Rahasia Hati

Rahasia Hati
Longing On


__ADS_3

Aku menatap sesosok dengan pakaian serba putih. Dia berdiri membelakangiku di sebuah padang sabana yang sangat luas.


"Ada di mana ini?" tanyaku dalam hati.


Dengan perlahan dia berbalik menatapku sambil tersenyum. Indah sekali, seperti yang selalu kuingat. Sekarang dia lebih tampan dengan pakaian serba putih dan bertabur sedikit sinar di sekitar tempat dia berdiri.


"Bimo........"


Tangisku pecah seketika, tidak bisa kutahan lagi. Dadaku seperti di taruh batu karena sesak. Dengan terbata-bata ku panggil namanya sambil menggapai tanganku ke arah dia. Tapi Bimo masih tetap berdiri di tempatnya masih dengan senyuman.


Aku mencoba mendekati tapi tidak bisa. Seperti ada selubung yang terpampang di depan kami. Aku terduduk masih terisak memandang Bimo yang masih berdiri tersenyum.


"Hey... Coklat."


Suara memanggil dari Bimo membuatku makin menunduk sambil memegang dada. Lama sekali aku tidak mendengar panggilan itu keluar dari mulut Bimo. Aku mencoba berdiri agar bisa menatapnya lebih jelas sambil menghapus air mata yang masih menetes.


"Kamu... Bimo......."


"Apa kabar Coklat? Kamu bahagia sekarang?"


Aku mengangguk pelan dan melihat jawabanku Bimo tersenyum lebih lebar. Tapi saat aku menatap matanya, mengapa aku melihat telaga kesedihan yang luas. Seakan tidak sama arti semua yang ku lihat, antara sinar mata dan bibir yang berbicara.


"Kalau kamu bahagia, aku lebih bahagia lagi. Selamat... semoga coklatku bisa benar-benar bahagia sekarang. Maafkan kesalahanku dulu tapi tolong jangan lupakan aku. Ingatlah Bimo sekali-kali, aku mohon."


"Bimo........."


Air mataku makin deras dan tangisku makin keras mendengar kalimat yang diucapkannya. Apalagi ketika dia meminta untuk tidak melupakannya.


"Bagaimana ini? Kenapa setiap kali kita bertemu, aku selalu membuatmu menangis. Begitu jahatkah aku?"


Aku menggeleng kepala masih dengan menangis. Akhirnya Bimo mendekatiku, dia bahkan memegang pipi dan mengusap tetesan air mataku. Yang bisa kulakukan hanya memejamkan mata, merasakan belaian tangan Bimo.


"Aku merindukan kamu. Sungguh... sangat merindukanmu," pelan suara Bimo hampir seperti bisikan yang mampu membuaiku.


Aku menatap wajahnya dan lama sekali ku tatap mata Bimo.


"Kamu masih bisa melihatku? Kamu sudah berikan penglihatanmu pada Papa? Masih bisa melihatku Bim?"


"Aku masih bisa melihatmu, walau bukan dengan mata tapi melihat kamu dengan hatiku. Jelas sekali aku bisa mengenal kamu walau dengan memejamkan mata."


Aku mencoba menyentuh mata Bimo. Di luar dugaan, aku bisa merasakannya. Perlahan ku sentuh alis kemudian memegang pipinya. Dingin kurasa sesaat tapi tetap aku raba lebih lama. Aku tersenyum menatap wajahnya, begitu juga Bimo terlihat senang ketika aku menyentuh pipi dengan lembut.


"Aku juga rindu padamu Bim. Terima kasih atas semua pengorbananmu pada Papa. Terima kasih sudah mencintaiku dari awal sampai akhir."


Bimo masih tersenyum dan tetap menatapku.


"Kamu harus bahagia. Ingat... jangan pernah lupakan aku."


"Bagaimana bisa aku melupakan kamu Bim. Aku bahkan akan menikah dengan Miko adikmu."


Bimo tertawa kecil mendengar pengakuanku.


