Rahasia Hati

Rahasia Hati
Doa Yang Terkabul


__ADS_3

Mobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah yang penuh dengan kenangan. Luthfi menoleh ke samping terlihat Miko agak gugup beberapa kali dia menarik dan menghembuskan kembali nafas panjang seakan ingin membuang semua rasa cemas dalam dadanya.


Dari sekian tahun baru inilah Miko menginjakkan kaki di rumah ini. Dia pernah kerumah Bimo yang dulu bersama Ibunya sebelum kejadian Ibunya gantung diri dan meninggal. Saat pemakaman Bimo dia hanya sebentar melihat itupun saat di pemakaman saja karena dia harus kembali bekerja.


"Santai saja," ujar Luthfi menepuk bahu Miko.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa berbicara apapun saat berhadapan dengan mereka?"


"Jangan terlalu di cemaskan, relax saja," jawab Luthfi.


"Kak Lina ada juga dia datang bersama keluarganya, Mas Tito juga ada semua berkumpul jadi ini kesempatan bagus buat kamu," jelas Luthfi.


Hari ini hari peringatan kematian Ayahnya Bimo yang juga Ayah Miko jadi semua anak-anaknya berkumpul. Dan momen ini coba di manfaatkan oleh Luthfi untuk membuat Miko hadir supaya bisa berbaur dengan keluarga Bimo yang merupakan keluarganya juga. Luthfi mendesak Miko karena memang sudah waktunya Miko berbaikan dengan mereka.


Sekali lagi Miko membuang napas panjang dan menguatkan dirinya agar bisa melakukan semua rencana Luthfi yang sekarang jadi sahabatnya. Miko tahu inilah titik awal agar dia bisa kembali menata hidupnya yaitu berdamai dengan orang-orang d yang dulu pernah dibencinya.


Selama ini Miko sangat menyadari betul bahwa dia selalu di abaikan bahkan dianggap tak ada oleh sebagian keluarga Bimo. Sering juga di hina dan di bicarakan seenaknya sampai membuat Miko bingung bagaimana mungkin dia yang tidak pernah mau mengurus kehidupan mereka tapi malah kehidupannya dijadikan bahan pembicaraan. Tapi semua diterima Miko dengan lapang dada karena dia pikir tak ada gunanya meladeni lebih baik dan berusaha lebih maju.


Miko turun perlahan dari mobil dan mengikuti Luthfi yang sudah lebih awal nerjalan menuju rumah Bimo. Berjalan dibelakang Luthfi Miko berusaha keras meredakan perasaan yang sedikit mengguncang di hatinya. Dia berusaha bersikap biasa saja karena lambat laun dia juga harus berhadapan dengan keluarga ini. Apalagi dengan rencananya yang akan menikah maka satu persatu persoalan harus diselesaikan.


Miko tak sengaja memandang wanita yang duduk di kursi roda. Dia sedang memandang bunga mawar yang mekar di depannya. Tatapannya agak sendu dan dengan tangan agak gemetar dia memetik satu bunga kemudian membawa ke hidung. Dia mencium aroma wangi mawar yang di petiknya dan tersenyum kembali menatap bunga yang mekar terlihat sangat indah.


Miko berhenti di depan wanita itu sambil memandang dan tersenyum.


"Ibu."


Miko memanggil Mama Bimo dengan pelan hampir tidak terdengar. Orang yang dipanggil Ibu menoleh dan memandang Miko dengan tatapan bingung. Tidak menyangka ada seorang yang memanggilnya Ibu. Dia lalu menoleh ke arah lain kalau-kalau ada orang lain selain dirinya dan Miko. Luthfi langsung menghampiri dan menjelaskan semua pada Mama Bimo.


Mama Bimo mengerti dengan penjelasan Luthfi wajahnya langsung berubah sedih seakan tidak percaya tapi Luthfi sekali lagi meyakinkan Beliau bahwa semua benar adanya. Mama Bimo masih bingung tapi kelihatannya dia mempercayai Luthfi sepenuhnya dan perlahan mendekati Miko.


