggandeng tanganku menuju ke arah Miko. Miko menundukkan kepala dan tersenyum lebar melihat aku berjalan ke arahnya.
"Sekarang Papa titipkan Kia padamu. Sayangi dan cintai dia seperti cinta Papa dan Mama," lantang sekali Papa mengucapkan pada Miko.
"Pasti Pa, saya janji."
Miko mengambil tanganku dari genggaman Papa. Menarikku perlahan ke depan dan berucap dengan mesra.
"Mari... berdua bersamaku, kita menjemput impian menuju bahagia."
Aku mengangguk dan mengikuti Miko tanpa rasa ragu. Terdengan alunan suara dari penyanyi band pengiring acara dengan merdu dan syahdu.
Kau dan aku jadi satu
Arungi laut biru
Tak kan ada yang kuasa
Mengusik haluannya.........
Kau dan aku jadi satu
Bersama kita jemput impian.......
( penggalan lagu by KLA dan kerispatih)
**********
**Setelah di notif berkali-kali oleh pihak MT, saya akhirnya update Rahasia Hati.
Saya minta maaf pada pihak MT karena hal tersebut, bukan tidak mau tapi karena waktu yang harus dibagi. Tapi saya tetap bertanggung jawab karena novel ini sudah kontrak.
**Saya juga minta maaf pada para pembaca yang masih menunggu novel ini. Maafkan saya reader telah membuat kalian lama menunggu, semoga masih ada yang mau mendukung Rahasia Hati.
**Novel ini sebenarnya masih panjang, saya belum menghadirkan kehidupan perkawinan Kia dan Miko. Tapi saya mau dengar pendapat dari para pembaca apakah novel ini akan di end atau terus? Tolong kasih komen yah reader.
__ADS_1
** Pernikahan adalah awal impian dari dua manusia yang berkomitmen akan menerima apapun kekurangan dari pasangan. Tanpa mempermasalahkan kondisi dan tidak terukur dengan batas waktu.
**Terima kasih pada semua yang mendukung Rahasia Hati. Tanpa kalian saya bukanlah apa-apa. Semoga semua kebaikan di balas dengan kebaikan, juga selalu di kasih kesehatan yang baik. Stay happy.... stay healthy and stay here with Kia. See you next time.