"Aku akan bahagia bersama Miko. Jangan khawatir Bim, aku berjanji tidak akan meninggalkannya."


"Aku percaya... Coklat yang ku kenal, tidak pernah berani melihat orang lain selain orang yang di cintainya. Itulah mengapa dulu aku sangat menyesal telah meninggalkanmu."


"Kamu juga harus bahagia Bim. Walau kita sudah berbeda alam. Jangan cemburu kalau aku akan menikah dengan Miko."


"Aku cemburu!"


Bimo tertawa melihatku kaget dengan ucapannya. Namun dengan cepat dia menggeleng kepala dan melepaskan tanganku. Dengan pelan beranjak menjauh dariku. Aku sedikit terkejut ingin menahannya tapi Bimo mengangkat tangan, seolah menyuruhku tetap diam. Dia mundur semakin jauh hingga bayanganya semakin pudar.


"Bimo.... Bimo... Bimo......"


Aku berteriak memanggilnya dan melangkah ke depan. Tapi kakiku seperti kaku tidak bisa ku gerakkan. Aku hanya bisa berteriak dan menangis tersedu menatap bayangan Bimo yang semakin lama semakin kabur dari penglihatanku.


"Kia........"


Lamat-lamat ku dengar sebuah suara memanggil namaku. Kulihat Mama duduk di sisi ranjang sambil memegang pundakku. Mama kaget melihat aku menangis dan bantal yang ku pakai basah karena air mata.


"Ma... Kia bertemu Bimo," isakku sambil memeluk Mama.


"Astaga Kia, ini cuma mimpi. Kenapa menangis sangat keras sampai terdengar di luar kamar."


Mama memelukku lama, berusaha membuatku tenang.


"Berarti Kia harus menengok Bimo. Sudah lama kan, tidak ke makamnya?"


"Iya Ma."


Benar, terakhir aku menengok Bimo bersama Miko. Saat melepaskan semua rasa sakitku dan megikhlaskan semua kesalahan Bimo padaku.


Padahal semua sudah kurelakan, mengapa dia masih bisa muncul dalam mimpiku. Aku juga heran karena sedikitpun aku tidak memikirkan dia lagi. Sekarang bagiku Bimo adalah cerita masa lalu dan kakak dari calon suamiku, itu tidak lebih. Sekarang cuma Miko yang ada di hatiku.

__ADS_1


*******


"Benarkah?"


Sebuah kalimat tanya dari Miko saat kuceritakan mimpi yang ku alami. Sebenarnya ingin ku simpan sendiri tanpa memberitahu dia, tapi aku pasti akan merasa bersalah nanti.


Tapi tanpa ku duga, Miko malah tersenyum dan memegang tanganku. Dia tidak marah sedikitpun malah tertawa senang ketika melihat wajahku yang bingung.


"Tidak marah?"


"Mengapa aku harus marah pada orang yang sudah tiada? Sangat wajar kamu bisa bermimpi bertemu Bimo. Bagaimanapun dia orang yang pernah dekat denganmu Beb."


"Aku takut."


"Dengarkan aku Beb... Bimo masih kakakku. Dia tidak mungkin akan mengganggu dan menghancurkan hubungan adiknya. Apalagi kita sudah akan menikah. Lagi pula dia tidak punya kuasa apapun untuk memisahkan kita."


Aku menatap Miko yang duduk di depanku dengan senang.


"Tidak ada siapapun yang bisa membuatku goyah sekarang. Aku mencintai kamu Mik, itu yang pasti."


"I believe you... Beb."


*********


Kami mengakhiri pembicaraan saat orang dari penata rias datang.


"Ayo Kia... kita coba gaun pengantinnya," ajak Lala.


"I love you," bisikku sambil melepaskan tangan Miko.


"Aku juga." Miko berdiri dan mengikuti seorang untuk mencoba jas yang ada di tangan penata rias.


"Hai... aku Meta."


"Kia," balasku menjawab salam dari teman Lala.


"Tugasku tidak sulit kayaknya La," kata Meta sambil tersenyum.


