Rahasia Hati

Rahasia Hati
Kamu dan Kenangan


__ADS_3

Acara pernikahan Tari berlangsung sangat sederhana. Keinginan kedua belah pihak , keluarga Luthfi dan Tari sudah menyetujui. Hanya keluarga dan teman-teman yang datang. Terlihat juga Ayah Raffa ikut hadir bersama isteri dan anaknya. Mereka membaur jadi satu seperti keluarga besar.


Walaupun sederhana tapi sangat menyentuh. Apalagi saat Luthfi memberikan pernyataan bahwa dia akan menggantikan tugas almarhum Bimo untuk menjaga Mama Tari. Maklum Luthfi tidak punya Orang tua lagi. Dia di dampingi oleh kak Melda, kakak satu-satunya dan suami.


Kak Melda sangat senang bertemu denganku. Kami bicara sangat lama setelah Luthfi membacakan akad. Kami jadi bernostalgia demgan cerita saat kak Melda membantu aku membuat tugas sekolah dulu. Kak Melda juga yang memberi tahu aku bahwa kak Yaya sudah meninggal saat melahirkan anak kembar tiga tahun lalu.


Aku jadi agak sedih mengingat tentang kak Yaya, karena dulu dia lah yang membantu bila aku kesulitan dalam pelajaran. Setelah Papa pensiun kami terpisah dan hanya ku dengar kak Yaya ikut suaminya yang seorang anggota polisi dan dinas di luar propinsi.


Miko dari awal sampai sekarang selalu menyungging senyum bahagia. Dia sangat senang Luthfi dan Tari sudah sah jadi suami Isteri, karena Miko percaya Luthfi akan menjaga Tari dengan benar.


"Aku menunggu kamu dengan Kia menikah, itu yang diharapkan semua orang," ujar Luthfi saat Miko menyalami memberi selamat.


"Pasti," sahut Miko.


"Bimo pasti senang, adik kami jatuh pada orang yang tepat yaitu sahabat paling di percaya."


"Kamu tahu, saat mengucap akad aku seperti merasa Bimo ada, dia seolah menyaksikan janjiku pada Tari. Rasanya memang seperti itu, dia berada di antara kalian dan tersenyum ke arahku," ucap Luthfi sambil menunduk menahan haru. Heri yang saat itu juga ada menepuk bahu Luthfi. Dia juga sahabat terbaik Bimo yang sampai akhir di sisi Bimo.


Luthfi adalah sahabat sejati Bimo yang dulu mati-matian di suruh Bimo menikah tapi tidak mau. Karena ingin menemani Bimo saat sakit. Tapi siapa menyangka dia akan menikahi adik Bimo dan Miko sendiri. Merupakan suatu kebahagiaan bagi keluarga Bimo bisa menjadikan Lutfhi anggota keluarga. Bagaimanapun Luthfi dari dulu sudah mereka anggap keluarga. Saat dia menikah dengan Tari maka resmi Luthfi masuk dalam keluarga besar Bimo dan Miko.


Miko memegang tanganku saat Mama menghampiri kami.


"Setelah ini kalian yang akan menikah, Mama tidak punya keinginan lain selain itu," ucap Mama.


"Pasti di semogakan oleh Tuhan semua keinginan Mama. Miko percaya Ma."


"Kia harus bahagia, itu juga keinginan Mama. Sudah cukup sedih kita semua," Mama memegang tanganku yang satu lagi.


Hari itu kebahagiaan terpancar jelas di semua wajah orang yang datang. Tari bahkan tak berhenti tersenyum sambil memegang tangan Luthfi. Begitu juga Raffa yang dari tadi duduk di sebelah Tari, senyum tak lepas dari wajahnya. Sesekali dia memandang ke arah Luthfi yang sedang bicara dengan suami kak Melda.


"Ayo bersulang untuk kebahagiaan Tari," teriak mas Tito.


Kami semua mengangkat gelas sampanye yang tadi di buka oleh Miko saat semua prosesi nikah selesai.


"Untuk semua doa buat kami, terima kasih," lanjut Luthfi.


"Untuk Bimo," ucap Miko dengan keras sambil menatapku.


Aku terdiam saat Miko menyebut nama Bimo. Masih ada rasa terkejut tapi tidak sakit lagi karena dengan cepat Miko mencium pipiku. Lalu disambut tepuk tangan meriah dari semua tamu.