Mama Bimo kemudian memandang Miko dengan rasa tidak percaya, anak yang dulu pernah tidak diakuinya dari orang yang sangat di bencinya dan sekaligus Isteri kedua dari Suaminya. Dia memandang Miko sambil memegang tangan Miko betapa sakit hatinya melihat Miko yang memang benar-benar mirip almarhum Bimo cuma rambut dan warna kulit yang membedakan. Kalau Bimo rambutnya lurus sedang Miko agak berombak dan Bimo lebih putih sedang Miko agak sawo matang.


Air mata Mama Bimo mengalir di pipinya melihat orang didepannya seolah dia melihat anak yang telah pergi mendahuluinya. Betapa tidak Bimo adalah anak yang tidak pernah meminta apapun dan selalu menurut apa yang dikatakan olehnya sekarag sudah pergi lebih dulu meninggalkannya. Walaupun pergi tapi dia sudah mengatur segalanya supaya tidak ada masalah ketika dia menutup mata.


"Ini anaknya Diah? Miko? Kamu anaknya Diah?"


Mama Bimo langsung menarik tangan Miko agar mendekat dan menangis melihat Miko yang berdiri didepannya. Miko langsung mengambil kursi dan duduk di depan Mama Bimo yang juga Mama tirinya. Miko bahkan memeluk Mama Bimo dan ikut menangis karena dia pikir selama ini kebencian yang ada di hati Mama tirinya masih ada tetapi nyatanya Ibu tirinya malah memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Ini Ibu Nak, ini Ibu kamu juga, kenapa tidak pernah mau menjenguk Ibu," isak Mama Bimo sambil membelai wajah Miko.


Miko hanya bisa menangis di pangkuan orang yang sekarang mati-matian mengakuinya anak. Dia bahkan tidak percaya pertemuan yang seperti ini dari awal dia sangat takut kalau reaksi Mama Bimo akan sangat marah dan masih membencinya.


Tapi hati seorang wanita yang bergelar Ibu tetaplah seperti terbuat dari kapas. Walaupun Miko hanya anak sambungnya tapi Hani atau Mama Bimo tetap memperdulikan nya, apalagi Miko memang seumur dengan Bimo. Dia seperti melihat Bimo kembali lagi ke sisinya tapi sekarang dengan nama Miko yang juga adalah anak dari Suaminya.


Hampir 10 menit Miko menangis di pangkuan Hani dan beberapa kali Hani mencium kepala Miko seakan ingin melepas rindu pada Miko yang dulu pernah tidak dia perdulikan. Saat Miko tinggal di rumah Kak Lina tidak pernah dia mau bertemu karena masih teringat Ibu Miko yang merebut suaminya.


Miko mendongak kepala menatap wajah Hani yang dipanggilnya Ibu sekarang. Wajah yang selama ini ditakuti oleh Miko karena kejadian masa lalu dengan Ibu kandungnya masih nyata terbayang di benak Miko. Miko mencoba tersenyum disela-sela isak tangis sambil memegang tangan Hani.


"Maafkan Miko Bu, sangat terlambat datang ke sini."


"Kenapa tidak berusaha menemui Ibu setelah Kakakmu meninggal?"


"Miko masih takut Bu, kalau Ibu masih marah dan benci pada Miko."


"Berjanji pada Ibu jangan seperti itu lagi, sekarang kamu anakku jangan pergi dari Ibu lagi kita adalah keluarga," mohon Hani sambil menangis dan kembali memeluk Miko.


"Maafkan Ibu yang dulu bersikap tidak baik sekarang bantu Ibu menebus nya, ayo kita bersatu sebagai keluarga Nak."


Miko hanya mengangguk mendengar permintaan Ibunya. Semua sudah jelas sekarang bahwa dia sudah diterima oleh Ibunya. Dia sudah bisa kembali ke keluarga yang dari dulu sangat di dambakan nya. Satu persatu saran Bimo sudah dia penuhi dan ternyata membuat hatinya lega. Benar kata Bimo dulu berdamai dengan masa lalu dulu kalau kamu mau bahagia di masa datang.


"Setiap hari Ibu berdoa agar dipertemukan dengan kamu sebelum Ibu meninggal itulah keinginan terbesar Ibu supaya bisa meminta maaf padamu dan pada mendiang Ibumu."