Hampir 30 menit kami berkutat dengan gaun yang akan kupakai di hari bahagia. Aku heran kenapa semua bisa sangat pas. Tanteku memang sudah mempersiapkan dengan baik.


"Apa rambutnya akan kita buat seperti ini?" tanya Meta sambil memperlihatkan model rambut untuk pengantin.


"Aku suka ini," ujarku menunjuk gaya half up braid karena merasa cocok untuk rambutku.


"Iya... ini cantik," angguk Lala.


Aku kembali melihat dan ternyata sangat simple jadi aku setuju saja karena malas juga pakai model yang agak rumit.


"Ayo kita coba."


Meta menyiapkan semua peralatan rias dan mulai menata rambutku.


"Harus tahan lama make upnya karena ini kan acara outdoor. Santai saja... Meta pasti punya trik-trik tertentu membuat kamu jadi ratu untuk Miko,"


Lala kemudian duduk di sampingku.


"Kenapa jadi semua seperti maunya kamu La. Jangan-jangan kamu mau balas dendam karena dulu menikah mau seperti ini tapi tidak bisa terwujud?"


Aku memandang Lala dengan tajam. Lala terlihat berpikir sejenak kemudian tertawa dengan keras.


"Kok bisa tahu Kia... dulu kan semua di tangani Mama. Yah, anggap saja ini keinginan aku dulu."


"Wah... jahat sekali menjadikan aku alat untuk memenuhi keinginan kamu yang tertunda."


Bukannya marah Lala malah tertawa mendengar ucapan kekesalanku.


"Sudah... seperti ini simple kan? Nanti kita kasih hiasan di kepala. Maunya Kia seperti apa, bunga atau yang lain."


"Terserah Meta, menurut kamu yang paling bagus apa. Aku akan menurut saja."


"Ayo ke depan, Miko sudah menunggu," ajak Lala.


**********


Ketika sampai di depan Miko, aku tidak bisa menyembunyikan rasa kaget. Berbeda itulah yang kulihat sekarang. Aku tidak pernah melihat Miko setampan ini dengan balutan jas pengantin.


Begitu juga Miko, dia langsung tersenyum lebar ketika melihatku keluar ruangan. Tidak bisa menahan rasa kagumnya dan memuji dengan pelan.


"Bagaimana Mik?"


"Emmmm......."


Aku cuma diam saat Lala menanyakan itu pada Miko.

__ADS_1


"Bagus tidak Mik? Apa ada yang kurang?" Lala membenarkan letak gaunku.


"Bagaimana aku?" tanyaku sambil memandang Miko.


"Akan kukatakan dengan jelas nanti saat acara berlangsung, sekarang aku simpan dulu pujiannya."


"Aku juga......."


Saat Miko tidak mau mengatakan bagaimana pendapatnya tentang aku hari ini. Aku juga akan menyimpan sampai nanti acara berlangsung pendapatku mengenai dia. Sedikit penasaran juga tapi aku akan menunggu begitu juga Miko.


**********


Aku mengantar Miko pulang sampai ke depan mobil.


"Katanya mau menjeguk Bimo?"


"Aku sendiri saja... banyak yang harus ku katakan. Kamu tidak usah ikut, nanti tambah sedih."


Rasa curiga memenuhi pikiranku. Aku menatap Miko dengan penasaran.


"Aku ingin bicara berdua dulu dengannya," sambung Miko.


"Cemburu?"


"Sedikit."


"Wah kacau ini, masa marah sama kakak sendiri."


"Dia membuatmu galau saat kita mau melangkah ke pelaminan. Aku lelaki dan kamu calon isteriku, wajar kalau aku merasa sedikit kesal."


"Jangan marah Mik, itukan cuma bunga tidur. Aku janji tidak akan terbawa perasaan."


"Aku percaya padamu Beb... sangat."


"Besok sebelum pergi ke kota, aku mau ketemu Mama sama keluargamu. Tadi Tari telepon ada yang mau dibicarakan katanya."