"Miko bisa saja," tante Hera tertawa melihat wajahku yang bersemu merah karena malu.


"Kita harus mengingat Bimo dengan semua kebaikannya, buang keburukan dan yang membuat sedih. Dia tetap kakak bagiku," bisik Miko di telingaku.


Aku mengangguk, Miko benar lebih baik mengingat seseorang yang sudah tiada adalah tentang kebaikannya. Karena selain membuang rasa sakit juga akan lega melangkah ke depan.


"Tidak akan merasa damai hati seseorang yang diliputi setitik rasa dendam."


Aku tersenyum, semua ucapan Miko adalah benar. Bimo dengan segala kebaikannya akan tertanam dalam hatiku. Dia bagiku sekarang adalah orang yang mampu mengorbankan semua demi aku karena rasa bersalah.


Cinta kami akan menjadi kenangan yang selalu ku ingat dan ku jadikan pelajaran berharga. Suatu saat nanti akan menjadi cerita yang penuh hikmah bagi ku bahwa cinta tidak mesti bersatu. Untuk melalui bahagia tidak mudah selalu ada halangan yang menghadang. Tanpa kita sadari semua berbalik ke diri sendiri menyikapi semua.


Ada yang berkata bahwa hidup itu penuh kejutan, kita akan menemukan itu setiap hari. Kejutan baik dan buruk pasti terjadi maka gunakan nalar dengan tepat agar semua bisa di atasi. Seperti cintaku dengan Bimo selalu ada kejutan walaupun itu menyakitkan dan kami akhirnya menyerah juga.


*********


Kak Lina menarik tanganku dan Miko ke tempat sepi jauh dari kerumunan tamu. Dia memberikan sebuah kotak padaku.


"Ini cincin pasangan nikah punya Bimo, saat itu di beli untuk menikah denganmu Kia. Kakak simpan karena dulu kalian putus, sekarang kakak mau kalian pakai ini untuk cincin pernikahan. Kakak mohon lakukanlah demi Bimo," ucap kak Lina dengan penuh harap menatapku dan Miko.


Aku memandang Miko, tidak berani menyetujui keinginan kak Lina tanpa seizin Miko. Tanpa rasa ragu Miko mengambil kotak itu dan memandang kak Lina.


"Miko akan penuhi Kak, Kia juga. Tidak ada salahnya kan? Lagi pula Bimo kakakku jadi permintaan dia sedapat mungkin aku tulus kan."


Kak Lina tersenyum bahagia melihat reaksi Miko.


"Jadikan Bimo kenangan indah bagi kita semua Kia," mohon kak Lina padaku.

__ADS_1


"Baik Kak, Kia akan melakukannya."


"Bimo pasti tersenyum sekarang melihat ini, Kia yang dulu kesakitan karena dia sekarang malah ingin menjadikan semua kenangan dengan indah," kata Miko sambil memelukku.


Aku menatap Miko seolah mengerti apa yang di inginkan dia selama ini. Di mata Miko ku temukan kepastian dan aku berdoa semoga mata itu tetap seperti itu tidak berubah sampai kapanpun.


************


"Jadi besok pulang?" Miko bertanya saat ku telepon malam hari setelah semua acara Tari selesai.


""Iya."


"Aku antar besok setelah selesai rapat sekitar jam 1 siang," janjinya karena dia pasti khawatir aku sendirian. Alan dan Wiwin pulang selepas acara pertunangan kami berakhir. Hanya aku yang tinggal karena harus menghadiri pernikahan Tari menemani Miko.


"Berarti kita pakai mobilku."


"Nanti pulang aku ikut mobil perusahaan yang akan kesini."


"Tunggu saja, besok akan aku jemput setelah semua selesai."


Oke... my Man."


"What are you doing mama Kia?"


Suara centil yang nyaring mengejutkan. Aku langsung tersenyum dan mengakhiri obrolan dengan Miko. Gadis centil ini pasti mau sesuatu kalau menemuiku.


"Hai... Bena kesayangan Mama Kia."


Dia duduk dekat di sampingku sambil memandang menanti jawaban.


"Lagi telepon om Miko."


"What's wrong? What Bena want?"