__ADS_1


"Terima kasih Tuhan, kamu telah menjawab semua doaku."


Hani berkata pelan sambil mengelus kepala Miko. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir dan dia juga bingung perasaannya saat ini antara sedih dan bahagia. Sedih karena semua telah terlambat seandainya waktu dapat diputar ingin sekali Hani memperbaiki semua yang terjadi dan bahagia karena Tuhan mengirim anak tirinya kembali kepelukan nya.


"Ayo masuk temui Kakak dan Adik kamu," ajak Hani sambil menarik tangan Miko.


***********


Miko mendorong kursi roda memasuki rumah dengan perasaan senang dan tidak pernah dibayangkannya mendapat sambutan seperti ini dari Ibu tirinya. Ketika sampai diruang tamu ada Mas Tito yang sedang bermain dengan Raffa dan Luthfi juga ada disitu dia tersenyum pada Miko.


"Ayo kalian semua kesini, ini adalah Miko adik kamu juga Tito, Tari ayo sambut Kakakmu."


Mas Tito langsung menghampiri Miko dan memeluknya sangat erat, dia yang dari tadi terkejut karena Miko dan Bimo sangat mirip.


"Mas sudah tahu semua, maaf Mas tidak bisa menemui kamu sekali lagi maafkan Mas."


Mas Tito ternyata sudah lama tahu tentang Miko yang bekerja di Kota ini. Tapi karena dia juga sibuk jadi tidak sempat punya waktu menemui Miko duluan. Miko mengangguk kepala seakan mengerti dan memaklumi ucapan Mas Tito karena memang benar adanya.


Tari berdiri di depan Miko memandang lekat wajah Kakak tirinya dengan air mata yang tak terbendung, dia tidak bisa menahan lagi semua yang menyesakkan dadanya sekarang semua keluar seketika.


"Kakak....."


Tari tidak bisa menahan tangisnya lagi dia cuma memeluk orang yang sekarang di panggilnya Kakak dan menangis sejadi-jadinya di dada Miko. Tumpah semua kerinduan nya pada Kakak kandungnya yang telah pergi dari dunia ini. Sekarang Tari merasa semua yang dulu ada pada Kakaknya kini berganti pada Miko. Walaupun Miko cuma Kakak tirinya tapi seorang Kakak tetaplah Kakak lagipula mereka memang sedarah.


"Sekarang Kakak akan jadi Kakakmu yang sebenarnya jangan menangis lagi."


Miko melepaskan pelukan Tari dan memegang wajah Tari dengan penuh sayang karena dulu saat terakhir Miko bertamu kerumah Bimo dengan Ibunya hanya Tari yang menyambutnya dengan ramah.


"Kakak kenapa di luar ayo masuk, kita main masak-masak nanti Tari yang jadi kokinya."


Itulah ajakan dan sambutan Tari dulu yang masih ada dalam ingatan Miko sedang yang lainnya saat itu menatap dia dengan sinis. Tari memang orang yang sangat ramah saat dulu semua orang berubah menjauhi aku hanya Tari yang menyediakan sarapan saat aku berada di rumah itu.


Seseorang berteriak dari dalam dan keluar dari dapur, Kak Lina yang baru selesai menyiapkan nasi kotak buat acara peringatan kematian Ayahnya. Dia langsung menghambur memeluk Miko sambil menangis tersedu karena tidak menyangka Miko akan datang saat itu.


"Kenapa jahat sekali tidak pernah mampir ke rumah Kakak lagi?"


"Waktunya tidak bisa Kak, banyak kerjaan, maafkan Miko," jawab Miko memberikan Kak Lina pengertian.


"Tidak apalah yang penting kamu sudah disini," ujar Kak Lina.


"Ma...anak Mama yang hilang sudah kembali, Mama harus sehat supaya bisa bersama dalam waktu yang lama."


Kak Lina bicara pada Mamanya sambil tersenyum dan Mamanya cuma bisa mengangguk sambil menghapus air mata yang dari tadi mengalir di wajahnya.


Saat Kak Lina berteriak memanggil Miko Tante Hera yang dari tadi di dapur langsung keluar menghampiri Miko dan menatap tidak percaya.