"Oke."


********


Miko menaruh buket bunga dengan sedikit kasar.


"Aku sudah memenuhi semua janjiku padamu. Jadi aku minta kau penuhi juga janjimu padaku."


Miko menatap tajam, matanya agak sedikit kesal.


"Kia sekarang milikku. Jangan pernah berani datang padanya walau hanya dalam mimpi."


Mata Miko memancarkan sinar kekesalan sambil menatap makam Bimo.


"Hah dasar g*la... kenapa aku cemburu pada orang mati," Miko merutuki dirinya sendiri sambil duduk dan menutup muka dengan dua tangan.


"Tapi aku kangen kamu Bim. Seandainya kamu ada di depanku kita bisa bicara tentang semua. Kamu tahu aku orang yang susah membicarakan masalah sendiri dengan orang lain. Aku ingin terlihat baik-baik saja di depan semua orang walau sebenarnya tidak."


Miko masih menatap nisan Bimo dengan sendu.


"Aku mohon jangan kacaukan perasaan Kia lagi. Aku ingin bahagia bersamanya."


Miko beranjak pergi dan tak lupa menyentuh nisan Bimo. Dia sebenarnya sangat merindukan kehadiran Bimo. Cuma Bimo yang bisa di ajak bicara dan tukar pikiran seperti dulu saat Miko masih kuliah dan pertama bekerja. Terpisah jarak tidak menghalangi interaksi mereka dalam berhubungan karena Bimo pasti menelepon Miko walau hanya menanyakan kabar.


*********


Aku memandang ke arah bawah jendela kamar. Terlihat jalan yang sepi, kamarku di tingkat dua rumah Papa persis di depan jalan. Jadi kalau menegok ke bawah melihat suasana jalan di depan.


Selintas pikiranku kembali saat aku bermimpi tadi malam. Aku masih menyimpan satu ruang kecil dalam hatiku untuk Bimo, itu harus aku akui. Pikiranku juga tertuju pada dua janinku yang pernah ada. Sudah lama aku tidak melihat mereka lagi.


Semua kenangan tentang mereka di simpan Wiwin saat aku terjebak dalam trauma. Itu semua dilakukan sahabatku atas anjuran Dokter yang menanganiku. Dia tidak memperbolehkan aku melihat atau menyentuh semua yang bisa menyebabkan aku depresi lagi.


Dan aku tersenyum mengingat Wiwin yang berjanji akan datang bersama Alan sebentar lagi. Dia memberitahukan di telepon saat Miko pulang tadi.


"Aku kangen kamu Cinta......"


Itulah yang ku teriakan saat dia menelepon bahwa sudah booking tiket pesawat untuk ke sini menghadiri hari bahagiaku. Dia akan datang bersama Alan dan temanku yang lainnya. Mereka akan tinggal di rumah Miko saat pesta berlangsung.


Aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat sambil memejamkan mata berusaha menepiskan bayangan Bimo. Sangat meyesali perasaanku saat itu, mengapa aku masih bisa menangis saat bertemu dengannya dalam mimpi tadi malam.


"Tolong aku Bim... jangan buat aku sedih lagi. Kamu harus bantu aku untuk bahagia."


*******


** Yang selalu bilang kangen sama Bimo, saya hadirkan dia di chapter ini walau hanya dalam mimpi Kia. Jangan khawatir reader tercinta, Kia sudah move on. Sebenarnya akan mudah melupakan kalau Kia sendiri tapi dengan adanya Miko pasti susah karena selalu terkait dan mereka adalah saudara.


** Jangan lupa dukung Author, dengan vote dan hadiah seikhlasnya karena itu merupakan suntikan semangat bagi saya. Semoga masih ada yang menunggu update Rahasia Hati yang selalu telat. Mohon maaf reader sekali lagi penulis ucapkan dengan setulus hati.

__ADS_1


** Terima kasih pada semua yang sudah mendukung saya. Stay healthy, stay happy and stay with Kia. See next chapter, bye.


__ADS_2