Bena lancar sekali bahasa Inggris karena dia sekolah yang mengharuskan setiap bercakap dengan bahasa Internasional. Jadi dia selalu menggunakan setiap bicara padaku walau sering bercampur dengan bahasa Indonesia juga.


"Okey... fine, mama Kia juga udah lama gak tidur sama Bena. Ihh... kenapa jadi gemes sekali," ucapku sambil mencubit sayang pipi Bena yang montok.


"Makanya dipercepat saja acara pernikahan kamu dengan Miko," celutuk Andi di depan pintu kamarku.


"Aaahh... menggagetkan saja."


Bena tertawa melihat ekspresi kaget ku. Dia kemudian memelukku dan aku cium pipi yang tadi membuatku gemas.


"Aku berharap kali ini semua berjalan lancar. Tidak ada hambatan dan halangan lagi pada hubunganmu dengan Miko."


Andi menatapku dengan sungguh. Dia menginginkan aku bisa bahagia bersama Miko.


"Semoga... kita manusia cuma berencana dan berusaha tapi Tuhan juga yang menentukan," aku menjawab doa Andi dengan tersenyum.


Malam itu aku tidur bersama Bena, tatkala melihat wajah Bena yang sedang tertidur kembali teringat dengan kedua calon bayiku. Kalau mereka hidup mungkin sekarang lebih besar dari Bena.


Bagaimana mungkin aku menghapus kenangan tentang mereka. Yang pertama aku sangat ketakutan saat hamil, tapi yang kedua aku sangat bahagia. Tapi takdir memang bukan milikku hingga mereka semua tak bisa ku raih dalam pelukanku.


***********


Aku sampai di depan kantor Miko. Dengan membawa dua kotak makan, aku berencana akan makan dulu baru setelah itu kami berangkat ke kota. Aku tahu saat itu Miko sedang rapat jadi aku langsung menuju ke ruangannya.


Miko sudah berjanji akan menjemputku. Tapi aku ingin membuat kejutan untuknya. Sekali-kali menyenangkan hati Miko. Sering Miko yang berbuat hal apapun agar hatiku senang, kini gantian aku akan melakukan kejutan untuknya.


Aku masuk setelah bicara dengan pegawai berada di depan ruangan Miko.


"Mungkin satu jam lagi selesai rapatnya, Mbak."


"Kalau begitu saya tunggu di ruangan."


Aku duduk di ruangan kerja Miko. Tak sadar mataku tertuju pada sebuah rak buku yang terpajang di sudut ruang.

__ADS_1


"Kelihatannya menarik," gumam ku sambil menuju ke arah rak buku.


Sebuah buku dengan sampul warna merah sangat menggoda. Perlahan ku ambil dan ku bawa ke meja kerja Miko dengan maksud untuk kubaca. Kulihat buku itu berjudul pendaki puncak. Aku tersenyum pasti ini buku tentang pendaki gunung. Sangat kontras dengan Miko yang senang dengan olah raga ekstrim seperti panjat tebing dan arung jeram.


Perlahan aku buka tapi tiba-tiba sehelai kertas jatuh tepat di atas kakiku. Aku mengambil dan ingin menaruh kembali ke lipatan buku. Tapi ada nama Bimo di situ hingga mau tidak mau aku penasaran ingin melihatnya. Ku buka tanpa rasa curiga dalam hati aku berkata mungkin ini catatan tentang kesehatan Bimo dulu.


Tapi setelah membaca setengah dari isi kertas, mataku terbelalak tidak percaya ternyata isinya perjanjian kesepakatan antara Miko dengan Bimo. Bahwa Miko akan bersedia menikahiku menggantikan posisi Bimo. Masih tidak percaya lalu kubaca satu kali lagi hingga akhir.


Badanku lemas, hatiku sakit seperti teriris. Aku masih belum percaya dan ku baca sekali lagi, ternyata benar Miko berjanji pada Bimo akan menikahiku demi Bimo.


"Jadi selama ini dia cuma kasihan padaku karena aku sudah di sakiti Bimo? Apa seperti itu yang sebenarnya? Benarkah selama ini dia tidak tulus padaku?"


Banyak pertanyaan dalam otakku saat itu. Dengan tertatih aku duduk dan berusaha menahan air mataku supaya tidak menetes. Tapi apalah daya aku hanya seorang wanita yang pasti akan terluka jika sebuah perasaan yang kusangka tulus ternyata hanya hasil dari sebuah kesepakatan.