"Anak Diah? Astaga ini Bimo Kak, benar mirip Bimo," jerit Tante Hera sambil menatap Mama Bimo.


Tangis Tante Hera pecah dialah orang yang dulu sangat berusaha mencari Miko saat hilang setelah Diah meninggal. Tante Hera memeluk Miko bagaimana pun Diah adalah teman baiknya walau telah mengambil suami kakaknya.


"Miko sekarang ini adalah keluarga kamu, kamu harus tetap disini dengan keluargamu jangan kemana-mana lagi."


Tante Hera mengelus bahu Miko sambil menangis tersedu, dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Miko setelah Miko pindah dari rumah Kak Lina dulu.


"Ayo siap-siap ke makam Papa dan Bimo," ajak Mas Tito yang bergegas mengambil kunci mobil bermaksud mengeluarkan mobil dari garasi.


"Kalian saja Tito, Tante akan menyiapkan keperluan acara Papamu," tolak Tante Hera pada Mas Tito.


Lutfi menepuk belakang Miko sambil tersenyum dengan senang karena semua berjalan sesuai rencananya yaitu mengembalikan Miko kekeluarganya yang sudah lama ditinggalkannya. Dan ternyata berujung dengan manis semua damai tidak ada satu kata kebencian dari mulut Ibu tiri Miko. Karena Luthfi tahu hati manusia walaupun sekeras batu es akan mencair dengan kehangatan.


**********

__ADS_1


Tiga buah mobil berhenti di lokasi pemakaman dimana Ayahnya dan Bimo bersemayam. Miko dengan cepat membukakan pintu karena Ibunya ikut bersama dalam satu mobil dengannya. Dengan cepat dia memapah dan mendudukan Ibunya di kursi roda dan mendorong pelan menuju ke makam Ayah dan Kakaknya.


Mas Tito dan Kak Lina juga bergegas mengikuti Miko dari belakang. Tari dengan Luthfi membawa keranjang bunga untuk di taburkan dan di taruh di nisan. Mereka harus bergegas karena hari sudah agak sore kalau terlambat nanti akan keburu senja.


Sampai didepan makam yang nisannya bertuliskan Sopian yaitu makam Ayahnya, Miko menghentikan kursi roda tepat disebelah makam supaya Ibunya bisa memegang nisan dan menabur bunga untuk Ayahnya.


"Kamu tahu Bang, Anak kamu sudah kembali, dia kembali kekeluarganya, Yang Kuasa menerima doaku, Dia mengembalikan anakku ternyata Dia menyayangi kami disini karena membuat kami semua berkumpul lagi."


Ucap Mama Bimo tersedu sambil memegang nisan suaminya. Tari langsung menghampiri Mamanya dan memeluknya.


"Sudah Ma, nanti Mama sakit kalau terlalu banyak menangis, kita akan bahagia sekarang."


Miko mendekat dan ikut memegang bahu Ibunya begitu juga Kak Lina dan Mas Tito mereka semua ikut menguatkan Mamanya.


"Miko berusaha menjaga Ibu sekarang jadi jangan sedih llagi Bu."


Miko menatap Ibunya yang masih menangis tersedu, bagaimana hati seorang Ibu tidak merasa sedih mendengar janji seorang anak yang sangat terlihat tulus sekarang dimatanya. Berusaha menenangkan dan menguatkan Ibunya itulah posisi Miko sekarang.


Miko menaburkan bunga di makam Ayahnya ada kerinduan yang dalam tatkala dulu Ayahnya sering menggendongnya dan memanjakannya. Itulah perbedaan Miko dengan Bimo yaitu kasih sayang seorang Ayah yang didapatkan Miko walau hanya sebentar dan Bimo yang tidak pernah mendapatkannya.


Setelah itu mereka semua bergantian menabur bunga di makam Ayahnya dan mengucapkan doa agar Ayah tenang dan bahagia di sisiNya.


"Yang tenang kamu disana Bang."


Mama Bimo masih belum mau beranjak dari makam almarhum suaminya, masih memegang nisan. Tari memandang Miko yang dibalas Miko dengan anggukan kepala. Miko ikut memegang nisan Ayahnya dan menguatkan Ibunya. Mereka kembali menaburkan bunga dan kemudian beranjak ke makam lainnya di sebuah makam yang tidak jauh dari situ yaitu makam Bimo.


Mereka menatap sendu makam Bimo. Tari dan Luthfi mulai menaburkan bunga yang dibawa ke atas makam Bimo.


"Tari tetap sayang sama Kakak walau Tari sudah punya Kakak lagi, dia mirip Kakak jangan cemburu ya Kak Bimo," candaTari sambil memegang nisan Bimo seakan berbicara dengan Bimo dan tersenyum.


Tari seperti menjelaskan pada Bimo bahwa sekarang Miko sudah berada di antara mereka keluarganya. Mungkin ini juga keinginan Bimo dulu yang dijelaskan pada Luthfi dan Tari mengetahuinya karena Luthfi yang memberitahunya.


Kemudian Kak Lina dan Mas Tito juga mengikuti Tari, Mas Tito bahkan duduk sebentar di depan makam Bimo sambil menatap nisan.


"Mas kangen Bim, dulu sekarang dan nanti kamu tetap adik yang baik buat Mas," ujar Mas Tito sambil menaburkan bunga diatas makam.


Kak Lina terlihat memegang tangan Mamanya dan berusaha memberi kekuatan pada Mamanya. Saat siapapun merasa sedih harus ada yang mendukung dan menguatkan supaya merasa lebih baik. Yang Mamanya perlukan sekarang bukan hanya pengobatan saja tapi juga dukungan dan kasih sayang dari orang terdekat karena itulah yang lebih penting dan semua akan bisa dilalui kalau ada pemberi semangat.


"Mulai sekarang kita harus bahagia Ma, Miko sudah kembali ayo relakan semua yang telah pergi, Papa dan Bimo agar mereka tenang disana."


"Ayo sekarang kita ke makam Ibumu, aku harus meminta maaf dan berterima kasih padanya karena telah mengirim anaknya untuk menemaniku saat ini" ajak Hani pada Miko yang di setujui oleh mereka semua.


"Tunggu biar aku yang meletakan nya."


Kata Miko saat Tari bermaksud meletakan buket bunga di makam Bimo. Miko langsung mendekati Tari dan mengambil buket bunga yang ada dalam genggaman tangan Adiknya. Tari langsung menyetujuinya karena memang Miko dari tadi cuma diam saat mereka di makam Bimo.


Miko menaruh buket bunga tepat diatas makam Bimo, dia tersenyum seakan ingin memperlihatkan pada Bimo bahwa semua saran Bimo sudah dilakulannya dengan baik dan berkata dengan suara pelan hampir berbisik.


"Nanti aku akan datang secara pribadi padamu, tunggu saja."


"Banyak yang akan ku beritahu dan aku harus ceritakan padamu."


*********


** Salah satu rahasia langit yang tidak bisa kita tahu adalah kapan permintaan kita dipenuhi. Tidak semua bisa terkabul, ada yang terus meminta dan ada yang berhenti karena lelah tapi semua permintaan pasti akan terpenuhi tergantung cara kita menunggunya, sabar satu kalimat yang mengandung arti sangat luas dan tidak semua orang bisa melewatinya. Salah satu terhalangnya sebuah permintaan adalah hati yang membenci. Tapi saat permintaan di penuhi maka berterima kasih lah sebagai wujud percaya dan syukur padaNya.


** Rengkuh kembali orang-orang yang telah jauh denganmu apalagi dia juga adalah keluargamu, fokus hanya dengan siapapun yang mencintaimu karena di dunia ini tidak pernah ada bekas keluarga, cobalah lupakan hal-hal yang membuat sakit dan sekali lagi cobalah berdamai dengan keadaan.


** Selamat membaca dan terima kasih atas semua semangat dan dukungan pada Penulis. Kepada semua Pembaca dari hati saya yang paling dalam saya meminta maaf kalau pernah salah dalam hal apapun, sebelum semuanya terlambat karena belum tentu besok hari Penulis masih bisa melihat matahari pagi bersinar karena batas waktu kita hidup tidak ada yang tahu.


** Terima kasih dan sehat selalu tetap bahagia dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun. See you later and don't forget health protocol.

__ADS_1


__ADS_2