Rasanya dunia seperti menjatuhkan aku kembali ke tempat paling dalam. Miko yang kukira tulus ingin mengobati lukaku ternyata kebenaran hanya ingin melakukan sesuai keinginan Bimo. Surat itu itu tidak bisa dibantah lagi karena semua tertulis jelas bahwa Miko bersedia menikah karena Bimo bukan karena cinta padaku. Itulah yang kupikirkan saat itu.


"Aku akan pulang sendiri saja."


Dengan menangis aku meninggalkan ruangan kerja Miko. Aku berharap semua hanya mimpi siang saja tapi tidak bisa semua nyata adanya. Aku memacu mobil dengan cepat, aku akan pulang saja. Aku tidak bisa menghadapi Miko sekarang, nanti saja saat pikiranku sudah tenang.


Saat ini kalau kami berhadapan semua pasti akan membuatku marah. Kemungkinan besar aku bisa memutuskan semua yang telah terjalin. Ini sudah bukan jalinan cinta biasa lagi tapi sudah tahap serius. Jadi lebih baik ku pikirkan nanti saja supaya tidak membuat keputusan dengan tidak tergesa.


*********


"Mana tunangan saya?"


Miko bertanya dengan bingung pada pegawai di kantor depan, karena tidak menemukanku di ruangan kerjanya sedang kotak makan tertinggal di atas meja.


"Sudah pergi tadi Pak, buru-buru kelihatannya."


Masih dalam keadaan bingung Miko mencoba meneleponku. Tapi matanya tertuju pada sehelai kertas dan buku merah di atas meja.


"Aaaah .... Sial!"


Miko merobek kertas hingga menjadi serpihan kecil dan melempar ke tempat sampah. Lalu mencoba kembali meneleponku.


"Tolong angkat... please Kia," mohon Miko.


Wajahnya kelihatan sangat cemas sekali. Dia tidak menyangka aku menemukan surat kesepakatan dulu yang dibuatnya dengan Bimo. Dia saat itu tidak berniat menikah dan mengambil hak Bimo. Saat itu dengan setengah terpaksa dia menulis kata asal saja.


"Aku Miko, akan menikahi Kia atas anjuran Bimo kakakku semua akan kulakukan untuk Bimo"


Dia tidak menyangka kalau itu yang akan membuat kesalah pahaman denganku saat ini. Miko terus mencoba menghubungiku dengan perasaan tidak karuan.


************


Sudah setengah jam aku menyetir dengan perasaan kesal bercampur marah. Handphoneku berdering sudah berulang kali tapi ku abaikan karena aku tahu itu dari Miko. Tapi benda itu terus berdering tidak berhenti dengan malas dan marah ku terima teleponnya.


"Kamu jahat!"


Dengan menangis aku berteriak pada Miko, tapi tiba-riba aku dikejutkan bunyi klakson mobil di depan .


"Aaaaaaaahhhhhhh."


Miko panik seketika saat mendengarku berteriak dan panggilan telepon terputus.


"Kia....jawab aku, halo Kia.... Kia, aku tidak bisa dengar suara kamu. Kiaaa........."


*************


** Jika memang terpaksa, tak perlu kau memaksa. Berbagi detikku dan detikmu, aku cuma ingin cinta tulus tanpa syarat.


** Apa yang terjadi pada Kia? Kenapa selalu ada cobaan di setiap langkah? Apakah salah paham mereka bisa diselesaikan? Tunggu chapter selanjutnya.


** Terima kasih pada semua orang yang sudah mendukung penulis . Jangan lupa rate, vote, like dan komen. Apalah arti saya tanpa pembaca dan teman sekalian, semoga novel ini masih ada yang menanti up. Maaf kalau sangat lama menunggu, mohon pengertian yang teramat dalam.


** Saya selalu memberi semangat supaya jangan sampai sakit. Tapi akhirnya saya juga yang sakit kemarin dan sekarang syukur sudah sembuh dan sehat kembali. Selalu sehat, selalu bahagia dalam keadaan apapun. Salam hangat dari Rahasi Hati, mari kita semua saling dukung.

__ADS_1


__ADS_2